BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
 
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]

938 Test Case dan Manusia Super

Memperpanjang 3 periode masa jabatan SBY, itu test case malu-malu kucing! 
Mengapa tidak sekalian saja presiden seumur hidup bergelar Pemimpim Besar 
Revolusi, eh Reformasi? Setelah isu itu mendapat kritikan pedas dari mana-mana, 
mengapa barulah para petinggi Partai Demokrat (PD) dan PAN  kebakaran jenggot? 
Skenario grand design PD dan PAN, lempar batu sembunyi tangan? Pemain sinetron 
Ruhut Poltak Sitompul yang melemparkan test case bola panas itu hanya kayu 
pappallu (kayu bakar)!
 
***

Siang ini 6 February 2008, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super. 
Mereka mahluk-mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas 
jembatan penyeberangan Setia Budi, dua sosok kecil berumur kira-kira delapan 
tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang 
untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung jembatan. Dengan 
keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar tanpa 
tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan:
"Terima kasih Oom !" Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai 
membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka. 

Kantong hitam tempat stok tissue dagangan mereka teronggok di sudut jembatan 
tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam 
kantong itu, duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan.
 
Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka 
tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum di wajah mereka terlihat 
berkembang seolah memecah mendung yang sedang menggayut langit Jakarta.
"Terima kasih ya mbak ... semuanya dua ribu lima ratus rupiah!" tukas mereka, 
tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu 
rupiah.
"Maaf, nggak ada kembaliannya ... ada uang pas nggak mbak ?" mereka menyodorkan 
kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang 
bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada 
jarak empat meter.
"Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan ?" suaranya mengingatkan 
kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh saku 
celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu 
rupiah. 
"Nggak punya!", tukas saya. Lalu tak lama si wanita berkata
"Ambil saja kembaliannya, dik !" sambil berbalik badan dan meneruskan 
langkahnya ke arah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan 
uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih 
tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat 
ribu rupiah tadi. Si wanita kaget, setengah berteriak ia bilang "Sudah buat 
kamu saja, nggak apa-apa ambil saja !", namun mereka berkeras mengembalikan 
uang tersebut.
"Maaf mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan !"
 
Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi meninggalkannya. 
Tinggallah episode saya dan mereka. Uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu 
bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar "Om, bisa 
tunggu ya, saya ke bawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek !"
"Eeh ... nggak usah ... nggak usah ... biar aja ... nih !" saya kasih uang itu 
ke si kecil, ia menerimanya, tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni 
tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek. Saya hendak meneruskan 
langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, 
"Nanti dulu Om, biar ditukar dulu ... sebentar."
"Nggak apa apa, itu buat kalian" lanjut saya. 
"Jangan ... jangan oom, itu uang oom sama mbak yang tadi juga" anak itu 
bersikeras.
"Sudah ... saya ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas !", saya berusaha 
membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari ke ujung jembatan 
berteriak memanggil temannya untuk segera cepat. 

Secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.
"Ini deh om, kalau kelamaan, maaf ..". Ia memberi saya delapan pack tissue. 
"Buat apa ?", saya terbengong
"Habis teman saya lama sih oom, maaf, tukar pakai tissue aja dulu". Walau 
dikembalikan ia tetap menolak.

Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah 
set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya. Beberapa saat 
saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang 
receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang 
empat ribu rupiah.
 
"Terima kasih Om !"..mereka kembali keujung jembatan sambil sayup sayup 
terdengar percakapan,
"Duit mbak tadi gimana ..?" suara kecil yang lain menyahut,
"Lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin .......".
 
Percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali ke kantor 
dengan seribu perasaan.

Tuhan ......
Hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka 
menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati 
dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, 
mereka berusaha tak meminta-minta dengan berdagang tissue. Dua anak kecil yang 
bahkan belum baligh, memiliki kemuliaan di umur mereka yang begitu belia.

***

Di atas itu adalah kisah pengalaman seseorang yang diposting Elza Peldi Taher 
di cyber space di milis (mailing list) Surau. Sebuah ilustrasi hasil didikan 
orang tua super (bukan "super" seperti basa-basi dari Mario Teguh di Metro TV), 
yang berhasil mendidik anaknya tentang makna syukur. Orang tua super yang tidak 
larut dalam palu godam tatanan hidup (budaya) tengik nafsi-nafsi metropolitan, 
yang menghayati ayat:
-- WASyKRWA LY WLA TKFRWN (S. ALBQRt, 2:152), dibaca: wasykuru- li- wala- 
takfuru-n, artinya:
-- Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

Kata syukur adalah bentuk mashdar dari akar kata [Syin-Kef-Ra = merasa ridha 
dan puas sekalipun hanya sedikit]. WaLlahu a'lamu bisshawab.

*** Makassar, 29 Agustus 2010
     {H.Muh.Nur Abdurrahman]
http://waii-hmna.blogspot.com/2010/08/938-test-case-dan-manusia-super.html

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke