Rasa Memiliki dalam Telekomunikasi Kita Garuda Sugardo
PERSELISIHAN mengenai Blok Ambalat antara Indonesia dan Malaysia telah menggugah rasa harga diri segenap masyarakat Indonesia. Betapa kebanggaan bernegara dengan penguasaan penuh atas darat, laut, dan udara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah suatu harga diri, bahkan oleh sebagian anggota masyarakat diapresiasikan dengan tekad berani mati mempertahankan kepemilikan Blok Ambalat dari klaim pihak asing. DALAM korelasi lain, di manakah makna strategis telekomunikasi kita manakala kepemilikannya kini berangsur-angsur dikuasai bangsa asing? Apakah relevan menempatkan pertelekomunikasian publik kita hanya sekadar komoditas yang kepemilikan atasnya dengan mudah didivestasi atau dijual kepada pihak asing? Infrastruktur akses telekomunikasi adalah jaringan fisik terluas di muka Bumi yang mampu dibuat manusia dan telah meliput seluruh titik pada bola dunia. Melalui proses teknik komutasi dan transmisinya, manusia saat ini bisa leluasa bercakap- cakap, berkirim berita dalam bentuk tulisan, gambar, bahkan multimedia kapan dan di mana saja, menembus batas jarak, ruang, dan waktu secara on-line, instan, dan live. Sistem telekomunikasi masa kini ditempatkan sebagai sarana utama atau vehicle dari pertukaran informasi. Dengan perubahan struktur kepemilikan perusahaan, berarti akan terjadi proses reformulasi visi, misi, dan tentu saja strategi dalam pengelolaan perusahaan tersebut. Perang modern pada dasarnya adalah juga peperangan lalu lintas data dan informasi. Siapa yang menguasai informasi, dialah yang berpeluang memenangi peperangan. Pertempuran dalam perang konvensional bisa dilakukan oleh pasukan infanteri darat, armada laut, atau skuadron udara yang saling menghantam dengan dukungan sistem perhubungan (baca: telekomunikasi) yang tertutup. Namun, perang modern sangatlah ditentukan oleh faktor-faktor komando, kontrol, komunikasi, dan informasi atau K3I, baik sebelum, semasa, maupun seusai perang. Dalam kondisi damai pun tak dapat disangkal telekomunikasi memegang peranan penting. Sistem keamanan negara yang merupakan tugas aparat keamanan dan intelijen tidak ayal juga memerlukan dukungan sistem telekomunikasi, termasuk jaringan telekomunikasi publik, baik telepon kabel maupun telepon seluler. Dari sudut pandang inilah otoritas atas penyelenggaraan jaringan dan jasa telekomunikasi menjadi amat penting untuk dihayati. Bisnis telepon seluler, sejak sistem GSM pertama dioperasikan PT Telkomsel pada tahun 1995, kini memasuki usia 10 tahun. Jumlah total pengguna telepon seluler di Indonesia saat ini sekitar 33 juta dari 4 operator GSM yang ada (Telkomsel, Indosat, XL, dan Natrindo), belum lagi tambahan pelanggan dari pendatang baru Mobile-8 yang berbasis CDMA 2000 1X. PT Telkom, raksasa telekomunikasi kita, selama 60 tahun kiprahnya di Republik ini, dengan susah payah pun baru memiliki lebih kurang sembilan juta satuan sambungan telepon kabel. Jika diingat seperlima di antaranya terpasang di sektor bisnis dan perkantoran, maka hanya sekitar tujuh juta telepon kabel yang "kring" di areal perumahan dari Sabang sampai Merauke. Itu pun sebagian besar terdapat di kota-kota besar. Dalam suatu diskusi interkoneksi telepon tiga tahun yang lalu telah diprediksi bahwa percakapan trafik telefoni saat itu 65 persen terjadi di domain seluler, dan sisanya ada di telepon tetap. Rasio tersebut tentu sama sekali tidak mengejutkan manakala kita melihat kenyataan bahwa di mana pun kita berada, kita melihat banyak orang di sekeliling kita-tua, muda, pria, dan wanita-yang asyik berlama-lama berponsel ria. IRONIS memang apabila kita bandingkan dengan penggunaan telepon tetap. Keberadaan telepon biasa pastilah dinantikan penghuni rumah dan juga "keharusan" tersedia di kantor-kantor; tetapi setelah terpasang, toh ponsel juga yang lebih sering digunakan. Jadi bisa dibayangkan, bagaimana strategisnya peran telepon seluler di dalam kehidupan masyarakat dan pelbagai aspeknya yang menyangkut fungsi pemakaiannya, apalagi ditunjang berbagai fitur maju yang tersedia pada telepon genggam personal ini. Seiring dengan pertumbuhan telepon seluler Indonesia yang amat tinggi, yaitu sekitar 65 persen per tahun (bandingkan dengan telepon tetap Telkom yang hanya tumbuh sekitar 8 persen), maka peta industri telepon seluler pun dalam beberapa tahun terakhir ini berubah drastis. Hal yang paling mencolok mata dan sekaligus menohok perasaan adalah berpindahnya satu per satu kepemilikan saham para operator seluler nasional ke tangan investor asing. PT Telkomsel, operator seluler GSM, memulai debutnya dengan kepemilikan duet dua BUMN-PT Telkom (51 persen) dan PT Indosat (49 persen)-pada Mei 1995. Setelah mengalami beberapa kali perubahan komposisi saham, kini kepemilikan PT Telkomsel dikuasai PT Telkom 65 persen dan SingTel Singapura 35 persen. PT Indosat sejak dua tahun lalu sekitar 42 persen sahamnya sudah dikuasai STT Singapura, sekitar 35 persen milik publik sejak tahun 1995, dan kini sisanya tinggal 13 persen milik pemerintah. PT Indosat awalnya dikenal masyarakat sebagai BUMN penyelenggara jasa telekomunikasi internasional dengan produk andalannya SLI 001, tetapi karena dominasi revenue-nya kini dikontribusi oleh jasa telepon seluler, praktis menjadikan PT Indosat lebih memosisikan diri sebagai penyelenggara seluler. Operator seluler PT Exelcomindo Pratama (XL) kini pun tengah sibuk memperbarui manajemennya menyusul kehadiran Telekom Malaysia (TM) yang telah mengakuisisi 27,3 persen saham. Dengan kepemilikan saham minoritas, TM mendudukkan seorang eksekutif asing pada posisi CEO, sementara kalangan pasar memperkirakan kepemilikan TM dalam waktu yang tidak terlalu lama pun akan bergerak ke posisi mayoritas. XL adalah salah satu operator seluler GSM yang juga telah memiliki lisensi seluler 3G. Selain kehadiran STT Singapura di PT Indosat, SingTel Singapura di PT Telkomsel, dan Telekom Malaysia di XL, Maxis Malaysia pun kini hadir dengan 51 persen sahamnya di Lippo Telecom GSM yang juga memiliki lisensi seluler 3G. Belum lagi usai kekagetan kita, tersiar kabar bahwa pemegang lisensi 3G pertama di Indonesia, yaitu Cyber Access Communication (CAC) milik Charoen Phokpand asal Thailand, telah pula melepas 60 persen sahamnya ke Hutchinson Telecom asal Hongkong. Bagaimanapun, 100 persen tetap dikuasai investor asing. Kita jadi tidak habis berpikir, mengapa para pebisnis pemilik operator seluler bangsa ini tidak kerasan di bisnis yang basah ini sehingga begitu cepat melepas kepemilikannya ketimbang menjadikan asetnya tumbuh berjaya seperti operator-operator seluler swasta di luar negeri. Inilah yang kemudian mengguratkan kesan bahwa pengusaha kita hanya pada awalnya saja teramat serius menggunakan segala jurus dalam berebut lisensi penyelenggaraan telekomunikasi, tetapi setelah berhasil tidak menjadikan miliknya merupakan bagian dari kebanggaan masyarakat. Di sisi lain, sebenarnya para investor Indonesia pun tahu bahwa bisnis telekomunikasi amatlah menjanjikan di negeri yang berpenduduk 220 juta jiwa ini sehingga rasionalnya investor nasionallah yang berlomba untuk mendapatkan saham yang dilepas pemiliknya. Entahlah, fenomena apa gerangan ini? STRATEGIC alliances di segala bidang bisnis-termasuk sektor telekomunikasi-di era global ini adalah suatu kewajaran belaka. Paling tidak terdapat empat poin penting dalam proses kemitraan dengan operator asing, yaitu suntikan dana segar untuk pembangunan infrastruktur, alih teknologi dan pengetahuan di bidang telekomunikasi modern, pengembangan organisasi dan sumber daya manusia menuju kriteria kelas dunia, serta keempat adalah perluasan hubungan internasional. Kita harus belajar dari pengalaman pahit kerja sama operasi PT Telkom dengan berbagai mitra operator telekomunikasi asing di Sumatera, Kalimantan, Jawa Barat, dan Jawa Tengah plus DI Yogyakarta yang kesemuanya limbung dan akhirnya dibeli kembali oleh PT Telkom. Tengoklah pula eks PT Satelindo yang dulu bermitra dengan DeTeMobil asal Jerman yang justru berkembang setelah dikuasai PT Indosat selagi BUMN. Selayaknya bangsa Indonesia percaya atas kemampuan manajerialnya sendiri. Kecuali pada faktor penyediaan investasi, tiga unsur aliansi lain yang disebutkan di atas sesungguhnya para profesional kita pun mampu melaksanakannya dengan cara yang cerdas, ikhlas dan tuntas, walaupun tetap digaji dalam nonvalas. Bukan rahasia bahwa kerap kali manajer asing tidak memiliki kompetensi istimewa seperti yang kita bayangkan. Pelbagai pengalaman sial menunjukkan, kadang kala merekalah yang belajar di sini. Eksekutif asing sangat diharapkan tidak mengandalkan cara kerja "management by angry", yang terbukti hanya akan membuahkan rasa antipati di kalangan karyawan. Sepatutnya mereka tidak boleh merasa superior hanya karena datang sebagai penyandang dana. Sebaliknya, para profesional Indonesia pun dituntut untuk menunjukkan rasa percaya diri dan jauhkan inferioritas. Untuk ini diperlukan saling pengertian, kerja sama, dan kebersamaan. Penempatan eksekutif di posisi strategis dalam perusahaan pun perlu jeli dicermati. Kondisi geografis Indonesia yang jauh berbeda dengan negara mitra asing, situasi obyektif masyarakat dan security approach dalam bernegara, amat menentukan dalam penempatan posisi-posisi kunci. Untuk hal-hal yang bersifat sciences dan universal, sepantasnya kita mendapatkan expertize dari mereka yang datang sebagai "ahli". Posisi operasional dan logistik mengapa tidak oleh profesional anak bangsa sendiri? Dari sini kita akan mendapatkan keuntungan ganda, yaitu belajar hal-hal yang positif dari cara kerja ala internasional, sekaligus menjaga sekuritas sistem telekomunikasi nasional dan basis data pelanggan serta keberpihakan kepada industri dalam negeri. Bagaimanapun, keberadaan investor asing pada sistem telekomunikasi dan telepon seluler kita saat ini adalah sebuah realitas. Harapan kita, kehadiran mereka di belantika telekomunikasi kita dapatlah menjadi cambuk agar suatu ketika operator seluler yang berbasis di Indonesia justru mampu berkiprah di negara lain. Sebagai investor, sebagai profesional, dan sebagai ahli yang berbendera dan berjiwa Merah Putih. Garuda Sugardo Mantan Direktur di Telkomsel, Indosat, dan Telkom --- If you need an office in Surabaya you don't have to invest on furnitures, ac etc. Contact: Office Center, Jl Pucang Anom Timur I/19, Surabaya 60282, Tel. 031 5013570, email: [EMAIL PROTECTED] Visit our website at http://www.warnet2000.net Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
