Generasi Ketiga dan Nasionalisme HEBOH masalah lisensi jaringan telekomunikasi bergerak generasi ketiga (third generation/3G) menghiasi media massa bulan lalu, yang masih juga berlanjut pada bulan ini. Titik utama masalah adalah kenapa Cyber Access Communication yang mendapat lisensi 3G dari pemerintah beberapa tahun lalu menjual 60 persen sahamnya kepada Hutchinson. Hutchinson merupakan perusahaan telekomunikasi seluler yang besar di Hongkong.
SECARA legal, seperti diungkapkan anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), tak ada yang salah dari tindakan Cyber Access Communication (CAC) menjual sebagian sahamnya itu. Namun, masih dapat dipertanyakan landasan legal (hukum) yang mana yang dimaksud, sementara regulator belum memiliki aturan main yang jelas. Ketika pemerintah menginginkan adanya operator 3G dan membuka tender untuk lisensinya, operator yang eksis tidak boleh ikut serta. Namun, menyalahi kebijakannya sendiri, pemerintah kemudian memberikan lisensi 3G kepada Natrindo (Lippo Telecom) tanpa tender, tanpa beauty contest. Diberi begitu saja, plung, gratis. Padahal, Natrindo adalah operator seluler gurem, hanya punya 12.000-an pelanggan yang aktif di Jawa Timur saja. Kalau dikaitkan dengan panduan sewaktu tender yang memenangkan CAC, tak ada satu alasan pun yang membenarkan kebijakan pemberian gratis itu. Mengikuti CAC, Natrindo juga menjual sebagian sahamnya kepada Maxis dari Malaysia-satu aliansi Brigde dengan Telkomsel-tak lama setelah mendapat lisensi 3G. Kasatmata terlihat, Maxis mau membeli saham Lippo Telecom hanya karena punya lisensi 3G. Lisensi 3G membuat Natrindo bukan lagi sekadar peanut-apalagi kini Natrindo sudah punya lisensi cakupan nasional-walau sangat kecil dibandingkan dengan Telkomsel yang punya 18 juta pelanggan. Selain masalah legal, orang banyak juga melihatnya dari segi etika. Mungkin terutama etika ketimuran, menjaga perasaan pihak lain, baik itu operator dan yang paling penting menjaga wibawa dan kedudukan mereka yang sudah berbaik hati memberikan lisensi itu dengan gratis. Operator GSM seluler sangat kesal karena mereka merasa mampu mengoperasikan layanan 3G, tetapi tidak diberi kesempatan oleh pemerintah. Sementara suara-suara dari operator untuk mendapatkan lisensi 3G sudah muncul sejak tahun 1997 oleh, misalnya, Iwa Sewaka yang waktu itu Direktur Utama PT Satelindo. Kita memang tidak dapat mengukur kemampuan seseorang dari fisiknya atau kebiasaannya, yang dikaitkan dengan keberhasilannya mendapat kesempatan masuk ke bisnis yang baru. Namun, kenyataan bahwa hingga saat ini CAC, yang pemiliknya lebih berpengalaman di bidang pakan ternak, belum juga beroperasi secara komersial. Pemilik mayoritas CAC kini, Hutchinson, juga Maxis yang membeli saham Natrindo, ditengarai belum pernah mengoperasikan layanan 3G di negara asalnya. Karena itu, alasan menerima penawaran mereka selain soal investasi juga pengalaman perlu diragukan. Di beberapa negara maju, di Eropa misalnya, lisensi 3G dijual dengan mahal, yang malah membuat operator pemenang tendernya nyaris bangkrut. Lisensi 3G di Indonesia tidak dijual pemerintah, dengan alasan tidak mau mengulangi kesalahan Eropa, walau disadari frekuensi adalah barang langka milik pemerintah yang penggunaannya harus diatur ketat. Menurut Direktur Bisnis Jasa PT Telkom Suryatin Setiawan, pemilik lisensi 3G di Eropa, walau nyaris kolaps, tidak punya pilihan lain selain mengembangkannya. Karena itu, ada gerakan untuk mem-push 3G di Eropa dan tahun ini sudah komersial karena juga didukung oleh keluarnya telepon-telepon seluler 3G. Operator-operator lain di Eropa yang semula menunda implementasi 3G akhirnya mengeluarkan layanan itu. Operator Asia pun mulai mengimplementasikannya walaupun Jepang dengan caranya sendiri, lewat NTT DoCoMo FOMA, sudah memulainya sejak lama. "Layanan yang cukup bagus ketika diluncurkan itu sekarang disaingi ketat oleh KDDI yang mengusung teknologi CDMA 2000-1X," kata Suryatin. Singapura lewat SingTel akan mengomersialkan layanan 3G tahun ini, sementara Telkomsel, salah satu anak perusahaan SingTel, dalam waktu dekat akan mencoba layanan 3G. Hanya saja belum diketahui Telkomsel akan menggunakan frekuensi berapa karena frekuensi yang ada sudah dibagi oleh regulator secara acak-acakan. Pembagian yang seenaknya itu membuat munculnya frekuensi yang mubazir, tanpa pasangan, sebanyak 45 MHz, seperti diungkapkan Yoseph Garo, General Manager Technology & Strategic Network PT Telkomsel. Pemerintah memang sering kali tidak konsekuen dan tidak konsisten. Mereka mengusir Telkom yang menduduki frekuensi 1.900 MHz yang digunakan untuk C-Phone di Surabaya, dengan alasan frekuensi ini termasuk yang akan digunakan untuk layanan 3G. Akan tetapi, kini, pemerintah juga yang mengalokasikan 1.900 MHz untuk Flexi dan StarOne, keduanya layanan nirkabel tetap (fixed wireless) CDMA Telkom dan Indosat di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Kalau nasibnya sama dengan C-Phone sehingga harus diusir, siapa yang mau mengurusi migrasi 3 juta pelanggan Flexi dan 100.000 pelanggan StarOne? Kebijakan yang kurang profesional waktu lalu harus ditebus upaya yang keras saat ini, terutama kalau 3 operator GSM seluler akan diberi lisensi seperti dijanjikan pemerintah. Harus ada penataan ulang frekuensi, selain juga mencabut lisensi yang sudah kedaluwarsa karena tidak dioperasikan sejak mendapatkannya, seperti diatur dalam lisensi modern. DARI tiga operator telepon seluler GSM, secara tidak langsung dua di antaranya sudah memiliki frekuensi 3G. Telkomsel memilikinya lewat TelkomFlexi, Indosat memiliki lewat StarOne, keduanya di 1.900 MHz, walau masing-masing hanya 5 MHz, di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Namun, masalahnya, teknologi yang diadopsi dan cara alokasi frekuensinya berbeda, antara Telkomsel atau seluler Indosat dengan TelkomFlexi dan StarOne. Alokasi frekuensi CDMA 2000-1x untuk Telkom dan Indosat itu menggunakan standar personal communication system (PCS) yang kini justru tidak digunakan oleh "biang" CDMA, Korea dan Jepang. Standar PCS membuat CDMA tadi harus bekerja pada pita frekuensi B, E, F, dan C, yang uplink dan downlink-nya berdekatan sehingga harus dibuat satu pita penjaga (guard band) sebesar 15 MHz. Pita PCS yang juga digunakan oleh PT WIN dan Primasel itu membuat banyak frekuensi tidak dapat dimanfaatkan karena tak punya pasangan. Bagi operator, mengadopsi layanan 3G bukan cuma soal kapasitas yang membuat pemakainya dapat mengirimkan data dalam kecepatan tinggi. Menurut keterangan, akan terjadi juga kenaikan kapasitas untuk layanan suara sampai 10 kali lipat dibandingkan dengan kapasitas GSM saat ini. Saat ini Telkomsel, misalnya, sudah mencoba teknologi baru yang merupakan teknologi antara sebelum masuk ke 3G yang disebut dengan wideband code division multiple access (WCDMA). Teknologi itu adalah enhance data rate for GSM evolution (EDGE) yang mampu mentransmisikan data 100 kbps sampai 215 kbps, sementara WCDMA sebesar 384 kbps hingga 2 mbps. Hanya saja, jika di WCDMA antara suara (voice) dan keberisikan (noise) bisa dipisah, di EDGE tidak. "Juga tak ada garansi mutu servis dari EDGE, kadang transmisi bisa cepat, kadang lambat," ujar Yoseph Garo. Dalam kaitan tadi, operator telekomunikasi seluler berharap dapat memanfaatkan frekuensi 1.900 MHz lebih untuk meningkatkan layanan pembicaraan walaupun Telkomsel sendiri sudah mencatat banyaknya peminat untuk layanan transmisi data kecepatan tinggi. Dari 18 juta pelanggannya, sekitar 3 juta di antaranya pernah memanfaatkan layanan GPRS untuk transmisi data atau layanan lain. Di sisi lain Indosat kini bimbang untuk meneruskan atau tidak meneruskan layanan telepon tetap nirkabelnya, StarOne, karena persaingan sangat ketat dengan Flexi. Layanan nirkabel dari PT Telkom itu akhir tahun ini akan memiliki pelanggan sampai 3 juta lebih, sementara StarOne tumbuh sangat lambat, baru sekitar 100.000 pelanggan. Kebijakan internal Indosat sendiri lebih mengutamakan pertumbuhan selulernya yang kini sudah berada di atas angka 10 juta dengan pertumbuhan lebih dari 60 persen setahun. Bagi Indosat, mengembangkan StarOne hanya karena terikat komitmen dengan pemerintah dalam kaitan lisensi modern yang mewajibkan Indosat membangun 750.000 satuan sambungan telepon sampai tahun 2008. DIJUALNYA saham CAC dan Natrindo kepada investor dan operator asing melengkapi kegundahan masyarakat akan lunturnya nasionalisme. Kini, tinggal lagi PT Bakrie Telecom yang belum dibeli sahamnya oleh operator asing walau itu bukan pula jaminan akan tetap "murni". Sebanyak 25 persen saham Telkomsel dimiliki Singapore Telecom (SingTel), yang 65 persen milik PT Telkom, PT Indosat sudah berubah menjadi perusahaan penanaman modal asing (PMA) dengan dijualnya 42 persen saham ke STT dari Singapura juga. Excelcomindo yang sejak lahir memang dimiliki sebagian oleh beberapa perusahaan asing, kini Telekom Malaysia ikut masuk dan bertekad menjadi pemegang saham terbesar. Tak ada lagi yang murni. PT Telkom sendiri, yang dibanggakan sebagai perusahaan nasional murni, sahamnya dijual di berbagai pasar modal dunia. Ini berarti tidak tertutup kemungkinan sekian persen sahamnya dimiliki investor asing. Buktinya, setiap ada kebijakan, baik itu soal anak perusahaan atau kini masalah lisensi 3G, investor asing gencar mempertanyakannya kepada direksi PT Telkom, baik langsung dalam road show maupun lewat telekonferensi. PT Bakrie Telecom bukan operator telekomunikasi kemarin sore karena sejak lama sudah mengoperasikan telepon tetap nirkabel yang semula namanya Ratelindo. Layanan ini kurang sukses walau pernah mendapat 150.000 pelanggan, hanya di kawasan Jabotabek saja, meski mereka mendapat izin sampai Jawa Barat dan Banten. Bagi Bakrie yang kini memiliki merek dagang Esia untuk telepon tetap nirkabel dengan teknologi CDMA 2000-1X, tidak ada jalan lain selain all out dalam persaingan bebas yang makin keras ini. Banyak kebijakannya yang tidak populer di kalangan operator telekomunikasi di dunia ia lakukan, yang seperti kata manajemennya, dasarnya adalah penguatan rasa nasionalisme. Misalnya paket hujan duitnya, yang tidak bisa masuk akal operator mana pun di dunia. Paket ini, yang memberi bonus dari bagian hasil interkoneksi sebesar Rp 50 setiap pemakai Esia menelepon ke luar, memang membuat pelanggan Esia bertambah dan tingkat kesetiaan mereka tinggi. Interkoneksi merupakan pendapatan operator yang pelanggannya menerima telepon dari pelanggan operator lain. Jumlahnya cukup besar, sebab kalau antarseluler akan berarti Rp 325 per menit, sementara dari telepon tetap sekitar Rp 90 per menit. Bagi Bakrie, memberikan lebih dari separuh pendapatannya memang bukan perkara yang mudah diputuskan sebelum diterapkan. Namun, dengan cara yang efisien dan efektif, mereka mampu mengelola sisa hasil interkoneksi itu sehingga bahkan bisa memberikan tarif superhemat bagi pelanggan Esia yang menelepon ke luar negeri (SLI). Dewasa ini mereka hanya mengenakan tarif Rp 1.188 per menit panggilan ke luar negeri dari Esia, jauh lebih murah dibandingkan dengan Indosat FreeCall Mentari yang Rp 2.900 per menit. Sementara tarif umum SLI dari clear channel umumnya Rp 20.000-Rp 30.000 per menit. Selain membentuk kesetiaan pelanggan yang kini sudah sekitar 250.000, paket-paket tadi juga membuat iri warga masyarakat yang tinggal di luar daerah operasi Esia. Mereka meminta juga layanan yang sama, tetapi Bakrie Telecom belum memiliki jangkauan operasi nasional. Dikaitkan dengan kehendak Indosat yang akan mengembangkan frekuensi 1.900 MHz untuk 3G dan lebih fokus ke seluler, frekuensi 800 MHz mereka bisa saja dialihkan kepada Bakrie. Dengan kondisi tertentu, misalnya termasuk kewajibannya. Langkah ini tampaknya lebih efisien dibandingkan dengan, misalnya, Indosat tetap memiliki frekuensi 800 MHz untuk StarOne yang tidak berkembang, dan Bakrie yang ingin menasional diberi frekuensi lain yang akan menambah masalah baru lagi. (Moch S Hendrowijono, Wartawan, Tinggal di Cisarua, Bandung) --- Ruang Kantor siap pakai di Surabaya, fasilitas lengkap, meja, ac. Hubungi Office Center, Jl Pucang Anom Timur I/19, Surabaya 60282, Tel. 031 5013570, Fax. 031 5048504, email: [EMAIL PROTECTED] Visit our website at http://www.warnet2000.net Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
