At 16:28 10/08/00, Mohamad Riza Ishar wrote:
>IMHO, masalah gaji saya pikir adalah masalah rawan untuk dibuka bagi seluruh
>karyawan. Begini logikanya, semisal anda dan teman anda memiliki jabatan
>yang sama dalam satu perusahaan namun gaji yang diterima berbeda karena satu
>dan lain hal seperti kemampuan logika anda lebih baik, kemampuan manajerial
>anda lebih baik, tingkat knowledge anda lebih baik yang mengakibatkan gaji
>anda lebih tinggi dari rekan anda.
>
>Dan kemudian rekan anda tahu akan hal itu namun rekan anda memiliki 'narrow
>minded' jadi yang ada hanya ada rasa cemburu dan memusuhi anda dan
>perusahaan sehingga pekerjaannya semakin tidak beres dan terbengkalai. Dan
>akhirnya perusahaan harus memilih menurunkan gaji anda atau memberhentikan
>rekan anda.... Bagi perusahaan hal ini adalah bagai 'buah simalakama'.
< Maaf kalau jadinya OOT>
Sebenarnya saya sudah menyadari waktu menulis posting masalah gaji tsb.
Tapi saya teringat dengan teman saya dari Kanada, yang bekerja di kursus
Inggris di Indonesia. Dia dengan santainya menyebutkan jumlah gajinya di
Indo ke saya. Kemudian saya berpikir, apakah sudah begitu terbukanya orang
- orang barat, dengan santai nyebut gaji yang di dapat ? Atau memang sudah
begitu luwesnya cara berpikir mereka ?
Nah, kemudian saya pikir - pikir lagi. Ternyata ada baiknya juga, yaitu
meningkatkan daya kompetisi yang sehat antar karyawan. Yang pada akhirnya
perusahaan tersebut menjadi lebih diuntungkan. Walaupun kita tidak bisa
mengabaikan unsur budaya dan efek negatifnya.
Seharusnya dan sudah saatnya kita orang Indonesia berpikir secara lebih
dewasa dan maju. Bukan tempat dan jamannya lagi kita cemburu kalau melihat
rekan kita mendapat penghargaan atas prestasinya.
Seharusnya kita dapat berpikir "Wah kalau begitu saya harus dapat lebih
berprestasi lagi." Konsep ini sebenarnya sudah diterapkan di bagian
Pemasaran (sales) dengan pemberian insentif atas barang/jasa yang telah
terjual.
Sekali lagi, sudah tidak jamannya kita jadi cemburu, buat gosip yang nggak
- nggak, memusuhi, dsb.
Dan yang lebih penting, kalau kita tidak berusaha berpikiran maju dan
modern saat ini juga, kapan lagi ?
Dan kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi ?
Indonesia bisa maju kalau kita mampu, dan *mau* berpikiran maju.
Satu nusa, satu bangsa ... satu Indonesia
-- detta --
--
Pusing milih POP3 atau web mail? http://mail.telkom.net solusinya
Berhenti langganan kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected]/