>
> Cerita ini cukup panjang namun adalah kisah nyata yang sangat
mengharukan.
Sorry buat yg udah pernah baca....
>
> Hidup Memaafkan
>
> Martha (35) adalah wanita yang menjadi pembicaraan semua orang. Ia dan
> suaminya, Peterson, adalah warga kulit putih, tetapi di antara kedua
> anaknya, ternyata terdapat satu yang berkulit hitam. Hal ini menarik
> perhatian warga di sekitarnya. Tapi, Martha hanya tersenyum dan berkata
> bahwa neneknya berkulit hitam dan kakeknya berkulit putih.
>
> Perkataan Martha itu membuat anaknya, Monika, mendapat kemungkinan
seperti
> itu, berkulit hitam. Dan begitulah, meski banyak warga yang tak puas,
tapi
> mereka seperti menemukan jawaban atas kasus Martha.
>
> Musim gugur 2002, Monika yang berkulit hitam terus menerus mengalami
demam
> tinggi. Terakhir, Dr Adely memvonis Monika menderita leukimia. Harapan
> satu-satunya hanyalah mencari pendonor sumsum tulang belakang yang
paling
> cocok untuknya. Dokter menjelaskan, di antara mereka yang ada hubungan
> darah dengan Monika merupakan pedonor tercocok. Ia lalu meminta seluruh
> anggota keluarga Martha berkumpul untuk menjalani pemeriksaan sumsum
tulang
> belakang.
>
> Raut wajah Martha berubah. Tapi tetap saja seluruh keluarga menjalani
> pemeriksaan. Hasilnya tak satu pun yang cocok. Dokter memberi tahu,
dalam
> kasus seperti Monika ini, mencari pedonor yang cocok sangatlah kecil
> kemungkinannya. Sekarang hanya ada satu cara yang paling manjur, Martha
dan
> suaminya harus "membuat" anak lagi, dan mendonorkan darah anak itu
untuk
> Monika.
>
> Mendengar usul ini Martha tiba-tiba menjadi panik, dan berkata tanpa
suara,
> "Tuhan... kenapa menjadi begini?" Ia menatap suaminya, sinar matanya
> dipenuhi ketakutan dan putus asa. Peterson mengerutkan keningnya,
berpikir.
> Dr Adely berusaha menjelaskan pada mereka, saat itu banyak orang yang
> menggunakan cara ini untuk menolong nyawa para penderita leukemia. Lagi
> pula, cara itu tidak berpengaruh sama sekali terhadap bayi pendonor.
Tapi,
> bukan itu yang dipikirkan Martha. Akhirnya, masih dengan nada bingung,
dia
> memandang Dr Adely, " Biarkan kami memikirkannya dahulu."
>
> Malam kedua, Dr Adely tengah bergiliran tugas, ketika pintu ruangannya
di
> dorong, dan dia melihat pasangan suami-istri tersebut. Martha menggigit
> bibirnya keras,suaminya Peterson, menggenggam tangannya, dan berkata
serius
> pada Adely, "Kami ingin memberitahumu sesuatu, Tapi harap Anda berjanji
> untuk menjaga rahasia ini, rahasia kami suami-istri selama beberapa
tahun
> ini." Dokter Adely yang membaca betapa tegangnya pasangan itu, segera
> mengangguk.
>
> Peterson bercerita. "Sepuluh tahun lalu, Mei 1992. Waktu itu anak kami
yang
> pertama, Eleana, telah berusia 2 tahun. Martha bekerja di sebuah
restoran
> fast food. Setiap hari pukul 10 malam baru ia pulang kerja. Malam itu,
> turun hujan lebat. Seluruh jalanan telah tiada orang satu pun. Saat
melalui
> suatu parkiran yang tak terpakai lagi, Martha mendengar suara langkah
kaki,
> mengikutinya. Dengan ketakutan, Martha memutar kepala untuk melihat,
> seorang remaja berkulit hitam tengah berdiri di belakang tubuhnya.
Orang
> tersebut menggunakan sepotong kayu, memukulnya hingga pingsan, dan
> memperkosanya.
>
> "Saat tersadar, Martha segera berlari, pulang. Malam telah pukul 1
malam.
> Waktu itu aku bagaikan gila, ke luar rumah mencari orang hitam itu
untuk
> membuat perhitungan. Tapi telah tak ada bayangan orang satu pun. Malam
itu
> kami hanya dapat memeluk kepala masing-masing, menangis menahan
kepedihan.
> Langit sepertinya runtuh!"
>
> Peterson mengisak, dan ia melanjutkan ceritanya dengan tersendat. "Tak
lama
> kemudian Martha mendapati dirinya hamil. Kami merasa sangat ketakutan,
> kuatir bila anak yang dia kandung merupakan milik orang hitam tersebut.
> Martha berencana untuk menggugurkannya, tapi aku masih mengharapkan
> keberuntungan, mungkin anak yang dikandungnya adalah bayi kami, cinta
kami.
> Begitulah, kami ketakutan menunggu beberapa bulan.
>
> "Maret 1993, Martha melahirkan bayi perempuan, dan ia berkulit hitam.
Kami
> begitu putus asa, pernah terpikir untuk mengirim sang anak ke panti
asuhan.
> Tapi mendengar suara tangisnya, kami sungguh tak tega. Terlebih lagi,
> bagaimanapun Martha telah mengandungnya, ia juga merupakan sebuah
nyawa.
> Apalagi, aku dan Martha merupakan seorang beragama  yang taat. pada
> akhirnya kami memutuskan untuk memeliharanya, dan memberinya nama
Monika."
>
> Mata Dr Adely juga basah. Pada akhirnya ia memahami kenapa bagi kedua
suami
> istri tersebut kembali mengandung anak merupakan hal yang sangat
> mengkuatirkan. Ia berpikir sambil mengangguk-anggukkan kepala, berkata,
> "Jika demikian, kalian melahirkan 10 anak sekali pun akan sulit untuk
> mendapatkan donor yang cocok untuk Monika!"
>
> Ia terdiam, memandangai Martha. "Kelihatannya, kalian harus mencari
ayah
> kandung Monika. Barangkali sumsum tulangnya, atau sumsum tulang
belakang
> anaknya ada yang cocok untuk Monika. Tetapi, apakah kalian bersedia
> membiarkan ia kembali muncul dalam kehidupan kalian?"
>
> "Demi anak ini, aku bersedia berlapang dada memaafkannya. Bila ia
bersedia
> muncul menyelamatkannya. Aku tak akan memperkarakannya," kata Martha.
>
> Dr Adely merasa terkejut akan kedalaman cinta sang ibu.
>
> ******
>
> November 2002. Di koran Wayeli termuat berita pencarian seperti ini: 17
Mei
> 1992, di parkiran mobil ke-5 Wayeli, seorang wanita kulit putih
diperkosa
> oleh seorang kulit hitam. Tak lama kemudian, sang wanita melahirkan
seorang
> bayi perempuan berkulit hitam. Ia dan suaminya tiba-tiba saja harus
> "dibebani" untuk memelihara anak ini. Sayangnya, sang bayi kini
menderita
> leukemia . Dan ia memerlukan transfer sumsum tulang belakang segera.
Ayah
> kandungnya merupakan satu-satunya penyambung harapan hidupnya. Kami
> berharap, jika si ayah kandung membaca berita ini, semoga ia bersedia
> menghubungi Dr. Adely di RS Elisabeth."
>
> Berita pencarian orang ini membuat seluruh masyarakat gempar. Setiap
orang
> membicarakannya. Masalahnya adalah, apakah orang hitam ini berani
muncul.
> Padahal jelas ia akan menghadapi kesulitan besar. Jika ia berani
muncul,
ia
> akan menghadapi masalah hukum dan ada kemungkinan merusak kehidupan
rumah
> tangganya sendiri. Jika ia tetap bersikeras untuk diam, ia sekali lagi
> membuat dosa yang tak terampuni.
>
> Begitu berita ini keluar, tanggapan masyarakat begitu menggemparkan.
Kotak
> surat dan telepon Dr Adely bagaikan meledak, kebanjiran surat masuk dan
> telepon, orang-orang terus bertanya siapakah wanita ini. Mereka ingin
> bertemu dengannya, berharap dapat memberikan bantuan.
>
> Tetapi Martha menolak semua perhatian mereka, ia tak ingin
mengungkapkan
> identitas sebenarnya, lebih tak ingin lagi identitas Monika sebagai
anak
> hasil pemerkosaan terungkap. Saat itu juga seluruh media penuh dengan
> diskusi tentang bagaimana cerita ini berakhir. "Jika orang hitam ini
berani
> muncul, akan bagaimanakah masyarakat kita sekarang menilainya? Akankah
> menggunakan hukum yang berlaku untuk menghakiminya? Haruskah ia
menerima
> hukuman dan cacian untuk masa lalunya, ataukah ia harus menerima pujian
> karena keberaniannya hari ini?"
>
> Surat kabar Wayeli menulis topik: "Bila Anda orang berkulit hitam itu,
apa
> tindakan yang Anda lakukan?" sebagai bahan diskusi.
>
> Bagian penjara setempat terus berupaya membantu Martha, memberikan
laporan
> terpidana hukuman pada tahun 1992 pada rumah sakit. Dikarenakan jumlah
> orang berkulit hitam di kota ini hanya sedikit, maka dalam 10 tahun
> terakhir ini juga hanya sedikit jumlah terhukum berkulit hitam.
Apalagi,
> sebagian telah bebas, dan tak semuanya karena tindak perkosaan. Martha
dan
> Peterson menghubungi beberapa orang ini. Begitu banyak terpidana waktu
itu
> yang bersungguh-sungguh dan antusias untuk memberikan petunjuk. Tapi
> sayangnya, mereka semua bukanlah orang hitam yang memperkosanya waktu
itu.
>
> Tak lama kemudian, kisah Martha menyebar ke seluruh rumah tahanan. Tak
> sedikit terpidana yang tergerak karena kasih ibu ini, tak peduli mereka
> berkulit hitam maupun berkulit putih, semua bersukarela mendaftar untuk
> menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang, berharap dapat
mendonorkannya
> untuk Monika. Tapi tak satu pun pendonor yang memenuhi kriteria di
antara
> mereka.
>
> Berita pencarian ini mengharukan banyak orang. Tak sedikit orang yang
> bersukarela untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang, untuk
> mengetahui apakah dirinya memenuhi kriteria. Para sukarelawan semakin
lama
> semakin bertambah, di Wayeli timbullah wabah untuk mendonorkan sumsum
> tulang belakang. Hal yang mengejutkan adalah kesediaan para sukarelawan
ini
> menyelamatkan banyak penderita leukimia lainnya. Sayang, Monika tidak
> termasuk penderita yang beruntung.
>
> Martha dan Peterson menantikan dengan panik kemunculan si kulit hitam.
> Akhirnya dua bulan telah lewat, orang ini tak muncul-muncul juga.
Dengan
> tidak tenang, mereka mulai berpikir, mungkin orang hitam itu telah
> meninggal dunia. Mungkin ia telah meninggalkan jauh-jauh kampung
> halamannya. Sudah sejak lama tak berada di Itali. Mungkin ia tak
bersedia
> merusak kehidupannya sendiri, tak ingin muncul. Tapi tak peduli
> bagaimanapun, asalkan Monika hidup sehari lagi, mereka tak rela untuk
> melepaskan harapan untuk mencari orang hitam itu.
>
> ******
>
> Saat itu berita pencarian juga muncul di Napulese, memporak porandakan
> perasaan seorang pengelola toko minuman keras berusia 30 tahun. Ia
seorang
> kulit hitam, bernama Ajili.
>
> 17 Mei 1992 waktu itu, ia memiliki lembaran tergelam, merupakan mimpi
> terburuknya di malam berhujan itu. Ia adalah sang peran utama dalam
kisah
> ini. Tak seorangpun menyangka, Ajili yang sangat kaya raya itu, pernah
> bekerja sebagai pencuci piring panggilan. Dikarenakan orang tuanya
telah
> meninggal sejak ia masih muda, ia yang tak pernah mengenyam dunia
> pendidikan, terpaksa bekerja sejak dini. Ia yang begitu pandai dan
cekatan,
> bekerja dengan giat demi mendapatkan sedikit uang dan penghargaan dari
> orang lain. Tapi sialnya, bosnya merupakan seorang rasialis, yang
selalu
> mendiskriminasikannya. Tak peduli segiat apa pun dirinya, selalu
memukul
> dan memakinya.
>
> 17 Mei 1992, merupakan ulang tahunnya ke 20, ia berencana untuk pulang
> kerja lebih awal, merayakan hari ulang tahunnya. Siapa menyangka, di
tengah
> kesibukan ia memecahkan sebuah piring. Sang bos menahan kepalanya,
> memaksanya untuk menelan pecahan piring. Ajili begitu marah dan memukul
> sang bos, lalu berlari keluar meninggalkan restoran.
>
> Di tengah kemarahannya ia bertekad untuk membalas dendam pada si kulit
> putih. Malam berhujan lebat, tiada seorang pun lewat, dan di parkiran
ia
> bertemu Martha. Untuk membalaskan dendamnya akibat pendiskriminasian,
ia
> pun memperkosa sang wanita yang tak berdosa ini. Tapi selesai
melakukannya,
> Ajili mulai panik dan ketakutan. Malam itu juga ia menggunakan uang
ulang
> tahunnya untuk membeli tiket KA menuju Napulese, meninggalkan kota ini.
>
> Di Napulese, ia bertemu keberuntungannya. Ajili mendapatkan pekerjaan
> dengan lancar di restoran milik orang Amerika. Kedua pasangan Amerika
ini
> sangatlah mengagumi kemampuannya, dan menikahkannya dengan anak
perempuan
> mereka, Lina, dan pada akhirnya juga mempercayainya untuk mengelola
toko
> mereka. Beberapa tahun ini, ia yang begitu tangkas, tak hanya memajukan
> bisnis toko minuman keras ini, ia juga memiliki 3 anak yang lucu. Di
mata
> pekerja lainnya dan seluruh anggota keluarga, Ajili merupakan bos yang
> baik, suami yang baik, ayah yang baik.
>
> Tapi hati nuraninya tetap membuatnya tak melupakan dosa yang pernah dia
> perbuat. Ia selalu memohon ampun pada Tuhan dan berharap Tuhan
melindungi
> wanita yang pernah dia perkosa, berharap ia selalu hidup damai dan
tentram.
> Tapi ia menyimpan rahasianya rapat-rapat, tak memberitahu seorang pun.
>
> Pagi hari itu, Ajili berkali-kali membolak-balik koran, ia terus
> mempertimbangkan kemungkinan dirinyalah pelaku yang dimaksud. Sedikit
pun
> ia tak pernah membayangkan bahwa wanita malang itu mengandung anaknya,
> bahkan beranggung jawab untuk memelihara dan menjaga anak yang awalnya
> bukanlah miliknya. Hari itu, Ajili beberapa kali mencoba menghubungi
nomor
> telepon Dr Adely. Tapi setiap kali, belum sempat menekan habis tombol
> telepon, ia telah menutupnya kembali. Hatinya terus bertentangan, bila
ia
> bersedia mengakui semuanya, setiap orang kelak akan mengetahui sisi
> terburuknya ini, anak-anaknya tak akan lagi mencintainya, ia akan
> kehilangan keluarganya yang bahagia dan istrinya yang cantik. Juga akan
> kehilangan penghormatan masyarakat disekitarnya. Semua yang ia dapatkan
> dengan ditukar kerja kerasnya bertahun-tahun.
>
> Malam itu, saat makan bersama, seluruh keluarga mendiskusikan kasus
Martha.
> Sang istri, Lina, berkata, "Aku sangat mengagumi Martha. Bila aku di
> posisinya, aku tak akan memiliki keberanian untuk memelihara anak hasil
> perkosaan hingga dewasa. Aku lebih mengagumi lagi suami Martha, ia
sungguh
> pria yang patut dihormati, tak disangka ia dapat menerima anak yang
> demikian."
>
> Ajili termenung mendengarkan pendapat istrinya, dan tiba-tiba
mengajukan
> pertanyaan, "Kalau begitu, bagaimana kau memandang pelaku pemerkosaan
itu?"
>
> "Sedikitpun aku tak akan memaafkannya! Waktu itu ia sudah membuat
> kesalahan, kali ini juga hanya dapat meringkuk menyelingkupi dirinya
> sendiri, ia benar-benar begitu rendah, begitu egois, begitu pengecut!
Ia
> benar-benar seorang pengecut!"
>
> Ajili mendengarkan saja, tak berani mengatakan kenyataan pahit itu pada
> istrinya. Malam itu, anaknya yang baru berusia 5 tahun begitu rewel tak
> bersedia tidur. Untuk pertama kalinya Ajili kehilangan kesabaran dan
> menamparnya. Sang anak sambil menangis berkata, "Kau ayah yang jahat,
aku
> tak mau peduli kamu lagi. Aku tak ingin kau menjadi ayahku!"
>
> Hati Ajili bagai terpukul keras mendengarnya. Ia pun memeluk erat-erat
sang
> anak, "Maaf, ayah tak akan memukulmu lagi. Ayah yang salah, maafkan
ayah
> ya..."
>
> Ajili pun tiba-tiba menangis. Sang anak terkejut dibuatnya, dan
buru-buru
> berkata, "Baiklah, kumaafkan. Guru TK-ku bilang, anak yang baik adalah
anak
> yang mau memperbaiki kesalahannya."
>
> Malam itu, Ajili tak dapat terlelap, merasa dirinya bagaikan terbakar
dalam
> neraka. Di matanya selalu terbayang kejadian malam berhujan deras itu,
dan
> bayangan sang wanita. Ia sepertinya dapat mendengarkan jerit tangis
wanita
> itu. Tak henti-hentinya ia bertanya pada dirinya sendiri: "Aku ini
> sebenarnya orang baik, atau orang jahat?" Mendengar bunyi napas
istrinya
> yang teratur, ia pun kehilangan seluruh keberaniannya untuk berdiri.
>
> Hari kedua, ia hampir tak tahan lagi rasanya. Istrinya mulai merasakan
> adanya ketidakberesan pada dirinya, memberikan perhatian padanya dengan
> menanyakan apakah ada masalah. Dan ia mencari alasan tak enak badan
untuk
> meloloskan dirinya. Pagi hari di jam kerja, sang karyawan menyapanya
ramah.
> "Selamat pagi, manager!" Mendengar itu, wajahnya tiba-tiba menjadi
pucat
> pasi, dalam hati dipenuhi perasaan tak menentu dan rasa malu. Ia merasa
> dirinya hampir menjadi gila. Setelah berhari-hari memeriksa hati
nuraninya,
> Ajili tak dapat terus diam , ia pun menelepon Dr Adely. Ia berusaha
sekuat
> tenaga menjaga suaranya supaya tetap tenang, "Aku ingin mengetahui
keadaan
> anak malang itu."
>
> Dr Adely memberitahunya, keadaan sang anak sangat parah. Dr Adely
> menambahkan kalimat terakhirnya, "Entah apa ia dapat menunggu hari
> kemunculan ayah kandungnya."
>
> Kalimat terakhir ini menyentuh hati Ajili yang paling dalam, suatu
perasaan
> hangat sebagai ayah mengalir keluar, bagaimanapun anak itu juga
merupakan
> darah dagingnya sendiri! Ia pun membulatkan tekad untuk menolong
Monika.
>
> Ia telah melakukan kesalahan sekali, tak boleh kembali membiarkan
dirinya
> meneruskan kesalahan ini. Malam hari itu juga, ia pun mengobarkan
> keberaniannya sendiri untuk memberitahu sang istri tentang segala
> rahasianya. Terakhir ia berkata, "Sangatlah mungkin bahwa aku adalah
ayah
> Monika! Aku harus menyelamatkannya!"
>
> Lina sangat terkejut, marah dan terluka, mendengar semuanya, ia
berteriak
> marah, "Kau PEMBOHONG!"
>
> Malam itu juga ia membawa ketiga anak mereka, dan lari pulang ke rumah
ayah
> ibunya. Ketika ia memberitahu mereka tentang kisah Ajili, kemarahan
> keduasuami-istri tersebut dengan segera mereda.
>
> Mereka adalah dua orang tua yang penuh pengalaman hidup, mereka
> menasehatinya, "Memang benar, kita patut marah terhadap segala tingkah
laku
> Ajili di masa lalu. Tapi pernahkah kamu memikirkan, ia dapat
mengulurkan
> dirinya untuk muncul, perlu berapa banyak keberanian besar. Hal ini
> membuktikan bahwa hati nuraninya belum sepenuhnya terkubur.
>
> "Apakah kau mengharapkan seorang suami yang pernah melakukan kesalahan
tapi
> kini bersedia memperbaiki dirinya? Ataukah seorang suami yang selamanya
> menyimpan kebusukan ini didalamnya?"
>
> Mendengar ini Lina terpekur beberapa lama. Pagi di hari kedua, ia
langsung
> kembali ke sisi Ajili, menatap mata sang suami yang dipenuhi
penderitaan.
> Lina menetapkan hatinya, "Ajili, pergilah menemui Dr Adely! Aku akan
> menemanimu!"
>
> ******
>
> 3 Februari 2003, suami istri Ajili, menghubungi Dr Adely. 8 Februari,
> pasangan tersebut tiba di RS Elisabeth, demi untuk pemeriksaan DNA
Ajili.
> Hasilnya Ajili benar-benar adalah ayah Monika.
>
> Ketika Martha mengetahui bahwa orang hitam pemerkosanya itu pada
akhirnya
> berani memunculkan dirinya, ia pun tak dapat menahan air matanya.
Sepuluh
> tahun ini ia terus memendam dendam kesumat terhadap Ajili, namun saat
ini
> ia hanya dipenuhi perasaan terharu.
>
> Segalanya berlangsung dalam keheningan. Demi untuk melindungi pasangan
> Ajili dan pasangan Martha, pihak RS tidak mengungkapkan dengan jelas
> identitas mereka semua pada media, dan juga tak bersedia mengungkapkan
> keadaan sebenarnya, mereka hanya memberitahu media bahwa ayah kandung
> Monika telah ditemukan.
>
> Berita ini mengejutkan seluruh pemerhati kabar ini. Mereka
terus-menerus
> menelepon, menulis surat pada Dr Adely, memohon untuk dapat
menyampaikan
> kemarahan mereka pada orang hitam ini, sekaligus penghormatan mereka
> padanya. Mereka berpendapat, "Barangkali ia pernah melakukan tindak
pidana,
> namun saat ini ia seorang pahlawan!"
>
> 10 Februari, kedua pasangan Martha dan suami memohon untuk dapat
bertemu
> muka langsung dengan Ajili. Awalnya Ajili tak berani untuk menemui
mereka,
> namun pada permohonan ketiga Martha, ia pun menyetujui hal ini.
>
> 18 Februari, dalam ruang tertutup dan dirahasiakan di RS, Martha
bertemu
> langsung dengan Ajili. Saat ia melihat Martha, langkah kakinya terasa
> sangatlah berat, raut wajahnya memucat. Martha dan suaminya melangkah
maju,
> dan mereka bersama-sama saling menjabat tangan masing-masing, sesaat
ketiga
> orang tersebut diam, tanpa suara menahan kepedihan, sebelum akhirnya
air
> mata mereka bersama-sama mengalir. Lalu, dengan suara serak Ajili
> sesenggukkan, "Maaf... mohon maafkan aku! Kalimat ini telah terpendam
dalam
> hatiku selama 10 tahun. Hari ini akhirnya aku mendapat kesempatan untuk
> mengatakannya langsung kepadamu."
>
> "Terima kasih, kau dapat muncul. Semoga Tuhan memberkati, sehingga
sumsum
> tulang belakangmu dapat menolong putriku?"
>
> 19 Februari, dokter melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang Ajili.
> Untungnya, sumsum tulang belakangnya sangat cocok bagi Monika! Sang
dokter
> berkata dengan antusias, "Ini suatu keajaiban!"
>
> 22 Februari 2003, setelah sekian lama, harapan masyarakat luas akhirnya
> terkabulkan. Monika menerima sumsum tulang belakang Ajili, dan pada
> akhirnya Monika telah melewati masa kritis. Satu minggu kemudian,
Monika
> boleh keluar RS dengan sehat walafiat.
>
> Martha dan suami memaafkan Ajili sepenuhnya, dan secara khusus
mengundang
> Ajili dan Dr Adely datang ke rumah mereka untuk merayakannya. Tapi hari
itu
> Ajili tidak hadir, ia memohon Dr Adely membawa suratnya bagi mereka.
Dalam
> suratnya ia menyatakan penyesalan dan rasa malunya. "Aku tak ingin
kembali
> mengganggu kehidupan tenang kalian. Aku berharap Monika berbahagia
selalu
> hidup dan tumbuh dewasa bersama kalian. Bila kalian menghadapi
kesulitan
> bagaimanapun, harap hubungi aku. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk
> membantu kalian! Saat ini juga, aku sangat berterima kasih pada Monika,
> dari dalam lubuk hatiku terdalam, dialah yang memberiku kesempatan
untuk
> menebus dosa. Dialah yang membuatku dapat memiliki kehidupan yang
> benar-benar bahagia di saparuh usiaku selanjutnya. Ini adalah hadiah
yang
> ia berikan padaku!"
>
> sumber: suaramerdeka
>







---------------------------
Perusahaan Anda Ingin mengadakan InHouse Training dengan biaya yg
kompetitif & berkualitas ?
Hubungi email : [EMAIL PROTECTED]
---------------------------
Sebelum reply, tolong hapus file message sebelumnya agar tidak berat,
PERHATIKAN: besar Attachment maksimal 200 Kb dan perhatikan juga dengan
baik judul subyek

- Bersama menuju puncak (Sukses saja tidak cukup, tp perlu Kebermaknaan -

ATURAN MAIN
- Dilarang mengirim info kerja dan SPAM: MLM, propaganda isu SARA,
Iklan/promosi selain program personality Development.

KESEPAKATAN BERSAMA
1. Bila aturan main dilanggar, maka seluruh member akan memberikan
   peringatan & teguran langsung via JAPRI ke alamat e-mail pelanggar.
2. Moto kami adalah memperbaiki kepribadian secara bersama-sama dgn
   saling menegur/mengingatkan bila ada yang berbuat salah bukan
menghakimi

Agar Inbox tidak penuh:
[EMAIL PROTECTED]

Ajaklah rekan anda untuk bergabung dlm milis ini:
[EMAIL PROTECTED]

Milis ini hasil kerja sama dgn:
[EMAIL PROTECTED]

Salam

Sunawan
Moderator
Yahoo! Groups Links








--< Indonesia Friendster Club Powered by www.DhewaStudio.com >--





Gabung, Keluar, Mode Pengiriman: [EMAIL PROTECTED]
                       
Database Warga Wismamas: http://www.wismamas.tk




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke