Dari Cyberpower menuju Cyberethics William Chang
Beberapa waktu lalu, sebagian masyarakat gelisah membaca isu provokatif melalui layanan pesan singkat dan e-mail. Stabilitas sosial, politik, dan ekonomi agak terganggu. Kepolisian Resor (Polres) Metropolitan Bekasi segera menanggapi isu tersebut. Kedahsyatan media komunikasi elektronik tak tersangkalkan. Ternyata, layanan pesan singkat (SMS) dan e-mail berkekuatan demokratis menurunkan kepala negara di Filipina. Dalam sekejap mata, via SMS dan e-mail, rangkaian berita burung mengubah keadaan sosial sebuah negara. Biasanya, tanpa berpikir kritis penerima berita langsung mem-forward-kan suatu berita sensasional. Kecerobohan menyaring berita mempersubur kesimpangsiuran berita di kalangan rakyat jelata. Beberapa sopir bajaj dan taksi di ibu kota, misalnya, belakangan ikut menggencarkan berita provokatif dengan mengancam sejumlah penumpang kendaraan mereka. Isu-isu tak bertanggung jawab yang meracuni public opinion memperkeruh kesejukan hidup sosial. Kedamaian dan kenyamanan hidup terusik gara-gara SMS dan e-mail yang disebarkan sejumlah oknum tak bertanggung jawab. Kelompok yang merasa diri terancam ingin mencari keamanan dan perlindungan sosial agar bisa hidup dan berusaha dengan tenang. Jaringan jaminan keamanan dapat dibentuk melalui cyberspace. Cyberpower Mengingat pengaruh sosial yang begitu luas, siapa pun dapat menggunakan jasa SMS dan e-mail. Terlepas dari sumbangan positif cyberpower, virus-virus penghancur dunia komunikasi dan net-net teroris pun bertebaran. Jaringan kerja globalisasi digital dapat diibaratkan dengan pasar dan lalu lintas informasi kemajemukan pandangan. Malah, cyberspace dapat dilukiskan sebagai sebuah âtong sampah besarâ. Daya dan pengaruh cybernet memang sulit dibendung. Masalahnya, bagaimanakah sarana komunikasi ini dapat dimanfaatkan secara positif dan bertanggung jawab. Sebagai suatu kondisi sosial, cyberspace ikut memengaruhi kita dalam pembentukan pola pikir, cara omong, dan tingkah laku manusia. Ruang komunikasi ini bisa dianalogkan dengan sekolah bebas yang menawarkan 1.001 pelajaran, yang baik dan yang jahat berbaur. Benarkah cyberpace hanya berdaya negatif yang mengganggu atau mengacau manusia dan dunia? Sebagai buah dunia teknologi, internet, misalnya, menurut seorang guru besar dari Warwick University, Peter Ferdinand, hanya berdaya jika diberdayakan oleh manusia. Tentu, daya dan peran cyberspace tidak hanya terbatas pada makna negatif, tetapi dapat dikembangkan dan diarahkan pada makna positif. Menuju cyberethics Mengikuti perkembangan media digital elektronik yang kian pesat, kehadiran kode etik dalam bidang ini tak dapat ditunda lagi meski tidak dengan sendirinya dapat memecahkan aneka problematika dunia. Dalam konteks perkembangan sosiologis kode ini akan membantu manusia dengan rentetan nilai yang perlu dipegang bersama dalam era globalisasi digital. Kesadaran akan pentingnya peran etika dalam cyberspace dewasa ini tampak, antara lain, dalam World Summit on the Information Society (WSIS) Desember 2003 yang dirintis PBB. Sekurang-kurangnya aneka aturan dasar hidup sosial yang terkait hak-hak asasi manusia dapat ditafsirkan dalam konteks globalisasi digital. Sebuah wadah transkultural perlu dicari bersama demi kepentingan umum. Beberapa negara, seperti Jerman, telah menghasilkan piagam yang terkait dengan hak-hak sipil dalam bidang pengetahuan yang dimotori oleh Heinrich Boell Stiftung. Supaya proses kesadaran akan makna ganda media massa, kode etik ini perlu disosialisasikan, antara lain, melalui keluarga, dunia pendidikan formal, nonformal, dan masyarakat. Setiap anasir pengguna jasa cyberspace diharapkan bertanggung jawab dalam menegakkan nilai-nilai sosial media komunikasi. Dampak negatif yang menghancurkan, seperti isu-isu provokatif dan menyesatkan masyarakat, perlu dihindari. Sedangkan pengaruh-pengaruh positif yang membangun kemanusiaan perlu dikembangkan. Yang jelas, manusia adalah tuan atas cyberspace yang seharusnya bersikap kritis atas tiap informasi, bukan budak cyberspace yang menerima semua informasi tanpa kajian kritis. William Chang Pemerhati Masalah-masalah Sosial ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Most low income households are not online. Help bridge the digital divide today! http://us.click.yahoo.com/I258zB/QnQLAA/TtwFAA/IHFolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Visit our website at http://www.warnet2000.net Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
