Berprestasi Lewat Teknologi Kampungan Selasa, 8 Juli 2008, nama Indonesia mencuri perhatian internasional dalam kompetisi tahunan yang disponsori oleh Microsoft, salah satu raksasa dunia dalam bidang informasi teknologi. Biangnya tidak lain, empat mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang didaulat maju ke depan panggung di salah satu ruangan Carrousel du Louvre, Paris, Prancis, malam itu.
Salah satu di antaranya sempat kembali ke tempat duduknya setelah lupa membawa bendera Merah Putih. "Gue sempat bengong dan baru ingat untuk bawa bendera," kata Arief Widiyasa, mahasiswa tingkat akhir Sekolah Teknik Elektro dan Informatika. Ella Mardanella, Dimas Yusuf Danurwenda, dan Erga Ghaniya yang tergabung dalam tim Antarmuka bersama Arief, juga merasa kaget. Mereka tidak pernah menyangka karyanya bakal dianugerahi Special Award di Unlimited Potensial, Rural Innovation Award dalam Imagine Cup 2008. "Kita hanya saling berpandangan awalnya," kata Erga, satu-satunya anggota tim yang berasal dari Fakultas Seni Rupa dan Desain ini. Masih dengan wajah berseri-seri, Ella mewakili teman-temannya, langsung menyambut ucapan selamat dan mengambil papan yang bertuliskan hadiah uang tunai 10 ribu dolar Amerika dari tangan Anoop Gupta, Corporate Vice President, Unlimited Potential Group dari Microsoft. Selain mendapatkan hadiah uang, mereka mendapatkan kesempatan magang di Microsoft Research Bangalore, India. Selama empat bulan di musim panas 2009. Kampungan Menurut Dimas, teman satu jurusan dan satu angkatan Arief, kemenangan timnya tidak terlepas dari presentasi yang dilakukan oleh finalis lain dari Kolumbia, Mesir, India, dan Afrika Selatan. Tim Afrika Selatan, ungkap dia, mempresentasikan sistem penjadwalan bus di daerahnya. Tim India mempresentasikan peranti lunak yang dapat dijadikan patokan oleh petani untuk memulai penanaman, jenis tanamannya, sampai ke lokasi yang cocok. "Kalau bus di desa itu sulit. Petani menggunakan komputer juga sulit. Mungkin karena software (peranti lunak) kita yang paling kampungan, makanya bisa dapat," papar Dimas. Tim Antarmuka sendiri tadinya tidak memasang target untuk Rural Inovation Award, yang baru diselenggarakan pada Imagine Cup 2008. Mereka memasang target dalam kategori software design atau desain piranti lunak yang paling bergengsi dalam setiap penyelenggaraan Imagine Cup semenjak tahun 2003. "Dari 60 negara, kita masuk 12 besar. Tapi tidak ke final," ungkap Arief yang dipercaya menjadi ketua dalam timnya. Inti dari kompetisi ini adalah bagaimana teknologi bisa memberi solusi atas masalah yang dihadapi masyarakat di negara-negara yang sedang berkembang. Arief memaparkan pada penyelenggaraannya yang ke-6 ini, para peserta ditantang dengan tema umum lingkungan. "Tantangannya membayangkan dunia di mana teknologi memungkinkan lingkungan yang berkelanjutan." "Butterfly" Tim Antarmuka, kata Dimas, membuat peranti lunak dengan nama Butterfly. Peranti lunak ini bukan untuk diterapkan di rumah tangga melainkan di tingkat negara atau kota. Dengan Butterfly, pemerintah atau pihak pihak berwenang bisa menerima, mendokumentasikan, dan menampilkan berbagai laporan mengenai masalah lingkungan. Sistem yang terintegrasi ini bisa menerima laporan secara langsung dari masyarakat melalui teknologi pesan singkat (SMS), telepon dan situs internet. Arief memberi ilustrasi jika masyarakat melihat Sungai Cikapundung mengeluarkan asap tipis dan berbau, maka mereka bisa melaporkannya ke pihak yang berwenang. Sistem Butterfly yang terpasang di kantor pemerintah, sambung dia, bakal menentukan kategori dan prioritas masalah dari laporan tadi. Soal kategori dan prioritasnya, pengguna sistemnya yang memasukkan. Selain itu, sistem ini juga bisa langsung memetakan di mana sebuah kasus terjadi berdasar pada peta digital. "Jadi kalau ada laporan mengandung kata-kata berbau, sungai, asap, kita bisa memasukkannya sebagai sebuah laporan yang harus segera ditanggapi. Kita juga bisa menyambungkannya dengan petugas pemadam kebakaran atau dinas terkait lainnya," papar Arief yang bertugas merubah laporan menjadi kode yang dimengerti oleh server atau komputer inti. Sederhananya, imbuh dia, sistem itu seperti laporan di Amerika yang menggunakan nomor 911. "Kalau kondisi darurat bisa langsung menghubungi satu nomor itu saja. Mudah dan sederhana," tambah Ella yang bercita-cita menjadi konsultan teknologi informasi. Persiapan keempat anak muda ini untuk bertarung di Paris dipersiapkan dalam waktu enam bulan. Ide awal untuk mendaftar ke kompetisi ini diawali oleh Arief, yang sebelumnya sudah mengetahui soal Imagine Cup. "Waktu itu baru niat, tapi belum tahu mau buat apa," sambung pria yang sangat ingin menjadi pembuat game ini. Dari obrolannya bersama Ella dan Arief, yang berasal dari satu jurusan kuliah, mereka berniat untuk bisa menghubungan piranti lunak dengan urusan lingkungan. Untuk lebih memfokuskan proyeknya, mereka langsung turun ke lapangan. "Sampai meminta pendapat dari masyarakat dan LSM (lembaga swadaya masyarakat) lingkungan," kata Dimas. Akhirnya mereka sampai pada kesimpulan awal, bahwa pada banyak kasus lingkungan, warga tidak mengetahui harus mengontak instansi mana. Selain itu, warga juga menganggap urusan dengan pemerintah itu sangat birokratis dan lama. Masalah awal itu menyambungkan ide mereka dengan konsep nomor kontak 911 yang digunakan oleh Amerika dalam urusan darurat. Arief menjelaskan konsep one single number (satu nomor layanan) bisa sangat mudah digunakan terkait dengan kasus-kasus lingkungan yang ditemukan masyarakat. "Jadi mereka tidak perlu tahu instansi mana yang menanganinya. Cukup dengan pesan singkat atau laporan ke satu nomor saja. Harapan kita, ini bisa diterapkan oleh negara untuk menciptakan sebuah kondisi lingkungan yang lebih baik," ujar Arief. Diterapkan di Indonesia Para mahasiswa ini berharap apabila Butterfly diterapkan di Indonesia, maka nantinya setiap instansi yang terintegrasi dengan sistemnya, minimal memiliki satu "Butterfly Desktop". Pemerintah, sebagai penerima laporan harus memutuskan penanganan terhadap laporan tersebut, "Apakah segera diproses, ditunda, atau diabaikan," jelas Dimas yang pernah meraih medali perunggu Olimpiade Matematika Internasional di Meksiko tahun 2005 lalu. Apapun penanganan yang dilakukan, pihak penerima harus memberikan alasan pilihannya. Jika laporan itu bohong, maka server akan memasukan pada kategori spam. Laporan yang telah diproses akan ditampilkan di internet. Masyarakat juga bisa mengevaluasi kinerja instansi pemerintah lewat sistem Butterfly ini. Pasalnya, setiap laporan dari masyarakat akan mendapatkan jawaban sudah sampai mana laporannya ditindaklanjuti. "Sehingga kinerja aparat pemerintah itu bisa terukur dan transparan," papar Arief lagi. Meski tidak murah untuk mengaplikasikannya, dia mengungkapkan setiap laporan dari masyarakat itu lebih berharga. Pasalnya, jika masyarakat membiarkan terjadinya kerusakan lingkungan, maka biayanya akan lebih besar lagi untuk memperbaikinya (sumber:www.suarapembaruan.com) -- Special offer: Tersedia ruang kantor siap pakai di kota Surabaya. Ukuran 50m2, fasilitas lengkap, 3km dari pusat kota. Hubungi 031-5013570, HP: 0852 3008 3510. mailto:[EMAIL PROTECTED] ------------------------------------ [Warnet2000] is a moderated list. Ads will only avail in signature forms or footnotes. Contact the moderator if you want to put your ad for a small amount donated to BCA account no 064 100 2762 in IDR. Your ads will appear as footnotes.Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
