+ untuk lebih enaknya jangan sebut islam ahmadiyah dech ntar bingung,
mending sebut agama ahmadiyah aja, masa kita nyebut indonesia london, kan
gak nyambung hehehe ...

Pada 2 September 2010 16.34, Geri Sugiran Abdul Sukur
<abah.or...@gmail.com>menulis:

> om MAS ini kayaknya beragama ahmadiah juga tuh .. (mungkin loh, gak nuduh)
>
> Pada 2 September 2010 16.24, Lina <linadah...@yahoo.com> menulis:
>
>
>>
>> Setelah bermain kata dengan kafir langsung dan tak langsung, skrg ada lagi
>> permainan kata 'mengutip dan membajak'.
>>
>> Om MAS mo bilang karena ALQuran telah membajak Taurat dan Injil, jadi
>> syah2 saja Tadzkirah membajak AlQur'an. Membajak=mengutip??? he he he aya2
>> wae. Mari kita buka Kamus Besar Bhs Indonesia: apa itu membajak n apa itu
>> mengutip.
>>
>> Memang om MGA gak pernah bilang kitab suci Tadzkirah. Memang ungkapan
>> 'kitab suci'diberikan oleh orang LPPI. Tapi ane kok bisa mengerti knp om
>> AMin memberi ungkapan kitab suci kpd Tadzkirah, karena bagi ahmadiers tentu
>> saja buku itu buku yg harus diimani (=buku suci=kitab suci). Bukti nya ane
>> yg gak beriman ama Tadzkirah berarti ane gak percaya ama kerasulan MGA,
>> dibilang kafir (tak langsung)..aha aha. Gpp seh, mo dibilang kafir langsung
>> ama om MAS krn hal ini..ya gpp juga...:-))
>>
>> Jadi wahyu2 yang diperlukan oleh MGA utk melegitimasi, spt pernikahannya,
>> yang gak bisa di kutip dari AlQur'an (krn emang gak ada)....yaaa harus ada
>> wahyunya sendiri, yaitu di Tadzkirah.
>>
>> Pan kalo soal kerasulan 'Ahmad' buat om MGA ntu bisa di bajak (ape di
>> kutip ye...) dari AlQur'an (karena ada disebut kata 'Ahmad' dlm AlQuran).
>> Nah sebisa mungkin deh terjemahan dan tafsir di plintir sedemikian rupa agan
>> AHmad itu merujuk ke MGA. (Nah ini yg ane maksud setelah membaca ada kata
>> Ahmad dalam AQ, maka di plintirlah makna nya menjadi lain dari mainstrean).
>> Maka jadilah Tadzkirah berkesesuaian dgn AlQuran. Yaaa suka suka lah.
>>
>> eh om MAS, ada gak ahmadiers yg gak percaya ama Tadzkirah???
>>
>> Makasih and wassalam,
>>
>> **********
>>
>> > > 2. Ahmadiyah Qadyan mempunyai kitab suci sendiri yaitu kitab suci
>> > > "Tadzkirah".
>> >
>> > Tidak diragukan lagi bagi Jemaat Ahmadiyah bahwa tidak ada kitab suci
>> lain kecuali Al-Qur'an, dan nama Tadzkirah yang disebut-sebut sebagai kitab
>> suci baru muncul sekitar tahun 1992 ketika salah seorang penulis buku yang
>> terbit di Indonesia yaitu M. Amin Djamaluddin mengarang buku berjudul
>> Ahmadiyah & Pembajakan Al-Qur'an. Jadi, istilah kitab suci yang melekat pada
>> buku Tadzkirah memang diciptakan oleh M. Amin Djamaluddin (Ketua LPPI),
>> bukan oleh Jemaat Ahmadiyah.
>> >
>> > Di dalam literatur-literatur Ahmadiyah apa pun, sejak masa hidup Hz.
>> Mirza Ghulam Ahmad a.s. (1835-1908) sampai dengan hari ini, tidak pernah
>> ditemukan istilah kitab suci untuk Tadzkirah.
>> >
>> > Ayat-ayat al-Qur'an adalah milik Allah Ta'ala, bukan milik M. Amin
>> Djamaluddin dan kroni-kroninya, sehingga jika ada beberapa wahyu yang beliau
>> terima merupakan pengulangan dari ayat-ayat suci Al-Qur'an. Hal tersebut
>> dimaksudkan sebagai penekanan pada beberapa segi konotasi ayat-ayat tertentu
>> dan penerapannya pada situasi tertentu. Dengan adanya beberapa wahyu yang
>> sama redaksinya dengan ayat suci Al-Qur'an serta diulang-ulang, bukanlah
>> pilihan dan keinginan dari Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai penerima
>> wahyu, namun hal itu semata-mata merupakan kehendak dari Allah Ta'ala
>> sebagai Pemberi Wahyu.
>> >
>> > Jadi, jika tuduhannya adalah membajak ayat-ayat suci Al-Qur'an, maka
>> tuduhan itu tidak ada dasarnya sama sekali, sebab dapat kita temukan juga
>> `pembajakan' serta pengulangan-pengulangan ayat-ayat Al-Qur'an dalam
>> kehidupan sehari-hari.
>> >
>> > Contohnya adalah pengutipan ayat-ayat Qur'an dalam ceramah-ceramah dan
>> juga dalam tulisan di berbagai macam buku. Orang-orang yang mengutip
>> ayat-ayat suci Al-Qur'an itu juga dapat dikatakan telah membajak kitab suci
>> Al-Qur'an dengan menurutkan tuduhan para penentang Ahmadiyah, sebab mereka
>> tidak meminta izin dari Pemilik Al-Qur'an yaitu Allah Ta'ala untuk mengutip
>> isi Al-Qur'an.
>> >
>> > Bahkan dalam Al-Qur'an Karim juga dapat kita temukan kesamaan dengan
>> kitab-kitab suci terdahulu sebelum lahirnya Al-Qur'an. Kalau begitu
>> keadaannya, apakah kita punya keberanian untuk mengatakan bahwa Islam telah
>> mengacak-acak dan membajak isi dari kitab-kitab sebelumnya seperti Taurat
>> dan Injil karena ada beberapa ayat dalam Al-Qur'an Karim yang merupakan
>> pengulangan dari kedua kitab tersebut?
>> >
>> > "Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku,…" (61:
>> 6)
>> > "Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: "Hai Bani Israil,…"
>> (61: 7)
>> >
>> > Apakah kita mau mengatakan bahwa, na'udzubillahii min dzalik, Rasululah
>> Muhammad s.a.w. telah membajak perkataan nabi-nabi sebelumnya? Demikian pula
>> halnya dengan kisah-kisah yang terdapat dalam Taurat juga ada di dalam
>> Al-Qur'an, apakah kita juga ingin mengatakan bahwa Al-Qur'an telah menyadur
>> dan membajak isi Taurat?
>> > Bahkan ahl-kitab (Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa banyak ayat
>> Al-Qur'an yang diambil dari Alkitab (Bible). Dengan kata lain, dapat pula
>> orang Islam dituduhkan telah membajak isi Alkitab mereka. Apakah kita
>> sanggup menerima tuduhan ini dengan lapang dada? Tentu tidak.
>> >
>> > > 3. Kitab suci "Tadzkirah"adalah kumpulan "wahyu" yang diturunkan
>> "Tuhan"
>> > > kepada "Nabi Mirza Ghulam Ahmad" yang kesuciannya sama dengan Kitab
>> Suci
>> > > Al-Qur'an dan kitab-kitab suci yang lain seperti; Taurat, Zabur dan
>> Injil,
>> > > karena sama-sama wahyu dari Tuhan.
>> >
>> > Tadzkirah bukanlah kitab suci bagi Jemaat Ahmadiyah, dan kitab sucinya
>> Jemaat Ahmadiyah adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Besar Muhammad
>> s.a.w. yaitu Al-Qur'an.
>> >
>> > Demikian pula Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. telah menyatakan mengenai
>> Al-Qur'an sebagai berikut:
>> >
>> > "Tidak ada kitab kami selain Qur'an Syarif. Dan tidak ada rasul kami
>> kecuali Muhammad Musthafa shallallaahu `alaihi wasallam. Dan tidak ada agama
>> kami kecuali Islam. Dan kita mengimani bahwa nabi kita s.a.w. adalah
>> Khaatamul Anbiya', dan Qur'an Syarif adalah Khaatamul Kutub. Jadi, janganlah
>> menjadikan agama sebagai permainan anak-anak. Dan hendaknya diingat, kami
>> tidak mempunyai pendakwaan lain kecuali sebagai khadim Islam. Dan siapa saja
>> yang mempertautkan hal [yang bertentangan dengan] itu pada kami, dia
>> melakukan dusta atas kami. Kami mendapatkan karunia berupa berkat-berkat
>> melalui Nabi Karim s.a.w. Dan kami memperoleh karunia berupa
>> makrifat-makrifat melalui Qur'an Karim. Jadi, adalah tepat agar setiap orang
>> tidak menyimpan di dalam kalbunya apa pun yang bertentangan dengan petunjuk
>> ini. Jika tidak, dia akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah Ta'ala.
>> Jika kami bukan khadim Islam, maka segala upaya kami akan sia-sia dan
>> ditolak, serta akan diperkarakan." (Maktubaat-e-Ahmadiyyah, jld. 5, no. 4)
>> >
>> > Jadi, yang namanya Tadzkirah sebenarnya adalah sebuah buku yang berisi
>> kumpulan wahyu-wahyu, kasyaf-kasyaf serta mimpi-mimpi yang diterima oleh Hz.
>> Mirza Ghulam Ahmad dalam hidupnya selama lebih dari 30 tahun. Selama Hz.
>> Mirza Ghulam Ahmad hidup, tidak ada buku yang bernama Tadzkirah dalam
>> lingkungan Jemaat Ahmadiyah dan Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. tidak pernah
>> menulis buku yang berjudul Tadzkirah.
>> >
>> > Buku Tadzkirah ini dibuat atas prakarsa Hz. Mirza Bashiruddin Mahmud
>> Ahmad r.a. bertahun-tahun kemudian setelah wafatnya Hz. Mirza Ghulam Ahmad
>> a.s., yaitu pada sekitar tahun 1935, ia menginstruksikan Nazarat Ta'lif wa
>> Tashnif, sebuah biro penerangan dan penerbitan Jemaat Ahmadiyah pada waktu
>> itu untuk menghimpun wahyu-wahyu, kasyaf-kasyaf serta mimpi-mimpi yang
>> diterima Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagaimana terdapat dalam berbagai
>> macam terbitan (buku-buku, jurnal-jurnal [selebaran, majalah] dan surat
>> kabar-surat kabar) yang mana materi terbitan itu telah disebarkan kepada
>> umum pada saat itu. Selain dari berbagai macam terbitan, dari
>> catatan-catatan harian Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. juga ditemukan keterangan
>> mengenai pengalaman ruhani beliau, juga tidak ketinggalan adanya kesaksian
>> dari para Sahabat, anggota keluarga, kerabat, dan lainnya, di mana mereka
>> diberitahu oleh Hz. Mirza Ghulam Ahmad mengenai wahyu, kasyaf, mimpi yang
>> beliau terima dari Allah Ta'ala.
>> >
>> > Untuk maksud ini dibentuklah sebuah panitia yang terdiri dari Maulana
>> Muhammad Ismail, Syekh Abdul Qadir dan Maulvi Abdul Rasyid. Panitia tersebut
>> kemudian menyusun wahyu-wahyu, kasyaf-kasyaf serta mimpi-mimpi yang diterima
>> Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. secara sistematis dan kronologis ke dalam bentuk
>> sebuah buku. Setelah pekerjaan tersebut selesai, maka buku tersebut diberi
>> nama Tadzkirah. Nama Tadzkirah sendiri mempunyai arti kenangan atau
>> peringatan. Buku ini kemudian dicetak dalam jumlah yang terbatas, dan di
>> Indonesia pun jumlahnya sangat terbatas serta hanya dimiliki oleh mereka
>> yang mengerti bahasa Urdu.
>> >
>>
>>  
>>
>
>
>
> --
> Best Regard
>
>
>
> Kang Gery | Pengelana Blog
>
> ID Ym : wiji_tukul | Phone : +6281282750057 | Office : SaungIDE Media Citra
>
> Blog : http://saungide.blogspot.com | Comunity Blog | http://seruit.com |
> http://lampunggech.blogspot.com ! http://blog.ujung-genteng.info |
> http://ujung-genteng.info
>
>


-- 
Best Regard



Kang Gery | Pengelana Blog

ID Ym : wiji_tukul | Phone : +6281282750057 | Office : SaungIDE Media Citra

Blog : http://saungide.blogspot.com | Comunity Blog | http://seruit.com |
http://lampunggech.blogspot.com ! http://blog.ujung-genteng.info |
http://ujung-genteng.info


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke