Agenda Sinting Peringatan 11 September dan Hipokritnya Barat 

(Buah Simalakama Demokrasi) 

Oleh : Harits Abu ulya (Ketua Lajnah Siyasiyah DPP-HTI) 

Babak demi babak dunia terbuka matanya, terhadap kebesaran Islam dan kaum
muslimin. Berhadapan dengan sikap hipokritnya barat dengan demokrasinya yang
makin terjun kedasar jurang irrasionalitas dalam berfikir dan bersikap. Isu
yang paling panas menggelinding tanpa terbendung saat ini; polah tingkah
rencana sekelompok kaum salibis (nasrani) yang di motori oleh pendeta Terry
Jones, 58 tahun, pemimpin Gereja Dove World Outreacch Center di Gainesville,
Florida, AS. Dengan lantang dia menyerukan kesuluruh gereja didunia; "Pada
11 September 2010, pukul 06.00-09.00,kita akan membakar al Qur'an untuk
mengenang korban 11 September dan untuk berdiri melawan kejahatan Islam.
Islam itu dari
setan!".(http://loganswarning.com/2010/07/13/us-church-starts-international-
burn-a-koran-day/) Sebuah gagasan yang terinspirasi dari laman Facebook
dengan titel "Everybody Drow Muhammad Day", bahkan dikabarkan pendeta Terry
sudah membuat video untuk dijadikan guide pembakaran Al Qur'an. 

Dunia Islam tidak hanya kali ini dihadapkan kepada upaya atau tindakan
pelecehan dan pelanggaran hak-hak mereka sebagai muslim. 1,3 miliar muslim
lebih dimuka bumi ini, kerap menyaksikan sikap durjana yang menjadi nilai
inheren dari imperialisme yang diemban oleh AS dan sekutunya. Darah mereka
tumpah di Iraq, di Afghanistan, di Palestina, di Yaman dan lainya,
infrastruktur mereka hancur porak poranda dan menyisakan puing-puing dan
derita. Sekedar mengingatkan; pelecehan, penghinaan, dan pelanggaran serius
terhadap hak-hak asasi manusia sebagai muslim tidak hanya dalam bentuk
pelecehan al Qur'an yang dilakukan serdadu AS di penjara Guantanamo-Kuba
atau kartun Nabi dari Denmark, atau seperti yang akan dilakukan oleh pendeta
Terry (11 September 2010). 

Tapi apapun faktanya, kali ini perlu kita uji logika-logika yang dibangun
oleh pendeta Terry begitu pula orang-orang yang mengiyakan gagasan sinting
ini. Perlu kita ajukan beberapa pertanyaan; apa hubungan peristiwa 11
september 2001 dengan Al Qur'an? Kenapa al Qur'an harus menjadi subyek yang
bertanggung jawab dari tragedi kemanusiaan? Dan bagaimana sikap Barat dan
penguasa negeri kaum muslimin seperti halnya Indonesia? 

Logika dengkul Sang Pendeta 

Wajar sekali kalau reaksi keras; kemarahan dan celaan muncul dari kalangan
muslim. Di kalangan orang salibis sendiri melahirkan kecaman keras terhadap
rencana tindakan pendeta Terry Jones. Sebagian besar melihat gagasan pendeta
Terry dibangun diatas logika yang sangat prematur bahkan logika dengkul
(irrasionalitas). Sebuah rencana yang lebih tepat dikatakan; kebencianlah
yang menjadi dasar bangunan logikanya. Demikian mudahnya pendeta Jones
menjustifikasi orang muslim yang menjadi pelaku dari tragedi 11/9. Dan orang
muslim melakukan tindakan "terorisme" dalam tragedi 11/9 itu sumber
inspirasinya adalah kitab Al Qur'an. Oleh karena itu, dalam logika pendeta
Jones peringatan 11/9 adalah momentum tepat untuk menjelaskan kepada dunia
bahwa Islam dan al Qur'anlah sumber dari segala bencana, karenanya perlu di
lawan dan dikumandangkan tentang masalah ini. 

Logika pendeta Jones sangat "sinting", yang lebih tampak adalah kebencian
didalam dada mereka terhadap Islam dan kaum muslimin, kalau mau jujur ini
adalah potret yang mewakili sentimen mayoritas yang silent masyarakat
Amerika terhadap Islam. Jika kembali menoleh kebelakang; tragedi 11/9/2001
dengan runtuhnya gedung kembar WTC, AS melakukan invansi ke Afghanistan
dibawah spirit "kristus" seorang presiden paranoid George W Bush. Tentu
dengan tuduhan; rezim yang berkuasa di Afghanistan adalah teroris dan berada
dibalik runtuhnya WTC. Kemudian dilanjutkan oleh Bush ke Iraq dengan dalih
kurang lebih sama; negara teroris yang berpotensi membahayakan dengan
senjata kimia pemusnah massalnya. Hingga sampai detik ini, belum ada satupun
alasan yang dipakai Bush kemudian bisa dipertanggung jawabkan di hadapan
publik dunia. Dalam penyelidikan terbuka dan akuntable, tidak ada satu bukti
bahwa tergedi runtuhnya WTC ada kaitanya dengan kelompok al Qoida,
pemerintahan Afghanistan waktu itu dan demikian juga yang kedua pada kasus
Iraq. Semua akal-akalan Bush untuk membenarkan tindakan terorisnya atas
dunia Islam khususnya Afghanistan dan Iraq. 

Tapi apa yang dilakukan Bush telah mampu menyihir masyarakat Amerika, dan
mengendapkan sentimen serius dalam jiwa kaum kristiani mayoritas di AS.
Tuduhan; Islam dengan kitab sucinya al Qur'an adalah sumber
tindakan-tindakan "terorisme" yang mengancam peradaban barat
Amerika.Sekalipun disisi lain, juga menjadikan sadar sebagian anggota
masyarakat tentang kejahatan dan rekayasa pemerintahan Bush. Yang akhirnya
berbondong-bondong memeluk Islam, cukup interest untuk mengenal Islam dan
mengkonsulidasikan dalam ruang publik masyarakat Amerika. Maka tuduhan
Pendeta Jones sangat mengada-ada, dan sangat berbahaya yang telah melampui
semua logika dan kepekaan masyarakat dunia. 

Dari realitas "konspirasi" seorang pendeta Jones membuat kesimpulan yang
sinting, menjadikan kitab suci menjadi tempat pertanggungjawaban atas
kejahatan manusia. Sangat berbeda jauh jika dibandingkan dengan sikap umat
Islam, dalam rentang waktu yang tidak sebentar menghadapi kondisi penuh
pelanggaran terhadap harkat dan martabat mereka sebagai muslim yang
dilakukan secara masif oleh negara imperialis AS dan sekutunya.Tapi
orang-orang muslim belum pernah merespon tindakan brutal AS dengan semboyan
perang "crusade" (perang salib) seperti yang dilontarkan dari mulut
ponggahnya G.W.Bush (Presiden AS sebelum Obama) dalam bentuk tindakan
seperti rencana pendata Terry Jones, belum terdengar kabar dan adanya bukti
gerakan pembakaran Injil oleh masyarakat Islam dimanapun mereka berada. 

Bagaimana sikap masyarakat Barat? 

Beberapa pendeta Kristen menolak ide gila dari pendeta Jones, demikian pula
DK PBB mengecam karena hal tersebut dianggap pelanggaran hak dan bukan
kebebasan berekspresi. Tapi itu tidak menyurutkan langkat Jones, seperti
halnya tulisan yang sangat kasar selalu terpampang didepan gereja Dove World
Outreach Center :"Islam is of the devil (Islam adalah dari iblis)", dimana
Jones menjadi pendeta di gereja tersebut. Dan sikap sinting Jones makin
mendapat angin, dengan adanya rencana pembangunan Rumah Cordoba atau Park 51
(yang akan menjadi pusat kegiatan Islam) termasuk rencana pembangunan
masjid, ditanah luas yang berjarak dua blok kearah utara dari tempat yang
disebut "ground zero". Dewan kota New York sudah menyetujui dan walikotanya
Michail Blommberg mendukung.Tapi akhirnya tertunda karena terjadi tarik ulur
kepentingan para politisi baik dari kubu Demokrat begitu juga kubu Republik.


Sekalipun pembangunan itu sesuai dengan amandemen Pertama Konstitusi
Amerika, yaitu soal kebebasan beragama, namun sentimen mayoritas masyarakat
New York dan di representasikan oleh para politisinya menunjukkan paradoks
demokrasi yang dianut oleh AS. Sejak awal propaganda media barat menjadikan
salah paham, karena sesungguhnya komunitas muslim tidak membangun masjid dan
semisalnya di "ground zero", tapi di tanah luas yang jaraknya dua blok dari
"ground Zero" jarak yang lumayan jauh. Dengan berpikir obyektif, dalam ruang
demokrasi tidak ada pelanggaran atas hak-hak orang kritiani oleh orang
muslim. Kemudian bagaimana itu juga bisa dijadikan alasan pembenaran
sekolompok orang kristen dibawah pendeta Terry Jones hendak melakukan
pelanggaran serius terhadap harkat martabat orang muslim sedunia?. 

Jika Obama konsisten dengan pernyataannya di Taman Balai Kota Columbus Ohio:
"Mereka punya hak yang sama melaksanakan kewajiban keyakinan mereka" dalam
kesempatan berbeda ketika berbuka bersama dengan pemuka muslim di New York;
"mereka punya hak seperti warga negara lain, dengan keyakinan yang lain".
Sebuah bentuk dukungan Obama terhadap komunitas muslim, sekalipun kemudian
di ralat oleh juru bicara gedung putih (Robert Gibbs); "presiden tidak
mengurus soal kebijakan tingkat lokal (New york)". 

Dan akhirnya juga melahirkan kecaman dari kubu Republik di Senat dan
Konggres, dalam pandangan mereka persoalnya bukan masalah keyakinan tapi
masalah keamanan.Dan hingga saat ini juga tidak ada suara atau kritik resmi
dari Vatikan (Paus). Sekali lagi disana kita dapatkan sebuah tuduhan yang
sangat stereotif terhadap Islam. Komunitas Islam menjadi ancaman bagi
Amerika dan masa depannya. Dan seorang Obama akhirnya tidak mudah untuk
menghentikan segala bentuk provokasi anti-Islam yang berkembang di
masyarakat Amerika termasuk rencana pendeta Terry Jones. 

Ruang demokrasi, menampilkan sikap hipokrit barat terhadap dunia Islam. Dan
dengan dalih kebebasan umat Islam berulang kali mendulang penghinaan oleh
komunitas barat kafir. Dan sangat niscaya rencana Terry Jones terjadi,
mengingat selama ini pelaku-pelaku penghinaan terhadap komunitas muslim juga
aman-aman saja bahkan dilindungi oleh negara-negara barat dengan alasan
kebebasan ekspresi dan demokrasi. 

Implikasi lokal dan Peran penguasa Indonesia? 

Semua membayangkan dan menduga, jika pembakaran al Qur'an ini terjadi maka
ini akan menjadi krisis serius di dunia Islam, perang antar agama dan
semisalnya. Atau ada dugaan sebaliknya, tidak memberikan efek apa-apa
kecuali riak-riak kecil dalam bentuk demo yang berisi cacian dan makian.Tapi
itu semua sporadis dan tentatif berlangsung hanya dalam beberapa waktu saja,
akan hilang seiring dengan belitan problem-problem berikutnya yang antri
untuk menghantam umat Islam.Mulai dari soal ekonomi, hingga krisis politik.
Atau umat Islam khususnya di Indonesia sebagian besar akan membisu dan
memaklumi, dengan bersikap sangat "toleran" (efuisme lemahnya iman) dan
dianggap elegan kalau tidak terpancing atau merespon dengan
tindakan-tindakan kekerasan dan balas dendam kepada komunitas kristen di
Indonesia. 

Langsung atau tidak, komunitas non-muslim di Indonesia merasa kawatir,
was-was, dan cemas. Tidak bisa menerka lebih jauh apa yang akan dihadapi
jika peringatan 11/9 di AS itu betul-betul dalam bentuk pelecehan dan
penistaan terhadap al Qur'an (dengan membakarnya). Dalam konteks psikologi
seperti ini, wajar kalau kemudian pihak gereja dan aktifisnya, begitu pula
kelompok yang mengatas namakan gerakan pluralisme roadshow keberbagai pihak
yang dianggap bisa mereduksi langkah-langkah destruktif dan unpredictible
dari komunitas muslim di Indonesia. 

Karena cemas dan kawatir yang menjadi dasar sesungguhnya dari pendekatan
yang dilakukan oleh non-muslim, dengan berbagai strategi dan menggunakan
berbagai komunitas dan elemen untuk menyumbat resiko tak terkendali
nantinya. Misal; dengan sumbangan al Qur'an dari gereja, atau dialog lintas
agama. Atau himbauan dan bahkan turut mengecam tindakan pendeta sinting
Terry Jones. Ini semua lipstik untuk mendulang empati dan mengkebiri
kesadaran umat Islam atas tiap jengkal pelecehan dan penghinaan atas diri
mereka. 

Satu sisi yang tidak berbeda dalam konteks ini, pemerintah terbiasa dengan
strateginya akibat mandul politik luar negerinya. Tidak berusaha keras untuk
menekan pemerintahan AS di bawah Obama yang sudah gembar-gembor cukup respek
terhadap dunia Islam. Agar menghentikan kebebasan berekspresi yang diluar
batas akal dan nurani manusia dari sekolompok orang kristinai dibawah
kendali pendeta Terry Jones. 

Tapi sebaliknya, pemerintah dengan gerakan moderatisasinya berusaha
membungkam reaksi umat Islam. Di tanamkan sikap toleran, moderat, dan
menganggap semua itu bukan perkara serius yang perlu ditanggapi. Bahkan umat
yang baik itu berdiam diri atas tindakan penghinaan diluar batas itu. Disini
sering kita melihat sikap aneh penguasa negeri Islam terasuk Indonesia.
Kenapa tidak mengamputasi sumber penyakit? Tapi sebaliknya memaksa dengan
halus kepada umat Islam untuk menerima dan menganggap biasa terhadap
penyakit tersebut. Wajar kalau kemudian umat ini kehilangan haibahnya
(wibawa dan kehormatanya), dibawah kendali pemimpin yang tidak mengerti
bagaimana berkhikmat untuk agamanya. Bisa jadi "ka'bah kiblat umat Islam itu
di bombardir" penguasa juga akan diam seribu bahasa, dan akan lebih sibuk
membungkan reaksi umat Islam dibandingkan dia menghukum orang yang telah
menghinakan umat Islam. 

Presiden Susilo BY yang pernah mengatakan "I love the United States, with
all its faults. I consider it my second country." barangkali pada kasus ini
tidak terlalu "bebal" dan menunggu berfikir "matang-matang" untuk merespon
isu dan peka terhadap aspirasi umat Islam di Indonesia. Dan SBY bisa meminta
kepada Obama sebagai presiden dari negara keduanya SBY agar menghentikan ide
sinting pendeta Terry Jones dalam peringatan 11/9. Jika terlambat, maka
"militansi" akan tersulut demikian mudahnya, seperti tumpahan minyak
ditengah terik matahari begitu peka terhadap pemantik api. Jangan sampai
semua terlambat, dan para "pemadam kebakaran" yang dengan baju "moderat" dan
"pluralisnya" sia-sia dengan apa yang mereka lakukan. Karena realitas sosial
umat Islam; ada sebagian yang tidak solat dan lainya tapi akan bertaruh
nyawa jika kehinaan (seperti rencana pembakaran al Qur'an) ini terjadi. 

Jangan sampai presiden SBY di cap tukang ngibul membual dengan retorika yang
ambigu, seperti yang ditunjukkan dalam peringatan Nuzulul Qur'an di Istana
Negara 26/8/2010: "setiap individu dinegeri ini memiliki kemerdekaan
beragama dan beribadah.Karena itu tidak boleh ada satupun yang memaksakan
kehendak, apalagi dengan kekerasan..". Apa itu artinya komunitas seperti
Ahmadiyah dan semisalnya yang jelas-jelas menghina umat Islam itu juga
dibiarkan dan harus bebas? Atau bahkan dianggap bagian dari keberagaman dan
indahnya demokrasi? atau pelecehan dalam bentuk lainya baik di dalam negeri
atau oleh orang non-muslim diluar negeri itu juga termasuk dinamika
demokrasi dengan kebebasan berpendapatnya? 

Ingatlah warning al Qur'an! 

Sikap dasar yang dimiliki umat Islam dalam memandang hubungan dengan orang
non-muslim sangat jelas.Standar kebenaran untuk bersikap tertuang dalam al
Qur'an; 

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu
mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah
petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka
setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung
dan penolong bagimu".(QS. Al Baqarah: 120) 

Begitu juga dipertegas lagi tentang posisi mereka dan hakikat sikap mereka: 

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman
kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak
henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang
menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang
disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah Kami
terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya"(QS.Al Imran:118)


Hari ini umat Islam terus menerus menemukan relevansi kebenaran dari
ayat-ayat diatas dalam ruang demokrasi yang menghegemoni hampir seluruh
negeri kaum muslimin. 

Umat Islam mendapat penghinaan nyaris tanpa perlawanan, karena sikap
hipokrit (munafik) Barat. Dan suatu ketika, siapa yang akan disalahkan jika
bendungan kesabaran umat ini sudah di titik kulminasinya.Bisa jadi umat bisu
seperti yang dikehendaki oleh orang kafir dan munafikin, atau sebaliknya
akan bangkit dalam berbagai rupa, ini semua niscaya.Dan inilah buah
simalakama demokrasi!.Wallahu a'lam bisshowab 

postingan ini boleh di sebarkan sebagai sarana kita untuk berdakwah , smoga
Anda mendapatkan pahala dari Allah SWT  ... 

http://hizbut-tahrir.or.id/2010/08/28/agenda-sinting-peringatan-11-september
-dan-hipokritnya-barat/ 

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke