----- Original Message ----- From: "Livo Februsa" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Thursday, June 02, 2005 12:17 PM Subject: RE: [marketing_leadership-club] Konsep Kerja Cerdas
> Bagus banget mbak. > Makasih artikelnya yah..! > > -----Original Message----- > From: [EMAIL PROTECTED] > [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of yunidays > Sent: Wednesday, June 01, 2005 10:08 PM > To: [EMAIL PROTECTED] > Subject: [marketing_leadership-club] Konsep Kerja Cerdas > > Sebaiknya konsep kerja mulai sekarang dilakukan secara cerdas dan > cermat , tidak dengan kerja keras saja ( work smarter not harder ). > Silahkan Dipelajari bagaimana konsep kerja cerdas tersebut dari segi > psikologi. > > Konsep Kerja Cerdas > Oleh: Ubaydillah, AN > > Mula-mula ekonom Itali bernama Vilfredo Pareto (1848 - 1923) itu baru > setengah kaget dengan hasil penelitiannya. Bahwa 80% kekayaan negara > hanya dinikmati oleh 20% kelompok tertentu dari penduduk. Dengan kata > lain, 80% dari penduduk hanya berkesempatan menikmati 20% dari > kekayaan negara. Katakanlah kalau diasumsikan jumlah penduduk > seluruhnya mencapai 100 juta jiwa, berarti hanya 20 juta jiwa yang > kaya raya dengan mendapat 80% kekayaan negara. Sisa penduduk yang > berjumlah 80 juta jiwa hidup pas-pasan karena kue negara yang hanya > 20% harus dibagi-bagi. Karena setengah kaget dengan hasil penelitian > tersebut, Pareto kemudian mengadakan penelitian di lain negara, > ternyata hasilnya sama atau hampir sama. > Hasil penelitian Pareto ini sejak tahun 1897 akhirnya diresmikan > menjadi sebuah rumus atau formula dengan berbagai macam nama: Pareto > Principle; The Pareto Law; The 80/20 rule; The Principle of Least > Effort; atau The principle of Imbalance. Konon karena Pareto dinilai > kurang artikulatif dalam menjajakan temuannya ini berdasarkan > perkembangan metodologi dan konteks penelitian, akhirnya mendorong > para pakar untuk ikut terjun melengkapi rumus atau temuan yang > dinilai sangat berguna bagi pencerahan peradaban manusia ini. Tahun > 1949, George K Zipf, seorang professor dari Harvard University, > mengembangkan wilayah penelitian dengan menjadikan temuan Pareto > sebagai acuan. Hasilnya bahwa manusia, benda-benda, waktu, keahlian, > atau semua alat produksi telah memiliki aturan alamiah yang berkaitan > antara hasil dan aktivitas dengan jumlah perbandingan mulai dari 80/20 > atau 70/30. Contoh: > Karena dianggap memberi pencerahan, rumus tersebut lalu diterapkan ke > dalam pengembangan pribadi . Ternyata para pakar di bidangnya > masing-masing menemukan sesuatu yang kira-kira sama dengan temuan > Pareto. Artinya jika bicara hasil, ketepatan proses, dan kualitas maka > hal-hal tersebut erat hubungannya dengan how well atau how good are > you doing, bukan how often dan how long. Dengan kata lain hasil yang > diperoleh ditentukan sejauhmana anda bisa bekerja secara cerdas. > Beberapa contoh: > . Dalam dunia bisnis, untuk merebut pasar anda harus berpikir > minimalistis dalam arti ketepatan strategi yang tidak melebihi > kebutuhan pasar. Artinya temukan 20% dari strategi yang bisa merebut > 80% daya tarik pasar dengan memberi 80% premiun solusi kepada 20% > pelanggan setia. Jangan mengobral strategi yang justru menghabiskan > 80% cost padahal hanya akan menciptakan 20% rate of return (Mack > Hanan, dalam Fast Growth Strategy, McGraw-Hill International, > Singapore, 1987). > . Penelitian dalam hal efektivitas dan efisiensi waktu menemukan > bahwa 80% prestasi seseorang di bidang apapun diraih dari 20% waktu > yang dikeluarkan. Dan 80% kebahagian hidup ditentukan dari 20% waktu > yang digunakan untuk mencarinya. Tanyalah pada diri anda, berapa > jumlah waktu yang benar-benar anda gunakan dalam kaitan dengan tujuan > anda pergi ke kantor selain waktu macet, ngobrol, atau melamun, atau > membicarakan persoalan lain dengan kawan kerja? Jika jawaban anda > ternyata menggunakan rumus yang sebaliknya maka anda tidak memiliki > perbedaan dengan orang lain dan itu smaa artinya bahwa anda belum > menerapkan cara kerja cerdas. > Aplikasi Kerja Cerdas > Sebagai bangsa yang agamis sekaligus kaya budaya leluhur, sebenarnya > seruan kerja cerdas ini bukanlah barang baru. Tetapi persoalannya lagi > - lagi berupa tools yang tidak di-update. Selain disampaikan dengan > "bahasa langit" yang seringkali menafikan proses pemahaman secara > ilmiah dan alamiah pun juga tidak dilakukan elaborasi kontekstual. > Akibatnya pemahaman tentang ajaran agama dan budaya hanya bekerja pada > persoalan yang bersifat minoritas dalam kehidupan nyata. Sebelum > Pareto mengumumkan hasil penelitiannya dengan formula 80/20, kita > sudah diajarkan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan mubazir atau > yang tidak perlu. Sayangnya, ajaran mubazir yang kita pahami hanya > sebatas kalau kita membuang makanan yang tersisa. Amat jarang kita > berpikir mubazir secara profesi, ekonomi, atau strategi. > Untuk menjauhkan diri dari tindakan yang mubazir dalam kaitan dengan > realisasi kerja cerdas harus dimulai dari langkah-langkah berikut: > 1. Fokus pada skala pengembangan > Jika anda yakin bahwa diri anda memiliki keunggulan atau bakat > alamiah, disamping memiliki kelemahan yang diakibatkan oleh faktor > heriditas atau lingkungan, maka yang benar-benar anda butuhkan adalah > hidup dengan keunggulan tersebut secara cerdas (living with the > advantage competitive factors). Hanya jika anda menemukan strategi > hidup dengan keunggulan, maka anda akan keluar dari batas rata-rata > prestasi lingkungan. Sebelum itu, paling maksimal yang bisa anda capai > adalah kualitas hidup seperti orang lain atau seperti yang diraih > oleh sepuluh orang yang anda kenal paling dekat. Lalu ke mana > keunggulan tersebut diarahkan? Jelas, keunggulan itu harus diarahkan > untuk mengoptimalkan apa yang disebut dalam rumusan Pareto dengan 20% > of determining factors (factor penentu). Oleh karena itu, temukan apa > saja yang menjadi faktor penentu keberhasilan anda dari sekian daftar > kegiatan yang anda lakukan dalam hidup. Tinggalkan hal-hal yang tidak > perlu dan fgokuskan hanya pada hal-hal yang berpotensi untuk > pengembangan diri. > 2. Berani Berkorban > Di dalam dunia yang sebesar ini terdapat sekian banyak "persoalan > kecil" yang kalau anda tidak berani berkorban untuk memaafkannya bisa > jadi persoalan itu akan mendominasi muatan pikiran anda yang akhirnya > bisa membuat anda melupakan sisi keunggulan, cita-cita, fokus > pengembangan diri, dan lain-lain. Contoh yang paling sederhana dan > sering terjadi di depan mata kita adalah ketika sedang di jalan raya. > Di luar dari persoalan tabrakan serius, terkadang hanya karena > mobilnya tersenggol sedikit saja orang rela membuang banyak waktu dan > kebahagiannya pergi ke kantor. Bahkan bisa berkembang ke arah baku > hantam. Padahal kalau dimaafkan (mau berkorban sedikit dengan > kehilangan uang beberapa ratus ribu saja untuk memperbaiki mobil yang > lecet), maka semua urusan selesai. > Auditlah pikiran anda, persoalan apa saja yang kalau anda memaafkannya > tidak akan merugikan anda secara misi atau visi dan tidak mengganti > isi pikiran anda dengan muatan negatif. Untuk mengetahui apakah > persoalan yang sedang anda hadapi tidak akan merugikan anda , gunakan > standard audit berikut: > . Apa saja yang menurut anda menjadi prioritas utama dalam > kehidupan > . Apa saja yang menurut anda didefinisikan sebagai persoalan > penting > dan tidak penting > . Apa saja yang menurut anda didefinisikan sebagai persoalan > darurat > dan tidak darurat yang bisa jadi tidak penting dan tidak prioritas > . Apa saja yang menurut anda didefinisikan sebagai persoalan > "sampah" > - tidak penting, tidak mendesak dan bukan prioritas utama. Namun dalam > hal ini anda perlu menyeleksi secara ketat dan hati-hati, sebab > bahayanya kalau anda secara mudah memasukan persoalan ke tong sampah > ini maka anda bisa terjebak untuk meninggalkan misi atau fokus hidup > hanya karena alasan mempertahankan posisi atau kondisi yang ada. Jika > anda terjebak maka akhirnya rumus yang terjadi bukanlah 80/20 tetapi > sebaliknya. > > 3. Membuat Sekat Pembatas > Pada akhirnya anda harus menentukan batasan-batasan tentang apa yang > ingin dicapai, bagaimana mencapainya, apa modal yang dimiliki, dan > akan kemana anda mengarahkan hidup anda. Dalam proses inilah terjadi > seleksi dan pengecualian. Dari sekian luas dunia dan isinya, apa saja > yang telah anda seleksi menjadi hal yang benar-benar anda inginkan > sesuai format pondasi personal anda seperti: kiblat hidup, cita-cita, > tujuan, target dan tindakan. > Semakin jelas anda memiliki format seleksi dan pengecualian, fokus > pada pengembangan diri diiringi keberanian berkorban dengan memahami, > mengakui, membuang sesuatu yang tidak dibutuhkan dalam diri anda, > maka akan semakin jelas wilayah dunia yang menjadi "hak" anda > sehingga semakin tersimpulkan apa yang menjadi determining factors to > success itu. Artinya faktor penentu semakin sedikit dan semakin > sederhana dan biasanya yang sederhana itu justru akan bisa bekerja > optimal. Sementara yang cenderung pelik, ruwet dan kompleks biasanya > mandul. Semoga berguna. > > Salam Sukses Selalu, > Yuni > > > Believe You can Success and You will ! > -------------------------------------- > Raih Peluang Sukses Anda ! > Http://www.Peluangsukses.com > -------------------------------------- > > > > > A wise man will be Master of His Mind > > A fool will be its slave ------ > > > "Don't forget to Invite your friends for learning together in our groups > here!!!! > > To subscribe, send blank email to: > [EMAIL PROTECTED] > To unsubscribe, send blank mail to > [EMAIL PROTECTED] > To using digest system, send blank email to: > [EMAIL PROTECTED] > To using nomail system, send blank email to: > [EMAIL PROTECTED] > To normalizing those systems, send blank email to: > [EMAIL PROTECTED] > > > > _____ > > Yahoo! Groups Links > * To visit your group on the web, go to: > http://groups.yahoo.com/group/marketing_leadership-club/ > > * To unsubscribe from this group, send an email to: > [EMAIL PROTECTED] > <mailto:[EMAIL PROTECTED] > subscribe> > > * Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of > Service <http://docs.yahoo.com/info/terms/> . > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > A wise man will be Master of His Mind > > A fool will be its slave ------ > > > "Don't forget to Invite your friends for learning together in our groups here!!!! > > To subscribe, send blank email to: [EMAIL PROTECTED] > To unsubscribe, send blank mail to [EMAIL PROTECTED] > To using digest system, send blank email to: [EMAIL PROTECTED] > To using nomail system, send blank email to: [EMAIL PROTECTED] > To normalizing those systems, send blank email to: [EMAIL PROTECTED] > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > Gabung, Keluar, Mode Pengiriman: [EMAIL PROTECTED] Database Warga Wismamas: http://www.wismamas.tk Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/wismamas/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
