Yudi Yuliyadi"----------------Bismilahirrahmanirrahiim.

Dari kedua ayat2 ALLAH diatas itu jelas sekali tidak ada batas2 aurat
wanita.

1 satu ayat menjelaskan tutuplah dada kamu.
2 Ayat yang lain menjelaskan tutuplah seluruh tubuhmu.

Kalau kita mengikuti tafsiran DR Q,shihab ahli Tafsir terkenal
dan berilmu luas, dimana wanita2 muslim tidak wajib berjilbab
karena ayat2 ALLAH itu hanya anjurna saja.

Bagi kami,tidak mengikuti Hadist2 budaya arab,padang pasir
kenapa disuruh menutup tubuh wanita, agar terlindung dari pasir2 panas yang 
berembus dan bisa membawa akibat sakit.

Dalam ayat2 itu juga tdk dijelaskan batas2 Aurat wanita..

Tdklah mungkin kalau kita mengikuti zaman unta 1400 tahun yg lalu
bagaimana wanita bisa bekerja dan bedagang kalau smeua tubuhnya ditutup dan 
tidak bisa mengenal siapa dia.

Sedangkan istri Rasul sebagai pedagang ulung sudah pasti berhubungan
dgn laki2 bermacam bangsa waktu itu, tidak mungkin istri rasul menutup semua 
tubuhnya tanpa dikenal siapa dia dlm berniaga.

Jadi penjasalan2 ulama2 Arab itu hanya untuk budaya Arab padang pasir
Jadi menafsirkan ayat2 ALLAH tanpa mengikti kemajuan2 pradapan manusia dan 
ilmu,maka agama islam akan tetap terbelakang...

ALLAH mengatakan dlm suatu surat, bahwa masalah2 dunia kamu, bermusyawarahlah 
kamu dgn umat2 yang lain. Kecuali masalah Ritual dan tepat2 ibadah dan kiblat 
sudah jelas2 di bedakan oleh ALLAH.

Kalau anda ingin istri anda dan anak2 wanita2 anda menutup seluruh tubuhnya 
seperti kecuali 2 lobang mata,silakan saja....kami tidak melarang dan kami 
menghormati.

Tapi kami yang tidak berjilbab dan tangan dan kaki terbuka, jangan kami 
dilarang dan diiharamkan hormati pula kami dgn keyakinan kami.

Biarlah ALLAH saja nanti yang akan mengadili kita siapa yg sesat dan benar 
antara kita.

Setujukah demikian?

salam


--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, " <y...@...> wrote:
>
> Jilbab Wanita Muslimah
> 
> Oleh : Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani
> 
>  
> 
>           Dewasa ini kita melihat banyak kaum muslimah yang tidak berjilbab
> dan apabila ada yang berjilbab bukan dengan tujuan untuk menutup aurat-aurat
> mereka akan tetapi  dengan tujuan mengikuti mode, agar lebih anggun dan
> alasan lainnya. Sehingga mereka walaupun berjilbab tetapi masih
> memperlihatkan bentuk tubuh mereka dan mereka masih ber-tasyabbuh kepada
> orang kafir. Tidak hanya itu mereka menghina wanita muslimah yang mengenakan
> jilbab yang syar'i, dengan mengatakan itu pakaian orang kolot, pakaian orang
> radikal, dan mereka mengatakan jilbab (yang syar'i) adalah  budaya arab yang
> sudah ketinggalan zaman,  serta banyak lagi ejekan-ejekan yang tidak pantas
> keluar dari mulut seorang muslim. Hal ini karena kejahilan dan ketidak
> pedulian mereka untuk mencari ilmu tentang pakaian  wanita muslimah yang
> syar'i. Untuk itu pada edisi  ini kami muat penjelasan Syaikh Albani tentang
> Syarat-syarat Jilbab Wanita Muslimah yang sesuai dengan tuntunan syari'at.
> 
>           
> 
> MELIPUTI SELURUH  BADAN SELAIN YANG DIKECUALIKAN
> 
>           Syarat ini terdapat dalam firman Allah dalam surat An-Nuur ayat 31
> : 
> 
> Artinya: "Katakanlah kepada wanita yang beriman.Hendaklah mereka menahan
> pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka
> menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan
> hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlah
> menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka
> atau ayah suami mereka (mertua) atau putra-putra mereka atau putra-putra
> suami mereka atau saudara-saudara mereka (kakak dan adiknya) atau
> putra-putra saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuan
> mereka (keponakan) atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka
> miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan
> (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti aurat wanita..." 
> 
>           Juga firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat  59  : Artinya: "Hai
> Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri
> orang mumin: "Hendaklah mereka mengulurkann jilbabnya ke seluruh tubuh
> mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu
> mereka   tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha
> Penyayang."
> 
>           Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya : "Janganlah kaum
> wanita  menampakkan sedikitpun dari perhiasan mereka kepada pria-pria ajnabi
> (yang bukan mahram/halal nikah), kecuali yang tidak mungkin disembunyikan."
> Ibnu Masud berkata : Misalnya selendang  dan kain lainnya. "Maksudnya adalah
> kain kudung yang biasa dikenakan oleh wanita Arab di atas pakaiannya serat
> bagian bawah pakiannya yang tampak, maka itu bukan dosa baginya, karena
> tidak mungkin  disembunyikan." 
> 
>           Al-Qurthubi berkata : Pengecualian itu adalah pada wajah dan
> telapak tangan. Yang menunjukkan hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh
> Abu Daud dari Aisyah bahwa Asma binti Abu Bakr menemui Rasulullah sedangkan
> ia memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah berpaling darinya dan berkata
> kepadanya : "Wahai Asma ! Sesungguhnya jika seorang wanita itu telah
> mencapai masa haid, tidak baik jika ada bagian tubuhnya yang terlihat,
> kecuali ini." Kemudian beliau menunjuk wajah dan telapak tangannya. Semoga
> Allah memberi Taufik dan tidak ada Rabb selain-Nya."
> 
>  
> 
> BUKAN SEBAGAI PERHIASAN
> 
>           Ini berdasarkan firman Allah dalam surat An-Nuur ayat 31 :
> 
> Artinya: "Dan janganlah kaum wanita itu menampakkan perhiasan mereka."
> Secara umum kandungan ayat ini juga mencakup pakaian biasa jika dihiasi
> dengan sesuatu, yang menyebabkan kaum laki-laki melirikkan pandangan
> kepadanya. 
> 
>           Hal ini dikuatkan oleh firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 33 :
> 
> Artinya: "Dan  hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias
> dan bertingkah laku seperti oang-orang jahiliyah."
> 
>           Juga berdasarkan sabda Nabi :
> 
> "Ada tida golongan yang tidak akan ditanya yaitu, seorang laki-laki yang
> meninggalkan jamaah kaum muslimin dan mendurhakai imamnya (penguasa) serta
> meninggal dalam keadaan durhaka, seorang budak wanita atau laki-laki yang
> melarikan diri (dari tuannya) lalu ia mati, serta seorang wanita yang
> ditinggal oleh suaminya, padahal suaminya telah mencukupi keperluan
> duniawinya, namun setelah itu ia bertabarruj. Ketiganya itu tidak akan
> ditanya." (Ahmad VI/19; Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad).
> 
>           Tabarruj adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan
> kecantikannya serta segala sesuatu yang wajib ditutup karena dapat
> membangkitkan syahwat laki-laki. (Fathul Bayan VII/19).
> 
>  
> 
> KAINNYA TIDAK TRANSPARAN
> 
>           Sebab yang namanya menutup itu tidak akan terwujud kecuali tidak
> trasparan. Jika transparan, maka hanya akan mengundang fitnah (godaan) dan
> berarti menampakkan perhiasan. Dalam hal ini Rasulullah telah bersabda :
> "Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakain namun
> (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti punuk unta. Kutuklah
> mereka karena sebenarnya mereka adalah kaum wanita yang terkutuk."
> (At-Thabrani Al-Mujamusshaghir : 232).
> 
>           Di dalam hadits lain terdapat tambahan  yaitu : "Mereka tidak akan
> masuk surga dan juga tidak akan mencium baunya, padahal baunya surga itu
> dapat dicium dari perjalanan sekian dan sekian."  (HR.Muslim).  
> 
>           Ibnu Abdil Barr berkata : Yang dimaksud oleh Nabi adalah kaum
> wanita yang mengenakan pakaian yang tipis, yang dapat mensifati
> (menggambarkan) bentuk tubuhnya dans tidak dapat menutup atau
> menyembunyikannya. Mereka itu tetap berpakaian namanya, akan tetapi
> hakekatnya telanjang. ( Tanwirul Hawalik III/103). 
> 
>           Dari Abdullah bin Abu Salamah, bahawsannya Umar bin Al-Khattab
> pernah memakai baju Qibtiyah (jenis pakaian dari Mesir yang tipis dan
> berwarna putih) kemudian Umar berkata : Jangan kamu pakaikan baju ini untuk
> istri-istrimu !. Seseorang kemudian bertanya : Wahai Amirul Muminin, Telah
> saya pakaikan itu kepada istriku dan telah aku lihat di rumah dari arah
> depan maupun belakang, namun aku tidak melihatnya sebagai pakaian yang tipis
> !. Maka Umar menjawab : Sekalipun tidak tipis,namun ia menggambarkan lekuk
> tubuh." (H.R. Al-Baihaqi II/234-235). 
> 
>           
> 
> HARUS LONGGAR (TIDAK KETAT) SEHINGGA TIDAK DAPAT MENGGAMBARKAN SESUATU
> DARI TUBUHNYA
> 
>           Usamah bin Zaid pernah berkata :
> 
> Rasulullah pernah memberiku baju Qibtiyah yang tebal yang merupakan baju
> yang dihadiahkan oleh Dihyah Al-Kalbi kepada beliau. Baju itu pun aku
> pakaikan pada istriku. Nabi bertanya kepadaku : Mengapa kamu tidak
> mengenakan baju Qibtiyah ?" Aku menjawab : Aku pakaikan baju itu pada
> istriku. Nabi lalu bersabda : "Perintahkan ia agar mengenakan baju dalam di
> balik Qibtiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan
> bentuk tulangnya." (Ad-Dhiya Al-Maqdisi :  Al-Hadits Al-Mukhtarah I/441). 
> 
>           Aisyah pernah berkata : Seorang wanita  dalam shalat harus
> mengenakan tiga pakaian : Baju, jilbab dan khimar. Adalah Aisyah pernah
> mengulurkan izar-nya (pakaian sejenis jubah) dan berjilbab dengannya (Ibnu
> Sad VIII/71). Pendapat yang senada juga dikatakan oleh Ibnu Umar : Jika
> seorang wanita menunaikan shalat, maka ia harus mengenakan seluruh pakainnya
> : Baju, khimar dan milhafah (mantel)(Ibnu Abi Syaibah: Al-Mushannaf
> II:26/1).
> 
>           
> 
> TIDAK DIBERI WEWANGIAN ATAU PARFUM
> 
>           Dari Abu Musa Al-Asyari bahwasannya ia berkata : Rasulullah
> bersabda : "Siapapun wanita yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum
> laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina." (Al-Hakim
> II/396 dan disepakati oleh Adz-Dzahabi). 
> 
>           Dari Zainab Ats-Tsaqafiyah bahwasannya Nabi bersabda : "Jika salah
> seorang diantara kalian (kaum wanita) keluar menuju masjid, maka jangan
> sekali-kali mendekatinya dengan (memakai) wewangian." (Muslim dan Abu Awanah
> ). 
> 
>           Dari Musa bin Yasar dari Abu Hurairah :Bahwa seorang wanita
> berpapasan dengannya dan bau wewangian tercium olehnya. Maka Abu Hurairah
> berkata : Wahai hamba Allah ! Apakah kamu hendak ke masjid ? Ia menjawab :
> Ya. Abu Hurairah kemudian berkata : Pulanglah saja, lalu mandilah ! karena
> sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah bersabda : "Jika seorang wanita
> keluar menuju masjid sedangkan bau wewangian menghembus maka Allah tidak
> menerima shalatnya, sehingga ia pulang lagi menuju rumahnya lalu mandi."
> (Al-Baihaqi III/133).      
> 
>           Alasan pelarangannya sudah jelas, yaitu bahwa hal itu akan
> membangkitkan nafsu birahi. Ibnu Daqiq Al-Id berkata : Hadits tersebut
> menunjukkan haramnya memakai wewangian bagi wanita yang hendak keluar menuju
> masjid, karena hal itu akan dapat membangkitkan nafsu birahi kaum laki-laki
> (Al-Munawi : Fidhul Qadhir).
> 
>           Saya (Albani) katakan : Jika hal itu saja diharamkan bagi wanita
> yang hendak keluar menuju masjid, lalu apa hukumnya bagi yang hendak menuju
> pasar, atau tempat keramaian lainnya ? Tidak diragukan lagi bahwa hal itu
> jauh lebih haram dan lebih besar dosanya. Berkata Al-Haitsami dalam
> AZ-Zawajir II/37 "Bahwa keluarnya seorang wanita dari rumahnya dengan
> memakai wewangian dan berhias adalah termasuk perbuatan dosa besar  meskipun
> suaminya mengizinkan". 
> 
>  
> 
> TIDAK MENYERUPAI PAKAIAN LAKI-LAKI
> 
>           Karena ada beberapa hadits shahih yang melaknat wanita yang
> menyerupakan diri dengan kaum pria, baik dalam hal pakaian maupun lainnya.
> Dari Abu Hurairah berkata : Rasulullah melaknat pria yang memakai pakaian
> wanita dan wanita yang memakai pakaian pria (Al-Hakim IV/19 disepakati oleh
> Adz-Dzahabi). 
> 
>           Dari Abdullah bin Amru yang berkata : Saya mendengar Rasulullah
> bersabda : "Tidak termasuk golongan kami para wanita yang menyerupakan diri
> dengan kaum pria dan kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita."
> (Ahmad II/199-200)
> 
>           Dari Ibnu Abbas yang berkata : Nabi melaknat kaum pria yang
> bertingkah  kewanita-wanitaan dan kaum wanita yang bertingkah kelaki-lakian.
> Beliau bersabda : "Keluarkan mereka dari rumah kalian. Nabi pun mengeluarkan
> si fulan dan Umar juga mengeluarkan si fulan." Dalam lafadz lain :
> "Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita dan
> kaum wanita yang menyerupakan diri dengan kaum pria." (Al-Bukhari
> X/273-274).
> 
>           Dari Abdullah bin Umar Rasulullah bersabda : "Tiga golongan yang
> tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan memandang mereka pada hari
> kiamat; Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang bertingkah
> kelaki-lakian dan menyerupakan diri dengan laki-laki dan  dayyuts (orang
> yang tidak memiliki rasa cemburu)." ( Al-Hakim I/72 dan IV/146-147
> disepakati Adz-Dzahabi). 
> 
>           Dalam haits-hadits ini terkandung petunjuk yang jelas mengenai
> diharamkannya tindakan wanita menyerupai kaum pria, begitu pula sebaiknya.
> Ini bersifat umum, meliputi masalah pakaian dan lainnya, kecuali hadits
> yang pertama yang hanya menyebutkan hukum dalam masalah pakaian saja.
> 
>      
> 
> TIDAK MENYERUPAI PAKAIAN WANITA-WANITA KAFIR
> 
>           Syariat Islam telah menetapkan bahwa kaum muslimin (laki-laki
> maupun perempuan) tidak boleh bertasyabuh (menyerupai) kepada orang-orang
> kafir, baik dalam ibadah, ikut merayakan hari raya, dan berpakain khas
> mereka. Dalilnya Firman Allah surat Al-Hadid ayat 16: Artinya :"Belumkah
> datang  waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka
> mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan
> janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan
> Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu
> hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah
> orang-orang yang fasik."
> 
>           Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Firman Allah dalam surat
> Al-Hadid ayat 16:"Janganlah mereka seperti..." merupakan larangan mutlak
> dari tindakan menyerupai mereka, di samping merupakan larangan khusus dari
> tindakan menyerupai mereka dalam hal membatunya hati akibat kemaksiatan
> (Al-Iqtidha... hal. 43).   
> 
>           Ibnu Katsir berkata ketika menafsirkan ayat ini (IV/310) : Karena
> itu Allah melarang orang-orang beriman menyerupai mereka dalam
> perkara-perkara pokok maupun cabang. Allah berfirman :  Artinya: "Hai
> orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad)."Raaina"
> tetapi katakanlah "Unzhurna" dan dengarlah. Dan bagi  orang-orang  yang
> kafir  siksaan  yang pedih" (Q.S. Al-baqarah:104).
> 
>           Lebih lanjut Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya (I/148): Allah
> melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mnyerupai  ucapan-ucapan dan
> tindakan-tindakan orang-orang kafir. Sebab, orang-orang Yahudi suka
> menggunakan plesetan kata dengan tujuan mengejek. Jika mereka ingin
> mengatakan "Dengarlah kami" mereka mengatakan "Raaina" sebagai plesetan kata
> "ruunah" (artinya  ketotolan) sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa
> ayat 46. Allah juga telah memberi tahukan dalam surat Al-Mujadalah ayat 22,
> bahwa tidak ada seorang mu'min yang mencintai orang-orang kafir.
> Barangsiapa yang mencintai orang-orang kafir, maka ia bukan orang mu'min,
> sedangkan tindakan menyerupakan diri secara lahiriah merupakan hal yang
> dicurigai sebagai wujud kecintaan, oleh karena itu diharamkan.
> 
>      
> 
> BUKAN PAKAIAN SYUHRAH (UNTUK MENCARI POPULARITAS) 
> 
>           Berdasarkan hadits Ibnu Umar Rasulullah bersabda:"Barangsiapa
> menge nakan pakaian (libas)  syuhrah di dunia, niscaya Allah mengenakan
> pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian  membakarnya dengan
> api neraka."(Abu Daud II/172).                            
> 
>           Syuhrah adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan untuk
> meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakain tersebut
> mahal, yang dipakai oleh seseorang untuk berbangga dengan dunia dan
> perhiasannya, maupun pakaian yang bernilai rendah, yang dipakai oleh
> seseorang untuk menampakkan kezuhudannya dan dengan tujuan riya
> (Asy-Syaukani: Nailul Authar II/94).                  Ibnul Atsir berkata :
> "Syuhrah artinya terlihatnya sesuatu. Maksud dari Libas Syuhrah adalah
> pakaiannya terkenal di kalangan orang-orang yang mengangkat pandangannya
> mereka kepadanya. Ia berbangga  terhadap orang lain dengan sikap angkuh dan
> sombong." wallahu 'alam.
> 
>  
> 
> Dikutip dari Kitab Jilbab Al-Mar'ah Al-Muslimah fil Kitabi was Sunnah
> (Syaikh Al-Albani)  
> 
>  
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke