Minat investor cukup besar

'Pemerintah perlu merinci program telekomunikasi'

 JAKARTA (Bisnis): Pemerintah dinilai perlu merinci lebih lanjut program
pembangunan infrastruktur telekomunikasi nasional, sehingga investor
memiliki cara pandang yang lebih baik dalam melihat manfaat dan peluang
dari upaya tersebut.

Demikian seperti disampaikan praktisi dan analis telekomunikasi berkaitan
paparan pemerintah dalam Indonesia Infrastructure Summit 2005 yang
berakhir kemarin di Jakarta. Christian Reinaudo, Vice President Alcatel
untuk Asia Pasifik, menilai pemerintah Indonesia sudah memberikan
informasi dan roadmap yang jelas disertai komitmen jangka panjang tentang
pembangunan infrastruktur telekomunikasi nasional.

"Namun satu hal yang masih samar adalah keuntungan apa yang bisa diperoleh
investor dari rencana jangka panjang itu. Kami berharap akan ada rincian
lebih dalam lagi selama beberapa bulan ke depan," katanya belum lama ini.

Reinaudo menyatakan harapannya pemerintah bisa mengungkapkan keuntungan
dari rencana jangka panjang itu dengan merinci proyek-proyek apa saja yang
akan digelar untuk mencapai target sebagaimana dipaparkan dalam ajang
internasional tersebut.

Selain rincian proyek, lanjutnya, pemerintah juga perlu merumuskan format
kerja sama antara sektor publik dan swasta serta partisipasi yang
diharapkan dari masing-masing pihak. Said Irfan, analis pasar
telekomunikasi IDC untuk Indonesia, menilai Infrastructure Summit tidak
akan banyak memberikan dampak bagi percepatan pembangunan infrastruktur
telekomunikasi dan peningkatan teledensitas.

"Gagasan pemerintah untuk menarik investor sudah baik, namun programnya
belum jelas termasuk kebijakannya," ujarnya kepada Bisnis di tempat
terpisah.

Menurut dia, perlu dirinci lagi pembagian peran antara pemerintah dan
operator sambil menegakkan prinsip-prinsip liberalisasi secara bertahap,
serta mempertegas kedudukan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia
(BRTI).

Daerah terpencil

Seperti diketahui, peran pemerintah dibutuhkan untuk membangun
infrastruktur telekomunikasi di daerah terpencil atau kurang potensial
yang dinilai tidak menguntungkan dari kacamata operator. Untuk menjangkau
daerah tersebut, pemerintah telah menetapkan USO (universal service
obligation). Namun programnya bisa dikatakan belum sejelas rencana
ekspansi operator komersial.

"Padahal investor -termasuk kami Alcatel-tidak hanya tertarik pada proyek
di kota-kota besar, tetapi kami juga berharap bisa berpartisipasi di
daerah terpencil," tandas Reinaudo.

Satu-satunya prospek yang ditawarkan pemerintah dalam Infrastructure
Summit adalah proyek backbone serat optik Palapa O2 Ring sepanjang 30.000
km dengan perkiraan biaya mencapai US$1,6 miliar.

Padahal pemerintah menargetkan menyediakan 24,7 juta satuan sambungan
telepon (SST) hingga 2024 dengan teledensitas 10 sambungan per 100
penduduk atau sama dengan tingkat penetrasi 31,8%. Dirjen Pos dan
Telekomunikasi pada Departemen Perhubungan Djamhari Sirat mengatakan
pemerintah belum menawarkan proyek khusus di sektor telekomunikasi, tapi
sudah menyampaikan beberapa konsep pengembangan yang sekaligus menjadi
peluang bagi investor.

"Saat ini memang belum ditawarkan kepada investor dan kemungkinan
feasibility study-nya baru bisa diketahui enam bulan lagi. Tapi, pada
prinsipnya vendor mendukung proyek tersebut," tandasnya. (dss)




Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke