Kita Tidak Perlu Menunggu Teknologi 3G

MOBILE data services secara kurang tepat sering diasosiasikan dengan GPRS
yang memang masih anak tiri karena tidak ada yang pernah benar-benar
serius mengolah pasarnya di Indonesia. Dari sisi pengguna (customer)
layanan seluler, tentu kondisi ini sangat merugikan.

Analoginya sangat mudah. Kita bisa menghargai naik mobil mewah seperti BMW
memang nikmat, setelah kita setiap hari harus naik mikrolet kalau pergi
dan pulang kantor. Yang tidak pernah menikmati apa rasanya naik mobil akan
susah untuk bisa mengapresiasikan kenikmatannya naik BMW.

Sama dengan kenyataannya di dunia seluler Indonesia. Kalau kita tidak
pernah main-main dan akrab dengan GPRS akan susah bagi kita mengapresiasi
high speed mobile data services yang secara gampangnya sering
diasosiasikan sama dengan 3G.

Karena dengan pengalaman naik mikrolet (GPRS) yang cukup intens kita akan
bisa menemukan apa artinya berkendara (mobile data services) dan dengan
pengalaman kita bermikrolet ria akan terbentuk kebutuhan kita akan
perlunya kendaraan (mobile data services). Dengan demikian, pada saat kita
mampu beli BMW (3G) dengan sendirinya kita akan dengan gampang
menyesuaikan diri menikmati dan menjalankan BMW (3G).

Coba bayangkan. Kalau naik mobil (GPRS) saja kita tidak pernah mengerti
dengan baik, tiba-tiba kita diberi BMW (3G). Yang terjadi pasti sudah
dengan gampang diterka, BMW-nya akan teronggok saja di garasi sampai
berkarat atau kalau kita balikkan ke 3G, maka 3G akan mati tanpa pernah
sempat berkembang atau kalaupun bisa hidup paling hanya untuk gaya-gayaan.

>small 2small 0

Ada ketakutan lain yang lebih utama dari para operator incumbent yang
mungkin kita sebagai pengguna harus menerima getahnya. Kembali ke mikrolet
di atas, bisa kita lihat dengan jelas letak ketakutannya. Para operator
takut kalau mereka hanya menjadi mikrolet yang harus terseok-seok
membangun pasar dan tidak pernah menikmati manisnya pasaran dari mobil
mewah seperti BMW. Ini makin diperkuat dengan kenyataan masih
terseok-seoknya para operator untuk mendapatkan lisensi maupun alokasi
frekuensi 3G.

Sebenarnya semua itu hanya ketakutan yang sangat tidak perlu karena akan
lebih menakutkan lagi kalau yang terjadi adalah masuknya pemain 3G ke
dalam usaha jasa mikrolet alias low speed mobile data lengkap dengan jasa
standar voice-nya pada saat para incumbent yang ada sekarang ini belum
mengerti pasar mikrolet (mobile data). Sebagai pengguna jasa mikrolet
pasti akan lebih memilih BMW daripada kalau kedua-duanya tersedia sebagai
mikrolet dengan harga sewa yang sama.

Dan sejarah sudah membuktikan. Di Jepang harus diakui sukses perkembangan
operator 3G KDDI dengan produk AU-nya cukup mengganggu i-mode dari
NTT-DoCoMo yang notabene pengguna teknologi yang sama generasinya dengan
apa yang digunakan para operator seluler di Indonesia sekarang ini. Tetapi
DoCoMo bisa tetap menjadi market leader karena sangat mengerti medan
perang teknologi 3G dan mampu mengeksplorasi kelebihan mereka sebagai
pemain yang lebih dulu ada untuk menyerang dan melumpuhkan serangan para
pemain baru dengan teknologi 3G yang jelas lebih mumpuni.

Ada tiga hal utama yang bisa kita sarankan kepada para existing operator
tanpa perlu membedakan teknologi apa yang mereka usung, GSM ataupun CDMA.

Pertama, para operator mulai mencoba mengerti bagaimana dan akan ke mana
pasar mobile data di Indonesia. Usahakan proses untuk mengerti ini
dijalankan dengan cepat. Pelanggan sudah terlalu lama menunggu. Kalau
masalah internal dalam operator incumbent tidak punya tenaga dan waktu,
mulailah menciptakan mekanisme kerja yang menarik untuk para wiraswasta
baru agar tertarik menjadi mitra kerja sama mengembangkan pasar mobile
data.

Biarkan para wiraswasta tersebut menyelesaikan pekerjaan rumah para
incumbent membangun pasar mobile data di Indonesia. Intouch bisa diambil
sebagai contoh menarik sebagai mitra, tetapi yang kita perlukan adalah
ribuan Intouch baru, tumbuh, dan berkembang. Mungkin konsep MVNO (Mobile
Virtual Network Operator) merupakan salah satu model lain yang menarik
untuk dijajaki para incumbent dalam menggaet lebih banyak mitra.

Kedua, para operator perlu serius mempelajari metode usage charging apa
saja yang bisa memenuhi kebutuhan pengguna. Alternatif metode charging per
menit dan per kilobyte belum cukup menarik. Kita sebagai pengguna mungkin
memerlukan berbagai macam metode charging yang lain yang lebih sederhana
dan menarik. Untuk ini operator bisa memanfaatkan para mitra kerja sama
untuk bertindak kreatif menemukan ide-ide baru di daerah usage charging.

Ketiga, jangan takut teknologi 3G akan membuat pengguna berpaling dari
operator yang ada. Teknologi 3G di Indonesia pada saat ini lagi kehilangan
momentum, apalagi dengan makin membaiknya teknologi GPRS (ditandai dengan
lahirnya EDGE) dan teknologi mobile data CDMA2000 1X (ditandai dengan
lahirnya EVDO).

Dari sisi kebutuhan mobile data para pelanggan yang belum tereksplorasi,
ternyata masih banyak kebutuhan-kebutuhan yang sudah bisa mulai dilakukan
tanpa perlu menunggu teknologi 3G. Kebutuhan video stream yang
didengung-dengungkan harus menunggu teknologi 3G datang dulu baru kita
bisa nikmati, ternyata salah. Pada saat ini Mobile-8 terbukti bisa
menjalankan realtime video stream dari sudut-sudut penting jalan di
Jakarta dan yang terakhir terdengar sedang berusaha menemukan model bisnis
dari layanan mobile TV dan movie on demand yang telah tersedia.

Layanan EDGE dari Telkomsel sudah mampu memberikan layanan sekelas layanan
3G dengan spesifikasi teknis 2 Mbps. Begitu juga teknologi EVDO dari
CDMA2000 1X yang sedang dipelajari hampir oleh semua operator pengusung
CDMA di Indonesia.

Kalau ternyata berbagai layanan mobile data sudah tersedia sekarang (dari
para incumbent), dengan teknologi yang bisa diadu dengan teknologi 3G dan
dengan tariff charging yang kreatif dan menarik bagi para pengguna, buat
apa lagi kita harus menunggu perkembangan 3G yang terseok-seok di tanah
air ini!

Dev Yusmananda, Pernah Bekerja di McKinsey & Company, Sekarang Bekerja
sebagai Senior Manager di Salah Satu Operator GSM di Indonesia. E-mail:
[EMAIL PROTECTED]



Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke