|
Oleh : K.H. Abdullah
Gymnastiar
Alhamdulillaahirabbil'aalamiin, Allahuma shalli 'ala Muhammad
wa'ala aalihi washahbihii ajmai'iin..
Semoga Allah yang Mengenggam langit dan bumi membuka
pintu hati kita semua agar dapat memahami hikmah dibalik kejadian apapun yang
menimpa dan semoga Allah membimbing kita untuk bisa menyikapi kejadian apapun
dengan sikap terbaik kita.
Ciri khas umat dewasa diawali dengan diam
aktif yaitu kemampuan untuk menahan diri dalam berkomentar. Orang yang memiliki
kedewasaan dapat dilihat dari sikap dan kemampuannya dalam mengendalikan
lisannya, seorang anak kecil, saudaraku apa yang dia lihat biasanya selalu
dikomentari.
Orang tua yang kurang dewasa mulutnya sangat sering
berbunyi, semua hal dikomentari. Ketika dia melihat sesuatu langsung
dipastikan akan dikomentari, ketika menonton televisi (misalnya : komentar dia
akan mengalahkan suara dari televisi yang dia tonton). Penonton televisi yang
dewasa itu senantiasa bertafakur, acara yang dia tonton senantiasa direnungkan
(tentunya acara yang bermanfaat) dan memohon dibukakan pintu hikmah kepada
Allah, Subhanalloh.
Ketika menyaksikan demonstrasi dia bertafakur,
"beginilah kalau negara belum matang, setiap waktu demo, kata-kata yang
dikeluarkan jauh dari kearifan, ternyata sangat mudah menghina, mencaci dan
memaki". Seseorang yang pribadinya matang dan dewasa bisa dilihat dari
komentar-komentarnya, makin terkendali Insya Allah akan semakin
matang.
Ciri kedewasaan selanjutnya dapat dilihat dari empati. Anak-anak
biasanya belum dapat meraba perasaan orang lain. Orang yang bertambah umurnya
tetapi tidak dapat meraba perasaan orang lain berarti belum dapat disebut
dewasa. Kedewasan seseorang dapat dilihat dari keberanian melihat dan meraba
perasaan orang lain. Seorang ibu yang dewasa dan bijaksana dapat dilihat dari
sikap terhadap pembantunya yaitu tidak semena-mena menyuruh, walaupun sudah
merasa menggajinya tetapi bukan berarti berkuasa, bukankah di kantor ketika
lembur pasti ingin dibayar overtime, tetapi pembantu lembur tidak ada overtime.
Semakin orang hanya mementingkan perasaannya saja maka akan semakin tidak
bijaksana. Semakin orang bisa meraba penderitaan orang lain Insya Allah akan
semakin bijak. Percayalah tidak akan bijaksana orang yang hidupnya hanya
memikirkan perasaannya sendiri.
Orang yang dewasa, cirinya hati-hati
dalam bertindak. Orang yang dewasa benar-benar berhitung tidak hanya dari benda,
tapi dari waktu ; tiap detik, tiap tutur kata, dia tidak mau jika harus
menanggung karena salah dalam mengambil sikap. Anak-anak atau remaja biasanya
sangat tidak hati-hati dalam bercakap dan mengambil keputusan. Orang yang
bersikap atau memiliki kepribadian dewasa dapat dilihat dalam kehati-hatian
memilih kata, mengambil keputusan, mengambil sikap karena orang yang tidak
dewasa cenderung untuk bersikap ceroboh.
Orang yang dewasa terlihat
dalam kesabarannya (sabar).
Kita ambil contoh : didalam rumah
seorang ibu mempunyai 3 orang anak, yang satu menangis, kemudian yang lainnya
pun ikut menangis sehingga lama-kelamaan menjadi empat orang yang menangis,
mengapa..? karena ternyata ibunya menangis pula. Ciri orang yang dewasa adalah
sabar, dalam situasi sesulit apapun lebih tenang, mantap dan
stabil.
Sahabat-sahabat, seseorang yang dewasa benar-benar mempunyai
sikap yang amanah, memiliki kemampuan untuk bertanggung jawab.
Untuk
melihat kedewasaan seseorang dapat dilihat dari kemampuannya
bertanggungjawab. Sebagai contoh seorang ayah dapat dinilai
bertanggung jawab atau tidak yaitu dalam cara mencari nafkah yang halal dan
mendidik anak istrinya. Bukan masalah kehidupan dunia yang menjadi masalah mampu
tidak mempertanggungjawabkan anak-anak ketika pulang ke akherat nanti. Ke surga
atau neraka..? Oleh karena itu orang tua harus bekerja keras untuk menjadi
jalan kesuksesan anak-anaknya di dunia dan akherat.
Pernah ada seorang
teman menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri, ketika ditanya tentang
sholatnya, ternyata tidak berjalan dengan baik karena orang-orangnya tidak ada
yang sholat sehingga melakukannya pun kadang-kadang, apalagi untuk shalat Jumat
jarang dilaksanakan, dengan alasan masjidnya jauh.
Lalu kenapa
disekolahkan di luar negeri..? Alasannya adalah sebentar lagi globalisasi,
ketika perdagangan bebas anak harus disiapkan. Tetapi bagaimana jika sebelum
perdagangan bebas anaknya meninggal dunia, sudah disiapkan belum pulang ke
akherat. Orang yang dewasa akan berpikir keras bagaimana anak-anaknya bisa
selamat. Jangan sampai di dunia berprestasi tapi di akherat
celaka.
Saudaraku tidak cukup merasa bangga dengan menjadi tua, mempunyai
kedudukan, jabatan karena semua itu sebenarnya hanyalah topeng, bukan tanda
prestasi. Prestasi itu adalah ketika kita semakin matang dan semakin dewasa
.
Kesuksesan kita adalah bagaimana kita bisa memompa diri kita dan
menyukseskan orang-orang disekitar kita. Kalau ingin tahu kesuksesan kita coba
lihat perkembangan keluarga kita, istri dan anak-anak kita maju tidak, lihat
sanak saudara kita pada maju tidak. Jangan sampai kita sendirian yang maju,
tapi sanak saudara kita hidup dalam kesulitan, ekonominya seret, pendidikan
seret sedang kita tidak ada kepedulian. Berarti itu sebuah kegagalan. Kedewasaan
seseorang itu dilihat dari bagaimana kemampuan memegang amanah.
Wallahu'alam.
Gabung, Keluar, Mode Pengiriman: [EMAIL PROTECTED]
Database Warga Wismamas: http://www.wismamas.tk
| Yahoo! Groups Sponsor |
ADVERTISEMENT
![click here]() | |
![]() |
Yahoo! Groups Links
|