Cangkul, Cangkul yang Dalam
Oleh: Gede Prama

Tidak semua orang punya pengalaman di ladang. Bersahabatkan tanah, air,
pupuk, pohon, burung sampai dengan sinar matahari. Bagi sahabat yang
lahir dan tumbuh di kota yang mengagungkan kebersihan, melihat tanah
dan pupuk seperti melihat kotoran. Bagi rekan yang pernah merasakan
hidup di ladang, bau tanah dan pupuk tidak berasosiasi negatif.
Sebagian sahabat bahkan berani mengatakan, kalau tanah dan pupuk ketika
digabungkan berbau wangi. Terutama karena gabungan antara tanah dan
pupuk inilah yang menjadi pemacu semangat bagi munculnya bunga
sekaligus buah kemudian.
Bagi penekun-penekun kehidupan di ladang, bunga dan buah tentu saja
penting. Akan tetapi, terlihat jelas dalam keseharian mereka muka-muka
yang bersyukur. Berangkat bernyanyi, pulang dari ladang juga bernyanyi.
Berangkat ke ladang disapa dan menyapa banyak orang dengan senyuman,
demikian juga dengan perjalanan pulang. Boleh saja ada yang menyebut
kalau petani-petani di ladang sebagai sekumpulan manusia yang hidup
hanya untuk mengisi perut, atau memperpanjang hidup. Cuman, bagi siapa
saja yang pernah intensif hidup di sana, akan tahu kalau petani di
ladang berupaya membuat nyata, kekuatan-kekuatan Tuhan yang tadinya
tidak nyata.
Sebutlah tanah, air, pupuk maupun pohon. Tadinya, ia hanyalah
perlambang-perlambang alam yang tidak terlalu berguna dan bermakna. Dan
melalui tangan-tangan kotor petani, kemudian semuanya dibuat jadi
berguna. Jangankan pohon yang relatif bersih dan berbunga serta
berbuah. Kotoran binatang yang tidak steril sekaligus berbau tidak
sedappun menjadi berguna. Makna juga serupa. Pohon adalah guru makna.
Terutama guru makna akan ketenangan dan keikhlasan. Pupuk juga serupa,
ia perlambang makna, jangankan yang berbau wangi, yang berbau tidak
sedappun bisa bermakna. Terutama di tangan serta pikiran yang serba
jernih.
Salah satu lagu anak-anak yang menghargai profesi petani secara
memadai, liriknya berbunyi seperti ini : "menanam jagung di kebun
kita... cangkul, cangkul, cangkul yang dalam". Pertama, lagu ini
menangkap spirit suka cita yang ada di balik hampir semua kegiatan
petani. Terutama terlihat dari nada lagunya. Kedua, meminta manusia
mencangkul yang dalam. Dan ini bisa bermakna dalam, bisa juga bermakna
dangkal. Tergantung pada ketekunan seseorang berjalan ke dalam dirinya.
Bagi banyak orang yang hidup di kota, bisa jadi ini serangkaian cerita
yang tidak berarti apa-apa. Hanya saja bagi hidup yang bersahabatkan
kejernihan dan kepekaan, semua hal adalah guru-guru kehidupan.
Jangankan petani dan ladangnya, bahkan sarang laba-laba yang sudah
ditinggalkan induknyapun masih menuliskan makna.
Diterangi oleh cahaya kesadaran seperti ini, mungkin ada gunanya
menghabiskan waktu sebentar untuk merenung di atas profesi petani
ladang. Ada beberapa hal yang layak menjadi bahan-bahan renungan.
Pertama, melalui tangan-tangan petani kekuatan-kekuatan Tuhan yang
tadinya tidak terlihat, bisa menjadi terlihat. Kedua, melalui tangan
petani juga, barang-barang yang berbau busuk sekalipun, bisa berubah
menjadi pupuk yang menghasilkan buah kemudian. Ketiga, serangkaian
kegiatan petani yang sering dapat perhatian adalah mencangkul.
Sebagaimana lirik lagu anak-anak di atas, kita manusia seperti sedang
diketuk untuk mencangkul yang dalam.
Mari dimulai dengan yang pertama. Tentu saja bukan monopoli petani
saja, profesi manapun adalah rangkaian kegiatan yang membuat kekuatan
Tuhan yang tadinya tidak nyata menjadi nyata. Sebutlah pengusaha. Dari
pengusaha juga, barang yang tadinya tidak ada jadi ada. Barang petani
yang berharga murah di ladang, menjadi berguna dan berharga mahal di
kota. Politisi juga serupa. Kumpulan manusia yang tadinya lepas dengan
keterkaitan yang teramat sedikit, kemudian di tangan-tangan politisi,
direkat menjadi bangunan bangsa dan negara. Demikian juga dengan
sastrawan. Sastra manapun datang tempat yang sama. Dan setiap sastrawan
hanya "menarikan" tarian-tarian sastra semesta. Dengan demikian,
bukankah setiap profesi adalah rangkaian gerakan untuk membuat Tuhan
menjadi lebih nyata?
Yang kedua, tidak saja tangan-tangan petani yang bisa
mentransformasikan kotoran hewan menjadi pupuk, tangan profesi manapun
memiliki kekuatan yang serupa. Petani memang dibekali logika tua,
sehingga kotoran hewan jadi pupuk. Pengusaha, politisi, sastrawan,
wartawan sampai dengan Ibu rumah tangga, juga serupa. Ada serangkaian
logika yang tersedia, yang memungkinkan semua profesi bisa mengolah
apapun yang datang menjadi "pupuk-pupuk" kehidupan. Sebutlah Lee
Iacocca, kegagalannya di Ford dirubah menjadi serangkaian keberhasilan
belakangan. Chrysler ketika pertama kali diterima Iacocca dalam keadaan
tidak terlalu sehat, kemudian melalui tangannya juga kemudian jadi
hebat. Serupa dengan Harley Davidson. Ketika baru diterima CEO-nya di
akhir 80-ang, ia hanyalah pecundang Amerika. Namun di era 90-an, Harley
Davidson adalah lambang loyalitas pelanggan yang mengagumkan. Nelson
Mandela juga serupa, ditangan dia juga kebencian orang hitam, dirubah
menjadi kemajuan negeri Afrika Selatan.
Dan kedua-dua prinsip petani tadi, hanya bisa dilakukan secara
mengagumkan, terutama di tangan-tangan manusia yang berani "mencangkul"
yang dalam. Bukan mencangkul tanah di luar, melainkan mencangkul tanah
di dalam. Tanah-tanah pengertian, pemahaman, penerimaan, cinta dan
tanah-tanah rasa syukur. Bukankah ketika manusia mencangkul yang dalam,
kemudian membuat profesinya sebagai serangkaian gerak yang membuat
Tuhan jadi nyata?



Gabung, Keluar, Mode Pengiriman: [EMAIL PROTECTED]
                       
Database Warga Wismamas: http://www.wismamas.tk




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke