Kartu Panggil, Peluang Baru Operator Seluler

Moch S Hendrowijono

Kebijakan pemerintah mewajibkan pemakai kartu prabayar seluler
mendaftarkan diri merupakan upaya penyelamatan operator seluler
dari keterpurukan. Selain mengurangi, kalau mungkin
menghapuskan tindak kriminal yang sering dilakukan penipu
kacangan.

Operator seluler dalam keadaan terjepit dan seolah makan buah
simalakama karena porsi kartu prabayar di atas 90 persen dari
34 juta pelanggan seluler Indonesia. Pertumbuhan pelanggan
prabayar sangat pesat, ada yang mengklaim sebulan mendapat
lebih dari sejuta pelanggan baru, padahal hanya berhasil
menjual sejuta kartu perdana yang tak berarti menambah
pelanggan dengan sejuta.

Dalam persaingan tajam yang sudah masuk ke tarif dan harga,
pertumbuhan pelanggan di industri seluler terjadi secara semu.
Ketua Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI) Johnny Swandi
Sjam mengatakan, sekitar 90 persen kartu perdana yang
diaktifkan langsung dibuang begitu pulsa habis.

Padahal, operator berharap pemakai mengisi ulang kartunya
sehingga operator mendapat pemasukan. Namun, karena di pasar
harga pulsa isi ulang jauh lebih mahal dibandingkan dengan
harga kartu perdana dengan pulsa yang nilainya sama, orang
lebih suka membeli kartu perdana ketimbang mengisi ulang.

Kenyataan ini terjadi karena kesalahan operator yang memberi
target kepada distributor voucher isi ulang sesuai jumlah kartu
perdana yang terjual karena penjualan voucher lebih kencang
dibandingkan dengan kartu perdana. Untuk mengejar target yang
ditetapkan, distributor menjual kartu perdana lebih murah
ketimbang harga banderolnya, ruginya ditutup keuntungan dari
voucher.

Kartu perdana kartu As yang banderolnya Rp 25.000 dengan pulsa
Rp 25.000 dijual di pasar dengan harga Rp 15.000, bahkan Rp
10.000. Hal sama terjadi dengan kartu perdana Mentari, Jempol,
atau Bebas, yang harga jualnya di bawah nilai pulsa yang ada di
dalamnya.

Masalahnya, ketika pemakai kartu itu akan mengisi ulang, ia
harus mengeluarkan uang sekitar Rp 23.000 untuk pulsa senilai
Rp 20.000. Orang tidak tamat SD pun tahu, lebih untung beli
kartu perdana ketimbang mengisi ulang kartu lamanya.

Pembuangan kartu-kartu perdana juga dilakukan para penipu yang
merayu pemakai kartu lainnya dengan iming-iming hadiah uang,
atau mereka yang melakukan teror terhadap pemakai ponsel
lainnya. Pelacakan tak akan bisa dilakukan karena mereka selalu
berganti nomor dan tak ada ada data siapa pemakainya.

Pelanggan turun

Tidak jarang orang membeli kartu perdana bukan untuk maksud
jahat, tetapi mencari kepraktisan karena proses mengisi ulang
dianggap lebih ribet ketimbang memasukkan kartu baru. Sementara
kartu pascabayar dihindari karena ada proses pendaftaran dan
penelusuran kesahihan syarat administrasi yang disertakan dalam
permohonan.

Kebijakan pemerintah soal pendaftaran pemakai kartu prabayar
yang akan diterapkan Juni 2006 diperkirakan menurunkan
penjualan kartu perdana sampai 30 persen. Dewasa ini tidak
jarang orang memborong kartu perdana prabayar karena menelepon
dengan kartu itu jauh lebih murah daripada menelepon dengan
pulsa hasil isi ulang.

Dalam proses pendaftaran tidak dilakukan pengecekan kebenaran
KTP pendaftar. Paling tidak dengan data yang ada akan dapat
dihitung berapa jumlah pelanggan seluler sebenarnya di
Indonesia, selain orang akan berpikir ulang untuk melakukan
kejahatan lewat kartu prabayar.

Saat ini, meski jumlah pelanggan dikatakan sudah sekitar 34
juta, kenyataannya mungkin hanya 28 juta atau bahkan 25 juta.
Ini bisa terjadi karena ada banyak orang punya 3-4 nomor,
selain nomor-nomor yang sudah hangus, tetapi masih tertera
dalam data operator.

Sistem pencatatan pelanggan berbeda tiap operator. Ada yang
tetap mencatat pelanggan sampai bulan ketiga, keenam, atau
setahun walau kartunya sudah dibuang begitu pulsa habis,
mungkin seminggu atau dua minggu sejak diaktifkan.

Biasanya satu kartu perdana dengan pulsa Rp 25.000 bermasa laku
30 hari plus masa tenggang isi ulang 30 hari dan diberi
kesempatan 30 hari lagi sebelum dibuang oleh operator. Dalam
upaya menarik investor atau publikasi, ada operator yang tidak
mematikan nomor pelanggan walau tidak pernah diisi ulang asal
masih aktif dipanggil (always on), ada yang memang dibiarkan
untuk membuat jumlah pelanggan jadi tinggi.

Akibatnya, seperti terjadi di seluler PT Indosat, September
lalu jumlah pelanggannya turun 170.000 dari 12,87 juta menjadi
12,7 juta. Negative growth itu terjadi akibat dilakukannya
”pencucian” sehingga nomor-nomor yang sudah tidak aktif lebih
dari tiga bulan langsung dihapus. Hal sama juga terjadi di XL
dan Telkomsel walau ada upaya menutupinya.

Upaya cuci gudang sedapat mungkin dihindari karena selalu
membuat pertumbuhan negatif yang berakibat tidak menarik bagi
investor. Padahal, tanpa upaya cuci gudang akan menurunkan ARPU
(pendapatan rata-rata dari tiap pelanggan) walau ”positif” pada
pertumbuhan pelanggan.

Bagaimanapun pendaftaran pelanggan prabayar akan membawa dampak
positif. Operator akan mendapat jumlah pelanggan baru yang
sesungguhnya walau pertumbuhan tahun 2006 tak lagi 60 persen
seperti sebelumnya. Penipuan lewat kartu prabayar juga bisa
dikurangi karena nama dan alamat pemakai kartu prabayar segera
bisa dicari.

Kartu panggil

Menerbitkan kartu perdana prabayar sebenarnya beban bagi
operator, terutama jika kemudian tidak diisi ulang. Harga kartu
dan kemasannya sendiri sekitar Rp 15.000 plus pulsa Rp 25.000
atau Rp 15.000, dijual dengan Rp 15.000, sudah jelas negatif
dari sisi keuangan.

Operator tidak bisa menghentikan cara penerbitan dan penjualan
kartu yang menguntungkan pelanggan ini meski merugi. Kalau satu
operator melakukan koreksi kebijakan lalu operator lain tidak,
calon pelanggan akan pindah ke operator lain.

Pasar seluler di Indonesia saat ini masih membutuhkan cara
berkomunikasi yang mudah, sederhana, dan murah. Peluang yang
terbuka kemudian adalah kartu-kartu panggil (calling card)
seperti yang dikeluarkan beberapa operator untuk voice over
internet protocol atau VoIP.

Operator berpeluang mengisi kebutuhan pasar dengan kartu
panggil yang sudah terisi pulsa yang murah, tanpa pendaftaran
apa-apa, dapat dipakai di mana saja, tetapi tidak bisa
dipanggil atau dilacak. Pulsa bisa dibuat semurah mungkin
karena biaya produksi kartu rendah, tanpa sistem billing sebab
sudah dibayar di muka, miskin fitur kecuali suara dan SMS.

Operator dapat mengeluarkan kartu panggil seharga Rp 15.000
dengan pulsa Rp 25.000 tanpa rugi. Kenapa, karena pelanggan
tidak bisa tahu persis apakah pulsa yang diisikan benar-benar
senilai Rp 25.000 atau, kalaupun benar, belum tentu sama dengan
25 menit percakapan.

Operator dapat menetapkan hitungan unit pulsa per menit.
Artinya, walau digunakan lima detik atau 45 detik, pulsa
terpotong untuk satu menit. Umumnya orang menelepon antara 5
detik sampai 30 detik dan, kalaupun bicara panjang, tak ada
yang persis kelipatan semenit, lebih atau kurang sedikit dan
pembulatan ke satu menit ini yang menjadi keuntungan operator.

Kartu panggil akan menjadi bisnis baru operator seluler yang
terpaksa kehilangan banyak calon pelanggan kartu prabayar
akibat sistem pendaftaran pelanggan prabayar.

Moch S Hendrowijono Wartawan, Tinggal di Cisarua, Bandung



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
AIDS in India: A "lurking bomb." Click and help stop AIDS now.
http://us.click.yahoo.com/VpTY2A/lzNLAA/yQLSAA/IHFolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke