Sbg Informasi bagi pengendara..
Regards,
Heri Supriadi
Head of Outsourcing Operation
SCS-AGiT
Wisma Standard Chartered Bank, 23nd Fl.
Jln. Jendral Sudirman, Kav.
33A, Jakarta
10220,
Indonesia
Phone
: +62 (21) 572 1177 ext. 7086
Mobile
: +62 (81) 314610188
Facsimile : +62 (21) 572 1178 / 572 1170
email: [EMAIL PROTECTED]
URL: www.ag-it.com
From: Blue Heaven
[mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: 29 Agustus 2005 12:36
To: Mailing List JPC; Mailing List
IPL; Mailing List 405; Mailing List 505; Mailing List 504; Mailing List 406
Subject: [Club_405] Fw:
[Horneterz] Mengisap Balik Minyak Konsumen (OOT)
Sent: Monday, August 29,
2005 8:59 AM
Subject: [Horneterz]
Mengisap Balik Minyak Konsumen (OOT)
Mengisap Balik Minyak Konsumen
PEMILIK kendaraan bermotor jangan
bosan menerima peringatan: "Awas kejahatan pompa bensin!" Pasalnya,
kecurangan diduga terus saja dilakukan para pemilik stasiun pengisian bahan
bakar umum (SPBU) atau biasa disebut pompa bensin, terutama di Jakarta.
Dua pekan lalu, Kepolisian Daerah Metro Jaya menangkap lima pemilik dan karyawan dari empat SPBU di
tiga wilayah. Keempat SPBU itu, menurut polisi, terletak di Jalan Mataram I,
Kebayoran Baru, Jalan Suryo, Blok S (Jakarta Selatan), Jalan Kampung Bandan
(Jakarta Utara), dan Jalan Bekasi Timur Raya (Jakarta Timur).
Menurut Direktur Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Syahrul
Mamma, keempat SPBU itu menggunakan metode penipuan yang sama dan baru.
"Mereka punya alat yang memungkinkan memompa balik bensin yang mengalir dari
dispenser ke tangki mobil konsumen," kata Syahrul.
Alat yang ditempelkan pada pipa dispenser itu tidak mempengaruhi angka pada
mesin pengukur jumlah bahan bakar minyak yang dikeluarkan. Jadi, jumlah minyak
yang mengalir pada dispenser sesuai dengan angka yang tercantum di mesin
penghitung. Tapi, setelah minyak sampai di ujung pipa dispenser, sebagian di
antaranya diisap balik ke penampungan SPBU.
Dengan alat itu, menurut Syahrul, mereka mampu menyedot kembali 2 sampai 2,3
liter dari 20 liter bahan bakar berbagai jenis yang dibeli konsumen.
"Mereka diduga sudah melakukan kejahatan ini satu sampai dua tahun,"
ujar Syahrul. Bayangkan, jika tiap SPBU itu menjual 4.000 liter minyak per
hari, berarti mereka mencuri sekitar 400 liter minyak saban hari.
Selama ini, aksi kejahatan itu lolos dari pemeriksaan tim terpadu Pertamina.
Tim terpadu biasanya hanya menemukan kecurangan berupa pengurangan takaran atau
pengoplosan suatu jenis minyak dengan jenis minyak lain. Pencurian dengan
mengisap balik minyak yang mengalir ke tangki konsumen baru ditemukan kali ini.
Kejahatan itu, kata Syahrul, terungkap melalui informasi dari masyarakat yang
curiga. Polisi kemudian melakukan pemeriksaan mendadak di SPBU Jalan Kampung
Bandan, Kamis 14 Juli. Ternyata mereka menemukan alat yang menyatu pada enam
saluran pengisi minyak dari mesin pompa ke tangki kendaraan konsumen. Polisi
langsung menahan pemilik SPBU itu, yang berinisial ES, berikut barang bukti
kejahatannya.
Dari hasil pemeriksaan ES, polisi kemudian menggeledah SPBU di Jalan Bekasi
Timur Raya. Di sana
ditemukan empat alat penipuan serupa. Keruan saja, pemiliknya dan seorang
pegawainya ditangkap. Dari pemeriksaan berantai itu, polisi berhasil melacak
dua SPBU lain yang melakukan kejahatan yang sama.
Syahrul belum bersedia mengungkapkan jati diri para tersangka. Ia juga enggan
memperlihatkan alat kejahatan mereka atau memperjelas mekanisme kerjanya
karena, katanya, jajarannya masih melakukan penyelidikan. "Kami yakin,
masih banyak SPBU yang menggunakan alat ini, dan kami masih mencari
pembuatnya," kata seorang reserse, anak buah Syahrul.
Dari keempat SPBU curang itu, hanya yang terletak di Jalan Mataram yang
ditutup. Tiga lainnya dibiarkan beroperasi setelah mendapat peringatan keras,
untuk menghindari kelangkaan BBM. Mereka sudah berjanji tidak akan mengulangi
perbuatannya.
Ketika Gatra mendatangi SPBU di
Jalan Mataram, para pegawainya enggan memberi komentar. Mereka mengatakan sudah
dua pekan tutup. Tapi mereka mengaku tak tahu alasan penutupan itu. Mereka
sendiri mengaku tak pernah melakukan kecurangan apa pun.
Polisi berkali-kali mengungkap kasus kejahatan SPBU. Yang paling jamak adalah
menjual oplosan bahan bakar, terutama campuran solar dan minyak tanah. SPBU
nakal biasa membeli minyak campuran itu dari pengoplos besar. Salah satu tempat
pengoplosan besar itu dibekuk polisi, Kamis pekan lalu, di Jalan Angkasa Motor
Pool, Gunung Sahari Selatan, Jakarta Pusat.
Polisi menahan dua pelaku pengoplosan dan menyita 50 ton solar, sembilan ton
minyak tanah, dan tujuh unit mobil tangki. Menurut Syahrul Mamma, para
pengoplos menampung solar dan minyak tanah dari para pengecer. Lalu kedua jenis
minyak itu dicampur dan dijual ke sejumlah SPBU nakal dengan harga solar --yang
lebih mahal dari minyak tanah.
SPBU jahat tentu tergiur membelinya karena harganya miring. Mereka lalu
menjualnya ke konsumen dengan harga solar yang wajar. Kerusakan mesin kendaraan
akibat minyak oplosan itu tentu tak mereka pikirkan.
Endang Sukendar
[Kriminalitas, Gatra Nomor 37 Beredar Senin, 25 Juli 2005]
http://www.gatra.com/2005-07-29/artikel.php?id=86757
Gabung, Keluar, Mode Pengiriman: [EMAIL PROTECTED]
Database Warga Wismamas: http://www.wismamas.tk
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|