Inilah bukti kebohongan Kristen yang katanya toleran dan menghargai

Atas nama bantuan kemanusian dan cinta kasih, mereka berusaha merusak aqidah
umat

Mereka selalu berdalih dengan atas nama HAM dan minoritas, ternyata yang
memiliki rencana jahat terhadap islam

Akankah kita diam saja melihat saudara-saudari kita dimurtadkan dan dibantai
seperti kasus poso dan ambon

Rapatkan barisan dan ukhuwah kita untuk membentengi umat dari kaum kafirun
perusak agama dan pengusung ajaran sesat seperti ahmadiyah, JIL dll

Mari kita berdoa agar umat islam kembali berkuasa dengan al-qur`an dan
sunnah

Mari kita selamatkan aqidah umat dari kaum kafir ,Tegakkan syariat islam dan
khilafah

 

 


Kristenisasi Rambah Serambi Mekkah 

 
<http://www.mediaumat.com/media-utama/41-kristenisasi-rambah-serambi-mekkah/
pdf> 


 
<http://www.mediaumat.com/index.php?view=article&catid=42%3Amedia-utama&id=1
872%3A41-kristenisasi-rambah-serambi-mekkah-&tmpl=component&print=1&layout=d
efault&page=&option=com_content&Itemid=89> 


 
<http://www.mediaumat.com/index.php?option=com_mailto&tmpl=component&link=aH
R0cDovL3d3dy5tZWRpYXVtYXQuY29tL21lZGlhLXV0YW1hLzQxLWtyaXN0ZW5pc2FzaS1yYW1iYW
gtc2VyYW1iaS1tZWtrYWg=> 


 


Friday, 03 September 2010 06:02 


Aceh geger. Tiga warga Serambi Mekah murtad.  Ernawista alias Nonong binti
Bustaman (27) warga Desa Suak Seumaseh dan dua warga Desa Suak Geudeu-bang
Julita binti Karman (20) dan Icut alias Cut Susiyani Lawati (18), semua di
Kecamatan Sama Tiga, Kabupaten Aceh Barat telah berpindah agama ke Kristen.

 

Ini adalah aib bagi warga Aceh, khususnya Aceh Barat. Selama ini Aceh Barat
dikenal cukup kental keislamannya dibanding daerah lainnya. Meulaboh sebagai
ibukota Aceh Barat pun dijuluki 'Kota Tauhid Tasawuf'. Tak heran, masyarakat
yang mengetahui warganya murtad marah dan mencoba mengusir mereka dan
keluarganya keluar dari kampung halamannya.

 

Gadis-gadis ini tak bisa berbuat banyak. Mereka terpaksa pergi. Untungnya
Pemkab Aceh Barat memfasilitasi dengan menampung mereka di sebuah tempat di
Pendopo Kabupaten. Mereka baru sadar bahwa mereka telah keluar dari Islam.
Maka secara sadar mereka akhirnya bersyahadat kembali pada akhir Juli lalu
disaksikan para pejabat Pemkab dan warga.

Gadis-gadis lugu ini mengaku tak banyak tahu tentang Kristen. Saat
kekristenannya belum terungkap, mereka pun tetap mengenakan kerudung.
Sekali-kali masih shalat dan membaca Yasin bersama warga setempat. Mereka
juga tak tahu tata cara ibadah agama barunya.


Mereka dikristenkan oleh tiga misionaris asal Sumatera Utara. Misionaris ini
menyusup ke kampung tersebut mengatas-namakan lembaga swadaya masyarakat
(LSM). Untuk mengelabui warga, aktivis Kristen ini pun mengenakan busana
Muslim.

 

Dua di antara tiga misionaris perempuan itu ternyata memiliki catatan buruk.
Nurlena Sitepu (37) dan Marlina Damanik (27), pernah ditangkap petugas
Wilayatul Hisbah (polisi syariah) setempat pada 22 Desember 2008 di sebuah
rumah kontrakan di Kompleks BTN, Desa Seuneubok, Kecamatan Johan Pahlawan
karena diduga melakukan pendangkalan akidah terhadap sejumlah siswi SMK saat
peringatan wafatnya Isa Almasih.

 

Misionaris ini tidak bekerja sendiri. Yasayan maupun sponsornya adalah
Yayasan Baptis Indonesia, yang berkantor pusat di Jakarta dan punya jaringan
luar negeri. Di belakangnya ada keterlibatan tiga warga negara Amerika
Serikat yakni Robin Kay Jordan, istrinya dan putri mereka Kelly Claire.
Ketika kasus ini muncul mereka langsung ngacir meninggalkan Aceh menuju
Medan dengan kawalan Satpol PP setempat.

Bukan kali ini saja Aceh menjadi sasaran pemurtadan. Misionaris telah
mencoba mengkristenkan Aceh sejak zaman penjajahan, baik Portugis, Belanda,
dan Jepang. Kristenisasi itu pun terus berlanjut hingga masa kemerdekaan.
Perlawanan rakyat Aceh terhadap pemurtadan sangat keras. Namun para
misionaris terus mencari jalan untuk bisa menusuk jantung Aceh.

 

Tsunami Aceh 26 Desember 2004 menjadi momentum besar bagi kalangan Kristen
untuk masuk dengan leluasa. Kran terbuka lebar. Dengan dalih bantuan
kemanusiaan, mereka menyusup ke seluruh pelosok Aceh tanpa ada kontrol
sedikit pun. Tak segan-segan mereka menggelontorkan dana besar dan sumber
daya yang cukup banyak dalam misi tersebut.

 

Di sisi lain, pemerintah tak memiliki kepekaan terhadap hal itu. Mereka
terkesan cuek dan masa bodoh. Yang penting bantuan bisa masuk dan
meringankan beban keuangan pemerintah. Sementara masyarakat tidak memiliki
pemahaman akidah yang benar. Kelemahan inilah yang dimanfaatkan oleh para
misionaris.

Laporan dari berbagai wilayah musibah menyebut, misi-misi itu memang nyata.
Hampir semua wilayah tak luput dari jejak mereka. Meski proses rekonstruksi
dan rehabilitasi korban tsunami telah berakhir dua tahun setelah kejadian,
mereka tak beranjak. Dalihnya misionaris ini menyelenggarakan pember-dayaan
masyarakat dan membantu bidang pendidikan dan kesehatan serta lainnya yang
menjadi kebutuhan masyarakat.

 

Pola yang sama berlangsung di wilayah lain di Indonesia. Begitu ada musibah,
mereka masuk. Setelah itu mereka berusaha bertahan. Mereka selalu berlindung
di balik bantuan kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat.

 

Secara global, misi Kristen ini tidak bisa dilepaskan dari dendam kesumat
kalangan Kristen dalam perang Salib. Jadi Kristenisasi tidak bisa dilepaskan
dari motif ideologis, selain motif agama. Mereka ingin menaklukkan dunia
Islam dengan cara melepaskan umat Islam dari ajaran agamanya. Keberhasilan
Kristenisasi bagi mereka akan memudahkan cengkeraman Barat ke dunia Islam.
Kristen tak bisa dilepaskan dari imperialisme.

Solusi
Dalam kondisi yang karut marut seperti sekarang, sulit bisa membendung misi
Kristenisasi. Kondisi masyarakat yang terpu-ruk di segala bidang kehidupan
menjadi potensi masuknya para pemurtad. Tak mungkin hal itu bisa diatasi
secara individual. Paling-paling hanya bisa mengingatkan dan menyadarkan.
Itu pun terbatas pada individu. Pencegahan melalui jamaah pun juga sulit
karena keterbatasan daya jangkau dan sumber daya.

Fakta menunjukkan, betapa banyak organisasi-organisasi Islam yang bergerak
di sana. Namun, Kristenisasi tak bisa dihentikan. Dikejar ke suatu tempat,
mereka pindah ke tempat lain. Sebab, negara sebagai pemilik otoritas
tertinggi tak mau mengambil peran.

 

Oleh karena itu, Kristenisasi dan pemurtadan serta penyesatan akan bisa
dicegah oleh negara yang memiliki kepedulian yang tinggi soal itu. Tidak
mungkin kepedulian itu muncul dari negara yang mengagungkan sekulerisme dan
liberalisme seperti sekarang. Sebab, sekulerisme-liberalisme mengharamkan
campur tangan negara terhadap kepercayaan/agama individu warga negaranya.

Maka tidak ada solusi lain yang bisa menuntaskan masalah Kristenisasi
kecuali negara yang menerapkan syariah Islam secara kaffah
(menyeluruh/total). Negara seperti inilah yang dalam khasanah fiqih disebut
sebagai Khilafah. Adanya khilafah akan menjamin berbagai kebutuhan pokok
rakyat (sandang, pangan, dan papan). Negara juga berkewajiban memenuhi
kebutuhan dasar rakyat seperti kesehatan, pendidikan, dan keamanan.
Kesejahteraan menjauhkan dari kekufuran.

Lebih dari itu, khilafah akan menjaga dan melindungi akidah umat. Khilafah
tidak akan membiarkan para misionaris berkeliaran menyebar virus akidah di
tengah kaum Muslimin, kendati mereka tetap diperbolehkan menjalankan agama
mereka.  Negara tak akan segan menghukum mati orang-orang murtad yang tak
mau kembali kepada Islam.

Walhasil, hanya Khilafah yang bisa membendung arus Kristenisasi. Dan ini
sudah dibuktikan dalam kurun waktu ratusan tahun. Jadi Khilafah adalah
satu-satunya solusi membendung Kristenisasi. Tidak ada alternatif lain.[]
mujiyanto

 


Murtad di Aceh Barat 

 <http://www.mediaumat.com/media-utama/41-murtad-di-aceh-barat/pdf> 


 

 

 


Friday, 03 September 2010 06:08


Berkedok Lembaga Swadaya Masyarakat, misionaris Kristen asal Sumatera Utara
memurtadkan  tiga gadis Aceh Barat.

 

Ahad malam (25/7) isak tangis terdengar riuh rendah di  Mushala Pendopo
Bupati Aceh Barat. Bupati Ramli MS, Sekdakab Banta Puteh, puluhan pejabat,
berbaur bersama dengan ratusan warga. Mereka bukan sedang menggelar acara
muhasabah atau pun pengajian tetapi sedang menyaksikan prosesi  pengucapan
syahadat tiga korban pemurtadan dan pendangkalan akidah.

"Asyhadualla illaha ilallahu wa asyhadu anna muhammadar-rasulullah..," ucap
Ernawista alias Nonong binti Bustaman (27) warga Desa Suak Seumaseh. Ikrar
yang sama diucapkan  dua warga Desa Suak Geudeubang Julita binti Karman (20)
dan Icut alias Cut Susiyani Lawati (18). Mereka dibimbing Tgk Abdurrani,
Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Barat.

 

Air menetes dari mata ketiganya. Beberapa warga pun berkaca-kaca matanya.
Semua terharu atas kembalinya ketiga gadis ini memeluk Islam setelah
sebelumnya dibaptis sebagai jemaat Kristen. 
Ketiga wanita itu meminta maaf kepada seluruh masyarakat Aceh Barat atas
tindakan mereka sehingga meresahkan masyarakat setempat bahkan Aceh pada
umumnya. Sekali lagi, isak tangis tak terbendung terjadi saat ketiga wanita
itu menyalami hadirin.

 

Sebelumnya, mereka tidak pernah membayangkan akan berbuat sesuatu yang dapat
membuat geger seantero Aceh. Bahkan ketika dibaptis pun, seperti pengakuan
mereka kepada Media Umat, mereka merasa antara sadar dan tidak. Tidak
menutup kemungkinan, mereka diguna-guna lantaran ketiganya diberikan
pantangan untuk bercukur, tidak boleh kena air jeruk purut, dan tidak boleh
diselimuti dengan kain hitam.

Modus Pemurtadan


Sebelas bulan lalu, Ernawista guru sekolah negeri Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD) Safara Suak Seumaseh berkenalan dengan Nurlena Sitepu (37) dan
Marlina Damanik (27). Keduanya adalah warga Medan yang beragama Kristen.
Ketika masuk ke Suak Seumaseh mereka berkerudung bahkan tampak berpakaian
lebih sopan dibanding dengan penduduk setempat.

Keduanya bermaksud untuk turut mengajar di PAUD tersebut, di samping
memberikan pinjaman uang bagi siapa saja yang membutuhkan. Mereka bekerja di
sebuah lembaga asing (NGO) yang bergerak di bidang sosial kemanusiaan dan
pendidikan yakni Yayasan Asia Rehabilitasi Lingkungan Desa Fokus (ARLDF).

 

Sejak enam tahun lalu, telinga warga Aceh,  memang akrab dengan bermacam
nama NGO dari berbagai negara asing yang datang dengan alasan membantu
rehabilitasi Aceh pasca tsunami. Warga Suak Seumaseh pun tidak menaruh
curiga atas kedatangan mereka.

 

Bahkan, mereka diizinkan mengajar di sana, padahal Ernawista mengetahui
mereka beragama Kristen. "Saya tahu sejak awal bahwa dia Kristen karena
menunjukkan KTP-nya kepada Kepala Desa," akunya.

Tiga bulan kemudian,  Nurlena pun menjalankan aksinya sebagai seorang
misionaris. Ia mengajak Ernawista masuk Kristen. Ernawista mengaku tak
tertarik. Namun ia merasa ada keanehan ketika Nurlena menjabat tangan sambil
mendoakannya.

 

Setelah berdoa, Ernawista merasa takut dan apa pun yang dikatakan Nurlena
diturutinya. Bahkan sampai mandi bersama di pantai. "Kepala saya
ditenggelamkan ke dalam air satu kali," ujarnya. Setelah itu Ernawista
kembali didoakan.

 

Setelah itu Ernawista  merasa seperti orang bingung. Ia tidak mengerti bahwa
itu proses pindah agama atau bukan. "Mereka bilang kamu sudah dipermandi-kan
berarti kamu sudah percaya Isa dan roh kudusnya  di dalam hidupmu," ujarnya
menirukan Nurlena.

 

Dalam suatu kesempatan, dua misionaris itu berkenalan dengan Julita, sepupu
Ernawista. Sebulan kemudian Julita main ke rumah Ernawista dan melihat ada
Injil tergeletak. Ia pun menanyakan apa maksud kalimat yang berbunyi Isa
mati untuk kita dan darahnya mengalir untuk menebus dosa kita yang tertulis
dalam Injil itu.

Ernawista menyarankan untuk bertanya kepada Marlina karena ia sendiri tidak
mengerti. Marlina tidak menjawabnya namun seminggu kemudian ia datang
bersama temannya yang bernama Pertiwi Boru Guru Singa (39), yang bekerja
sebagai anggota Yayasan Relief and Livelihood Devolepment Philipine (RALDP).

 

Pertiwi tidak mau langsung menjawab tetapi malah menjabat tangannya dan
berdoa sangat lama sekali bahkan sampai menangis. Karena pegal, Julita pun
sering mengganti tangan kanan dan kirinya dalam berjabat tangan yang
berlangsung selama satu jam setengah itu, bahkan sempat dengan tangan
sebelah ber-SMS-an.

Tiga hari kemudian, dengan alasan agar dosa-dosanya diampuni, Julita
dimandikan. Pertiwi membacakan doanya dan Ernawista yang menyelupkan kepala
Julita ke dalam air Pantai Lok Bugon.


Proses murtadnya Icut pun tidak jauh berbeda. Ia sebenarnya sudah mengenal
para misionaris itu sejak Januari 2010 di pasar malam. Namun baru bertemu
lagi awal Juli lalu. Icut diajak ke rumah kontrakan mereka untuk menonton
film tentang Isa Al Masih.

Di situlah Icut iba terhadap tokoh yang dianiaya dan disalib oleh
orang-orang Yahudi. Misionaris ini menjelaskan bahwa tokoh itulah yang
disebut sebagai Isa Al Masih yang akan menebus dosa-dosa orang yang
mengimaninya

 

Hanya selang beberapa hari ia dimandikan dengan prosesi yang sama pula.
Namun ia dimandikan dan didoakan oleh Julita. Tentu saja sebelumnya, Julita
disuruh menghafal doanya yang menyebutkan nama lengkap Icut, tanggal dan
bulan pemandian Icut dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Pertemuan dengan mereka terus berlanjut hingga kasus ini diketahui oleh
warga. Masyarakat melihat Ernawista banyak berubah yang tadinya sering
menyapa mereka sejak saat pemandian itu tidak lagi menyapa mereka dan sering
bengong sendiri.

 

Sedangkan Julita menjadi pemarah. Ibunya menanyakan mengapa ia menjadi kasar
dan sering marah-marah. "Saya tidak tahu mengapa bisa begitu," ujarnya
kepada Media Umat.

Akhirnya Ernawista mengaku kepada orang tuanya bahwa telah masuk Kristen
tanpa sadar. Melihat ini orang tuanya membawanya ke ulama setempat. Maka
menyebarlah kabar tersebut. 
Kontan saja warga berang setelah mengetahui ketiganya telah murtad. Terlebih
lagi kepada para misionaris itu lantaran bukan saja telah menyesatkan
warganya tetapi telah menistakan agama Islam. Hal itu terungkap ketika
ketiganya mengakui alasan mereka murtad.

 

Ketiga gadis itu ingat betul perkataan misionaris  bahwa Isa Al Masihlah
yang bisa memasukkan mereka ke surga, sedangkan Nabi Muhammad tidak bisa
memasukkan orang ke dalam surga. Alasannya, Nabi Muham-mad tidak suci karena
kerjaannya kawin-kawin saja.

Kemarahan warga ditunjukkan dengan mengusir Icut beserta keluarganya ke luar
kampung. Sedangkan warga tempat tinggal Ernawista mendatangi rumah yang
dijadikan kantor tempat para misionaris itu bekerja yakni di Jalan Merdeka
Nomor 3, Meulaboh. Namun rumah tersebut telah kosong. Mereka telah kabur
entah ke mana.

Bersama Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP dan WH)
warga masuk ke dalamnya dan menemukan bukti-bukti terkait aktivitas
pemurtadan itu. Ada indikasi keterlibatan Kelly Jordan, Koordinator ARLDF
yang berkebangsaan Amerika Serikat yang memang tinggal bersama misionaris
tersebut.

Namun sayang, aparat tidak menahan ekspatriat itu. Mereka  malah mengawalnya
ke bandara untuk ke luar dari Aceh dengan aman. Teuku Ahmad Dadek, Kasatpol
PP dan WH berasalan lembaganya tidak memiliki kewenangan untuk menahan atau
menangkapnya.[] joko prasetyo

 

 

http://www.mediaumat.com/media-utama/41-murtad-di-aceh-barat

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke