----- Original Message -----
From: "a_wardhono" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, March 30, 2005 2:25 AM
Subject: [alumni_fe_unej] Mbok Ponirah Mengayuh Becak demi Biaya Sekolah
Anaknya
>
>
> SUARA PEMBARUAN DAILY
> ---------------------------------------------------------------------
> -----------
>
> Mbok Ponirah Mengayuh Becak demi Biaya Sekolah Anaknya
>
> PEMBARUAN/FUSKA SANI EVANI
>
> langganan - Mbok Ponirah, ibu enam orang anak sedang
> mengayuh becaknya yang ditumpangi tiga orang anak
> sekolah yang menjadi langganannya setiap hari sekolah,
> di samping mencari penumpang lainnya .
>
> SEPINTAS orang tak akan menyangka kalau sang pengayuh
> becak ini adalah seorang perempuan. Ponirah (54)
> begitu nama warga Desa Njeblog, Madukismo, Bantul ini.
> Bentuk potongan rambutnya yang menyerupai laki-laki
> atau potong cepak kadang ala tentara, sempat membuat
> pelanggannya terkesima.
>
> Sambil ngepos di Pojok Benteng Kulon, Jalan Bantul,
> Ponirah yang lekat dengan caping, celana panjang, hem
> lengan panjang, ibu enam anak dan nenek dari dua cucu
> ini mengayuh becak untuk mengais rezeki dan mewujudkan
> cita-citanya.
>
> Sebenarnya cita-citanya cukup sederhana, tapi sangat
> mulia. Menyekolahkan anak. Namun karena pendapatan
> suaminya yang buruh tani itu pas-pasan, Ponirah nekat
> kredit becak. Becak merek "Budi" itu dibeli dengan
> angsuran, per hari Rp 3 ribu dan kini sudah
> dilunasinya.
>
> Kasih ibu sepanjang masa, itulah yang dilakonkan istri
> Supardjo (59) itu setiap hari dengan memulai mengayuh
> becak sejak pukul 04.00. Namun baginya tugas keluarga
> adalah yang utama. Subuh-subuh, ia sudah menyiapkan
> sarapan dan membersihkan rumahnya. Sekitar pukul 07.00
> ia mulai melalang buana dengan becaknya. "Setiap pagi
> saya mengantar anak juragan saya ke sekolah," katanya.
>
> Ponirah bangga bisa dipercayai antarjemput tiga anak
> sekolah. Perempuan jangkung dengan postur tubuh
> layaknya laki-laki ini, sering dipanggil 'Pak'. Namun
> dengan lugu, perempuan yang mengaku tidak pernah
> mengenyam bangku sekolah ini menyatakan, apapun
> panggilan orang kepada dirinya, ia tidak pernah
> memasalahkan. Biasanya, katanya setelah tahu ternyata
> tukang becaknya perempuan, penumpang lalu minta maaf.
> "Maaf ya Bu, saya tidak tahu. Saya kira bapak-bapak,"
> ujar Ponirah menirukan penumpang yang keliru memanggil
> dirinya.
>
> Entah karena tiap hari berpanas-panas, kulitnya pun
> kehitam-hitaman terbakar matahari. Gayanya yang khas
> laki-laki terlebih ketika mengisap rokok kreteknya,
> sempat membuat siapa saja akan memanggilnya 'Pak'.
> Sambil menjawab pertanyaan wartawan, Ponirah berbicara
> dengan lugas dan tidak pernah basa-basi.
>
> Bukan hanya penumpang yang keblinger melihatnya.
> Sesama penarik becak pun sering salah sangka. Pernah
> suatu ketika ia ditempeleng oleh penarik becak
> lainnya. "Gara-garanya, sehabis menurunkan penumpang
> di Kotabaru, ada penumpang lain naik. Saya dikira cari
> penumpang di daerah itu," paparnya.
>
> Namun tamparan itu tidak pernah menyurutkan nyalinya
> untuk tetap berkarya. Jika sepi penumpang, Ponirah
> selalu pulang menjelang Maghrib. Tetapi kadang ia
> harus pulang lewat pukul 20.00
>
> "Beberapa hari lalu saya pulang sampai rumah jam
> delapan malam. Saya disuruh mengantar langganan
> periksa ke rumah sakit. Jadi harus menunggu sampai
> selesai," katanya seraya mengaku tidak takut. "Saya
> sudah biasa begini,''katanya.
>
> Dia juga menuturkan, beberapa kali diganggu orang
> tetapi dia biarkan saja. Saya tidak peduli dengan
> mereka. "Pernah ada orang mau bayar saya. Orang itu
> meminta saya untuk memarkir becak saya, lalu mau
> mengajak saya pergi. Tetapi saya tidak pedulikan dan
> saya tinggal pergi,'' ujarnya.
>
>
> Biar Sekolah
>
> Seperti ibu-ibu yang lain, Ponirah juga berharap
> anaknya bisa menuntut ilmu setinggi mungkin. "Saya ini
> bekerja untuk biaya sekolah anak-anak. Agar anak saya
> pintar, modal saya hanya jujur dan halal. Karena itu
> saya tidak pernah mau macam-macam," ujarnya.
>
> Ponirah tahu bahwa bekerja di luar rumah, memang penuh
> risiko. Namun empat belas tahun menjadi tukang becak,
> Ponirah tidak pernah menyerah. Apa lagi hanya karena
> ditempeleng rivalnya.
>
> "Selama saya kuat dan anak-anak masih butuh biaya
> sekolah saya akan terus mbecak. Juragan saya
> baik-baik, anak-anak yang saya antar sekolah memanggil
> saya 'mak'. Mereka kadang minta dibelikan minum,"
> ucapnya sambir cengar-cengir.
>
> Dituturkan, saat ini ia tinggal membiayai anak
> bungsunya. Ponirah menceritakan lima anak yang lain
> begitu selesai SMA langsung bekerja.
>
> Dua bekerja di hotel, satu buruh, satu bekerja di
> kerajinan kulit dan satu lagi bekerja di kerajinan
> patung. Anaknya terkecil masih duduk di kelas III SMP.
> "Saya kebrojolan anak terakhir. Setelah punya lima
> anak, saya KB streril. Lima tahun kemudian kok saya
> hamil lagi. Ya sudah memang sudah kehendak Allah,"
> ujarnya.
>
> Walau demikian, Ponirah tidak rela bila anak-anaknya
> kelak mengikuti jejak ibunya. "Biar aku sendiri saja
> yang seperti ini. Anak-anak tidak boleh. Mereka harus
> sekolah, kalau sudah besar bisa bekerja yang lain,"
> ujar
>
>
> Penghargaan
>
> Mungkin nasib Ponirah tidak seberuntung perempuan
> lainnya. Tetapi perempuan 'perkasa' ini adalah satu
> dari sepuluh perempuan penerima penghargaan "Ibu Tahan
> Banting", yang diberikan ibu-ibu Pendidikan
> Kesejahteraan Keluarga (PKK) Provinsi Daerah Istimewa
> Yogyakarta.
>
> Penghargaan itu diberikan dalam rangka peringatan Hari
> Kartini, Kamis (29/4) yang lalu.
>
> "Anak-anak saya waktu itu tidak ada yang tahu kalau
> saya mau terima penghargaan," katanya.
>
> Sesampainya di rumah, anak-anaknya malah menanyainya.
> "Saya malah diejek, tadi naik mobil polisi ya? pakai
> dike-crek (diborgol) enggak? Waduh senangnya salaman
> dengan Sultan dan Ratu Hemas," kenang Ponirah pada
> ejekan anak-anaknya.
>
> Hadiah yang diterima Ponirah memang tidak besar, uang
> Rp 100 ribu dan sebuah seprei. Namun penghargaan dan
> kesempatan bertatap muka dan bersalaman dengan Sri
> Sultan dan Gusti Kanjeng Ratu Hemas yang membuat
> Ponirah bangga.
>
> "Saya ini orang miskin yang tidak bisa baca kok ya
> diberi hadiah. Yang paling senang, saya bisa salaman
> dengan Gusti Ratu dan Sri Sultan," katanya dengan mata
> berbinar.
>
> Ponirah tidak bisa menduga. Sampai di mana kekuatannya
> untuk menyekolahkan anak bungsunya itu. "Biaya
> pendidikan sekarang ini mahal sekali. Yang jelas
> selama saya kuat, tidak akan putus asa karena tidak
> ingin anak saya putus sekolah. Saya bekerja agar
> anak-anak saya jadi anak pinter dan bisa bekerja
> dengan baik, tidak seperti ibunya," kata Ponirah.
>
> Ponirah memang benar-benar seorang ibu yang sejati. Ia
> pantas mendapat penghargaan. Ponirah pun tidak ingin
> dikasihani, tapi kalau ada yang tergerak hatinya
> meringankan beban beratnya mengayuh becak setiap hari
> demi sekolah anak-anaknya, tentu Ponirah tidak akan
> menolak uluran tangan dari siapa saja. Semoga.
>
>
> PEMBARUAN/FUSKA SANI EVANI
>
>
>
>
>
>
>
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>
>
Gabung, Keluar, Mode Pengiriman: [EMAIL PROTECTED]
Database Warga Wismamas: http://www.wismamas.tk
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wismamas/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/