Selamat Datang Koran Digital!

Kamis, 10 Juli 2008 | 03:00 WIB 
PEPIH NUGRAHA

Tanpa banyak kata dan wacana, Harian Kompas tampil dalam bentuk digital
pada 3 Juli 2008. Dua hari sebelumnya, mengawali bulan Juli, Harian
Kontan yang masih saudara Kompas juga hadir dalam bentuk digital. Dalam
waktu tidak lama lagi, sejumlah bisnis penerbitan Kompas Gramedia
kemungkinan hadir dalam bentuk digital ini.

Dalam bisnis digital publishing, koran digital biasa disebut e-paper
atau electronic paper. Apa perbedaan e-paper Kompas dengan Kompas Online
atau Kompas.com yang selama ini ada? Mungkinkah pelanggan Kompas cetak
beralih ke e-paper Kompas yang bisa diakses melalui internet itu? Apakah
ini pertanda segera berakhirnya era koran cetak?

Kompas digital yang bisa diakses di http://epaper.kompas.com atau
http://www.kompascetak.com dari segi fisik berbeda dengan isi Kompas.com
yang biasa diakses di http:// www.kompas.com. Karena Kompas digital
mengadopsi Portable Document Format (PDF) yang dikembangkan Adobe
System, tampilannya sama persis dengan versi cetak. Bedanya, Kompas
digital hanya bisa diakses melalui internet dengan alamat yang sudah
disebutkan tadi. Perusahaan yang menangani digitalisasi Kompas ini
adalah Softpress.

Dengan menggratiskan Kompas digital, apakah orang akan berhenti
berlangganan Kompas cetak? Jika berhenti berlangganan, masih maukah para
produsen memasang iklan di Harian Kompas? Jadi, apa keuntungan yang bisa
diraih jika sebuah perusahaan koran beralih ke bentuk digital? Akan
dikemanakan versi online koran itu?

Media Baru

Bermetamorfosanya koran cetak menjadi sebuah koran digital, seperti yang
terjadi pada Kompas dan Kontan, akan memberi peluang kepada keduanya
memasuki dunia baru dalam bisnis online yang disebut New Media atau
media baru. Media baru itu, antara lain, berita-berita online, blog,
podcast, streaming video, dan social network (jejaring sosial). Saat
Kompas digital hadir, secara alamiah ia mengadopsi segala bentuk media
baru itu.

Dalam kasus Kompas.com yang sudah memiliki berbagai konten, karena
Kompas digital hadir belakangan, otomatis ia sudah memasuki New Media
karena Kompas.com sudah memiliki berita online, blog, dan streaming
video. Bahkan lebih dari itu, Kompas.com dilengkapi televisi (KompasTV
dan SelebTV), radio (K-Radio), dan video (VideokuTV). Semua konten media
baru itu tentu bisa diintegrasikan ke dalam koran digital.

Ke depan, jika foto sebuah berita di-klik, ia akan di-link ke KompasTV
atau K-Radio sehingga foto dalam Kompas digital akan berubah wujud
menjadi video! Hal yang sama terjadi pada iklan. Ambil contoh iklan
mobil di Kompas digital. Saat iklan itu di-klik, bisa tampil streaming
video mengenai mobil itu saat sedang melaju, keandalan mesin, kenyamanan
interior, bahkan transaksi langsung.

Saat dunia menghadapi ancaman global warming, niscaya ketersediaan
kertas koran untuk konsumsi dunia pun jadi persoalan. Dengan koran
digital, para pemilik koran tak harus dipusingkan lagi dengan
ketersediaan kertas yang semakin menipis yang otomatis semakin mahal
harganya. Harga kertas yang mahal akan menyengsarakan pelanggan. Semua
persoalan itu akan berhenti saat koran digital hadir.

Memang persoalan yang dihadapi saat ini adalah masih mahalnya akses
internet dan terbatasnya kepemilikan komputer atau ponsel berinternet.
Akan tetapi, seiring kesadaran pemerintah terhadap pentingnya warga
negara tersambungkan satu sama lain dan akses kepada informasi, hot spot
di tempat-tempat kerumunan orang, seperti alun-alun kota, akan semakin
menjamur. Siapa tahu pemerintah ini ke depan menyubsidi rakyatnya untuk
memperoleh akses internet murah. Komputer pribadi dan ponsel sebagai
sebuah gadget teknologi, kian hari kian murah yang semakin terjangkau
masyarakat.

Interaktif partisipatif

Hadirnya koran digital dengan sendirinya menyambut sebuah generasi yang
disebut digital native yang dari sono-nya akrab dengan internet.
Sementara itu, generasi yang bergantung pada koran cetak akan hilang dan
punah sesuai tuntutan alamiah. Karena media koran digital seperti Kompas
hadir melalui internet yang sudah diakrabi digital native ini, mereka
tidak lagi harus diarahkan dan disuruh-suruh untuk membaca koran.

Koran digital yang dihadirkan berkat internet akan mengikuti nature
media online yang bersifat interaktif dan partisipatif. Ini pulalah
keuntungan yang ditawarkan koran digital ke depan, yakni interaktif dan
partisipatif dalam bentuk konten yang beragam. Bisnis media sekarang ini
tidak lagi mengandalkan kekuasaan editor yang terbiasa menjejali
pembacanya dengan konten teks yang menurut mereka penting. Mulailah
mengerti lebih baik lagi keinginan pembaca, termasuk memikirkan bentuk
medianya.

Selain dalam bentuk web dan RSS (web feed), koran digital bisa hadir
dalam bentuk mobile melalui ponsel berinternet dan podcast yang
kontennya bisa diunduh (down load) setiap saat. Jika buku elektronik
Kindle yang seukuran PDA saja sudah bisa menampilkan sejumlah konten
berita dari berbagai media online, tinggal menunggu hitungan hari bagi
Kompas digital untuk hadir dan ditawarkan dalam bentuk mobile di ponsel!

Akan gratis atau berbayarkah Kompas digital itu seterusnya? Sampai
tulisan ini diturunkan, Kompas digital masih dibiarkan gratis. Pengakses
Kompas digital juga tidak terbebani keharusan mengisi login atau
memasukkan password. Tinggal buka alamatnya dan buka halaman demi
halaman semudah membaca koran kertas. Tetapi, sampai sejauh mana Kompas
digital digratiskan? Ini bisnis, pastilah ada hitung-hitungannya.

Lumrah terjadi dalam bisnis koran digital bahwa pengguna pun dibebani
biaya berlangganan meski lebih murah dibanding ketika harus berlangganan
koran cetak. Mungkin seperempat atau seperlima dari harga berlangganan
koran kertas. Namun, yang harus diingat, dalam bisnis online segala yang
berbayar akan segera ditinggalkan orang. The New York Times yang semula
mengenakan biaya langganan bagi pengaksesnya akhirnya menggratiskan
seluruh kontennya.

Sebenarnya jika digratiskan pun, asalkan lembaga semacam AC Nielsen bisa
diyakinkan bahwa pelanggan koran cetak beralih ke koran digital, tak
menjadi masalah. Bahkan, tidak harus takut tiras koran cetak turun
drastis jika pembacanya beralih ke koran digital yang bisa mengukur
berapa pengakses, lama mereka membaca, dan apa yang mereka baca.

Orang iklan pun akan dengan kreatif menguangkan (monetize) koran digital
itu sebagai ”tambang iklan baru” dengan iklan yang berbentuk rich media
seperti streaming video. Belum lagi perolehan iklan mobile saat koran
digital sudah bisa diakses lewat ponsel atau podcast. Siapa tahu.


-- 
Surabaya Office: Tersedia ruang kantor siap pakai di kota 
Surabaya. Ukuran 50 & 12 m2. Fasilitas lengkap, 3km dari 
pusat kota. Hubungi 031-5013570, HP: 0852 3008 3510 atau
email: [EMAIL PROTECTED]


------------------------------------

If you like this list, the moderator will be thankful
if you would transfer some amounts to BCA account no.
064 100 2762. Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke