----- Original Message -----
From: Dikdik A.S.H. <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, June 04, 2004 10:04 AM
Subject: RE: [diphysics] FW: mengenal lebih jauh amien rais - menarik untuk
di baca


> HIDUP DIPHYSICS6...!!!
>
> -----Original Message-----
> From: Rizqi Radjab [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: 04 Juni 2004 9:46
> Subject: [diphysics] FW: mengenal lebih jauh amien rais - menarik untuk di
> baca
>
> Ladies and Gentlemen,
>
> Saya yakin AR adalah sosok presiden yang seluruh rakyat Indonesia
> butuhkan saat ini.
> AR adalah satu-satunya orang yang bisa terus menjaga amanah rakyat
> hingga saat ini, he is really "walks the talks".
> Problem bangsa ini sebenarnya mudah... Hingga saat ini belum ada lagi
> Pemimpin Bangsa sejak jaman Soekarno yang sanggup memberikan motivasi
> kepada anak bangsa untuk bangkit dan maju dengan penuh rasa percaya
> diri... Melihat latar belakang pendidikan dan kemampuan memformulasikan
> visi dan misi yang membumi Saya tidak punya sama sekali 'doubt' bahwa AR
> adalah orang yang tepat duduk di kursi RI-1.
> Hanya saja, banyak orang mulai melupakan dia karena sekarang orang
> sedang terpukau menonton elite politik yang sibuk dan rakus menikmati
> "buah reformasi yang busuk"... Termasuk opportunis2 dari para
> purnawirawan...
>
> Saya yakin AR bukan hanya akan menjadi milik Muslim Indonesia (seperti
> yang telah kita saksikan bersama saat penumbangan rezim ORBA). Dia
> adalah orang yang sebenar-benarnya moderat... Jadi tidak perlu sangsi...
> Sepenuhnya dia akan menjadi Presiden yang dapat memberikan kemajuan dan
> pengayoman tidak hanya kepada Mayoritas tetapi juga kepada Minoritas...
> Dia akan menjalankan Reformasi yang sebenarnya asalkan seluruh anak
> negeri ini bersedia berdiri di belakangnya.
>
> Mudah-mudahan... Artikel di bawah ini dapat memberikan kesempatan kepada
> kita untuk mengenal lebih jauh sosok AR dan pemikiran-pemikirannya...
> Tapi, apabila masih belum 'ngudeng' juga lebih baik ikuti saja Petunjuk
> Praktis tempo hari itu...
> Enjoy...
>
> Regards,
>
> Rizqi S. Radjab - IT
>
>
>
> > Sabtu, Mei 15, 2004 3:54:52 WIB
> >
> > Semakin Tua, Saya Semakin Arif *
> >
> > Inilah wawancara eklusif 8 halaman dengan salah satu
> > kandidat Presiden RI Mohammad Amien Rais [60]. Baca komentarnya
> > tentang Indonesia, korupsi hingga syari'at Islam bila jadi presiden.
> > Inilah salah satu kandidat kuat Presiden RI Pemilu mendatang. Beberapa
>
> > polling yang diadakan lembaga swasta menunjukkan hal itu. Nama
> > Mohammad Amien Rais [60] selalu masuk tiga besar,
> > sebagai tokoh yang layak jadi presiden.
> >
> > Itu wajar saja, bila melihat ketokohan guru besar ilmu politik di
> > Universitas Gajah Mada [UGM] itu. Ia pernah memimpin Muhammadiyah,
> > ormas Islam yang mengklaim punya puluhan juta anggota. Perannya juga
> > signifikan terhadap tumbangnya Soeharto yang telah berkuasa
> > sekitar 30 tahun. Sampai-sampai media massa
> > menjulukinya Bapak Reformasi.
> >
> > Amien kini memimpin lembaga tertinggi negara, Majelis Permusyawaratan
> > Rakyat [MPR]. Oleh partainya, PAN [Partai Amanat Nasional] Amien
> > memang dijagokan menjadi RI-1. Akan loloskah ia?
> >
> > Tentu saja Pemilu Juli mendatang yang bakal
> > menentukan. Tetapi sebelumnya, mari kita telisik lebih
> > jauh visi dan missinya, terutama menyangkut ummat
> > Islam. Bagaimana sikapnya terhadap tuntutan penerapan
> > syariat Islam? Apa katanya tentang jabatan dan
> > bagaimana pula ia memandang dirinya sebagai hamba
> > Allah?
> >
> > Suatu pagi, di sela-sela rutinitas yang luar biasa
> > sibuknya, di rumahnya Condong Catur, Sleman
> > [Yogyakarta] Amien menerima Bambang Subagyo, Masjidi,
> > dan Muhammad Bachroni dari Majalah Hidayatullah untuk wawancara.
> > Berikut ini petikannya:
> >
> > Sekarang di beberapa kalangan masyarakat mulai
> > memberikan penilaian bahwa era Soeharto lebih baik
> > dari sekarang. Apa komentar Anda?
> >
> > Memang ketika Anda pergi ke pedesaan, adakalanya
> > penduduk desa cenderung mengatakan bahwa masa di bawah
> > Pak Harto tampak lebih baik. Bagi mereka, pengeluaran pemerintah yang
> > besar berarti stimulasi ekonomi yang baik di tingkat pedesaan. Mereka
> > merasa puas dengan penghasilan yang cukup. Namun, mereka tidak tahu
> > kuantitas kekayaan nasional yang dimonopoli oleh
> > beberapa orang di posisi tinggi. Anda tahu apa yang
> > Anda milki, namun Anda tidak pernah dapat tahu apa
> > yang tidak Anda dapatkan. Beberapa orang mengerti akan
> > hal itu. Tidak ada transparasi, dan rakyat tidak tahu
> > berapa banyak uang yang lari kepada para pejabat yang
> > korup. Sebagaimana Pak Harto mengalihkan banyak sumber
> > untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi, sebanyak itu
> > pula ia dan kroni-kroninya masukkan ke dalam kantong
> > pribadi mereka.
> >
> > Menurut Anda, dapatkah Indonesia pulih kembali?
> >
> > Ya. Saya yakin kita dapat pulih, namun apa yang
> > terpenting adalah dampaknya terhadap rakyat. Jika
> > ekonomi tumbuh terlalu cepat tanpa sejumlah kebijakan
> > yang melindungi rakyat miskin, maka penguasa akan
> > dikucilkan oleh sebagian penduduk. Jika pemerintah mengerahkan banyak
> > fokus terhadap generasi saat ini, maka kita akan gagal untuk
> > berinvestasi bagi generasi selanjutnya.
> >
> > Dalam semua kasus, kita harus bergerak dengan
> > hati-hati dan moderat, karena bangsa kita memiliki
> > keragaman yang luas. Kita tidak dapat mengorbankan
> > salah satu bagian dari rakyat untuk menstimulasi
> > pertumbuhan suatu minoritas. Apapun rencana yang
> > dibuat tim ekonomi dalam pemerintahan berikutnya, hal
> > yang terpenting adalah bahwa presiden yang memimpin
> > tim itu harus memperoleh mandat dari rakyat.
> >
> > Sebagai calon presiden, apa yang Anda janjikan kepada
> > ummat Islam?
> >
> > Jabatan presiden adalah suatu amanah. Tentu sebagai
> > orang Islam, amanah itu adalah menjadi khalifah fil
> > ardh. Jadi pengelola, pejuang dan penegak keadilan dan kebenaran buat
> > ummat manusia. Oleh karena itu, dalam kondisi apapun, termasuk sebagai
>
> > presiden, semata-mata sebagai alat untuk menunaikan amanah Allah dan
> > Rasul-Nya.
> >
> > Nah, dalam konteks modern, saya mengatakan, kalau jadi presiden, tidak
>
> > usah jauh-jauh mencari referensi ke Timur atau ke Barat, ke utara atau
>
> > ke selatan. Tapi lihatlah falsafah, dasar, ideologi dan bahkan
> > pandangan hidup bangsa Indonesia. Semua itu tertuang
> > dalam Pancasila. Sebagai seorang Muslim, saya melihat
> > Islam adalah ajaran yang bersifat serba sila.
> > Mutiara-mutiara ajaran Islam itu sangat indah,
> > universal, dan sama atau sebangun dengan nilai
> > kemanusiaan itu sendiri, sehingga yang mencuat di
> > kepala saya, kalau saya jadi presiden, ada dua sila
> > yang masih paling sial di negeri ini. Di situ akan
> > saya konsentrasikan untuk menegakkan dua sila yang
> > selama ini sudah tercecer di tengah kehidupan bangsa.
> >
> > Yang pertama adalah sila kemanusiaan yang adil dan
> > beradab. Bagaimana mungkin kita punya sila kemanusiaan
> > yang adil dan beradab kalau di antara anak bangsa kadang-kadang saling
>
> > bunuh-membunuh? Ada tradisi potong kepala sampai ratusan, orang
> > mencuri sepeda motor dibakar hidup-hidup dan digebuki sampai mati.
> > Kedua adalah sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat
> > Indonesia.
> >
> > Keadilan macam apa yang akan Anda terapkan di negeri
> > semacam Indonesia?
> >
> > Cobalah lihat dalam Al-Quran. Benang emas ajaran
> > Al-Quran itu adalah menegakkan al-aadalah, adl, yaitu keadilan. Dalam
>
> > Islam, saya yakin keadilan yang ditegakkan itu adalah keadilan yang
> > bersifat
> > multidemensional: keadilan hukum, keadilan politik,
> > keadilan sosial, keadilan ekonomi, keadilan
> > pendidikan, keadilan dalam hal persamaan kesempatan
> > kerja, dan lain sebagainya.
> >
> > Nah, seringkali orang menganggap bahwa yang namanya
> > keadilan itu hanya pada keadilan hukum. Padahal
> > keadilan hukum tidak mungkin terjadi kalau tidak ada keadilan-keadilan
>
> > yang lain. Karenanya, saya misalnya jadi presiden, tahun-tahun pertama
>
> > saya akan merekonstruksi pelaksanaan dua sila yang betul-betul
> > masih berat buat bangsa ini. Dari situ akan nampak
> > bahwa kursi kepresidenan memang merupakan sebuah
> > amanah dan pengabdian, dan bukan untuk mengejar
> > kekuasaan.
> >
> > Anda kelihatan begitu yakin
> >
> > Dalam keluarga saya, ada prinsip, pokoknya kalau sudah
> > yakin yang kita kejar itu benar, maka apapun kata
> > manusia tidaklah relevan lagi. Dalam falsafah Jawa,
> > seperti diajarkan ibu saya, kalau kita itu sudah
> > berhikmat pada kebenaran sesuai dengan petunjuk agama,
> > maka kalau kita dijiwit jadi kulit, dicetot jadi otot,
> > setan ora doyan, demit ora ndulit. Artinya, kita harus betul-betul
> > kukuh.
> >
> > Sebagian orang mengatakan Anda merupakan tokoh ekstrim
> > yang berbahaya bila jadi Presiden?
> >
> > Tentu ada orang yang senang dan ada orang yang kurang
> > senang. Bahkan ada pula yang benci. Tapi buat saya,
> > ini sebuah sunnatullah yang harus kita terima dengan
> > tulus, ikhlas, dan bahagia. Apalagi Amien Rais itu
> > hanyalah seorang manusia yang punya banyak kekhilafan, kekurangan, dan
>
> > kelemahan. Wong Nabi Salallahu alaihi wa sallam yang sempurna saja
> > musuhnya juga banyak. Bahkan Nabi dikatan gila.
> >
> > Menurut saya, semua itu harus saya terima dengan
> > senang hati dan gembira. Jangan lantas dituding
> > ekstrim atau fundamentalis, lalu jadi berkecil hati.
> > Menurut saya, kucing boleh mengeong kafilah tetap
> > berlalu.
> >
> > Tapi kini Anda sepertinya sudah berubah. Misalnya
> > terhadap kebijakan AS dan Yahudi, Anda tidak sekeras
> > dulu lagi?
> >
> > Semakin tua dan semakin tambah umur, insya Allah, saya
> > makin arif. Saya ingat hadits Nabi, man amara
> > bimarufin fal yakun amruhu maruufan wa man naha an
> > munkarin fal yakun nahyuhu maruufan. Jadi, barang
> > siapa yang ber-amar maruf , hendaknya amar maruf-nya
> > itu dilakukan dengan cara yang baik agar bisa diterima
> > orang. Demikian juga kalau kita mencegah kemunkaran,
> > maka caranya pun juga dengan cara yang baik.
> >
> > Saya merasa, cara saya saat masih muda dengan menggebrak-gebrak itu
> > malah hanyamerugikan diri sendiri. Apalagi setelah menjadi Ketua MPR,
> > dimana saya harus mengakomodasi dan mencari titik tengah dari
> > berbagai perbedaan pendapat, saya yakin bahwa negeri
> > ini tidak akan bisa terpecahkan masalahnya kalau orang
> > mengambil posisi yang ofensif, apalagi provokatif.
> >
> > Jadi sekarang ini gambaran diri Anda itu seperti apa?
> >
> > Sebaiknya, kita berada di tengah dan mengayomi banyak komponen dan
> > elemen bangsa, karena kodrat bangsa kita ini memang majemuk. Kalau
> > kita sebagai seorang Muslim lantas mencoba melupakan bahwa di samping
> > kita ternyata ada berjuta-juta orang non-Muslim, pandangan
> > kita lantas menjadi ciut. Tapi saya yakin, bahwa di
> > kalangan ummat Islam pun saya tentu juga ditangkap
> > dengan berbagai persepsi. Ada yang sependapat dan ada
> > pula yang tidak sependapat.
> >
> > Ada yang mengatakan, Wah, Amien Rais terlalu lembek.
> > Ada juga yang mengatakan, Amien terlalu keras. Itu
> > hal biasa. Saat masih menjadi Ketua PP Muhammadiyah
> > pun saya telah mengalaminya. Ada beberapa cabang
> > memuji tapi ada pula yang merasa khawatir.
> >
> > Tetapi saya harus punya pendapat. Kalau saya dengarkan pendapat saya
> > terlalu keras lalu saya jadi lembek. Atau sebaliknya, kalau ada yang
> > mengatakan lembek, saya lalu menjadi keras. Maka saya akan menjadi
> > tokoh yang kurang istiqomah. Jadi sekali lagi buat saya,
> > yang penting adalah tanggung jawab kita kepada Allah,
> > kepada masyarakat, dan juga harus jujur pada diri
> > sendiri. Itu yang lebih penting dari berbagai pujian
> > masyarakat maupun cemooh mereka.
> >
> > Mohammad Amien Rais menyelesaikan seluruh
> > pendidikannya di sekolah Muhammadiyah di kota
> > kelahirannya, Solo, Jawa Tengah. Amien juga sempat
> > nyantri di Pesantren Mambaul Ulum dan Pesantren
> > Al-Islam. Setamat SMA, ibunya menginginkan Amien
> > melanjutkan studinya ke Universitas Al-Azhar, Mesir. Sementara sang
> > ayah lebih memilih Universitas Gadjah Mada [UGM]. Amien tampaknya
> > lebih cocok dengan pilihan sang ayah. Jadilah Amien memilih Fakultas
> > Ilmu Sosial dan Ilmu Politik [Fisipol] UGM, Jurusan Hubungan
> > Internasional.
> >
> > Lulus tahun 1968 dengan nilai A, ia kemudian
> > melanjutkan studi ke Universitas Katolik Notre Dame,
> > Indiana [Amerika Serikat]. Selesai tahun 1974. Lalu
> > setahun menjalani penelitian di Universitas Al-Azhar
> > di Kairo, sebagai mahasiswa tamu di Departemen Bahasa Universitas Al
> > Azhar, Kairo, Mesir.
> >
> > Setahun berikutnya ia kembali lagi ke AS mengambil
> > program doktor di University of Chicago dengan
> > mengambil bidang studi Timur Tengah. Minatnya yang
> > sangat besar dalam masalah Islam dan Timur Tengah
> > membuatnya tertarik membuat disertasi berjudul: The
> > Moslem Brotherhood in Egypt: Its Rise, Demise and
> > Resurgence [Ikhwanul Muslimin di Mesir: Kelahiran, Keruntuhan, dan
> > Kebangkitannya Kembali].
> >
> > Sejak tahun 1990-an, gairah Islam terus tumbuh.
> > Termasuk gairah politik yang salah satunya
> > terinspirasi gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Apa
> > pendapat Anda tentang fenomena ini?
> >
> > Al-Ikhwanul al-Muslimun itu, semasa Hasan al-Banna
> > memang berada di puncak kejayaannya. Dan pandangan
> > keislaman Hasan al-Banna sangat komprehensif, sangat universal. Tetapi
>
> > kemudian ketika beliau wafat, diganti oleh para penggantinya, sampai
> > pada Syekh Umar Tilmizani, memang ada semacam degradasi atau
> > kemerosotan. Jadi lebih banyak slogan-slogan yang
> > bombastis yang dikemukakan, sementara
> > pemecahan-pemecahan administratif itu ditinggalkan.
> >
> > Anda bisa bicara begitu, apakah mengenal mereka secara langsung atau
> > uma lewat pustaka?
> >
> > Waktu saya di Mesir, saya kadang-kadang ikut halaqah
> > mereka. Memang banyak insinyurnya, banyak doktornya,
> > banyak intelektualnya. Kalau nida-nya yang Allahu
> > ghayatuna, arrasuulu zaimuna, al-Quranu dusturuna,
> > aljihadu sabiluna, al muutu fi sabilillah asmaa
> > maniyyina, itu saya sangat setuju sekali. Itu kan
> > sangat Qurani. Tapi kadang-kadang mereka itu
> > sepertinya lupa bahwa untuk membangun masyarakat,
> > butuh sebuah teknokrasi, sebuah manajemen, sebuah
> > kepiawaian organisasi, dan bukan dengan hal-hal yang
> > sifatnya sebagai nidaaah, jadi panggilan.
> >
> > Maksudnya?
> >
> > Implementasi di dunia nyata itu memang memerlukan
> > waktu yang sangat panjang, organisasi, manajemen, dan
> > halhal yang bersifat teknokratik. Kita hidup di abad
> > ke-21 sekarang, yang sudah bukan lagi masyarakat yang
> > vakum. Tapi di kanan kiri kita, di depan dan belakang
> > kita itu ada manusia dari berbagai macam. Kalau kita mengabsolutkan
> > punya pendirian kita sebagai hal yang benar, maka kita akan memonopoli
>
> > kebenaran, dan yang lain monopoli kesalahan. Kita tidak akan pernah
> > bisa berangkat jauh. Jadi inilah satu-satunya kritik saya.
> >
> > Tetapi, kalau mau melihat kehebatan Ikhwan itu, memang
> > yang saya kagumi adalah tokoh-tokohnya betul-betul
> > istiqamah. Jadi, mereka itu adalah seperti kata Nabi, Arruhbaan fil
> > lail wal fursan fin nahaar. Jadi, bagaikan pendeta di waktu malam,
> > yang shalat malamnya hebat sekali, tapi adalah juga penunggang kuda,
> > pejuang keduniaan di waktu siang. Ukhuwahnya juga
> > sangat bagus, kejujurannya tidak pernah saya ragukan.
> > Saya pernah waktu di Mesir janji ketemu. Telat lima
> > menit saja mereka kecewa sekali, karena menganggap
> > saya sebagai Mukmin tidak bisa tepat waktu.
> >
> > Hanya, kritik saya, memang idealisme yang sangat bagus
> > itu harus diturunkan ke alam nyata. Supaya para
> > kadernya itu menjadi kader yang riil, jadi problem
> > solver, kemudian bisa memecahkan masalah sosial,
> > ekonomi, pendidikan, pertanian, dan lain sebagainya.
> >
> > Sebagian daerah di Indonesia kini menuntut penerapan
> > syariat Islam, bagaimana kalau Anda jadi Presiden?
> >
> > Bagi saya, syariat Islam itu sesuatu yang harus
> > dilaksanakan. Cuma, saya melihat yang penting itu
> > bukan formalisme atau bungkusnya, tapi syariat Islam
> > itu universal. Bagaimana mungkin manusia bisa menolak
> > syariat Islam yang mengajarkan egalitarianisme, dan mengajarkan
> > persaudaraan di antara sesama ummat manusia lepas dari suku, agama,
> > ras, dan lain-lain?
> >
> > Buat saya, syariat Islam itu kalau dikupas sampai pada saripati atau
> > galih-nya, akan ketemu penegakan keadilan yang komprehensif. Karena
> > itu, mengapa saya ke Pancasila? Karena menurut saya, kalau kita bisa
> > menghadirkan pesan-pesan Pancasila dengan sorot
> > pandangan Islam yang universal, kita sudah melakukan
> > sebuah rekonstruksi sosial dalam arti luas di negeri
> > ini. Tetapi kalau kita mulai lupa dengan esensi
> > syariat Islam, dan kita bicara negara harus diubah
> > dasarnya, lantas syariat harus diimplementasikan
> > kepada setiap orang Muslim dengan daya paksa, misalnya
> > laki-laki harus berjenggot dan perempuan harus
> > bercadar seperti Afganistan pada zaman Thaliban,
> > apakah itu tidak malah menjadi iklan merugikan bagi
> > Islam sendiri?
> >
> > Bagaimana kalau tuntutan syariat Islam itu menjadi
> > kehendak mayoritas, seperti di Aceh misalnya?
> >
> > Dalam zaman reformasi dan demokrasi hal seperti itu
> > tidak bisa ditolak. Kalau seluruh DPRD, seluruh
> > masyarakat, ulama dan zuama nya, tokoh mahasiswa,
> > pelajar, LSM, jamiyah [jamaah]-nya semua sudah
> > setuju pelaksanaan syariat Islam itu, harus diberikan.
> > Tapi, lagi-lagi saya tidak ingin mendahului. Kalau
> > sudah sampai ke pelaksanaan, tidak segampang seperti
> > yang diinginkan.
> >
> > Tidak usah saya menyebut nama kabupaten atau provinsi.
> > Ada satu dua kabupaten yang betul-betul oleh gubernur
> > atau bupatinya dipersilakan melaksanakan syariat Islam
> > di bidang sosial, ekonomi, hukum, pendidikan,
> > pelaksanaan pajak dan lain-lain secara formal. Setelah
> > sekian tahun ternyata belum bisa juga. Artinya apa?
> > Memang tidak mudah.
> >
> > Taruhlah Pakistan yang negara Islam. Abu Ala al
> > Maududi dan ulama-ulama Jam iat Islamiy itu sudah
> > kerja keras untuk membuat blue print [cetak biru]
> > syariat Islam di Pakistan. Tapi sampai sekarang pun
> > itu masih sangat sektoral. Nah, artinya memang kita
> > oleh Al-Quran diberi moral foundation, moral
> > principles [paradigma etik] untuk membangun dunia ini.
> > Karena itu, di negeri Muslim itu ada yang berbentuk
> > republik, kesultanan, kerajaan, dan emirat. Tapi semua mengacu kepada
> > Islam. Buat saya itu yang bagus. Karena kalau Islam harus seperti di
> > Pakistan, saya kira itu malah jadi kontraproduktif.
> >
> > Saya melihat, inilah tantangan kita. Sebagai
> > intelektual yang paham masalah, jangan kemudian kita
> > malah ikut-ikutan melakukan over simplifikasi [penyederhanaan].
> >
> > Maksudnya?
> >
> > Dengan segala hormat, saya ingin mengoreksi dan
> > memberikan pendapat. Banyak di antara anggota-anggota
> > ummat yang terjebak di dalam cara berpikir yang over simplistik.
> > Mereka mengatakan, Mengapa Indonesia banyak KKN, mengapa Indonesia
> > masih melarat, mengapa Indonesia masih resah gelisah, tidak pernah
> > aman. Karena belum dilakukan syariat Islam. Mereka yang
> > mengatakan, begitu ada deklarasi negara syariat,
> > langsung tiga bulan semua jadi aman, makmur, adil, dan
> > sejahtera. Menurut saya, ini nonsense besar.
> >
> > Itu bisa kontraproduktif. Karena dalam paradigma
> > sunnatullah, orang yang berhasil itu setelah ada kerja
> > keras, berjuang, dan berpikir dalam waktu yang
> > panjang. Setelah itu baru melihat hasilnya. Tidak bisa kemudian
> > mengatakan, Ya, sudahlah, pokoknya ganti saja Pancasila dengan Islam,
>
> > nanti akan selesai. Siapa bilang? Lihatlah Pakistan yang merupakan
> > negara Islam. Lihatlah saat Taliban menguasai Afghanistan.
> > Lihat juga Iran. Walaupun menurut saya dalam banyak
> > hal Iran bagus, tapi tidak pernah sepi dari
> > gonjang-ganjing.
> >
> > Bandingkanlah dengan negeri-negeri yang sesungguhnya
> > malah tidak pernah kenal Islam, tapi mengapa lebih
> > sejahtera, lebih adil, dengan korupsinya juga hampir
> > nol. Mereka tidak pernah baca Al-Quran dan Sunnah.
> > Jadi, what is wrong? Di mana salahnya? Menurut saya,
> > salahnya jelas kita itu mengambang pada masalah
> > formalisme. Kita tidak pernah menukik pada
> > dasar-dasar, fondasi, etika, dan moral syariat Islam
> > itu sendiri.
> >
> > Jadi menurut Anda seharusnya bagaimana?
> >
> > Di sini saya ingin mengimbau, yang paling penting
> > dalam pergaulan sesama ummat, lihatlah Al-Quran surat al-Hujurat, Hai
>
> > orang-orang yang beriman, janganlah laki-laki di antaramu merendahkan
> > kelompok yang lain. Jangan-jangan yang direndahkan itu lebih bagus di
> > mata Allah. Dan janganlah sekelompok perempuan di antara
> > kamu melecehkan kelompok perempuan yang lain. Siapa
> > tahu yang dilecehkan itu lebih bagus di mata Allah.
> >
> > Nah, kita harus betul-betul menganggap bahwa saudara
> > kita adalah bagian dari darah daging kita. Karena
> > kalau misalnya kita lantas menghalalkan darah saudara
> > kita hanya karena berbeda pendapat, itu kan yang
> > dikatakan Al-Quran, Apakah kamu tega memakan bangkai saudaramu?
> > Tentu tidak, kata Al Quran.
> >
> > Oleh karena itu, saya mengimbau, biarlah dalam tubuh
> > ummat Islam yang besar ini ada NU, Muhammadiyah, Dewan Dakwah, PII,
> > PPP, PAN, PKB, PKS, PBB, dan segala macam itu. Biarlah tumbuh
> > bersama-sama dan saling isi-mengisi, ta awanu alal birri wat taqwa,
> > wala taawanu alal itsmi wal udwan. Itu sikap kita. Insya
> > Allah di negeri ini, terutama ummat Islam
> > Indonesia-nya akan lebih bagus.
> >
> > Saya pernah shalat subuh pakai qunut di masjid NU di Indramayu. Usai
> > shalat saya dipeluk-peluk, Ya Allah, Pak Amien, selama ini saya
> > diberi tahu teman kalau Pak Amien jadi Presiden, yang qunut
> > dipenjara. Atau juga di Jawa Timur dikatakan, Wah, kalau Pak Amien
> > jadi Presiden, tahlilan dilarang. Ini luar biasa.
> >
> > Menurut saya, sudahlah. Yang seperti ini jangan dibesar-besarkan.
> > Tetapi kita kembali kepada prinsip
> > Islam: saling menghargai sesama saudara, ta awun,
> > kemudian juga meneruskan amar maruf nahi munkar.
> >
> > Mengapa itu jadi prinsip kita?
> >
> > Karena di depan dan belakang kita itu cukup banyak
> > orang yang ber-amar munkar nahi maruf, dan ini adalah petunjuk
> > Al-Quran. Jadi, kalau yang ber-amar munkar nahi maruf itu kokoh
> > persaudaraannya, kuat organisasinya, banyak kekuatan finansialnya,
> > sementara kita yang sesungguhnya benar, tapi lantas karena
> > kurang wawasan dan kurang ukhuwah, apa yang dikatakan
> > Ali bin Abi Tahlib itu mungkin betul, Al-haqqu bilaa
> > nidzaamin yaghlibuhul baathilu bin nidzaamin.
> >
> > Kekuatan Islam kini terpecah ke dalam berbagai partai,
> > apa yang mesti dilakukan?
> >
> > Di Jakarta sudah sering terjadi pertemuan antar tokoh
> > ummat Islam. Ada Muhammadiyah yang diwakili langsung
> > Pak Ahmad Syafii Maarif. Dari PBNU diwakili Pak
> > Shalahuddin Wahid, dan dari kalangan PII ada Pak Ryaas
> > Rasyid dan ada pula Pak ZA Maulani, mantan TNI. Dari
> > PAN saya sendiri, dan dari PKS diwakili Mas Hidayat
> > Nurwahid. Dari PPP diwakili Sekjennya, Pak Yunus
> > Yosfiah. Dari Dewan Dakwah [DDII] ada Pak Hussein
> > Umar. Dari PKB Pak Alwi Shihab dan Mahfudh MD.
> >
> > Kita sebetulnya sudah ketemu hampir enam kali. Kita
> > bukan mau buat poros tengah, tapi kita ingin memadukan pandangan bahwa
>
> > dalam zaman reformasi eperti ini, setelah gerbang demokrasi dibuka,
> > jangan sampai ummat Islam terpuruk kembali.
> >
> > Caranya bagaimana?
> >
> > Caranya ummat Islam harus bisa memainkan orkes Islam
> > yang merdu. Jadi yang memang pantas memegang biola
> > silakan memegang biola, yang piawai memegang gitar
> > melodi ya peganglah gitar melodi, yang ahli drum
> > peganglah drum, tapi yang bisa pegang ketipung ya
> > peganglah ketipung itu. Sehingga kalau para pianis,
> > para gitaris, para drummer, para peniup saxofon pada
> > posisi masing-masing, menurut saya akan terjadi
> > kerjasama ummat Islam Indonesia yang indah.* [Cholis
> > Akbar/Hidayatullah]
> >
> > Santai Tanpa Beban
> >
> > Rumah di Condongatur Yogya itu tidak banyak berubah, dibanding sepuluh
>
> > tahun lalu ketika Hidayatullah pernah berkunjung. Rumah itu juga tak
> > ada bedanya dengan rumah-rumah para tetangganya. Bahkan terkesan
> > kalah mewah.
> >
> > Ada dua bangunan utama. Sebuah rumah pribadi Amien dan keluarganya
> > [seperti perumahan tipe 70]. Satunya lagi bangunan berlantai dua. Yang
>
> > bawah untuk menerima tamu, sedang atasnya ruang perpustakaan pribadi.
> > Persis di depan rumah Amien itu berdiri Taman
> > Kanak-Kanak [TK] Budia Mulia, yang dikelola oleh
> > istrinya, Kusnasriyati Sri Rahayu.
> >
> > Tak jauh dari rumah itu, persisnya ada di mulut gang,
> > ada sebuah warung. Itulah warung Amien yang dibangun
> > sejak masih menjadi dosen di UGM. Warung untuk
> > mahasiswa, murah meriah, ujarnya tersenyum simpul.
> > Kini warung itu dikelolah oleh adiknya.
> >
> > Pagi itu, ayah lima anak ini kelihatan santai sekali,
> > jauh dari kesan seorang pejabat tinggi negara, atau
> > sebagai seorang calon presiden yang sibuk menyusun
> > strategi menghadapi Pemilu. Berpakaian olah raga
> > lengkap dengan sepatunya, Amien menerima tamu-tamu. Ia
> > memang termasuk rajin berolahraga. Sesering mungkin, katanya
> > singkat.
> >
> > Selain joging, kegemaran Amien adalah renang. Ini
> > meniru Habibie, kata orang dekatnya.
> >
> > Sesekali meluncur guyonan segar. Ini yang nonton Pak
> > Ismail [ajudannya], ia bercerita. Joko Bodo
> > [paranormal] bermain jailangkung di televisi. Ia
> > menggambar istana, lalu tanya kepada jailangkung
> > siapa akan menghuninya?
> >
> > Yang muncul tulisan AR, Amien Rais. Jadi, saya ini
> > presiden pilihan jalangkung ha..ha, ujar Amien
> > disambut tawa para tamu.
> >
> > Bagaimana peran keluarga dalam kehidupan Anda?
> >
> > Almarhumah Ibu, saudara-saudara, istri dan anak-anak
> > saya selalu menjadi inti kehidupan politik saya. Ini
> > berbeda dari kronisme karena tidak mengambil
> > keuntungan dan menggunakan wewenang bagi kepentingan
> > kalangan sendiri. Keluarga saya tidak memanfaatkan
> > kedudukan saya di MPR. Mereka sukses karena perjuangan
> > mereka sendiri. Mereka semua mendukung saya atas dasar tanggung jawab
> > moral dan agama untuk mendukung seorang pemimpin yang mampu membawa
> > perubahan bagi rakyat dalam batas-batas moralitas. Mereka memberi
> > pandangan tentang orang-rang yang saya temui dan hal-hal yang
> > saya lakukan. Ini membantu saya mengevaluasi tindakan
> > saya.
> >
> > Secara khusus, bagaimana peran istri Anda?
> >
> > Mungkin saya terlalu menyanjung istri saya, tetapi
> > tidak terbayangkan saya mampu melalui hari-hari yang
> > sulit tanpanya. Ia mengurus semuanya, menjadikan
> > keluarga dan rumah tempat yang nyaman dalam kehidupan
> > saya. Ia mengelola honor saya sebagai pengajar,
> > mengurus warung, taman kanak-kanak, dan keluarga.
> >
> > Sebagai pejabat tinggi negara tentu godaannya banyak. Bagaimana Anda
> > menghadapinya?
> >
> > Saya tidak boleh kibir, naudzubillah mindzalik.
> > Sebagai ketua lembaga tertinggi negara [MPR],
> > godaannya tidak kecil. Yang datang ke saya untuk
> > beberapa urusan pasti pakai iming-iming. Jadi
> > misalnya, Nah, Pak Amien, kalau berhenti mengkritik pengurasan pasir
> > di sekitar Riau dan Batam ke Singapura, Anda akan mendapatkan sesuatu
> > yang cukup besar untuk membantu partai Pak Amien.
> >
> > Juga ketika saya menghantam R&D [Release and
> > Discharge], karena penghutang ratusan milyar, bahkan trilyunan ini mau
>
> > dibebaskan dari hukum, saya ngomong keras sekali. Dua hari kemudian,
> > ada yang datang, Kalau Anda bisa diam, tidak ngomong R&D lagi, nanti
> > kami bisa membantu Pak Amien dengan bantuan yang
> > sangat menggiurkan.
> >
> > Ketika Indosat mau dijual dan lain-lain, saya selalu
> > di depan untuk mengatakan tidak. Ini yang gede-gede
> > yang bisa saya sebutkan. Dan andaikata saya mau
> > melacurkan kedudukan saya dengan uang, mungkin saya
> > sudah jadi milyarder. Mungkin uang saya sudah
> > berjibun. Tapi alhamdulillah, selama lima tahun jadi
> > Ketua MPR, bisa menahan godaan-godaan semacam itu.
> >
> > Anak saya yang kuliah di Fakultas Ekonomi pernah
> > mendampingi saya di Jakarta. Kita ketemu dengan
> > orang-orang muda. Salah seorang dari mereka bilang,
> > Pak Amien ngomong anti korupsi karena belum jadi
> > Presiden. Kalau sudah jadi Presiden apa bisa Anda
> > tidak korupsi?
> >
> > Yang menjawab bukan saya. Anak saya bilang, Mas,
> > Bapak saya Ketua MPR. Wong anggota DPR/MPR saja banyak
> > yang jadi OKB [orang kaya baru] kok, Mas. Yang tadinya
> > tak punya apa-apa, sekarang rumahnya tiga, volvonya
> > dua, mercedeznya enam, dan lain-lain. Kalau Bapak saya
> > mau, itu bisa lebih dari itu.
> >
> > Anda cukup konsisten menjalani kesederhanaan hidup.
> > Bagaimana kiatnya?
> >
> > Konsistensi itu penting. Saya ingin menjalankan
> > kehidupan sebagaimana telah saya cita-citakan. Ketika
> > saya mengajar di pedesaan beberapa dekade lalu saya
> > ingin jadi teladan dengan nilai-nilai moral dan etis
> > yang saya hayati. Sama halnya jika Indonesia ingin
> > terbebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme, maka para pemimpin harus
> > bisa menjadi teladan bagi rakyatnya. Kita tidak mungkin berbicara
> > tentang pemerintahan yang bersih dan bersumber pada keyakinan dan
> > sikap sederhana jika kita masih tetap berfoya-foya dan
> > angkuh.
> >
> > Menurut Anda, bagaimana seharusnya sikap pejabat
> > pemerintah terhadap kekayaannya?
> > Seorang pejabat harus terbuka dan transparan atas
> > kekayaan pribadi yang dimilikinya. Kita tidak boleh memanfaatkan
> > posisi kita untuk memperkaya diri, apalagi mengambil keuntungan yang
> > mengakibatkan kerusakan di sekitar kita.
> >
> > Apa jaminannya hingga Anda benar-benar tidak tergoda
> > kelak ketika jadi Presiden?
> >
> > Yang jelas, manusia tidak pernah akan berhasil dan
> > tidak pernah akan kuat kalau tidak ditolong Allah.
> > Sehingga saya pun sadar, sekalipun sebagai Ketua MPR
> > saya sudah teruji, tetapi sebagai presiden godaan
> > tentu akan lebih besar lagi. Hanya selama saya masih
> > sering puasa sunnah, saya masih baca Al-Quran, dan
> > saya masih bangun untuk shalat lail, insya Allah,
> > ditambah memilih teman yang bukan ABS [Asal Bapak
> > Senang], tapi yang berani mengoreksi sekaligus
> > mengkritik, saya kira akan lebih aman. Tapi semua itu berpulang ke
> > qadar Allah.
> >
> > Sebagai pribadi dan sebagai hamba Allah, Anda merasa
> > punya kekurangan?
> >
> > Banyak sekali. Misalnya, pertama, saya sering bangun
> > tengah malam bukannya wudhu lantas shalat lail, tapi kadang-kadang
> > baca majalah, baca buku, kemudian membuat hal-hal yang sifatnya jauh
> > dari shalat lail. Padahal kita diberitahu Al-Quran bahwa shalat lail
> > itu seperti pengaman seorang Muslim yang luar biasa. Jadi
> > saya merasa, sebagai pemimpin, shalat malam saya itu
> > masih belum setiap hari, masih on dan off.
> >
> > Kelemahan kedua, saya mempunyai keterbatasan
> > pengetahuan. Dalam Al-Quran dikatakan, wa fauqa kulli
> > dzi ilmin aliim, di atas orang yang pintar masih ada
> > orang yang pintar lagi, sehingga saya tidak boleh
> > pernah merasa, wah, saya yang paling baik.
> >
> > Ketiga, kadang-kadang saya merasa ada rasa malas.
> > Kalau sudah lelah, ya sudah. Kadang-kadang kalau harus
> > pergi ke luar daerah, dakwah bersama Muhammadiyah,
> > atau kalau di partai ada temu kader, kadang-kadang
> > saya batalkan karena capek. Saya merasa mementingkan
> > diri sendiri. Saya jadi teringat Ahmad Dahlan. Waktu
> > sakit mau bertabligh, diminta Nyai Ahmad Dahlan supaya
> > tidur, beliau malah marah, Setan mana yang membujuk
> > kamu supaya saya tidak pergi? Itu tingkatan beliau.
> > Saya masih kalah jauh.
> >
> > Keempat, saya mungkin terlalu polos atau terlalu to
> > the point. Banyak orang mengatakan, Pak Amien itu
> > orang Solo, tapi gayanya Medan. Tapi itulah didikan
> > ibu saya. Waktu kecil ibu saya selalu berpesan, jadi
> > manusia itu jangan suka pakai topeng. Jadi kalau tidak
> > suka, bilang tidak suka. Sehingga pada zaman Soeharto
> > mengapa saya dikatakan paling depan, karena saya tidak
> > pernah lelah untuk bicara suksesi dan reformasi.
> >
> > Kelemahan yang lain masih segudang. Di luar Nabi yang mashum, pasti
> > punya kesalahan, baik yang kecil atau yang sedang. Tapi insya Allah,
> > sebagai pemimpin, kita tidak boleh jatuh ke Al-kabaa-iru khamsah [lima
>
> > dosa besar]. Yakni; tidak boleh berzina, membunuh, durhaka
> > sama orangtua, mencuri, kemudian minum khamr.
> >
> > Masih puasa daud?
> >
> > Alhamdulillah, sampai sekarang masih jalan.
> >
> > Jam menunjukkan pukul 9 pagi. Amien minta wawancara
> > diakhiri.
> >
> > * Dikutip dari Majalah Hidayatullah
> >
> > http://m-amienrais.com/news/one_news.asp?IDNews=1662
> > <http://m-amienrais.com/news/one_news.asp?IDNews=1662>
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > __________________________________
> > Do you Yahoo!?
> > SBC Yahoo! - Internet access at a great low price.
> > http://promo.yahoo.com/sbc/ <http://promo.yahoo.com/sbc/>
> >
> >
> >
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > ============================================
> > SARANA SHARING SEGALANYA (APALAGI YG JOMBLO)
> > sponsor : bunda mulya tercinta + masakannya
> > ============================================
> > "HARAP HAPUS BAGIAN YG TAK PERLU KETIKA REPLY"
> >
> >
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > _____________________________________________________
> > Sent with IdOLA Webmail (http://webmail.idola.net.id)
> > <http://webmail.idola.net.id)>
> >
> >
> >
> >
> >
> > Jangan lupa cek dan isi database Alumni SMA 1 Padang '90 ini di
> > http://sma1p.europe.webmatrixhosting.net/
> > <http://sma1p.europe.webmatrixhosting.net/>
> >
> >
> >
> > Yahoo! Groups Sponsor
> >
> > ADVERTISEMENT
> >
> >
> <http://rd.yahoo.com/SIG=129tf94t7/M=295196.4901138.6071305.3001176/D=gr
> oups
> > /S=1705043464:HM/EXP=1086237895/A=2128215/R=0/SIG=10se96mf6/*http://co
> > mpan
> io
> > n.yahoo.com> click here
> >
> > <http://us.adserver.yahoo.com/l?
> M=295196.4901138.6071305.3001176/D=groups/S=
> > :HM/A=2128215/rand=621970920>
> >
> >
> >   _____
> >
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> > * To visit your group on the web, go to:
> > http://groups.yahoo.com/group/labamba/
> > <http://groups.yahoo.com/group/labamba/>
> >
> >
> > * To unsubscribe from this group, send an email to:
> > [EMAIL PROTECTED]
> > <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
> >
> >
> > * Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
> Service
> > <http://docs.yahoo.com/info/terms/> .
> >
> >
> >
> >
>
>
>
> Jangan lupa cek dan isi database Alumni SMA 1 Padang '90 ini di
> http://sma1p.europe.webmatrixhosting.net/
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/LIjxlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Gabung, Keluar, Mode Pengiriman: [EMAIL PROTECTED]
                        
Database Warga Wismamas: http://www.wismamas.tk 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/wismamas/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke