Membangun "Next Generation Network" untuk Bangsa Indonesia 

Salah satu topik yang sangat mencuat di APRICOT 2007 Bali yang lalu
sebetulnya Next Generation Network atau NGN, istilah baru yang muncul di
kalangan para operator telekomunikasi untuk jaringan telekomunikasi masa
mendatang. Sebetulnya tema ini telah banyak kita kenal dengan istilah
yang lain, seperti VoIP Rakyat, 4G, dan SIP yang sudah tidak asing bagi
kita yang biasa menggunakan VoIP Rakyat untuk komunikasi sehari-hari di
atas akses internet unlimited melalui RT/RW-net dan Warnet. 

Ada satu hal yang menjadikan NGN memancarkan warna yang sangat lain di
APRICOT 2007 Bali adalah adanya contoh nyata NGN yang sudah operasional
di kios APJII di bawah naungan task force IPv6 APJII. Secara umum
arsitektur NGN ini lumayan cang- gih, dan membuat saya pribadi cukup
terkagum-kagum atas keberhasilan rekan-rekan dalam mengimplementasikan
NGN tersebut. Saya salut. 

Di lapisan paling bawah, digunakan sambungan HotSpot WiFi dan 3G
disambungkan pada backbone MPLS yang semuanya menggunakan IPv6.
Infrastruktur HotSpot WiFi, 3G, dan MPLS digelar oleh operator seluler
XL. Harus diakui bahwa para operator telekomunikasi lain tampaknya kalah
start dan agak kecolongan oleh XL dalam hal implementasi IPv6 ini. 

Di atas infrastruktur IPv6 di tunnel di bawah traffic IPv4 dari aplikasi
telepon internet berbasis Session Initiation Protocol (SIP) yang sama
dengan yang digunakan oleh komunitas VoIP Rakyat
(http://www.voiprakyat.or.id). Sentral telepon SIP telah dioperasikan
oleh XL Business Solution. Software aplikasi maupun peralatan yang
digunakan di tingkat aplikasi ini sama persis dengan VoIP Rakyat. Bagi
Anda yang ingin mengerti teknik konfigurasinya dapat membacanya pada
buku VoIP Rakyat cikal bakal Tel- kom Rakyat terbitan InfoKomputer. 

Harus diakui bahwa infrastruktur SIP di atas 3G dan IPv6 yang
terimplementasi secara serius baru kemarin di APRICOT 2007 kita
melihatnya secara fisik, operator lama seperti Telkom dan Indosat
tampaknya tertinggal jauh dengan inisiatif-inisiatif yang dilakukan oleh
APJII dan XL khususnya dalam NGN. 

Dengan kesiapan APJII, XL, dan komunitas VoIP Rakyat sebetulnya
pembangunan jaringan NGN di Indonesia telah di ambang pintu untuk bisa
take off dalam skala besar. Bagi mereka yang pernah mengoperasikan
teknologi VoIP Rakyat, saya yakin bahwa sama sekali tidak sukar untuk
membuat sentral telepon NGN dan mengoperasikannya bahkan telah
terdokumentasi lengkap di buku VoIP Rakyat. 

Ada satu kunci yang dapat membuat NGN ini dapat terbang dan menjadi
besar di Indonesia dengan cepat. Kunci tersebut adalah alokasi nomor
telepon atau dalam bahasa "keren"-nya disebut ENUM. Sederhananya ENUM
hanya melakukan pemetaan antara nomor telepon ke alamat IP yang
digunakan komputer atau pesawat telepon di internet. 

Secara teknologi sangat mudah sekali untuk mengoperasikan ENUM karena
bersandar pada teknologi Domain Name System (DNS) yang banyak digunakan
di internet dan merupakan standar aplikasi di server Linux. VoIP Rakyat
telah lama mengoperasikan ENUM-nya pada
http://www.enum.voiprakyat.or.id. XL pun telah mengoperasikan ENUM
server-nya. Saya sendiri membutuhkan waktu sekitar 5-10 menit untuk
mengaktifkan server ENUM di laptop Linux saya. 

ENUM menjadi tantangan bagi Ditjen Postel untuk secepatnya
mengalokasikan nomor telepon bagi infrastruktur NGN yang sudah mulai
operasional ini agar dapat terbang dan take off menjadi besar. 

Saya tahu, ketakutan utama yang ada di incumbent operator maupun
Postel/Kominfo adalah matinya bisnis para operator besar. Padahal, apa
yang ditakutkan tidak akan terjadi jika di awalnya membatasi bahwa semua
panggilan telepon melalui NGN hanya dilakukan di internet. Tidak
dilakukan sambungan panggilan telepon ke PSTN maupun seluler. Jadi
semacam pulau komunikasi tertutup saja. Mudah-mudahan implementasi pulau
ENUM yang terbatas ini dapat mulai direstui atau diaktifkan oleh Postel
dalam waktu 2-3 bulan mendatang. 

Interkoneksi ke PSTN maupun seluler dari ENUM dapat dilakukan bertahap.
Tahap pertama yang paling aman bagi operator adalah melakukan
originating call saja, artinya yang diizinkan hanya panggilan dari PSTN
Telkom atau seluler ke VoIP (NGN) saja. Jadi tidak ada panggilan dari
VoIP (NGN) ke PSTN Telkom atau seluler, artinya operator telekomunikasi
tidak akan kehilangan revenue, bahkan yang terjadi operator
telekomunikasi memperoleh tambahan revenue dari proses originating call
tersebut. 

Jika operator telekomunikasi sudah cukup "percaya diri" dengan diri-nya,
tidak ada salahnya dibuka mekanisme terminating dari VoIP ke
infrastruktur operator telekomunikasi. 

Filosofi mendasar yang perlu kita sadari bersama adalah semua
infrastruktur NGN berbasis internet. Konsekuensinya, stan- darnya sangat
terbuka dan memungkinkan rakyat kecil membangun sendiri Telkom-nya di
masing-masing RT/RW-net atau kantornya. 

Nomor telepon tidak lagi bernuansa wilayah maupun kota, atau menjadi
milik perusahaan telekomunikasi, tetapi nomor telepon dapat
mengidentifikasikan identitas perusahaan atau RT/RW-net atau bahkan
pribadi seseorang tanpa perlu terkait pada satu operator telekomunikasi
pun. Misalnya, bisa saja kelompok Kompas Gramedia mempunyai alokasi
nomor +62787123xxxx di mana 787123 adalah nomor Kelompok Kompas
Gramedia, dan sisa nomor xxxx di bawahnya adalah pesawat telepon yang
ada di Kelompok Kompas Gra- media. 

Hal yang menjadi tantangan besar bagi Postel/Kominfo adalah membangun
mekanisme otentikasi dan pendaftaran untuk mengalokasikan nomor telepon.
Saya mungkin mengusulkan untuk memberikan beban biaya penyewaan nomor
telepon, tidak usah terlalu mahal misalnya Rp 200-Rp 500 per nomor
telepon setiap tahun. Hal ini untuk menjamin keseriusan dan tanggung
jawab pemohon no- mor telepon. 

Tidak banyak negara di dunia yang berhasil membangun infrastruktur NGN
ini. Semua negara sedang mencari-cari bentuk paling efisien bagi
kondisinya masing-masing. APJII, XL, dan VoIP Rakyat telah lama
mengoperasikan dan berhasil menunjukkan kemampuan komunitas internet
dalam mengoperasikan Indonesia Next Generation Network, alangkah baiknya
jika pemerintah tanggap menangkap peluang yang ada ini dan mengangkatnya
ke atas untuk mendorong bangsa Indonesia agar menjadi pemimpin dan
contoh bagi dunia dalam bidang IP based telekomunikasi khususnya NGN. 

Saya yakin, "Dunia akan belajar pada kita, Bangsa Indonesia." 

Onno W Purbo 
Penulis Teknologi Informasi Independen, Mantan Dosen ITB 


-- 
Kuliner Indonesia, milis tentang makanan dan tempat makan di dalam, 
juga dari luar negeri. Disajikan dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
Daftar ke mailto:[EMAIL PROTECTED] Arsipnya bisa 
dibaca di http://groups.yahoo.com/group/kuliner_ind/messages



If you like this list, the moderator will be thankful
if you would transfer some amounts to BCA account no.
064 100 2762.  
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke