"007"  wrote:
> btw di indo sebetulnya ada berapa sih yang betul2 news online?
> setahu saya, selain detik.com, dan mandiri.com, ada suratkabar.com... atau >
ada lainnya? >  > sekalian, boleh tahu suka dukanya jadi wartawan cyber?
responden kagak > sering mintanomor bukti? atau, sebelum wawancara harus
selalu kasih vrief > dulu tentang media cyber?
> boleh tahu juga, apa keunggulan komparatif media online dibanding cetak, >
audio dan video? > sori nikh criwis, terus terang saya agak tertarik
mengamati.

Halo 007,
Saya malah baru tahu ada suratkabar.com. Thanks untuk informasinya. Sudah saya
klik. Sebagian besar masih bra luar negeri yang mereka jual, yang tentu saja
tidak akan dicari orang yang mengklik website Indonesia. Lebih cepat lewat
CNBC, CNN atau website asing lainnya. Yang serius dari mereka adalah klaim
bahwa mereka beroperasi 24 jam. Belum tahu apakah betul demikian karena jam
atau keterangan waktu itu kan dicantumkan secara manual, tapi jika benar
begitu maka itu adalah tantangan yang serius. Dulu kita juga berencana 24 jam,
namun karena masih kekurangan SDM, akhirnya kita putuskan hanya 24 jam dalam
keadaan darurat. Misalnya saat hari-hari pertama pemilu lalu. 

Pada akhirnya konsumen juga yang untung bukan dengan persaingan antar news
website semacam ini?

Setahu saya di luar detikcom, kami dan suratkabarcom, belum ada yang lain.
Kompas Online ada breaking news-nya siang hari tetapi mereka masih mengutip
Antara dan pelit dengan beritanya sendiri. Padahal kalau mereka mau, pasti
jadi saingan yang serius dengan SDM yang mereka miliki. Tempo tampak setengah
hati dan sifatnya masih berita harian. Klik saja. Berita terakhir Jumat lalu.
Jakarta Post juga akan seperti kami, updating sepanjang hari, hanya saya lupa
alamat http-nya. Juga pernah ada beberapa news website lain tapi masih
setengah-setengah dalam arti wartawannya datang ke kantor ketik sendiri
beritanya.

Pola seperti itu jelas tidak mungkin. Bisa makan satu jam sendiri dari lokasi
ke kantor. Di kami setiap reporter cukup setor berita melalui telepon. Sisanya
urusan redaktur. Jadi sebenarnya lebih panjang rantai prosedurnya sebelum jadi
berita bila dibandingkan dengan detikcom di mana reporternya setor langsung ke
lay out man, tapi kami memutuskan tetap begitu supaya style bahasa tetap
terjaga. Tidak vulgar atau serampangan. karena kalau netters mau cari yang
gosip atau bahasanya kasar, penuh caci maki, sudah ada banyak website semacam
itu. Apalagi urusannya politik dan ekonomi-politik. Kalau tidak dingin,
bisa-bisa terseret emosi turut mengatai-ngatai. Tujuan jangka panjangnya agar
netters bisa rely pada berita kami, bahwa yang disajikan itu berita, bukan
gosip, rumors. Atau kalau yang kami siarkan rumors, ya akan kami bilang
rumors.

Kami baru nongol pertengahan Februari. sampai sekarang belum launching resmi.
Soft launch-lah (kayak hotel). Ide dasarnya sebenarnya gregetan melihat Antara
sebagai wire atau news agency tidak bisa diandalkan kecepatannya. Padahal
kalau melihat ratusan orang SDM mereka plus komputer utama yang lebarnya dari
dinding sampai dinding, mereka bisa berbuat jauh lebih banyak. (Saya sejak
1992 sampai 1996 saya adalah wartawan Antara.) Sementara detikcom saat itu
kami lihat gaya bahasanya terlalu kasar dan bias. Konsumen bisa ragu-ragu,
mana yang berita dan mana yang opini. Jadi peluang itu yang kami sambar. Sejak
kasus BAP Soeharto sekitar 2 bulan lalu hit rate kami meningkat pesat dan
menyebabkan server penuh. Waktu pemilu juga begitu.

Kelebihan website adalah kecepatannya. Sebelum ini kami adalah koran sore.
Terbit pukul 16, pukul 12 sudah harus selesai semua berita. Satu jam cek
spelling. Jam 13 lebih dibawa ke percetakan, dua jam kemudian nongol di jalan.
bayangkan betapa borosnya waktu itu. Apa yang mesti dilakukan kalau misalnya
pada pukul 13:30 ada berita besar?? Koran pagi tidak begitu menderita krn
jarang ada berita besar antara 00:00 sampai 04:00 saat mereka beredar di
jalanan.

Karena itu begitu dengan berat hati kami tutup harian pada awal Februari,
dalam waktu 2 pekan kami bikin server, bikin desain web (kalau anda perhatikan
sebelumnya kami berwarna keunguan, sekarang coklat muda) dan langsung terbit
begitu sistem jalan.

Dibandingkan televisi pun (saya di Liputan 6, 1996 sampai 1998) website
sedikit lebih cepat. Sebab di TV kalau tiba-tiba ada berita penting, masih
harus minta slot waktu ke master control utama untuk breaking news. Dalam
kasus pesawat Garuda jatuh di Medan 1998, itu makan 2 jam sendiri. Paling
cepat pakai CG crawl, itu tulisan yang rolling dari kanan ke kiri, makan waktu
kira-kira 15-20 menit krn itu harus dilakukan di master control utama.

Website masih kalah dengan radio. Tinggal telepon, penyiar tinggal sisihkan
waktu lalu reporter bisa laporan live. Waktu insiden Senen pas kampanye
Golkar, kebetulan wartawan berada di lokasi, jadi laporan diupdate setiap 20
menit pada jam-jam kritis pertama.

Budaya cyber masyarakat kita memang masih payah. Anda betul, kami
kadang-kadang harus kasih kuliah dulu apa itu news website. Juga ada mahasiswa
yang minta hard copy dari kami untuk bukti wawancara. Bayangkan, mahasiswa
saja budaya paperless masih begitu, gimana yang tua?? Saya suruh cari warnet
lalu klik.

Salam, Gunadi

***********
Take a look on my news website http://www.mandiri.com
compare it to our competitor http://www.detik.com 
and send your comments to [EMAIL PROTECTED]

____________________________________________________________________
Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1

      Layanan Pertukaran Banner - http://www.indobanner.co.id

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
Netika BerInternet     : [EMAIL PROTECTED]
UNLIMITED POP3 Account @ http://www.indoglobal.com

Kirim email ke