|
> > Cerita ini cukup panjang namun adalah kisah nyata yang sangat mengharukan. Sorry buat yg udah pernah baca.... > > Hidup Memaafkan > > Martha (35) adalah wanita yang menjadi pembicaraan semua orang. Ia dan > suaminya, Peterson, adalah warga kulit putih, tetapi di antara kedua > anaknya, ternyata terdapat satu yang berkulit hitam. Hal ini menarik > perhatian warga di sekitarnya. Tapi, Martha hanya tersenyum dan berkata > bahwa neneknya berkulit hitam dan kakeknya berkulit putih. > > Perkataan Martha itu membuat anaknya, Monika, mendapat kemungkinan seperti > itu, berkulit hitam. Dan begitulah, meski banyak warga yang tak puas, tapi > mereka seperti menemukan jawaban atas kasus Martha. > > Musim gugur 2002, Monika yang berkulit hitam terus menerus mengalami demam > tinggi. Terakhir, Dr Adely memvonis Monika menderita leukimia. Harapan > satu-satunya hanyalah mencari pendonor sumsum tulang belakang yang paling > cocok untuknya. Dokter menjelaskan, di antara mereka yang ada hubungan > darah dengan Monika merupakan pedonor tercocok. Ia lalu meminta seluruh > anggota keluarga Martha berkumpul untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang > belakang. > > Raut wajah Martha berubah. Tapi tetap saja seluruh keluarga menjalani > pemeriksaan. Hasilnya tak satu pun yang cocok. Dokter memberi tahu, dalam > kasus seperti Monika ini, mencari pedonor yang cocok sangatlah kecil > kemungkinannya. Sekarang hanya ada satu cara yang paling manjur, Martha dan > suaminya harus "membuat" anak lagi, dan mendonorkan darah anak itu untuk > Monika. > > Mendengar usul ini Martha tiba-tiba menjadi panik, dan berkata tanpa suara, > "Tuhan... kenapa menjadi begini?" Ia menatap suaminya, sinar matanya > dipenuhi ketakutan dan putus asa. Peterson mengerutkan keningnya, berpikir. > Dr Adely berusaha menjelaskan pada mereka, saat itu banyak orang yang > menggunakan cara ini untuk menolong nyawa para penderita leukemia. Lagi > pula, cara itu tidak berpengaruh sama sekali terhadap bayi pendonor. Tapi, > bukan itu yang dipikirkan Martha. Akhirnya, masih dengan nada bingung, dia > memandang Dr Adely, " Biarkan kami memikirkannya dahulu." > > Malam kedua, Dr Adely tengah bergiliran tugas, ketika pintu ruangannya di > dorong, dan dia melihat pasangan suami-istri tersebut. Martha menggigit > bibirnya keras,suaminya Peterson, menggenggam tangannya, dan berkata serius > pada Adely, "Kami ingin memberitahumu sesuatu, Tapi harap Anda berjanji > untuk menjaga rahasia ini, rahasia kami suami-istri selama beberapa tahun > ini." Dokter Adely yang membaca betapa tegangnya pasangan itu, segera > mengangguk. > > Peterson bercerita. "Sepuluh tahun lalu, Mei 1992. Waktu itu anak kami yang > pertama, Eleana, telah berusia 2 tahun. Martha bekerja di sebuah restoran > fast food. Setiap hari pukul 10 malam baru ia pulang kerja. Malam itu, > turun hujan lebat. Seluruh jalanan telah tiada orang satu pun. Saat melalui > suatu parkiran yang tak terpakai lagi, Martha mendengar suara langkah kaki, > mengikutinya. Dengan ketakutan, Martha memutar kepala untuk melihat, > seorang remaja berkulit hitam tengah berdiri di belakang tubuhnya. Orang > tersebut menggunakan sepotong kayu, memukulnya hingga pingsan, dan > memperkosanya. > > "Saat tersadar, Martha segera berlari, pulang. Malam telah pukul 1 malam. > Waktu itu aku bagaikan gila, ke luar rumah mencari orang hitam itu untuk > membuat perhitungan. Tapi telah tak ada bayangan orang satu pun. Malam itu > kami hanya dapat memeluk kepala masing-masing, menangis menahan kepedihan. > Langit sepertinya runtuh!" > > Peterson mengisak, dan ia melanjutkan ceritanya dengan tersendat. "Tak lama > kemudian Martha mendapati dirinya hamil. Kami merasa sangat ketakutan, > kuatir bila anak yang dia kandung merupakan milik orang hitam tersebut. > Martha berencana untuk menggugurkannya, tapi aku masih mengharapkan > keberuntungan, mungkin anak yang dikandungnya adalah bayi kami, cinta kami. > Begitulah, kami ketakutan menunggu beberapa bulan. > > "Maret 1993, Martha melahirkan bayi perempuan, dan ia berkulit hitam. Kami > begitu putus asa, pernah terpikir untuk mengirim sang anak ke panti asuhan. > Tapi mendengar suara tangisnya, kami sungguh tak tega. Terlebih lagi, > bagaimanapun Martha telah mengandungnya, ia juga merupakan sebuah nyawa. > Apalagi, aku dan Martha merupakan seorang beragama yang taat. pada > akhirnya kami memutuskan untuk memeliharanya, dan memberinya nama Monika." > > Mata Dr Adely juga basah. Pada akhirnya ia memahami kenapa bagi kedua suami > istri tersebut kembali mengandung anak merupakan hal yang sangat > mengkuatirkan. Ia berpikir sambil mengangguk-anggukkan kepala, berkata, > "Jika demikian, kalian melahirkan 10 anak sekali pun akan sulit untuk > mendapatkan donor yang cocok untuk Monika!" > > Ia terdiam, memandangai Martha. "Kelihatannya, kalian harus mencari ayah > kandung Monika. Barangkali sumsum tulangnya, atau sumsum tulang belakang > anaknya ada yang cocok untuk Monika. Tetapi, apakah kalian bersedia > membiarkan ia kembali muncul dalam kehidupan kalian?" > > "Demi anak ini, aku bersedia berlapang dada memaafkannya. Bila ia bersedia > muncul menyelamatkannya. Aku tak akan memperkarakannya," kata Martha. > > Dr Adely merasa terkejut akan kedalaman cinta sang ibu. > > ****** > > November 2002. Di koran Wayeli termuat berita pencarian seperti ini: 17 Mei > 1992, di parkiran mobil ke-5 Wayeli, seorang wanita kulit putih diperkosa > oleh seorang kulit hitam. Tak lama kemudian, sang wanita melahirkan seorang > bayi perempuan berkulit hitam. Ia dan suaminya tiba-tiba saja harus > "dibebani" untuk memelihara anak ini. Sayangnya, sang bayi kini menderita > leukemia . Dan ia memerlukan transfer sumsum tulang belakang segera. Ayah > kandungnya merupakan satu-satunya penyambung harapan hidupnya. Kami > berharap, jika si ayah kandung membaca berita ini, semoga ia bersedia > menghubungi Dr. Adely di RS Elisabeth." > > Berita pencarian orang ini membuat seluruh masyarakat gempar. Setiap orang > membicarakannya. Masalahnya adalah, apakah orang hitam ini berani muncul. > Padahal jelas ia akan menghadapi kesulitan besar. Jika ia berani muncul, ia > akan menghadapi masalah hukum dan ada kemungkinan merusak kehidupan rumah > tangganya sendiri. Jika ia tetap bersikeras untuk diam, ia sekali lagi > membuat dosa yang tak terampuni. > > Begitu berita ini keluar, tanggapan masyarakat begitu menggemparkan. Kotak > surat dan telepon Dr Adely bagaikan meledak, kebanjiran surat masuk dan > telepon, orang-orang terus bertanya siapakah wanita ini. Mereka ingin > bertemu dengannya, berharap dapat memberikan bantuan. > > Tetapi Martha menolak semua perhatian mereka, ia tak ingin mengungkapkan > identitas sebenarnya, lebih tak ingin lagi identitas Monika sebagai anak > hasil pemerkosaan terungkap. Saat itu juga seluruh media penuh dengan > diskusi tentang bagaimana cerita ini berakhir. "Jika orang hitam ini berani > muncul, akan bagaimanakah masyarakat kita sekarang menilainya? Akankah > menggunakan hukum yang berlaku untuk menghakiminya? Haruskah ia menerima > hukuman dan cacian untuk masa lalunya, ataukah ia harus menerima pujian > karena keberaniannya hari ini?" > > Surat kabar Wayeli menulis topik: "Bila Anda orang berkulit hitam itu, apa > tindakan yang Anda lakukan?" sebagai bahan diskusi. > > Bagian penjara setempat terus berupaya membantu Martha, memberikan laporan > terpidana hukuman pada tahun 1992 pada rumah sakit. Dikarenakan jumlah > orang berkulit hitam di kota ini hanya sedikit, maka dalam 10 tahun > terakhir ini juga hanya sedikit jumlah terhukum berkulit hitam. Apalagi, > sebagian telah bebas, dan tak semuanya karena tindak perkosaan. Martha dan > Peterson menghubungi beberapa orang ini. Begitu banyak terpidana waktu itu > yang bersungguh-sungguh dan antusias untuk memberikan petunjuk. Tapi > sayangnya, mereka semua bukanlah orang hitam yang memperkosanya waktu itu. > > Tak lama kemudian, kisah Martha menyebar ke seluruh rumah tahanan. Tak > sedikit terpidana yang tergerak karena kasih ibu ini, tak peduli mereka > berkulit hitam maupun berkulit putih, semua bersukarela mendaftar untuk > menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang, berharap dapat mendonorkannya > untuk Monika. Tapi tak satu pun pendonor yang memenuhi kriteria di antara > mereka. > > Berita pencarian ini mengharukan banyak orang. Tak sedikit orang yang > bersukarela untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang, untuk > mengetahui apakah dirinya memenuhi kriteria. Para sukarelawan semakin lama > semakin bertambah, di Wayeli timbullah wabah untuk mendonorkan sumsum > tulang belakang. Hal yang mengejutkan adalah kesediaan para sukarelawan ini > menyelamatkan banyak penderita leukimia lainnya. Sayang, Monika tidak > termasuk penderita yang beruntung. > > Martha dan Peterson menantikan dengan panik kemunculan si kulit hitam. > Akhirnya dua bulan telah lewat, orang ini tak muncul-muncul juga. Dengan > tidak tenang, mereka mulai berpikir, mungkin orang hitam itu telah > meninggal dunia. Mungkin ia telah meninggalkan jauh-jauh kampung > halamannya. Sudah sejak lama tak berada di Itali. Mungkin ia tak bersedia > merusak kehidupannya sendiri, tak ingin muncul. Tapi tak peduli > bagaimanapun, asalkan Monika hidup sehari lagi, mereka tak rela untuk > melepaskan harapan untuk mencari orang hitam itu. > > ****** > > Saat itu berita pencarian juga muncul di Napulese, memporak porandakan > perasaan seorang pengelola toko minuman keras berusia 30 tahun. Ia seorang > kulit hitam, bernama Ajili. > > 17 Mei 1992 waktu itu, ia memiliki lembaran tergelam, merupakan mimpi > terburuknya di malam berhujan itu. Ia adalah sang peran utama dalam kisah > ini. Tak seorangpun menyangka, Ajili yang sangat kaya raya itu, pernah > bekerja sebagai pencuci piring panggilan. Dikarenakan orang tuanya telah > meninggal sejak ia masih muda, ia yang tak pernah mengenyam dunia > pendidikan, terpaksa bekerja sejak dini. Ia yang begitu pandai dan cekatan, > bekerja dengan giat demi mendapatkan sedikit uang dan penghargaan dari > orang lain. Tapi sialnya, bosnya merupakan seorang rasialis, yang selalu > mendiskriminasikannya. Tak peduli segiat apa pun dirinya, selalu memukul > dan memakinya. > > 17 Mei 1992, merupakan ulang tahunnya ke 20, ia berencana untuk pulang > kerja lebih awal, merayakan hari ulang tahunnya. Siapa menyangka, di tengah > kesibukan ia memecahkan sebuah piring. Sang bos menahan kepalanya, > memaksanya untuk menelan pecahan piring. Ajili begitu marah dan memukul > sang bos, lalu berlari keluar meninggalkan restoran. > > Di tengah kemarahannya ia bertekad untuk membalas dendam pada si kulit > putih. Malam berhujan lebat, tiada seorang pun lewat, dan di parkiran ia > bertemu Martha. Untuk membalaskan dendamnya akibat pendiskriminasian, ia > pun memperkosa sang wanita yang tak berdosa ini. Tapi selesai melakukannya, > Ajili mulai panik dan ketakutan. Malam itu juga ia menggunakan uang ulang > tahunnya untuk membeli tiket KA menuju Napulese, meninggalkan kota ini. > > Di Napulese, ia bertemu keberuntungannya. Ajili mendapatkan pekerjaan > dengan lancar di restoran milik orang Amerika. Kedua pasangan Amerika ini > sangatlah mengagumi kemampuannya, dan menikahkannya dengan anak perempuan > mereka, Lina, dan pada akhirnya juga mempercayainya untuk mengelola toko > mereka. Beberapa tahun ini, ia yang begitu tangkas, tak hanya memajukan > bisnis toko minuman keras ini, ia juga memiliki 3 anak yang lucu. Di mata > pekerja lainnya dan seluruh anggota keluarga, Ajili merupakan bos yang > baik, suami yang baik, ayah yang baik. > > Tapi hati nuraninya tetap membuatnya tak melupakan dosa yang pernah dia > perbuat. Ia selalu memohon ampun pada Tuhan dan berharap Tuhan melindungi > wanita yang pernah dia perkosa, berharap ia selalu hidup damai dan tentram. > Tapi ia menyimpan rahasianya rapat-rapat, tak memberitahu seorang pun. > > Pagi hari itu, Ajili berkali-kali membolak-balik koran, ia terus > mempertimbangkan kemungkinan dirinyalah pelaku yang dimaksud. Sedikit pun > ia tak pernah membayangkan bahwa wanita malang itu mengandung anaknya, > bahkan beranggung jawab untuk memelihara dan menjaga anak yang awalnya > bukanlah miliknya. Hari itu, Ajili beberapa kali mencoba menghubungi nomor > telepon Dr Adely. Tapi setiap kali, belum sempat menekan habis tombol > telepon, ia telah menutupnya kembali. Hatinya terus bertentangan, bila ia > bersedia mengakui semuanya, setiap orang kelak akan mengetahui sisi > terburuknya ini, anak-anaknya tak akan lagi mencintainya, ia akan > kehilangan keluarganya yang bahagia dan istrinya yang cantik. Juga akan > kehilangan penghormatan masyarakat disekitarnya. Semua yang ia dapatkan > dengan ditukar kerja kerasnya bertahun-tahun. > > Malam itu, saat makan bersama, seluruh keluarga mendiskusikan kasus Martha. > Sang istri, Lina, berkata, "Aku sangat mengagumi Martha. Bila aku di > posisinya, aku tak akan memiliki keberanian untuk memelihara anak hasil > perkosaan hingga dewasa. Aku lebih mengagumi lagi suami Martha, ia sungguh > pria yang patut dihormati, tak disangka ia dapat menerima anak yang > demikian." > > Ajili termenung mendengarkan pendapat istrinya, dan tiba-tiba mengajukan > pertanyaan, "Kalau begitu, bagaimana kau memandang pelaku pemerkosaan itu?" > > "Sedikitpun aku tak akan memaafkannya! Waktu itu ia sudah membuat > kesalahan, kali ini juga hanya dapat meringkuk menyelingkupi dirinya > sendiri, ia benar-benar begitu rendah, begitu egois, begitu pengecut! Ia > benar-benar seorang pengecut!" > > Ajili mendengarkan saja, tak berani mengatakan kenyataan pahit itu pada > istrinya. Malam itu, anaknya yang baru berusia 5 tahun begitu rewel tak > bersedia tidur. Untuk pertama kalinya Ajili kehilangan kesabaran dan > menamparnya. Sang anak sambil menangis berkata, "Kau ayah yang jahat, aku > tak mau peduli kamu lagi. Aku tak ingin kau menjadi ayahku!" > > Hati Ajili bagai terpukul keras mendengarnya. Ia pun memeluk erat-erat sang > anak, "Maaf, ayah tak akan memukulmu lagi. Ayah yang salah, maafkan ayah > ya..." > > Ajili pun tiba-tiba menangis. Sang anak terkejut dibuatnya, dan buru-buru > berkata, "Baiklah, kumaafkan. Guru TK-ku bilang, anak yang baik adalah anak > yang mau memperbaiki kesalahannya." > > Malam itu, Ajili tak dapat terlelap, merasa dirinya bagaikan terbakar dalam > neraka. Di matanya selalu terbayang kejadian malam berhujan deras itu, dan > bayangan sang wanita. Ia sepertinya dapat mendengarkan jerit tangis wanita > itu. Tak henti-hentinya ia bertanya pada dirinya sendiri: "Aku ini > sebenarnya orang baik, atau orang jahat?" Mendengar bunyi napas istrinya > yang teratur, ia pun kehilangan seluruh keberaniannya untuk berdiri. > > Hari kedua, ia hampir tak tahan lagi rasanya. Istrinya mulai merasakan > adanya ketidakberesan pada dirinya, memberikan perhatian padanya dengan > menanyakan apakah ada masalah. Dan ia mencari alasan tak enak badan untuk > meloloskan dirinya. Pagi hari di jam kerja, sang karyawan menyapanya ramah. > "Selamat pagi, manager!" Mendengar itu, wajahnya tiba-tiba menjadi pucat > pasi, dalam hati dipenuhi perasaan tak menentu dan rasa malu. Ia merasa > dirinya hampir menjadi gila. Setelah berhari-hari memeriksa hati nuraninya, > Ajili tak dapat terus diam , ia pun menelepon Dr Adely. Ia berusaha sekuat > tenaga menjaga suaranya supaya tetap tenang, "Aku ingin mengetahui keadaan > anak malang itu." > > Dr Adely memberitahunya, keadaan sang anak sangat parah. Dr Adely > menambahkan kalimat terakhirnya, "Entah apa ia dapat menunggu hari > kemunculan ayah kandungnya." > > Kalimat terakhir ini menyentuh hati Ajili yang paling dalam, suatu perasaan > hangat sebagai ayah mengalir keluar, bagaimanapun anak itu juga merupakan > darah dagingnya sendiri! Ia pun membulatkan tekad untuk menolong Monika. > > Ia telah melakukan kesalahan sekali, tak boleh kembali membiarkan dirinya > meneruskan kesalahan ini. Malam hari itu juga, ia pun mengobarkan > keberaniannya sendiri untuk memberitahu sang istri tentang segala > rahasianya. Terakhir ia berkata, "Sangatlah mungkin bahwa aku adalah ayah > Monika! Aku harus menyelamatkannya!" > > Lina sangat terkejut, marah dan terluka, mendengar semuanya, ia berteriak > marah, "Kau PEMBOHONG!" > > Malam itu juga ia membawa ketiga anak mereka, dan lari pulang ke rumah ayah > ibunya. Ketika ia memberitahu mereka tentang kisah Ajili, kemarahan > keduasuami-istri tersebut dengan segera mereda. > > Mereka adalah dua orang tua yang penuh pengalaman hidup, mereka > menasehatinya, "Memang benar, kita patut marah terhadap segala tingkah laku > Ajili di masa lalu. Tapi pernahkah kamu memikirkan, ia dapat mengulurkan > dirinya untuk muncul, perlu berapa banyak keberanian besar. Hal ini > membuktikan bahwa hati nuraninya belum sepenuhnya terkubur. > > "Apakah kau mengharapkan seorang suami yang pernah melakukan kesalahan tapi > kini bersedia memperbaiki dirinya? Ataukah seorang suami yang selamanya > menyimpan kebusukan ini didalamnya?" > > Mendengar ini Lina terpekur beberapa lama. Pagi di hari kedua, ia langsung > kembali ke sisi Ajili, menatap mata sang suami yang dipenuhi penderitaan. > Lina menetapkan hatinya, "Ajili, pergilah menemui Dr Adely! Aku akan > menemanimu!" > > ****** > > 3 Februari 2003, suami istri Ajili, menghubungi Dr Adely. 8 Februari, > pasangan tersebut tiba di RS Elisabeth, demi untuk pemeriksaan DNA Ajili. > Hasilnya Ajili benar-benar adalah ayah Monika. > > Ketika Martha mengetahui bahwa orang hitam pemerkosanya itu pada akhirnya > berani memunculkan dirinya, ia pun tak dapat menahan air matanya. Sepuluh > tahun ini ia terus memendam dendam kesumat terhadap Ajili, namun saat ini > ia hanya dipenuhi perasaan terharu. > > Segalanya berlangsung dalam keheningan. Demi untuk melindungi pasangan > Ajili dan pasangan Martha, pihak RS tidak mengungkapkan dengan jelas > identitas mereka semua pada media, dan juga tak bersedia mengungkapkan > keadaan sebenarnya, mereka hanya memberitahu media bahwa ayah kandung > Monika telah ditemukan. > > Berita ini mengejutkan seluruh pemerhati kabar ini. Mereka terus-menerus > menelepon, menulis surat pada Dr Adely, memohon untuk dapat menyampaikan > kemarahan mereka pada orang hitam ini, sekaligus penghormatan mereka > padanya. Mereka berpendapat, "Barangkali ia pernah melakukan tindak pidana, > namun saat ini ia seorang pahlawan!" > > 10 Februari, kedua pasangan Martha dan suami memohon untuk dapat bertemu > muka langsung dengan Ajili. Awalnya Ajili tak berani untuk menemui mereka, > namun pada permohonan ketiga Martha, ia pun menyetujui hal ini. > > 18 Februari, dalam ruang tertutup dan dirahasiakan di RS, Martha bertemu > langsung dengan Ajili. Saat ia melihat Martha, langkah kakinya terasa > sangatlah berat, raut wajahnya memucat. Martha dan suaminya melangkah maju, > dan mereka bersama-sama saling menjabat tangan masing-masing, sesaat ketiga > orang tersebut diam, tanpa suara menahan kepedihan, sebelum akhirnya air > mata mereka bersama-sama mengalir. Lalu, dengan suara serak Ajili > sesenggukkan, "Maaf... mohon maafkan aku! Kalimat ini telah terpendam dalam > hatiku selama 10 tahun. Hari ini akhirnya aku mendapat kesempatan untuk > mengatakannya langsung kepadamu." > > "Terima kasih, kau dapat muncul. Semoga Tuhan memberkati, sehingga sumsum > tulang belakangmu dapat menolong putriku?" > > 19 Februari, dokter melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang Ajili. > Untungnya, sumsum tulang belakangnya sangat cocok bagi Monika! Sang dokter > berkata dengan antusias, "Ini suatu keajaiban!" > > 22 Februari 2003, setelah sekian lama, harapan masyarakat luas akhirnya > terkabulkan. Monika menerima sumsum tulang belakang Ajili, dan pada > akhirnya Monika telah melewati masa kritis. Satu minggu kemudian, Monika > boleh keluar RS dengan sehat walafiat. > > Martha dan suami memaafkan Ajili sepenuhnya, dan secara khusus mengundang > Ajili dan Dr Adely datang ke rumah mereka untuk merayakannya. Tapi hari itu > Ajili tidak hadir, ia memohon Dr Adely membawa suratnya bagi mereka. Dalam > suratnya ia menyatakan penyesalan dan rasa malunya. "Aku tak ingin kembali > mengganggu kehidupan tenang kalian. Aku berharap Monika berbahagia selalu > hidup dan tumbuh dewasa bersama kalian. Bila kalian menghadapi kesulitan > bagaimanapun, harap hubungi aku. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk > membantu kalian! Saat ini juga, aku sangat berterima kasih pada Monika, > dari dalam lubuk hatiku terdalam, dialah yang memberiku kesempatan untuk > menebus dosa. Dialah yang membuatku dapat memiliki kehidupan yang > benar-benar bahagia di saparuh usiaku selanjutnya. Ini adalah hadiah yang > ia berikan padaku!" > > sumber: suaramerdeka > --------------------------- Perusahaan Anda Ingin mengadakan InHouse Training dengan biaya yg kompetitif & berkualitas ? Hubungi email : [EMAIL PROTECTED] --------------------------- Sebelum reply, tolong hapus file message sebelumnya agar tidak berat, PERHATIKAN: besar Attachment maksimal 200 Kb dan perhatikan juga dengan baik judul subyek - Bersama menuju puncak (Sukses saja tidak cukup, tp perlu Kebermaknaan - ATURAN MAIN - Dilarang mengirim info kerja dan SPAM: MLM, propaganda isu SARA, Iklan/promosi selain program personality Development. KESEPAKATAN BERSAMA 1. Bila aturan main dilanggar, maka seluruh member akan memberikan peringatan & teguran langsung via JAPRI ke alamat e-mail pelanggar. 2. Moto kami adalah memperbaiki kepribadian secara bersama-sama dgn saling menegur/mengingatkan bila ada yang berbuat salah bukan menghakimi Agar Inbox tidak penuh: [EMAIL PROTECTED] Ajaklah rekan anda untuk bergabung dlm milis ini: [EMAIL PROTECTED] Milis ini hasil kerja sama dgn: [EMAIL PROTECTED] Salam Sunawan Moderator Yahoo! Groups Links --< Indonesia Friendster Club Powered by www.DhewaStudio.com >-- Gabung, Keluar, Mode Pengiriman: [EMAIL PROTECTED] Database Warga Wismamas: http://www.wismamas.tk Yahoo! Groups Links
|
