Mas Yudi,

 

Meninggalkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah dan menjalankan apa-apa
yang diwajibkan oleh Allah sudah menjadi keharusan bagi hamba-Nya. Tanpa
mengecilkan paparan berbagai hikmah dari keharaman atau kewajiban yang
sudah ditetapkan oleh Allah, mentalitas seorang muslim seharusnya
melaksanakan perintah dari Allah adalah karena ketakwaan dan
ketundukannya kepada Allah, bukan "sekedar" karena hikmahnya.

 

Hikmah2 seperti di bawah ini :

1/ Berpotensi untuk di-counter, baik karena memang argument atau hasik
empiriknya yang tidak kuat atau karena memang banyak juga orang-orang
yang mencari-cari kelemahan dari ajaran Islam, sehingga berusaha
menegasikan berbagai hikmah yang diungkap.

2/ Berpotensi untuk menshape behavior kaum muslimin untuk mau
melaksanakan perintah Allah hanya kalau sudah menemukan hikmahnya.
Padahal kita harus Sami'na wa atho'na, bila memang kita adalah
orang-orang yang beriman.

 

Kita yakini saja bahwa semua ketetapan Allah itu ada hikmahnya, pasti
ada maslahat di dalamnya. Namun kita harus menyadari adanya keterbatasan
akal manusia, sehingga bisa jadi hikmah atau maslahat itu tidak atau
belum dapat ditemukan sampai saat ini.

 

Demikian menurut pendapat saya. Wallahua'lam.

Wassalam.

-Ning

 

 

From: wanita-muslimah@yahoogroups.com
[mailto:wanita-musli...@yahoogroups.com] On Behalf Of Yudi Yuliyadi
Sent: Tuesday, August 31, 2010 9:11 AM
To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Subject: [wanita-muslimah] Hikmah Pengharaman Babi

 

  

Hikmah Pengharaman Babi

Hal ini penting untuk diketahui, terutama oleh pemuda-pemuda kita yang
sering pergi ke negara-negara Eropa dan Amerika, yang menjadikan daging
babi
sebagai makanan pokok dalam hidangan mereka.

Dalam kesempatan ini, saya sitir kembali kejadian yang berlangsung
ketika
Imam Muhammad Abduh mengunjungi Perancis. Mereka bertanya kepadanya
mengenai
rahasia diharamkannya babi dalam Islam. Mereka bertanya kepada Imam, 

Kalian (umat Islam) mengatakan bahwa babi haram. Antara lain ia memakan
sampah yang mengandung cacing pita, mikroba-mikroba dan bakteri-bakteri
lainnya. Hal itu sekarang ini sudah tidak ada. Babi diternak dalam
peternakan modern, dengan kebersihan terjamin, dan proses sterilisasi
yang
mencukupi. Bagaimana mungkin babi-babi itu terjangkit cacing pita atau
bakteri dan mikroba lainnya.? 

Imam Muhammad Abduh tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dan dengan
kecerdikannya beliau meminta mereka untuk menghadirkan dua ekor ayam
jantan
beserta satu ayam betina, dan dua ekor babi jantan beserta satu babi
betina.

Mengetahui hal itu, mereka bertanya, "Untuk apa semua ini?" 

Beliau menjawab, "Penuhi apa yang saya pinta, maka akan saya perlihatkan
suatu rahasia."

Mereka memenuhi apa yang beliau pinta. Kemudian beliau memerintahkan
agar
melepas dua ekor ayam jantan bersama satu ekor ayam betina dalam satu
kandang. Kedua ayam jantan itu berkelahi dan saling membunuh, untuk
mendapatkan ayam betina bagi dirinya sendiri, hingga salah satu
darikeduanya
hampir tewas. Beliau lalu memerintahkan agar mengurung kedua ayam
tersebut.

Kemudian beliau memerintahkan mereka untuk melepas dua ekor babi jantan
bersama dengan satu babi betina. Kali ini mereka menyaksikan keanehan.
Babi
jantan yang satu membantu temannya sesama jantan untuk melaksanakan
hajat
seksualnya, tanpa rasa cemburu, tanpa harga diri atau keinginan untuk
menjaga babi betina dari temannya.

Selanjutnya beliau berkata, "Saudara-saudara, daging babi membunuh
'ghirah'
orang yang memakannya. Itulah yang terjadi pada kalian.

Seorang lelaki dari kalian melihat isterinya bersama lelaki lain, dan
membiarkannya tanpa rasa cemburu, dan seorang bapak di antara kalian
melihat
anak perempuannya bersama lelaki asing, dan kalian membiarkannya tanpa
rasa
cemburu, dan was-was, karena daging babi itu menularkan sifat-sifatnya
pada
orang yang memakannya."

Kemudian beliau memberikan contoh yang baik sekali dalam syariat Islam.
Yaitu Islam mengharamkan beberapa jenis ternak dan unggas yang
berkeliaran
di sekitar kita, yang memakan kotorannya sendiri. Syariah memerintahkan
bagi
orang yang ingin menyembelih ayam, bebek atau angsa yang memakan
kotorannya
sendiri agar mengurungnya selama tiga hari,memberinya makan dan
memperhatikan apa yang dikonsumsi oleh hewan itu. Hingga perutnya bersih
dari kotoran-kotoran yang mengandung bakteri dan mikroba. Karena
penyakit
ini akan berpindah kepada manusia, tanpa diketahui dan dirasakan oleh
orang
yang memakannya. 

Itulah hukum Allah, seperti itulah hikmah Allah. Ilmu pengetahuan modern
telah mengungkapkan banyak penyakit yang disebabkan mengkonsumsi daging
babi. Sebagian darinya disebutkan oleh Dr. Murad Hoffman,seorang Muslim
Jerman, dalam bukunya: 

"Pergolakan Pemikiran: Catatan Harian Muslim Jerman", halaman 130-131: 

"Memakan daging babi yang terjangkiti cacing babi tidak hanya berbahaya,
tetapi juga dapat menyebabkan meningkatnya kandungan kolestrol dan
memperlambat proses penguraian protein dalam tubuh, yang mengakibatkan
kemungkinan terserang kanker usus, iritasi kulit, eksim,dan rematik.
Bukankah sudah kita ketahui, virus-virus influenza yang berbahaya hidup
dan
berkembang pada musim panas karena medium babi?"

Dr. Muhammad Abdul Khair, dalam bukunya Ijtihadt fi at Tafsir al Qur'an
alKarim, halaman 112, menyebutkan beberapa penyakit yang disebabkan oleh
daging babi: "Daging babi mengandung benih-benih cacing pita dan cacing
trachenea lolipia. Cacing-cacing ini akan berpindah kepada manusia yang
mengkonsumsi daging babi tersebut. Patut dicatat, hingga saat ini,
generasi
babi belum terbebaskan dari cacing-cacing ini.

Penyakit lain yang ditularkan oleh daging babi banyak sekali, di
antaranya: 

Kolera babi. Yaitu penyakit berbahaya yang disebabkan oleh virus
Keguguran
nanah, yang disebabkan oleh bakteri prosillia babi.

Kulit kemerahan, yang ganas dan menahun. Yang pertama bisa menyebabkan
kematian dalam beberapa kasus, dan yang kedua menyebabkan gangguan
persendian. 

Penyakit pengelupasan kulit. Benalu eskares, yang berbahaya bagi
manusia. 

Fakta-fakta berikut cukup membuat seseorang untuk segera menjauhi babi.

Babi adalah hewan yang kerakusannya dalam makan tidak tertandingi hewan
lain. Ia makan semua makanan di depannya. Jika perutnya telah penuh atau
makanannya telah habis, ia akan memuntahkan isi perutnya dan memakannya
lagi, untuk memuaskan kerakusannya. 

Ia tidak akan berhenti makan,bahkan memakan muntahannya. Ia memakan
semua
yang bisa dimakan di hadapannya.Memakan kotoran apa pun di depannya,
entah
kotoran manusia, hewan atau tumbuhan, bahkan memakan kotorannya sendiri,
hingga tidak ada lagi yang bisa dimakan di hadapannya.

Ia mengencingi kotoranya dan memakannya jika berada di hadapannya,
kemudian
memakannya kembali. Ia memakan sampah, busuk-busukan, dan kotoran hewan.
Ia
adalah hewan mamalia satu-satunya yang memakan tanah,memakannya dalam
jumlah
besar dan dalam waktu lama, jika dibiarkan.

Kulit orang yang memakan babi akan mengeluarkan bau yang tidak sedap.

Penelitian ilmiah modern di dua negara Timur dan Barat, yaitu Cina dan
Swedia -Cina mayoritas penduduknya penyembah berhala, sedangkan Swedia
mayoritas penduduknya sekular- menyatakan: daging babi merupakan
merupakan
penyebab utama kanker anus dan kolon. 

Persentase penderita penyakit ini di negara-negara yang penduduknya
memakan
babi, meningkat secara drastis. Terutama di negara-negara Eropa, dan
Amerika, serta di negara-negara Asia (seperti Cina dan India). Sementara
di
negara-negara Islam, persentasenya amat rendah, sekitar 1/1000. 

Hasil penelitian ini dipublikasikan pada 1986, dalam Konferensi Tahunan
Sedunia tentang Penyakit Alat Pencernaan, yang diadakan di Sao Paulo.

Kini kita tahu betapa besar hikmah Allah mengharamkan daging dan lemak
babi.

Untuk diketahui bersama, pengharaman tersebut tidak hanya daging babi
saja,
namun juga semua makanan yang diproses dengan lemak babi, seperti
beberapa
jenis permen dan coklat, juga beberapa jenis roti yang bagian atasnya
disiram dengan lemak babi. Kesimpulannya, semua hal yang menggunakan
lemak
hewan hendaknya diperhatikan sebelum disantap. 

Kita tidak memakannya kecuali setelah yakin bahwa makanan itu tidak
mengandung lemak atau minyak babi, sehingga kita tidak terjatuh ke dalam
kemaksiatan terhadap Allah SWT, dan tidak terkena bahaya-bahaya yang
melatarbelakangi Allah SWT mengharamkan daging dan lemak babi.

[Non-text portions of this message have been removed]





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke