Menyikapi Era Eforia 3G

AW Subarkah

Mengawali tahun 2006 masih tersisa pertanyaan tentang kebijakan
pertelekomunikasian, termasuk upaya ”penggusuran” yang masih
akan berlanjut, bukan hanya yang diperuntukkan bagi jaringan
generasi ketiga atau 3G telepon seluler, tetapi juga frekuensi
450 MHz yang banyak digunakan untuk layanan keamanan.

Perjalanan berat bagi bangsa ini membuat masyarakat menjadi
sangat sensitif terhadap upaya melangkah mengikuti kemajuan
zaman. Ketidakjujuran yang selama ini tumbuh sangat subur di
negeri ini semakin memicu syak wasangka negatif terhadap
gagasan yang baik sekalipun.

Di sini termasuk upaya operator telekomunikasi nirkabel
membangun jaringan 3G yang menuai persoalan. Aroma tidak sedap
dalam mengalokasikan frekuensi 3G telah membuat pemerintah baru
mencoba meluruskan dengan melakukan tender ulang.

Namun, upaya ini juga menumbuhkan pertanyaan baru,
jangan-jangan nanti berganti menteri kebijakan juga berubah.
Terlalu mudah membuat alasan tanpa mempertimbangkan bahwa
inkonsistensi ini membuat iklim usaha juga tidak kondusif,
termasuk upaya membangun infrastruktur di daerah terpencil dari
sebagian dana bagi yang memenangi tender 3G nantinya, juga
membersitkan pertanyaan: bagaimana melaksanakannya, sedangkan
konsep jaringan informasi Nusantara 21 nyaris tak terdengar
lagi gaungnya.

Jaringan informasi seperti ini terlihat semakin besar
peranannya, di mana jaringan ini menjadi backbone untuk
terciptanya konvergensi antara dunia informasi dan
telekomunikasi. Itu karena ke depan jaringan broadband
nirkabel, mulai dari jaringan 3G akan berbasiskan IP (Internet
Protocol).

Sementara itu, infrastruktur tidak hanya cukup dibangun, tetapi
juga dipelihara. Kalau masyarakat, terutama yang ada di kawasan
jauh, ini daya belinya sangat rendah, dari mana mereka akan
bisa memanfaatkan dan sekaligus memelihara infrastruktur yang
mahal itu.

Eforia 3G

Serupa ketika Malaysia menciptakan jaringan informasi Malaysia
Super Corridor dan Singapura dengan IT2000 untuk mengembangkan
dunia informasi di negerinya. Maka ketika 3G mulai merambah ke
kawasan Asia Tenggara, kedua negeri itu yang memulai. Bahkan
Malaysia yang sudah memiliki dua jaringan 3G yang dibangun dua
perusahaan Telekom Malaysia dan Maxis akan segera memberikan
dua lisensi lagi.

Sementara itu, Singapura saat ini memiliki tiga operator 3G,
yaitu M1, SingTel Mobile, dan StarHub, yang seluruhnya
mempergunakan teknologi W-CDMA. Bahkan Brunei Darussalam
melalui operator B-Mobile Communications juga sudah menggunakan
W-CDMA.

Di luar ketiga negara di Asia Tenggara itu Jepang yang paling
awal menerapkan W-CDMA. Selain generasi ketika telepon seluler
ini juga tumbuh subur di Korea Selatan, Taiwan, dan Hongkong.

Bahkan Korea menganggap pengembangan teknologi informasi dan
telekomunikasi telah berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi
negerinya. Didukung dengan industri yang maju membuat Negeri
Ginseng ini tidak hanya menjadi konsumen sehingga tahun 2004
tercatat ekspor produk telekomunikasi dan informasi mencapai
39,5 persen dari total ekspor atau mencapai 100,3 miliar dollar
AS.

Belajar dari pengalaman negara-negara yang sudah menerapkan 3G,
setidaknya dua negara yang memiliki jumlah penduduk besar
mencoba membuat strateginya. Setidaknya China dan India ingin
membuat langkah yang tepat bagi negerinya yang luas dan
berpenduduk banyak itu.

Solusi TD-SCDMA

Seperti halnya Jepang yang langsung memulai dengan 3G ketika
negara-negara ASIA lain merintis mulai dengan 2G, maka China
dalam merintis teknologi 3G juga dengan HSDPA. Teknologi yang
merupakan penyempurnaan dari W-CDMA ini menjadi langkah awal
bagi China setelah sekian lama menantikan layanan 3G.

Perusahaan telekomunikasi China, seperti Huawei dan ZTE,
berencana meluncurkan solusi HSDPA tahun 2006. Sementara
perusahaan pembuat ponsel, seperti NEC dan Samsung, menargetkan
ponsel yang mampu mengakses HSDPA pada semester kedua tahun
depan.

Salah satu alasan penerapan HSDPA adalah dalam upaya mengurangi
biaya per megabit transfer data, bukan hanya sekadar mampu
menghasilkan data yang lebih besar. Ini adalah langkah para
operator seluler ini untuk bersaing dengan layanan ADSL dari
operator telepon tetap.

Bahkan dalam penerapan jaringan generasi ketiga ini masih ada
satu teknologi yang dikembangkan China, yaitu TD-SCDMA (Time
Division Synchronous Code Division Multiple Access). Teknologi
tersebut mereka ciptakan untuk mengurangi ketergantungan China
pada teknologi Barat.

Sebuah laporan dari majalah WirelessAsia edisi 15 November
menyebutkan, perusahaan Datang Telecom yang merupakan pendukung
utama TD-SCDMA telah melakukan demonstrasi. Bekerja sama dengan
Alcatel Shanghai Bell, Datang Telecom berhasil mencapai
kecepatan 8,4 Mbps pada saluran 5 MHz dan 2,8 Mbps pada kanal
1,6 MHz.

Kecepatan yang hampir menyamai kecepatan melalui serat optik
pada fixed-line ini memungkinkan untuk membuat layanan video
streaming dengan kualitas mendekati DVD. Datang akan
menggunakan teknologi tersbeut untuk layanan komersial dengan
carrier tunggal pada kuartal pertama tahun 2006 dan layanan
multicarrier pada kuartal berikutnya.

Teknologi China ini juga mendapat dukungan dari Siemens yang
akan meluncurkan produk TD-SCDMA kuartal pertama 2006. T3G yang
mendukung Philips, Datang Mobile dan Samsung Electronics akan
memperkenalkan chip yang memiliki kecepatan sampai 2,8 Mbps
pada kuartal kedua tahun 2006.

Indonesia

Tidak ada bedanya dengan India dan China, keadaan di Indonesia
juga memiliki banyak kemiripan. Hanya bedanya sebagian besar
wilayah RI adalah perairan laut yang memisahkan ribuan pulau,
yang tentu saja akan sangat mahal untuk membangun jaringan
kabel di dasar laut.

Konsep Nusantara 21 menyebutkan penggunaan jaringan transmisi
satelit, digital microwave radio, serat optik, dan kabel laut
sebagai sarana penghubung antarwilayah. Tentu saat mengonsepkan
jaringan informasi ini belum dikenal teknologi WiMAX yang
menawarkan banyak solusi untuk kawasan jarang penduduk maupun
kawasan yang padat bangunan.

WiMAX menjadi solusi yang menarik, bahkan seperti China dan
India mengandalkan teknologi ini untuk bisa membangun lebih
murah. Tidak ada salahnya jika Nusantara 21 disempurnakan
dengan memasukkan komponen seperti WiMAX yang sebenarnya sama
dengan digital microwave radio.

Namun, yang penting untuk dipersiapkan adalah regulasinya,
jangan sampai terjadi gusur- menggusur lagi karena tidak
memerhitungkan pengalokasian frekuensi yang benar. Apalagi
teknologi WiMAX ini kebanyakan mempergunakan frekuensi kerja
yang lebih tinggi dari 3G, yaitu di atas 3 gigahertz (GHz).

Sementara itu, 3G sebagai sebuah produk teknologi juga bisa
memanfaatkan sarana seperti WiMAX. Dalam implementasinya, 3G
sebenarnya lebih menarik dalam upaya merendahkan biaya untuk
akses dibandingkan dengan akses ke jaringan lain seperti 2G
atau bahkan fixed line sekalipun.

Sampai saat ini untuk bisa akses ke internet dengan kecepatan
dengan modem kabel telepon tetap yang maksimal 56 kbps (kilobit
per detik) masih saja sulit tercapai. Untuk akses lebih cepat
pihak PT Telkom menawarkan Speedy yang menggunakan teknologi
ADSL.

Namun, untuk mendapatkan kecepatan broadband ini paling kecil
harus membayar Rp 300.000 dengan kuota 500 megabit, kelebihan
kuota harus dibayar Rp 1.200 per megabitnya.

Cara akses internet seperti ini juga ditawarkan Mobile-8 dengan
produknya Fren. Dengan harga yang sama, bisa memperoleh
kecepatan akses rata-rata 60-90 kbps yang lebih tinggi dari
kecepatan modem kabel telepon tetap atau 10 kali kecepatan
dengan teknologi GSM.

Dengan kartu modem CDMA 1x pengguna yang mementingkan mobilitas
bisa menikmati akses internet sampai 40 jam dalam sebulannya.
Dalam hal ini Mobile-8 bekerja sama dengan 11 ISP (layanan jasa
internet).

Dari gambaran ini memperlihatkan masa depan broadband nirkabel
sangat menjanjikan untuk meningkatkan kemampuan akses ke dunia
internet. Bukan hanya kecepatan yang dihasilkan lebih tinggi,
tetapi juga biaya per megabitnya juga jauh lebih rendah.

Sebuah presentasi yang dibuat perusahaan Motorola di Jakarta
memperlihatkan bahwa dengan jaringan W-CDMA biaya per
megabitnya akan menjadi sepertujuh dari biaya menggunakan
teknologi GPRS pada jaringan GSM.

Bahkan dengan meningkatkan kemampuan melalui teknologi CDMA2000
1xEV-DO Revision A maupun HSDPA sebagai penyempurnaan dari
W-CDMA, biaya jauh lebih rendah lagi. Diperkirakan ongkos per
megabit akan lebih kecil dari 1/20 biaya pada teknologi GPRS.

Melihat kecenderungan ini, tidaklah berlebihan apabila
teknologi nirkabel menjadi bahan pertimbangan. Seperti
broadband nirkabel WiMAX dan satelit merupakan solusi yang
perlu dipertimbangkan untuk merekatkan hubungan antarpulau.

Dengan demikian, nantinya daerah terpencil pun bisa menikmati
akses internet lebih murah dan lebih lancar. Sementara secara
bertahap mempersiapkan anak negeri yang tidak kalah
kecerdasannya dibandingkan dengan anak-anak negara maju ini
untuk tidak sekadar menjadi operator.



Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke