MANAJEMEN ALLAH UNTUK MAKHLUKNYA DALAM RAMADHAN

 

(oleh Abu Taqi Mayestino)

 

 

(BAGIAN KETUJUH)

 

 

Sepuluh Hari Terakhir Romadhon dan I'tikaf

 

 

Dasar utama amal-ibadah sunnah untuk beri'tikaf ada di QS Al Baqoroh ayat
187:

 

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan
isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian
bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu,
karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang
campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan
makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu
fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi)
janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf [*] dalam mesjid.
Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

 

[*]. I'tikaf ialah berada dalam mesjid dengan niat mendekatkan diri kepada
Allah. 

 

 

Mengenai turunnya ayat ini terdapat beberapa peristiwa sebagai berikut:

a. Para shahabat Nabi SAW menganggap bahwa makan, minum dan menggauli
istrinya pada malam hari bulan Ramadhan, hanya boleh dilakukan sementara
mereka belum tidur. Di antara mereka Qais bin Shirmah dan Umar bin
Khaththab. Qais bin Shirmah (dari golongan Anshar) merasa kepayahan setelah
bekerja pada siang harinya. Karenanya setelah shalat Isya, ia tertidur,
sehingga tidak makan dan minum hingga pagi. 

 

Adapun Umar bin Khaththab menggauli istrinya setelah tertidur pada malam
hari bulan Ramadhan. Keesokan harinya ia menghadap kepada Nabi SAW untuk
menerangkan hal itu. Maka turunlah ayat "Uhilla lakum lailatashshiamir
rafatsu sampai atimmush shiyama ilal lail" (S. 2: 187) 


(Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan al-Hakim dari Abdurrahman bin Abi
Laila, yang bersumber dari Mu'adz bin Jabal. Hadits ini masyhur, artinya
hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih kepada tiga orang atau
lebih dan seterusnya. Walaupun ia tidak mendengar langsung dari Mu'adz bin
Jabal, tapi mempunyai sumber lain yang memperkuatnya.) 

 

 

b. Seorang shahabat Nabi SAW tidak makan dan minum pada malam bulan
Ramadhan, karena tertidur setelah tibanya waktu berbuka puasa. Pada malam
itu ia tidak makan sama sekali, dan keesokan harinya ia berpuasa lagi.
Seorang shahabat lainnya bernama Qais bin Shirmah (dari golongan Anshar),
ketika tiba waktu berbuka puasa, meminta makanan kepada istrinya yang
kebetulan belum tersedia. Ketika istrinya menyediakan makanan, karena
lelahnya bekerja pada siang harinya, Qais bin Shirmah tertidur. 

 

Setelah makanan tersedia, istrinya mendapatkan suaminya tertidur. Berkatalah
ia: "Wahai, celakalah engkau." (Pada waktu itu ada anggapan bahwa apabila
seseorang sudah tidur pada malam hari bulan puasa, tidak dibolehkan makan).
Pada tengah hari keesokan harinya, Qais bin Shirmah pingsan. Kejadian ini
disampaikan kepada Nabi SAW. Maka turunlah ayat tersebut di atas (S. 2: 187)
sehingga gembiralah kaum Muslimin. 

 

c. Para shahabat Nabi SAW apabila tiba bulan Ramadhan tidak mendekati
istrinya sebulan penuh. Akan tetapi terdapat di antaranya yang tidak dapat
menahan nafsunya. Maka turunlah ayat " 'Alimal lahu annakum kuntum
takhtanuna anfusakum fataba'alaikum wa'afa 'ankum sampai akhir ayat." 
(Diriwayatkan oleh Bukhari dari al-Barra.) 

 

d. Pada waktu itu ada anggapan bahwa pada bulan Ramadhan yang puasa haram
makan, minum dan menggauli istrinya setelah tertidur malam hari sampai ia
berbuka puasa keesokan harinya. Pada suatu ketika 'umar bin Khaththab pulang
dari rumah Nabi SAW setelah larut malam. Ia menginginkan menggauli istrinya,
tapi istrinya berkata: "Saya sudah tidur." 'Umar berkata: "Kau tidak tidur",
dan ia pun menggaulinya.

 

Demikian juga Ka'b berbuat seperti itu. Keesokan harinya 'umar menceritakan
hal dirinya kepada Nabi SAW. Maka turunlah ayat tersebut di atas (S. 2: 187)
dari awal sampai akhir ayat. 


(Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim dari Abdullah bin
Ka'b bin Malik, yang bersumber dari bapaknya.) 

 

e. Kata "minal fajri" dalam S. 2: 187 diturunkan berkenaan dengan
orang-orang pada malam hari, mengikat kakinya dengan tali putih dan tali
hitam, apabila hendak puasa. Mereka makan dan minum sampai jelas terlihat
perbedaan antara ke dua tali itu, Maka turunlah ayat "minal fajri". Kemudian
mereka mengerti bahwa khaithul abydlu minal khaitil aswadi itu tiada lain
adalah siang dan malam. 


(Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Sahl bin Sa'id.) 

 

f. Kata "wala tubasyiruhunna wa antum 'akifuna fil masajid" dalam S. 2: 187
tersebut di atas turun berkenaan dengan seorang shahabat yang keluar dari
masjid untuk menggauli istrinya di saat ia sedang i'tikaf. 


(Diriwayatkan oleh ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah.) 

 

 

 

Beberapa Hadits sehubungan dengan sepuluh hari terakhir Romadhon dan
I'tikaf:

 

"Apabila Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir
(bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri
beliau dari berjima', pen), menghidupkan malam-malam tersebut dan
membangunkan keluarganya." (HR. Bukhari & Muslim)

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada
sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di
waktu yang lainnya." (HR. Muslim)

"Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu
panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan
nampak kemerah-merahan." (HR. Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan
periwayatnya adalah tsiqoh/terpercaya)

 

Dalam sepuluh hari terakhir ini, kaum muslimin dianjurkan (disunnahkan)
untuk melakukan i'tikaf. Sebagaimana Abu Hurairah mengatakan bahwa
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa beri'tikaf pada setiap
Ramadhan selama 10 hari dan pad...a akhir hayat, beliau melakukan i'tikaf
selama 20 hari. (HR. Bukhari)

Lalu apa yang dimaksud dengan i'tikaf? Dalam kitab Lisanul Arab, i'tikaf
bermakna merutinkan (menjaga) sesuatu. Sehingga orang yang mengharuskan
dirinya untuk berdiam di masjid dan mengerjakan ibadah di dalamya disebut
mu'takifun atau 'akifun. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/150)

Dan paling utama adalah beri'tikaf pada hari terakhir di bulan Ramadhan.
Aisyah radhiyallahu 'anha mengatakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam biasa beri'tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan sampai Allah
'azza wa jalla mewafatkan beliau. (HR. Bukhari & Muslim)

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah beri'tikaf di 10 hari
terakhir dari bulan Syawal sebagai qadha' karena tidak beri'tikaf di bulan
Ramadhan. (HR. Bukhari & Muslim)




Dari Shohih Bukhori Kitab I'tikaf:
 

993. Aisyah r.a. istri Nabi mengatakan bahwa Nabi saw. selalu beri'tikaf
pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan sehingga Allah
mewafatkan beliau. Setelah itu para istri beliau beri'tikaf sepeninggal
beliau. 

994. Aisyah r.a. berkata, "Sungguh Rasulullah memasukkan kepala beliau
kepadaku ketika beliau sedang beri'tikaf di masjid, lalu saya menyisirnya.
Apabila beliau beri'tikaf, maka beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena
ada keperluan."

995. Ibnu Umar r.a. mengatakan bahwa Umar bertanya kepada Nabi saw. (dalam
satu riwayat: dari Ibnu Umar dari Umar ibnul Khaththab bahwa dia 2/259)
berkata, "(Wahai Rasulullah! Pada zaman jahiliah dulu, saya bernazar untuk
beri'tikaf semalam di Masjidil Haram." Beliau bersabda, "Penuhilah nazarmu."
(Lalu Umar beri'tikaf semalam 2/260).


I'tikafnya Kaum perempuan

996. Aisyah r.a. berkata, "Nabi beri'tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari
(dalam satu riwayat: setiap 2/259) bulan Ramadhan. Maka, saya buatkan untuk
beliau sebuah tenda. Setelah shalat subuh, beliau masuk ke dalam tenda itu.
(Apakah Aisyah meminta izin kepada beliau untuk beri'tikaf? Lalu Nabi
memberinya izin, lantas dia membuat kubah di dalamnya. Maka, Hafshah
mendengarnya). Kemudian Hafshah meminta izin kepada Aisyah untuk membuat
sebuah tenda pula, maka Aisyah mengizinkannya. Kemudian Hafshah membuat
tenda (dalam satu riwayat: kubah). Ketika Zainab binti Jahsy melihat tenda
itu, maka ia membuat tenda untuk dirinya. Ketika hari telah subuh, Nabi
melihat tenda-tenda itu (dalam satu riwayat: melihat empat buah kubah). 

Lalu, Nabi bertanya, 'Tenda-tenda apa ini?' Maka, diberitahukan orang kepada
beliau (mengenai informasi tentang mereka). Lalu, Nabi bersabda, 'Apakah
yang mendorong mereka berbuat begini? Bagaimanakah sebaiknya menurut pikiran
kamu mengenai mereka? (Aku tidak melakukan i'tikaf sekarang 2/260).' Lalu,
beliau menghentikan i'tikafnya dalam bulan itu. Kemudian beliau beri'tikaf
pada sepuluh hari (terakhir) bulan Syawwal."
 


Dari Kitab Hadits Bulughul Maram

Hadits ke-52


'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Disunatkan bagi orang yang beri'tikaf
untuk tidak menjenguk orang sakit, tidak melawat jenazah, tidak menyentuh
perempuan dan tidak juga menciumnya, tidak keluar masjid untuk suatu
keperluan kecuali keperluan yang sangat mendesak, tidak boleh i'tikaf
kecuali dengan puasa, dan tidak boleh i'tikaf kecuali di masjid jami'.
Riwayat Abu Dawud. Menurut pendapat yang kuat hadits ini mauquf akhirnya. 

 

Hadits ke-53


Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa
Sallam bersabda: "Tidak ada kewajiban puasa bagi orang yang i'tikaf, kecuali
ia mewajibkan atas dirinya sendiri." Riwayat Daruquthni dan Hakim. hadits
mauquf menurut pendapat yang kuat. 




Catatan Tentang Sepuluh Hari Terakhir Romadhon Dan Realitas Kehidupan Kkita 


Dari sejarah, Kholifah Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan seluruh rakyatnya
agar sudi mengakhiri puasa dengan memperbanyak istighfar dan memberikan
sadaqah, karena istighfar dan sadaqah dapat menambal yang robek-robek atau
yang pecah-pecah dari puasa. 

Menginjak hari-hari berlalunya Ramadhan, mestinya kita semakin sering
melakukan muhasabah (introspeksi) diri.

"Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap
diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan
bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan." - QS Al-Hasyr 18


Namun, sebagian orang semakin disibukkan oleh urusan lahir dan logistik
menjelang Iedul Fitri. 

Banyak yang lupa bahwa 10 malam terakhir merupakan saat-saat genting yang
menentukan nilai akhir kita di mata Allah dalam bulan mulia ini, apakah
menjadi pemenang sejati atau pecundang sejati, atau biasa saja.

Konsentrasi niat dan pikiran dapat telah bergeser dari semangat beribadah,
kepada luapan kesenangan merayakan Idul Fitri dengan berbagai kegiatan,
akibatnya lupa seharusnya sedih akan berpisah dengan bulan mulia ini.

Secara harfiah makna Idul Fitri berarti "hari kembali ke fitrah". Setelah
melalui Ujian dan proses peningkatan derajat menjadi lebih takwa yang penuh
hikmah dan dijanjikan kemenangan-kejayaan bahkan di dunia-akhirat (lihat
catatan sebelumnya), sebulan penuh.

Namun kebanyakan orang memandang Iedul Fitri laksana hari dibebaskannya
mereka dari "penjara" Ramadhan.

Akibatnya, hanya beberapa saat setelah Ramadhan meninggalkannya, ucapan dan
tindakannya kembali cenderung tak terkendali, bahkan syahwat dan birahi
diumba.r. 

Kita dapat lupa bahwa Iedul Fitri seharusnya menjadi hari di mana tekad baru
dipancangkan untuk menjalankan peran khalifah dan abdi Allah secara lebih
tptal.

Kesadaran penuh akan kehidupan dunia yang berdimensi akhirat harus berada
pada puncaknya saat Iedul Fitri, dan bukan sebaliknya. 

Lebih parah lagi, banyak yang memaksakan diri bergembira-ria, mudik,
bermewah-mewahan dan lain sebagainya saat (menjelang) Lebaran atau Iedul
Fitri dan sesudahya. 

Maraknya perampokan, penodongan, penjambretan, penipuan bermotivasi uang dan
sebagainya saat Romadhon, ditengarai juga berhubungan dengan pemahaman yang
salah akan Hari Lebaran. Hari Lebaran bahkan dapat sangat menyempit, menjadi
hari bersenang-senang dengan keluarga.

Bahkan Lebaran, dapat hampir menjadi tradisi membabi-buta dirayakan dengan
cara-cara haraam, atau setidaknya makruh, termasuk misalnya: 

1) Berbaju, bercelana, bersepatu baru dengan sumber uang tidak halal. 

2) Mudik dengan segala cara sehingga membahayakan keuangan sendiri dan
bahkan nyawa sendiri atau orang lain. 

3) Mengkonsumsi makanan-minuman yang mengandung unsur haraam. Misalnya tak
peduli apakat tradisi kue "Black Forest Cake" yang diantar-antarkan,
mengandung minuman keras "Rhum" atau tidak, sedangkan resep aslinya sebelum
dimodifikasi bagi muslim adalah harus mengandung Rhum; juga aneka jenis Cake
lain yang notabene berasal dari budaya Barat yang tak tahu dan mungkin cukup
peduli akan kaidah haraam dan halal.   

4) Berhutang untuk Lebaran tanpa tahu bagaimana membayarnya.

5) Menjuali barang untuk Lebaran.

6) Dan sebagainya.


Bagaimana mungkin dan berani berlebaran, sedangkan engkau tidak menunaikan
ibadah Romadhon, tak menunaikan perintah Tuhan yang wajib, tak berusaha
memperbaikinya dan diri sendiri, dan tak berusaha mendekatkan diri dan jiwa
kepada Allah subhanahu wa ta'aala, Pemilik Lebaran dan dirimu?
    
Apa makna Lebaran, memangnya, lantas?

Di mana letak ketakwaan kepada Pencipta Langit dan Bumi dan dirimu yang
'jantungmu' pun bukan 'milikmu', yang engkau bahkan tak dapat membuat apapun
juga, tak juga mikroba atau apapun yang lebih kecil daripadanya?


... BERSAMBUNG ...



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke