|
----- Original Message -----
Sent: Tuesday, June 07, 2005 2:56 PM
Subject: [Gen-L] FW: [EMAIL PROTECTED] HUMOR :-)
FW: {forsimpta} Pemulung naik krl untuk mengubur anaknya [Email Checked -
APAC]
fyi,
----- Original Message -----
Sent: Tuesday, June 07, 2005 12:34 PM
Subject: [TripatraCollege] FW: {forsimpta} Pemulung naik krl untuk
mengubur anaknya [Email Checked - APAC]
FYI,
Sedih banget nih......
Salemba,
Warta
Kota
PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat
anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.
Penumpang kereta rel
listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor
pun geger Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama
Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn).
Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di
Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor
polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor
polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi
belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM
untuk diautopsi.
Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa
sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk
berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. "Saya hanya sekali bawa Khaerunisa
ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas,
meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol
plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari". Ujar bapak 2
anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu.
Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama
sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski
Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski
hanya terbaring digerobak ayahnya.
Karena tidak kuasa melawan
penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu
(5/6) pukul 07.00. Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring
di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada
siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski
termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain
kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus
menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono
mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari
Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya
di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama
pemulung.
Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di
Stasiun Tebet. Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai
membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan
terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik.
Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong
Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba
seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu
dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa
ke Bogor
spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun
dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar
Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans
hitam.
Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa
segera dimakamkan. Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan
surat
permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang
terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti
kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali
memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan
surat tersebut, lagi-lagi Karen atidak punya uang untuk menyewa
ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa
dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga
yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke
Bogor.
Para
pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan
Muriski di perjalanan.
Psikolog Sartono Mukadis menangis
mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang
sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini
sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. "Peristiwa itu adalah dosa
masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah
Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau
bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa
Indonesia", ujarnya.
Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah
Hafidz, mengatakan peristiwa itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah
memberikan pelayanan kesehatan bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi
selama ini, pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang
miskin kata Wardah.
*** mohon maaf karena telah mengutip
ulang berita
ini***
***Milis ini
dibentuk dengan menjunjung tinggi Ukhuwah Islamiyah dan akhlaq dalam
menyampaikan pesan. Forsimpta menyatakan tidak bertanggung-jawab atas isi yang
terkandung di dalam pesan ini. Untuk mengundurkan diri dari milis ini, kirim
email ke: [EMAIL PROTECTED]
***
****************************************************************************************** This
e-mail may contain confidential and/or privileged information. If you are
not the intended recipient (or have received this e-mail in error) please
notify the sender immediately and destroy this e-mail. Any unauthorized
copying, disclosure or distribution of the material in this e-mail is
strictly
forbidden. ******************************************************************************************
X-PResIkaN
DiRiMu ..SaAtNyA TaMpIL BEDA BeRsAmA Gen-L !
Member dilarang
menggunakan bahasa yang tidak pada tempatnya, mis: bahasa sok tua, bahasa sok
boss, dll. Member dilarang kehilangan selera sense of
humor
MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER,SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI
DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN ....
Gabung, Keluar, Mode Pengiriman: [EMAIL PROTECTED]
Database Warga Wismamas: http://www.wismamas.tk
Yahoo! Groups Links
|