Terkejut Menerima Zakat Rp 30 Juta

SETELAH berpuasa, umat Islam diwajibkan membayar zakat fitrah. Ada dua pendapat soal pembayaran zakat ini. Pertama, zakat boleh dibayar setelah menjalani ibadah puasa, meski masih jauh dari Idul Fitri. Kedua, zakat sebaiknya dibayarkan pada malam Idul Fitri.

Umat Islam di kota kebanyakan membayarkan zakat jauh-jauh hari sebelum Idul Fitri. Alasan mereka, tak repot mencari petugas penerima zakat (amil) untuk dibagikan ke fakir miskin dan orang-orang yang berhak menerima.

Pembayar zakat yang mengaku bernama Ning (57), warga Purwokerto, membayarkan zakat fitrah ke panitia penerima zakat Masjid Agung Baitussalam Jalan Masjid Purwokerto. ''Saya selalu membayar zakat di sini,'' ujarnya.

Ning juga membayar zakat di sejumlah masjid di Kota Purwokerto. ''Biar penerima merata.'' Dia membayar zakat untuk keluarganya dan keluarga pembantunya.

''Meski pembantu saya sudah tak lagi bekerja di rumah saya, zakatnya saya bayar karena kami sudah seperti saudara,'' katanya. ''Pembantu saya kan tidak mampu.''

Membayar zakat adalah kewajiban bagi umat Islam yang mampu.''Kita kan sudah diberi kelebihan. Jadi harus merelakan kelebihan itu untuk diberikan ke orang-orang tak mampu,'' kata Ning, yang mengaku belajar agama sejak berusia lima tahun dan selalu salat tarawih di Masjid Agung.

Panitia zakat masjid itu semestinya menerima zakat pada 10-13 November. Namun banyak umat Islam datang ke masjid sejak dua pekan lalu untuk membayar zakat fitrah dan zakat mal.

''Kami didatangi orang yang mau membayar zakat sejak 25 September,'' kata Isa dan Agus Warsito, yang kemarin menerima banyak tamu. ''Meski belum buka, ya kami terima, wong itu amanah. Apalagi panitia sudah memasang spanduk penerimaan zakat.''

Sebagai anggota panitia zakat, Hartono (23), terkejut ketika Minggu (7/11) didatangi orang tak dikenal yang membawa tas plastik hitam. Orang itu mengaku disuruh majikannya membayar zakat mal.

Ketika dibawa masuk ke kantor panitia, lelaki itu membuka tas lusuh dan mengeluarkan uang pecahan Rp 50.000 dan Rp 100.000. Setelah dihitung ternyata Rp 30 juta.

''Saat itu saya bertanya, 'Benar, Pak, uang ini untuk zakat?'," kata Hartoko.

''Lo benar. Kalau tidak mau menerima ya tidak apa-apa. Saya ambil lagi,'' kata lelaki itu.

Zakat mal itu pun diterima. Namun karena takut, Hartoko memanggil temannya Dito agar menjadi saksi. ''Agar tidak ada masalah uang itu langsung kami serahkan ke bendahara,'' ujarnya.

Bagi panitia zakat Masjid Agung, menerima zakat mal Rp 30 juta memang kejutan. Itu zakat terbesar sejak mereka menerima zakat. Biasanya zakat mal yang diterima paling besar Rp 5 juta.

Isa menuturkan itu bukti umat memercayai panitia yang menyalurkan zakat fitrah dan zakat mal. ''Saya membayar zakat di sini karena panitianya ramah, bisa diajak bicara, dan mau menerima saran,'' ucap Ning. (Khoerudin Islam-86)



Copyright� 1996-2004 SUARA MERDEKA


Gabung, Keluar, Mode Pengiriman: [EMAIL PROTECTED]
                       
Database Warga Wismamas: http://www.wismamas.tk



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke