Tarif interkoneksi berbasis biaya berlaku 1 Januari 2006 JAKARTA (Bisnis): Pemerintah akan memberlakukan tarif interkoneksi berbasis biaya (cost based) dengan menggunakan hasil rekomendasi dari Ovum secara bertahap dimulai paling lambat 1 Januari 2006. Suryadi Azis, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), mengatakan Ovum sebagai konsultan yang ditunjuk mengkaji masalah tarif interkoneksi dengan skema cost based sudah menyelesaikan 100% pekerjaannya.
"Selanjutnya rekomendasi dari Ovum itu akan dijadikan dasar pemberlakuan interkoneksi cost based yang memang telah disepakati oleh semua operator sejak awal. Tapi, memang pemberlakuannya akan dilakukan bertahap dan paling lambat dimulai pada 1 Januari 2006," ujarnya kepada Bisnis kemarin. Dia mengatakan sebetulnya aturan interkoneksi berbasis biaya sudah siap diimplementasikan oleh pemerintah, tapi ada operator yang masih keberatan dan beberapa sistem sentral di seluler belum siap. "Tapi, kami akan mencoba bersikap tegas untuk tetap memberlakukan aturan interkoneksi berbasis biaya ini meski secara bertahap," tandasnya. Sebenarnya pemerintah berencana memberlakukan tarif interkoneksi berbasis biaya mulai 1 Januari 2005, namun akhirnya mundur sampai waktu yang tidak ditentukan dengan alasan belum selesai pembahasan RKM-nya. Konsultan Ovum Bahkan, untuk menerapkan skema tarif berbasis biaya itu, pemerintah telah menunjuk konsultan Ovum untuk bersama-sama mengkaji masalah tarif dengan skema costs based tersebut. Ovum merupakan perusahaan konsultan yang berpusat di Eropa. Kompetensi perusahaan konsultan itu adalah di bidang telekomunikasi, jasa teknologi informasi (TI) dan peranti lunak. Perusahaan konsultan itu berpengalaman dalam memberikan jasa konsultan terhadap pemegang keputusan baik vendor peranti lunak dan TI, penyedia jasa TI, operator telekomunikasi, regulator, penyedia jasa, perusahaan pemasok, dan investor. Azis menandaskan pemerintah sebetulnya sangat serius untuk segera memberlakukan interkoneksi berbasis biaya karena skema revenue sharing (bagi hasil) yang selama ini digunakan sudah tidak sesuai lagi dengan iklim kompetisi. Operator sebetulnya juga mendukung interkoneksi berbasis biaya tersebut tapi ada beberapa masukan terhadap pemberlakuan kebijakan itu. Beberapa waktu lalu Sarwoto Atmosoetarno, Kepala Long Distance PT Telkom, mengatakan pemberlakuan tarif interkoneksi berbasis biaya akan berpengaruh positif berupa peningkatan pulsa interkoneksi. "Rencana penerapan tarif interkoneksi cost based tidak akan berpengaruh besar terhadap pendapatan operator. Bahkan bila rencana itu diterapkan akan memberikan kontribusi yang positif berupa meningkatnya jumlah penggunaan pulsa interkoneksi," katanya. Menurut dia, penerapan tarif berdasarkan cost based menyebabkan biaya interkoneksi menjadi lebih murah. Dengan biaya interkoneksi yang lebih murah, secara teoritis tarif ke pelanggan juga akan lebih murah sehingga volume penggunaan pulsa interkoneksi juga cenderung meningkat. Di sisi lain, operator menilai aturan interkoneksi berbasis biaya ini cukup ideal untuk menjembatani kepentingan operator yang berbeda-beda. (jha) Visit our website at http://www.warnet2000.net Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
