Iya Mas Dono, beberapa teman yang saya tawari pekerjaan fulltime lebih memilih freelance. Beberapa alasan antara lain, mungkin, karena mereka masih ada yang kuliah. Tetapi berdasarkan pengalaman saya berkunjung ke sejumlah perusahaan IT/teknologi komputer dunia (antara lain ke Microsoft), stafnya mempunyai kebebasan mengikuti gaya kerja masing-masing. Teman-teman di Microsoft di Seattle (langsung dari seorang manager) mengatakan kultur di perusahaan IT seperti Microsoft itu memang sangat menghargai kebiasaan kerja karyawannya. Kalau satu proyek sudah selesai sebelum deadline, si karyawan bisa ambil liburan sesukanya, sebelum diberikan proyek baru. Seperti itu juga yang terjadi di perusahaan tempat saya bekerja sekarang ini. Beberapa orang IT mempunyai gaya kerja masing-masing. Ada yang datangnya pagi-pagi, ada yang datangnya siang tapi pulangnya larut malam. Tetapi semua proyek sesuai deadlinenya. Kalau sedang musim panas, karyawan Microsoft pada pakai celana pendek. Saya lihat sendiri di ruang kerja salah satu staf Microsoft ada yang membawa keyboard. Mungkin saat suntuk dia main keyboard itu. Kata manager PR-nya, setiap karyawan boleh membawa apa saja ke tempat kerjanya kecuali binatang (binatang kecuali ikan mas, itu boleh). Bawa kasur, televisi, apa pun. Di tempat saya banyak yang cuma pakai T-shirt ke kantor. Yang pasti tidak ada yang pakai dasi. Kalau ada yang pakai dasi mau dipotong dasinya. Saya pernah nulis mengenai kultur kerja di Microsoft di Kompas, tapi lupa tanggalnya. Kayaknya begitu kultur perusahaan di Silicon Valley. Rasanya budaya kerja seperti itu yang harus dituntut juga oleh pekerja IT Indonesia ini. Budaya perusahaan di Indonesia selama ini kan manager tugasnya seperti mengawasi buruh. Menurut saya sebuah perusahaan IT stafnya bukan buruh, seperti buruh pabrik atau buruh bangunan. Kayaknya menarik kalau di web-nya mas Dono ada tulisan mengenai kultur kerja perusahaan-perusahaan yang punya bisnis di Internet. Lalu seperti apa kultur kerja yang diinginkan para pekerja IT Indonesia. Kalau sebuah perusahaan tidak menjanjikan kultur kerja seperti yang diinginkan janganlah kerja di situ. Salam, Harry Surjadi yang anehnya lagi ada beberapa rekan ditawarkan berkerja di suatu perusahaan malah nolak dan mendingan kerja freelance katanya :) buat intermezzo aja ya, :) mungkin aja karena kalo kerja freelance: (pas di rumah sendiri lho, bukan pas meeting) - bisa ngrokok, sambil kerja :) - bisa kerja mulai jam 00.00 sampe subuh :) - bisa kerja pake sandal dan celana pendek cuman minusnya, pulsa telpon dijamin ngelunjak setau saya sih (CMIIW) freelance tuh 'kerja kapan kamu mau, gimana kamu mau tapi tetep harus kelar pas deadline' ada juga yang kerja freelance karena dia udah kerja di kantor lain yang nggak nyambung dengan internet .. misalnya di biro arsitek ada yang mau nambahin pengalaman, tips, opini dll soal kerja freelance vs. kerja in-house? kebetulan toekangweb juga di edisi nanti lagi mau bikin artikel soal kerja freelance web design di Indonesia :) dan kebetulan saya masih minim pengalaman (teori doang :) dan resources yang didapat kebanyakan dari resources luar .. Doni Yudono, Editor [ http://www.toekangweb.or.id ] Pengamat Web Design -=== FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3 ===- To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED] To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED] Netika BerInternet : [EMAIL PROTECTED]
