Kayaknya ... bacanya harus waktu senggang dechh....
atau diprint trus...dibaca bareng ama keluarga dirumah !! :-)))
 
 
    Mengenal Formalin dan Bahayanya

      Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Di 
dalam formalin terkandung sekitar 37 persen formaldehid dalam air. 
      Biasanya ditambahkan metanol hingga 15 persen sebagai pengawet. Formalin 
dikenal sebagai bahan pembunuh hama (desinfektan) dan banyak digunakan dalam 
industri.

      Nama lain formalin : - Formol - Methylene aldehyde - Paraforin
      - Morbicid - Oxomethane - Polyoxymethylene glycols
      - Methanal - Formoform - Superlysoform
      - Formic aldehyde - Formalith - Tetraoxymethylene
      - Methyl oxide - Karsan - Trioxane
      - Oxymethylene - Methylene glycol

      Penggunaan formalin
      * Pembunuh kuman sehingga dimanfaatkan untuk pembersih : lantai, kapal, 
gudang dan pakaian
      * Pembasmi lalat dan berbagai serangga lain
      * Bahan pembuatan sutra buatan, zat pewarna, cermin kaca dan bahan peledak
      * Dalam dunia fotografi biasaya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin 
dan kertas
      * Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea
      * Bahan pembuatan produk parfum
      * Bahan pengawet produk kosmetika dan pengeras kuku
      * Pencegah korosi untuk sumur minyak
      * Bahan untuk insulasi busa
      * Bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood)
      * Dalam konsentrasi yag sangat kecil (<1 persen) digunakan sebagai 
pengawet untuk berbagai barang konsumen seperti pembersih rumah tangga, 
         cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, lilin 
dan karpet.

      Bahaya bila terpapar oleh formalin
      Bahaya utama
      Formalin sangat berbahaya jika terhirup, mengenai kulit dan tertelan. 
Akibat yang ditimbulkan dapat berupa : luka bakar pada kulit, iritasi pada 
saluran pernafasan, 
      reaksi alergi dan bahaya kanker pada manusia.

      Bahaya jangka pendek (akut)
      1. Bila terhirup
      * Iritasi pada hidung dan tenggorokan, gangguan pernafasan, rasa terbakar 
pada hidung dan tenggorokan serta batuk-batuk.
      * Kerusakan jaringan dan luka pada saluran pernafasan seperti radang 
paru, pembengkakan paru.
      * Tanda-tada lainnya meliputi bersin, radang tekak, radang tenggorokan, 
sakit dada, yang berlebihan, lelah, jantung berdebar, sakit kepala, mual dan 
muntah.
      * Pada konsentrasi yang sangat tinggi dapat menyebabkan kematian.

      2. Bila terkena kulit
      Apabila terkena kulit maka akan menimbulkan perubahan warna, yakni kulit 
menjadi merah, mengeras, mati rasa dan ada rasa terbakar.

      3. Bila terkena mata * Apabila terkena mata dapat menimbulkan iritasi 
mata sehingga mata memerah, rasanya sakit, gata-gatal, penglihatan kabur 
          dan mengeluarkan air mata.
          * Bila merupakan bahan berkonsentrasi tinggi maka formalin dapat 
menyebabkan pengeluaran air mata yang hebat dan terjadi kerusakan pada lensa 
mata.

      4. Bila tertelan
      * Apabila tertelan maka mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar, 
sakit menelan, mual, muntah dan diare, kemungkinan terjadi pendarahan , sakit 
perut yang hebat, 
         sakit kepala, hipotensi (tekanan darah rendah), kejang, tidak sadar 
hingga koma.
      * Selain itu juga dapat terjadi kerusakan hati, jantung, otak, limpa, 
pankreas, sistem susunan syaraf pusat dan ginjal.

      Bahaya jangka panjang (kronis)
      1. Bila terhirup
          Apabila terhirup dalam jangka lama maka akan menimbulkan sakit 
kepala, gangguan sakit kepala, gangguan pernafasan, batuk-batuk, radang selaput 
lendir hidung, mual, 
          mengantuk, luka pada ginjal dan sensitasi pada paru.
      * Efek neuropsikologis meliputi gangguan tidur, cepat marah, keseimbangan 
terganggu, kehilangan konsentrasi dan daya ingat berkurang.
      * Gangguan haid dan kemandulan pada perempuan
      * Kanker pada hidung, ronggga hidung, mulut, tenggorokan, paru dan otak.

      2. Bila terkena kulit
      Apabila terkena kulit, kulit terasa panas, mati rasa, gatal-gatal serta 
memerah, kerusakan pada jari tangan, pengerasan kulit dan kepekaan pada kulit, 
      dan terjadi radang kulit yang menimbulkan gelembung.

      3. Bila terkena mata
      Jika terkena mata, bahaya yang paling menonjol adalah terjadinya radang 
selaput mata.

      4. Bila tertelan
      Jika tertelan akan menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan, 
muntah-muntah dan kepala pusing, rasa terbakar pada tenggorokan, 
      penurunan suhu badan dan rasa gatal di dada.

      Tindakan Pencegahan:
      1. Terhirup * Untuk mencegah agar tidak terhirup gunakan alat pelindung 
pernafasan, seperti masker, kain atau alat lainnya yang dapat mencegah 
kemungkinan 
           masuknya formalin ke dalam hidung atau mulut.
           * Lengkapi sistem ventilasi dengan penghisap udara (exhaust fan) 
yang tahan ledakan.

      2. Terkena mata
      * Gunakan pelindung mata atau kacamata pengaman yang tahan terhadap 
percikan.
      * Sediakan kran air untuk mencuci mata di tempat kerja yang berguna 
apabila terjadi keadaan darurat.

      3. Terkena kulit
      * Gunakan pakaian pelindung bahan kimia yang cocok.
      * Gunakan sarung tangan yang tahan bahan kimia.

      4. Tertelan
      Hindari makan, minum dan merokok selama bekerja. Cuci tangan sebelum 
makan.

      Tindakan pertolongan pertama
      1. Bila terhirup
          Jika aman memasuki daerah paparan, pindahkan penderita ke tempat yang 
aman. Bila perlu, gunakan masker berkatup atau peralatan sejenis untuk 
melakukan pernafasan 
          buatan. Segera hubungi dokter.

      2. Bila terkena kulit
          Lepaskan pakaian, perhiasan dan sepatu yang terkena formalin. Cuci 
kulit selama 15-20 menit dengan sabun atau deterjen lunak dan air yang banyak 
dan dipastikan 
          tidak ada lagi bahan yang tersisa di kulit. Pada bagian yang 
terbakar, lindungi luka dengan pakaian yag kering, steril dan longgar. Bila 
perlu, segera hubungi dokter.

      3. Bila terkena mata
          Bilas mata dengan air mengalir yang cukup banyak sambil mata 
dikedip-kedipkan. Pastikan tidak ada lagi sisa formalin di mata. Aliri mata 
dengan larutan dengan larutan 
          garam dapur 0,9 persen (seujung sendok teh garam dapur dilarutkan 
dalam segelas air) secara terus-menerus sampai penderita siap dibawa ke rumah 
sakit. 
          Segera bawa ke dokter.

      4. Bila tertelan
           Bila diperlukan segera hubungi dokter atau dibawa ke rumah sakit.

      Cara penyimpanan formalin :
      * Jangan disimpan di lingkungan bertemperatur di bawah 15 0C.
      * Tempat penyimpanan harus terbuat dari baja tahan karat, alumunium 
murni, polietilen atau poliester yang dilapisi fiberglass.
      * Tempat penyimpanan tidak boleh terbuat dari baja biasa, tembaga, nikel 
atau campuran seng dengan permukaan yang tidak dilindungi/dilapisi.
      * Jangan menggunakan bahan alumunium bila temperatur lingkungan berada di 
atas 60 derajat Celsius.
--------------------------------------------------------------------------


      Mi, Lezat Bergizi tetapi Rawan Formalin! 
          
      Oleh Prof. DR. Made Astawan, Ahli Teknologi Pangan dan Gizi

      Mi basah rawan terhadap penambahan formalin dan boraks. Zat kimia ini 
dapat berdampak buruk bagi kesehatan.

      Sayangnya, kandungan formalin dan boraks hanya bisa diketahui melalui 
pemeriksaan laboratorium.
      
      Mi pertama kali dibuat dan berkembang di Cina. Teknologi pembuatan mi 
disebarkan oleh Marcopolo ke Italia, hingga ke seluruh daratan Eropa. Kini mi 
populer di seluruh 
      dunia, termasuk di Indonesia. Mi yang beredar di Indonesia terdiri dari 
empat jenis, yaitu mi mentah, mi basah, mi kering, dan mi instan. Keempat jenis 
tersebut mempunyal 
      pasar sendiri-sendiri, dengan jumlah permintaan yang semakin meningkat 
dari waktu ke waktu.
      
      Di Indonesia, mi digemari herbagai kalangan, mulai anak-anak hingga 
lanjut usia. Alasannya. sifat mi yang enak, praktis, dan mengenyangkan.

      Kandungan karbohidrat yang tinggi, menjadikan mi digunakan sebagai sumber 
karbohidrat pengganti nasi. Mi dapat diolah menjadi berbagai produk seperti mi 
baso, mi 
      goreng, soto mi, mi ayam, dan lain sebagainyaa.
      
      Seiring perkembangan teknologi dan semakin meningkatnya kesadaran orang 
akan gizi, sekarang ini mi tidak hanya dijadikan sebagai penyuplai energi, 
melainkan juga 
      sebagai sumber zat gizi lain. Berbagai vitamin dan mineral dapat 
difortifikasikan ke dalam mi. seperti yang sering kita jumpai pada pembuatan mi 
instan.

      Walaupun demikian, kecukupan zat gizi belum dapat dipenuhi hanya dengan 
mengandalkan sebungkus mi. Kombinasi dengan sayuran dan sumber protein perlu 
dilakukan 
      dalam upaya mendongkrak kelengkapan komposisi gizi ini.

      
      Nilai Gizi

       Diversifikasi konsumsi pangan terutama dimaksudkan untuk mengurangi 
ketergantungan masyarakat terhadap beras.
       Saat ini persediaan beras di Indonesia mulai menipis, seiring dengan 
bertambahnya jumlah penduduk dan semakin banyaknya lahan persawahan yang 
digunakan sebagai 
       pemukiman.
      
      Berdasarkan kandungan gizinya, mi merupakan bahan pangan yang berpotensi 
besar untuk dijadikan sebagai produk diversifikasi. Kandungan gizi mi sudah 
dapat mencukupi 
      sebagai pengganti beras.
      
      Sebungkus mi instan yang beratnya 75 gram (lengkap dengan minyak dan 
bumbu), serta ditambah dengan sayuran dan protein dari luar, dapat diandalkan 
untuk sarapan pagi. 
      Untuk makan siang, porsinya perlu dinaikkan menjadi dua bungkus.
      
      Terdapat beberapa kelemahan dalam produk-produk mi. Umumnya mi sedikit 
sekali mengandung serat (dietary fiber) serta vitamin B dan E. Komposisi bahan 
mi instan 
      belakangan ini sudah semakin komplet. Beberapa merek mi instan telah 
dilengkapi dengan serat, sedikit sayuran, dan irisan daging kering, serta 
vitamin B dan E. Namun, kita 
      tetap saja perlu menambahkan bahan-bahan lain dari luar, terutama sayuran 
dan sumber protein, agar nilai gizinya menjadi semakin baik.
      
      Murah, Meski Berbahaya

     Sayangnya, tingkat pengetahuan yang rendah mengenai bahan pengawet 
merupakan faktor utama penyebab penggunaan formalin dan boraks pada mi.
     Beberapa survei menunjukkan, alasan produsen menggunakan formalin dan 
boraks sebagai bahan pengawet karena daya awet dan mutu mi yang dihasilkan 
menjadi lebih 
     bagus, serta murah harganya, tanpa peduli bahaya yang dapat ditimbulkan.
      
     Hal tersebut ditunjang oleh perilaku konsumen yang cenderung untuk membeli 
makanan yang harganya murah, tanpa mengindahkan kualitas. Dengan demikian, 
     penggunaan   formalin dan boraks pada mi dianggap hal biasa. Sulitnya 
membedakan biasa dan mi yang dibuat dengan penambahan formalin dan boraks, juga 
menjadi salah 
     satu faktor pendorong perilaku konsumen tersebut.

      Deteksi formalin dan boraks secara akurat hanya dapat dilakukan di 
laboratorium dengan menggunakan bahan-bahan kimia, yaitu melalui uji formalin 
dan uji boraks.
      
      Untuk itu, perlu dilakukan upaya peningkatan kesadaran dan pengetahuan 
bagi produsen dan konsumen tentang bahaya pemakaian bahan kimia yang bukan 
termasuk 
      kategori bahan tambahan pangan. Selain itu, diperlukan sikap pemerintah 
yang lebih tegas dalam melarang penggunaan kedua jenis pengawet tersebut pada 
produk pangan.

      Bisa Menimbulkan Keracunan & Kematian

      Mi basah digunakan untuk produk makanan seperti mi baso, mi soto bogor, 
mi goreng, ataupun pada pembuatan makanan camilan. Kadar air mi basah tergolong 
tinggi, 
      sehingga daya awetnya rendah.
      Penyimpanan mi basah pada suhu kamar selama 40 jam menyebabkan tumbuhnya 
kapang.
      
      Untuk itu, dalam pembuatan mi basah diperlukan bahan pengawet agar mi 
bisa bertahan lebih lama. Mungkin karena faktor ketidaktahuan banyak produsen 
yang 
      menggunakan formalin atau boraks sebagai pengawet. Selain memberikan daya 
awet, kedua bahan tersebut juga murah harganya dan dapat memperbaiki kualitas 
mi.

      Menurut beberapa produsen, penggunaan boraks pada pembuatan mi akan 
menghasilkan tekstur yang lebih kenyal. Sementara itu, penggunaan formalin akan 
menghasilkan 
      mi yang lebih awet, yaitu dapat disimpan hingga 4 hari.

      Laporan Badan POM tahun 2002 menunjukkan bahwa dari 29 sampel mi basah 
yang dijual di pasar dan supermarket Jawa Barat, ditemukan 2 sampel (6,9 
persen) 
       mengandung boraks, 1 sampel (3,45 persen) mengandung formalin, sedangkan 
22 sampel (75,8 persen) mengandung formalin dan boraks. Hanya empat sampel yang 
      dinyatakan aman dari formalin dan borak.

      Isu penggunaan formalin dan boraks tentu saja sangat meresahkan 
masyarakat. Kedua bahan tersebut jelas-jelas bukan termasuk kategori bahan 
tambahan pangan (food 
      additives), sehingga sangat dilarang penggunaannya pada pangan apa pun. 
Kedua bahan tersebut dilarang penggunaannya karena bersifat racun terhadap 
konsumennya.
      
      Menurut Winarno dan Rahayu (1994), pemakaian formalin pada makanan dapat 
menyebabkan keracunan pada tubuh manusia. Gejala yang biasa timbut antara lain 
sukar 
      menelan, sakit perut akut disertai muntah-muntah, mencret berdarah, 
timbulnya depresi susunan saraf, atau gangguan peredaran darah.
      
      Konsumsi formalin pada dosis sangat tinggi dapat mengakibatkan konvulsi 
(kejang-kejang), haematuri (kencing darah), dan haimatomesis (muntah darah) 
yang berakhir 
      dengan kematian Injeksi formalin dengan dosis 100 gram dapat 
mengakibatkan kematian dalam waktu 3 jam.
      
      Boraks juga dapat menimbulkan efek racun pada manusia, tetapi mekanisme 
toksisitasnya berbeda dengan formalin. Toksisitas boraks yang terkandung di 
dalam makanan 
      tidak langsung dirasakan oleh konsumen. Boraks yang terdapat dalam 
makanan akan diserap oleh tubuh dan disimpan secara kumulatif dalam hati, otak, 
atau testis (buah 
      zakar), sehingga dosis boraks dalam tubuh menjadi tinggi (Winarno dan 
Rahayu, 1994).

      Pada dosis cukup tinggi, boraks dalam tubuh akan menyebabkan timbulnya 
gejala pusing-pusing, muntah, mencret, dan kram perut. Bagi anak kecil dan 
bayi, bila dosis dalam 
      tubuhnya mencapai 5 gram atau lebih, akan menyebabkan kematian. Pada 
orang dewasa, kematian akan terjadi jika dosisnya telah mencapai 10 - 20 g atau 
lebih.


--------------------------------------------------------------------------

      Bahaya di Balik Gurihnya Ikan Asin

      Menikmati sajian nasi putih ditambah sambal terasi dan lalapan segar 
terasa kurang lengkap tanpa ikan asin. Dengan kekayaan laut seperti Indonesia, 
aneka jenis ikan asin dapat diperoleh      
      dengan mudah, dari teri, tongkol, jambal hingga cumi.

      Karena harganya relatif terjangkau, bahan makanan ini sering digunakan 
menyiasati keterbatasan anggaran rumah tangga. Cara pengolahannya pun tergolong 
mudah dan dapat diolah jadi aneka 
       jenis masakan.

      Proses produksi bahan makanan juga tidak terlalu rumit dan hanya 
menggunakan teknologi tradisional. Para pengasin biasanya memperoleh ikan dari 
tempat pelelangan ikan di pelabuhan 
      setempat. Jika hasil tangkapan ikan melimpah, setiap pengasin bisa 
memproduksi beberapa ton ikan asin per hari.

      Usai dibersihkan, ikan-ikan dengan jenis sama lalu dimasukkan ke dalam 
tempayan berisi larutan garam. Takarannya, satu karung garam untuk setiap drum 
ikan. Perendaman bisa 12 jam hingga 
      semalam suntuk.

      Setelah larutan garam meresap, ikan kemudian dijemur di bawah sinar 
matahari. Ikan yang telah diasinkan lalu dikemas dan dijual kepada para 
pengepul.

      Karena jalur pemasaran dikuasai pengepul, para pengasin mengaku tidak 
bisa menentukan harga jual ikan mereka. ?Jadi, kadang malah nombok, hasil 
penjualan tidak bisa menutupi biaya 
      produksi,? tutur Ny Ratini (33), pengasin asal Indramayu.

      Jika proses penjemuran kurang sempurna, bahan makanan akan mudah 
ditumbuhi jamur. Bahan makanan itu pun jadi mudah penyok dan hancur, terutama 
apabila cara pengemasannya tidak rapi 
      dan harus dikirim ke luar kota. Akibatnya, ikan asin itu pun tidak laku 
di pasaran.

      Karena cara produksinya masih manual, pengeringan ikan ini sangat 
tergantung dari cuaca. Kalau musim hujan, pengeringan bisa berhari-hari. Begitu 
air hujan turun, para pekerja tergopoh-
      gopoh menutupi ikan-ikan yang tengah dijemur itu dengan plastik agar 
tidak basah. ?Hujan memang menghambat proses penjemuran ikan,? kata Ny Ratini 
saat ditemui di lokasi pengasinan di 
     Muara Angke, Jakarta Utara.

      Maka, belakangan banyak pengasin berulah nakal demi meraup untung. Mereka 
sengaja membubuhkan formalin, bahan pengawet bukan untuk makanan agar ikan 
tidak ditumbuhi jamur dan 
      lebih awet. Pemakaian formalin mempercepat pengeringan dan membuat 
tampilan fisik tidak cepat rusak.

      Dulu hanya garam

      Menurut penuturan H Suwandi (42), pengasin asal Cirebon yang sehari-hari 
membuka usaha di Muara Angke, Jakarta Utara, semula mereka hanya memakai garam 
sebagai pengawet yang 
      kemudian dijemur.
      Formalin baru dipakai dalam pengolahan ikan sejak tiga tahun terakhir 
dari pergaulan dengan para pengolah di luar Muara Angke. Mereka membeli 
formalin di sejumlah toko kimia di daerah  
      Jembatan Lima, Jakarta.

      Dengan proses garam dan penjemuran, rendemen yang tersisa kurang dari 
separuh. Bila bahan bakunya seratus kilogram saat masih basah, setelah jadi 
ikan asin tinggal 40 persen atau 40 kg. 
      Kehilangan 60 kg itu sangat merugikan karena harga jual menggunakan 
satuan kilogram. Jika memakai formalin, rendemen bisa mencapai 75 persen. 
Selisih 35 persen itu yang dikejar para 
      pengolah.

      Pemakaian formalin ini juga atas permintaan pembeli. Soalnya, kalau pakai 
pengawet, ikan asin jadi kelihatan bagus, tidak lembek dan gampang rusak. Ikan 
yang dikasih pengawet juga tidak 
      bau,? kata Suwandi yang merintis usaha pengolahan ikan sejak puluhan 
tahun silam.

      Bagi pengasin, penggunaan bahan pengawet juga mempercepat proses 
pengeringan ikan.

      Di tengah ketatnya persaingan pasar, tuntutan para pelanggan ini tidak 
bisa diabaikan begitu saja. Karena itu, dalam beberapa tahun terakhir ini 
hampir 90 persen dari total jumlah pengasin di 
      daerah itu memakai bahan pengawet saat membuat ikan. ?Kalau tidak pakai 
formalin ya dagangannya tidak laku,? kata Suwandi.

      Menurut catatan Kompas, sarana pengolahan ikan asin Muara Angke berdiri 
sejak 1984 untuk memberi fasilitas kepada para pengolah dan agar produksi ikan 
bisa dikontrol kebersihannya. Di 
      areal seluas 4,5 hektar itu dibangun perumahan dua tingkat, cukup untuk 
dihuni 196 keluarga pengolah.

      Antara tahun 1984 hingga 1999, pengolah membayar sewa Rp 26.000 per 
bulan. Namun, sejak tahun 2000 lalu dinaikkan jadi Rp 50.000 per bulan. Luas 
tiap unit 5 x 6 meter persegi.

      Produksi ikan asin Muara Angke antara 30-40 ton per hari. Terdiri atas 
berbagai jenis ikan, antara lain jambal, teri, dan tembang. Mereka bergabung 
dalam Koperasi Mina Jaya yang tidak 
      menangani pemasaran dan produksi, melainkan hanya menyediakan fasilitas 
pengolahan secara kredit seperti garam atau uang untuk membeli bahan baku dari 
nelayan.

      
Waspadai formalin

       Pemakaian formalin dalam pengolahan ikan asin memang patut diwaspadai.
      Kasus peredaran ikan asin berformalin tidak hanya ditemukan di wilayah 
Jakarta dan sekitarnya, tetapi juga merambah ke sejumlah sentra pengolahan ikan 
asin di daerah lain, di antaranya 
      Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

      Berdasarkan uji laboratorium yang dilakukan Sucofindo terhadap sejumlah 
sampel ikan asin, seluruh sampel ternyata mengandung formalin dengan kadar 
beragam.

      Sampel ikan asin dari Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, memiliki kandungan 
formalin 2,36 miligram per kilogram. Sampel ikan asin dari Pasar Kebayoran 
Lama, Jakarta Selatan, dipastikan 
      mengandung formalin 29,22 mg/kg.

      Sampel ikan asin dari Pasar Kramat Jati mengandung formalin dengan kadar 
48,47 mg/kg. Bahkan, sampel ikan asin yang diambil dari Pasar Palmerah, Jakarta 
Barat, ternyata memiliki kadar 
      formalin tinggi, 107,98 mg/kg.

      Peredaran ikan asin di pasar modern, termasuk hipermarket, ternyata juga 
menunjukkan kandungan formalin 51 mg/kg.

      Hasil uji laboratorium itu setidaknya mencerminkan masih tingginya 
tingkat peredaran ikan asin berformalin di pasaran. Padahal, formalin sangat 
berbahaya bagi kesehatan manusia, di 
     antaranya tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit menelan, dan diare.

      Jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama, dapat menimbulkan iritasi pada 
saluran pernapasan dan kanker.

      Agar tidak salah memilih, konsumen perlu mewaspadai produk tertentu yang 
sering menggunakan formalin. Ikan asin yang mengandung formalin dapat diketahui 
lewat ciri-ciri antara lain, tidak 
     rusak sampai lebih dari sebulan pada suhu kamar (25 derajat Celsius), 
bersih cerah dan tidak berbau khas ikan asin.

      Sayangnya, ikan asin berformalin ini masih banyak dibeli lantaran 
ketidaktahuan konsumen. Sebagian pembeli juga ingin mendapatkan produk yang 
awet dengan harga murah.

     Konsumen jangan tidak segan-segan menanyakan kepada penjual pangan apakah 
produknya pakai formalin atau tidak,? kata Deputi Bidang Pengawasan Keamanan 
Pangan dan bahan Berbahaya 
     Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (Badan POM) Dedi Fardiaz.

      Seiring gencarnya sosialisasi bahaya formalin bagi keamanan bahan pangan, 
sebenarnya sebagian pengolah mulai memperbaiki kebersihan produksi.

      Adanya ancaman hukuman penjara dan denda hingga Rp 1 miliar bagi produsen 
yang membuat pangan berformalin juga membuat para pengolah berpikir seribu kali 
untuk memakai bahan 
      pengawet itu, termasuk para pengolah di Muara Angke.

      Sejak beberapa bulan ini sebagian besar pengolah telah menghentikan 
pemakaian formalin dalam memproduksi ikan asin karena takut kena hukuman. Kami 
sebelumnya tidak tahu kalau 
      ternyata formalin itu berbahaya bagi kesehatan,? kata Suwandi, pengolah 
ikan.

      
         Masalah baru

        Namun, masalah baru kini harus dihadapi para pengolah itu. Sejak tidak 
memakai bahan pengawet berbahaya itu, praktis omzet penjualan mereka merosot 
drastis hingga mencapai lebih dari 
       40 persen.
      Produk ikan asin yang telah dikirim pun banyak yang dikembalikan karena 
kondisi fisiknya telah hancur dan dianggap cacat produksi.

      Dengan tidak memakai bahan pengawet, ikan asin yang diproduksi memang 
jadi terlihat kusam dan lembek, hanya bertahan dua minggu dan bau ikan asinnya 
sangat menyengat. Proses 
      penjemuran jadi lebih lama dan rendemennya sangat sedikit sehingga berat 
bersih hasil olahan itu jadi jauh berkurang.

      Hasil olahan kami jadi kurang laku. Para pengepul tidak mau beli,? keluh 
Suwandi.

      Karena itu, penerapan sanksi hukum dinilai tidak menyelesaikan masalah 
dalam pengolahan ikan dan membuat jera para produsen yang nakal.

      Kami berharap adanya alternatif bahan pengawet yang aman digunakan dalam 
pengolahan ikan. Jika tidak, ini bisa mematikan usaha kami,? kata Suwandi 
menegaskan. (EVY Rachmawati)


--------------------------------------------------------------------------

      Tahu, Makanan Favorit yang Keamanannya Perlu Diwaspadai

      Oleh Eddy Setyo Mudjajanto dosen Departemen Gizi Masyarakat dan Sumber 
Daya Keluarga, Fakultas Pertanian, IPB
      
      PENINGKATAN kualitas sumber daya manusia salah satunya ditentukan oleh 
kualitas pangan yang dikonsumsinya.

      Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 menyatakan bahwa kualitas pangan yang 
dikonsumsi harus memenuhi beberapa kriteria, di antaranya adalah aman, bergizi, 
bermutu, dan dapat terjangkau 
      oleh daya beli masyarakat.

      AMAN yang dimaksud di sini mencakup bebas dari cemaran biologis, 
mikrobiologis, kimia, logam berat, dan cemaran lain yang dapat mengganggu, 
merugikan, dan membahayakan kesehatan 
     manusia. Salah satu makanan yang sering dikonsumsi adalah tahu.

      Tahu merupakan pangan yang populer di masyarakat Indonesia walaupun 
asalnya dari China. Kepopuleran tahu tidak hanya terbatas karena rasanya enak, 
tetapi juga mudah untuk membuatnya 
      dan dapat diolah menjadi berbagai bentuk masakan serta harganya murah.

      Selain itu, tahu merupakan salah satu makanan yang menyehatkan karena 
kandungan proteinnya yang tinggi serta mutunya setara dengan mutu protein 
hewani. Hal ini bisa dilihat dari nilai NPU 
       (net protein utility) tahu yang mencerminkan banyaknya protein yang 
dapat dimanfaatkan tubuh, yaitu sekitar 65 persen, di samping mempunyai daya 
cerna tinggi sekitar 85-98 persen.

      Oleh karena itu, tahu dapat dikonsumsi oleh segala lapisan masyarakat. 
Tahu juga mengandung zat gizi yang penting lainnya, seperti kemak, vitamin, dan 
mineral dalam jumlah yang cukup tinggi.

      Selain memiliki kelebihan, tahu juga mempunyai kelemahan, yaitu kandungan 
airnya yang tinggi sehingga mudah rusak karena mudah ditumbuhi mikroba. Untuk 
memperpanjang masa simpan, 
     kebanyakan industri tahu yang ada di Indonesia menambahkan pengawet. Bahan 
pengawet yang ditambahkan tidak terbatas pada pengawet yang diizinkan, tetapi 
banyak pengusaha yang nakal 
     dengan menambahkan formalin.

      Selain itu, banyak juga menambahkan pewarna methanyl yellow. Formalin dan 
metahnyl yellow merupakan bahan tambahan pangan (BTP) yang dilarang 
penggunaannya dalam makanan menurut 
      peraturan Menteri Kesehatan (Menkes) Nomor 1168/Menkes/PER/X/1999.

      Formalin

        Formalin adalah nama dagang larutan formaldehid dalam air dengan kadar 
30-40 persen. Di pasaran, formalin dapat diperoleh dalam bentuk sudah 
diencerkan, yaitu dengan kadar 
        formaldehidnya 40, 30, 20 dan 10 persen serta dalam bentuk tablet yang 
beratnya masing-masing sekitar 5 gram.
      
       Formalin merupakan bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia. 
Jika kandungannya dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan hampir 
semua zat di dalam sel sehingga 
       menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian sel yang menyebabkan 
keracunan pada tubuh.

      Selain itu, kandungan formalin yang tinggi dalam tubuh juga menyebabkan 
iritasi lambung, alergi, bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker) dan 
bersifat mutagen (menyebabkan perubahan 
     fungsi sel/jaringan), serta orang yang mengonsumsinya akan muntah, diare 
bercampur darah, kencing bercampur darah, dan kematian yang disebabkan adanya 
kegagalan peredaran darah. 
     Formalin bila menguap di udara, berupa gas yang tidak berwarna, dengan bau 
yang tajam menyesakkan, sehingga merangsang hidung, tenggorokan, dan mata.

      Pewarna makanan merupakan bahan tambahan pangan yang dapat memperbaiki 
penampakan makanan. Penambahan bahan pewarna makanan mempunyai beberapa tujuan, 
di antaranya adalah 
     memberi kesan menarik bagi konsumen, menyeragamkan dan menstabilkan warna, 
serta menutupi perubahan warna akibat proses pengolahan dan penyimpanan.

      Secara garis besar pewarna dibedakan menjadi dua, yaitu pewarna alami dan 
sintetik. Pewarna alami yang dikenal di antaranya adalah daun suji (warna 
hijau), daun jambu/daun jati (warna 
      merah), dan kunyit untuk pewarna kuning.

      Kelemahan pewarna alami ini adalah warnanya yang tidak homogen dan 
ketersediaannya yang terbatas, sedangkan kelebihannya adalah pewarna ini aman 
untuk dikonsumsi.

      Jenis yang lain adalah pewarna sintetik. Pewarna jenis ini mempunyai 
kelebihan, yaitu warnanya homogen dan penggunaannya sangat efisien karena hanya 
memerlukan jumlah yang sangat 
      sedikit. Akan tetapi, kekurangannya adalah jika pada saat proses 
terkontaminasi logam berat, pewarna jenis ini akan berbahaya.

      Selain itu, khusus untuk makanan dikenal pewarna khusus makanan (food 
grade). Padahal, di Indonesia, terutama industri kecil dan industri rumah 
tangga, makanan masih sangat banyak 
     menggunakan pewarna nonmakanan (pewarna untuk pembuatan cat dan tekstil).

      Pewarna pada tahu

     Penelitian yang dilakukan oleh Mena (1994) menemukan bahwa tahu yang 
beredar di pasar tradisional Jakarta 70 persen mengandung formalin dengan kadar 
4.08-85.69 ppm (part per million).
     Penelitian Tresniani (2003) di Kota Tangerang menunjukkan terdapat 20 
industri tahu yang terdiri dari 11 industri tahu kuning dan sembilan industri 
memproduksi tahu putih. Kandungan 
     formalin tahu berkisar dari 2-666 ppm, sedangkan kandungan methanyl 
yellow-nya hanya terdapat pada tiga jenis tahu yang semuanya diperoleh dari 
pasar, yaitu berkisar antara 3.41-10.25 
     ppm.

      Penelitian yang lain dilakukan oleh Melawati (2004) terhadap lima sampel 
tahu Sumedang yang diambil langsung dari produsen tahu yang terletak di Jalan 
Mayor Abdurrahman (tiga pabrik) dan 
     Jalan 11 April (dua pabrik) semuanya menunjukkan hasil negatif atau 
semuanya tidak mengandung formalin. Hal ini bisa dimengerti karena produsen 
tidak perlu menambahkan pengawet karena 
     tahu yang diproduksinya habis hanya dalam tempo satu hari.

      Tahu kalau tidak diawetkan hanya tahan disimpan selama dua hari bila 
direndam dalam air sumur atau air keran yang bersih.

      Beberapa cara pengawetan yang biasa dilakukan adalah:

        a.. Tahu direbus selama 30 hari kemudian direndam dalam air yang telah 
dimasak, daya simpannya bisa menjadi empat hari.
        b.. Tahu direbus, kemudian dibungkus plastik dan disimpan di lemari es, 
memiliki daya tahan delapan hari;
        c.. Tahu diawetkan dengan direndam natrium benzoat 1.000 ppm selama 24 
jam dapat mempertahankan kesegaran selama tiga hari pada suhu kamar;
        d.. Tahu direndam dalam vitamin C 0,05 persen selama empat jam dapat 
mempertahankan tahu selama dua hari pada suhu kamar;
        e.. Tahu direndam dalam asam sitrat 0,05 persen selama delapan jam akan 
segar selama dua hari pada suhu kamar.
     
 
 Tips memilih tahu

      Tahu yang mengandung formalin dapat ditandai dengan:

        a.. Semakin tinggi kandungan formalin, maka tercium bau obat yang 
semakin menyengat; sedangkan tahu tidak berformalin akan tercium bau protein 
kedelai yang khas;
        b.. Tahu yang berformalin mempunyai sifat membal (jika ditekan terasa 
sangat kenyal), sedangkan tahu tak berformalin jika ditekan akan hancur;
        c.. Tahu berformalin akan tahan lama, sedangkan yang tak berformalin 
paling hanya tahan satu dua hari.
        d.. Tahu yang memakai pewarna buatan dapat ditandai dengan cara melihat 
penampakannya. Jika tahu memakai pewarna buatan, warnanya sangat 
homogen/seragam dan penampakan 
             mengilap. Sedangkan jika memakai pewarna kunyit, warnanya 
cenderung lebih buram (tidak cerah). Jika kita potong tahunya, maka akan 
kelihatan bagian dalamnya warnanya tidak 
             homogen/seragam. Bahkan, ada sebagian masih berwarna putih.*

--------------------------------------------------------------------------

      Waspadai Adanya Makanan Berformalin di Pasaran!

                
        Konsumen harus teliti memilih bahan makanan agar terhindar dari bahan 
pengawet seperti formalin. Memilih tahu misalnya, bila berbau obat dan ditekan 
sangat kenyal, mungkin saja 
       mengandung formalin
          
      BEBERAPA waktu lalu Badan Pengawasan Obat dan Makanan menemukan 
empek-empek dan mi basah yang dijual di beberapa tempat di Sumatera Selatan 
ternyata mengandung formalin.

      Belum lama ini, Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Pemerintah Kota 
Jakarta Pusat juga mendapati puluhan ayam berformalin dijual di sejumlah pasar 
tradisional.

      Formalin sebenarnya adalah nama dagang dari larutan formadehid dalam air 
dengan kadar 30-40 persen. Di pasaran, formalin dapat diperoleh dalam bentuk 
sudah diencerkan dengan kadar 
      formaldehid 40, 30, 20, dan 10 persen, serta dalam bentuk tablet yang 
beratnya masing-masing lima gram. Formalin biasanya digunakan dokter forensik 
untuk mengawetkan mayat.

      Mengapa sampai para pedagang membubuhi formalin pada dagangannya?

      Mungkin mereka akan bungkam jika ditanya demikian. Namun, jika menilik 
formalin biasa digunakan untuk mengawetkan mayat, bisa diduga para pedagang 
ingin agar dagangannya tahan lama. 
      Setidaknya, jika barang tidak laku hari ini, ayam atau tahu yang telah 
diformalin bisa dijual kembali keesokan harinya dan tetap terlihat segar.

      Ini baru formalin pada bahan pangan. Masih ada sederet bahan tambahan 
atau kimia yang kerap dibubuhkan dalam makanan, seperti rhodamin B (pewarna 
merah), methanyl yellow (pewarna 
     kuning), boraks, kloramfenikol, dietilpilokarbonat, dulsin, dan 
nitrofurazon. Padahal, penggunaan bahan-bahan kimia makanan tersebut sudah 
dilarang menurut Peraturan Menteri Kesehatan 
     Nomor 1168/Menkes/PER/X/1999.


      Perhatikan cirinya

       Monitoring sebenarnya sudah dilakukan petugas terkait dengan mengambil 
sampel bahan secara acak ke sejumlah pedagang pasar tradisional atau pedagang 
jajanan sekolah. Pasar swalayan 
       juga menjadi sasaran inspeksi mendadak para petugas.
      Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan DKI Jakarta Edy Setiarto dan Kepala 
Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Pusat (Jakpus) Sigit Budiarto 
secara terpisah mengatakan, 
      pemerintah mempunyai program memonitoring para penjual makanan ternak di 
pasar-pasar tradisional. Bagi yang tertangkap basah menjual bahan makanan 
berformalin, misalnya ayam, akan 
      disita dan dibakar di tempat pembakaran. Di Jakpus misalnya, insenerator 
terletak di halaman kantor Kecamatan Senen.

      Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan 
Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Dedi Fardiaz mengatakan, BPOM bertugas 
menyurvei makanan olahan atau 
      jajanan. ?Hasil survei menjadi dasar untuk membina para pedagang,? 
katanya.

      BPOM antara lain menyurvei segala jenis makanan yang dikonsumsi anak 
sekolah. Di sini dilihat apakah makanan olahan atau jajanan tersebut mengandung 
pewarna berbahaya atau tidak. Ini, 
      menurut Dedi, penting dilakukan mengingat dampaknya terhadap kesehatan.

      Agar tidak tertipu produk berbahaya itu, masyarakat sebaiknya 
berhati-hati dan memerhatikan ciri-ciri serta perbedaan antara bahan pangan 
segar dan yang mengandung bahan pengawet.

      Kalau ayam berformalin, ciri yang paling mencolok adalah tidak ada lalat 
yang mau hinggap. Jika kadar formalinnya banyak, ayam agak sedikit tegang 
(kaku). Yang paling jelas adalah jika 
     daging ayam dimasukkan ke dalam reagen atau diuji laboratorium, nanti akan 
muncul gelembung gas,? papar anggota staf Seksi Kesehatan Hewan dan Kesehatan 
Masyarakat Feteriner Sudin 
     Peternakan dan Perikanan Jakpus Elita Gunarwati.

      Para pedagang biasanya membubuhi formalin dengan kadar minimal, sehingga 
konsumen pada umumnya bingung ketika harus membedakannya dengan bahan pangan 
segar. Pada daging ayam 
      misalnya, karena hanya dibubuhi sedikit formalin, bau obat tidak tercium.

      Untuk itu, masyarakat harus lebih waspada dan bisa memilih dengan baik. 
?Seperti yang dilakukan ibu-ibu di Pasar Benhil, Jakarta Pusat. Mereka biasanya 
memilih membeli ayam hidup dan 
      langsung dipotong di tempat,? kata Sigit.

      Konsumen juga harus berhati-hati jika menemui ayam atau daging yang 
dijual dengan harga relatif jauh lebih murah daripada harga pasaran. 
Kemungkinan bahan pangan ini mengandung bahan 
      pengawet berbahaya. Kalau membeli dalam jumlah banyak, misalnya untuk 
hajatan, pastikan pedagangnya layak dipercaya. Seberapa pun sempitnya waktu, 
sebaiknya Anda tetap meneliti ayam 
      atau daging yang dibeli satu per satu.

      Tahu berformalin

       Untuk mendeteksi tahu berformalin relatif lebih mudah.
      Dosen Departemen Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga Fakultas 
Pertanian IPB Eddy Setyo Mudjajanto dalam artikelnya menyebutkan, tahu 
berformalin akan membal atau kenyal jika 
      ditekan. Sedangkan tahu tanpa formalin biasanya mudah hancur.

      Tahu berformalin akan tahan lama, sedangkan tahu tanpa pengawet 
paling-paling hanya tahan dua hari. Tahu tanpa pengawet bisa lebih lama 
bertahan jika disimpan dalam kulkas, atau dibubuhi 
      pengawet yang dianjurkan. Bahan pengawet tersebut seperti vitamin C 0,05 
persen (tahu diberi pengawet selama empat jam), natrium benzoat 1.000 ppm 
(selama 24 jam), atau asam sitrat 
      0,05 persen (selama delapan jam).

      Memang orang yang mengonsumsi tahu, mi, bakso, atau ayam berformalin 
beberapa kali saja belum merasakan akibatnya. Efek dari bahan makanan 
berformalin baru terasa beberapa tahun 
      kemudian.

      Kandungan formalin yang tinggi akan meracuni tubuh, menyebabkan iritasi 
lambung, alergi, bersifat karsiogenik (menyebabkan kanker), dan bersifat 
mutagen (menyebabkan perubahan fungsi 
      sel). Dalam kadar yang sangat tinggi, hal ini bisa menyebabkan kegagalan 
peredaran darah yang bermuara pada kematian.

      Mengonsumsi makanan apa pun sebaiknya Anda memilih dengan cermat. Namun 
sebaliknya, jangan pula karena begitu khawatir, Anda menjadi takut secara 
berlebihan. Masih banyak pedagang 
      yang jujur dan bisa mempertanggungjawabkan barang dagangannya. (IVV)


--------------------------------------------------------------------------

      Bahaya Di Balik Piring-piring Cantik!
            
      Anda suka pakai peralatan makan dari melamin? Hati-hati, lo, karena 
dibalik sosoknya yang cantik serta harganya yang murah meriah, ada bahaya 
mengintai. Banyak yang mengandung formalin 
      berkadar tinggi yang membahayakan kesehatan.

      Bagaimana menyiasatinya agar aman?

      Beberapa waktu lalu, Yayasan Lembaga Konsumen (YLKI) melansir hasil 
penelitian mengenai kandungan formalin dalam wadah-wadah melamin. Penelitian 
yang dilakukan bulan September 
      2004 lalu itu membuahkan hasil yang mengejutkan. Peralatan makan dari 
melamin yang kini amat mudah ditemui di pasaran, banyak yang mengandung 
formalin dalam konsentrasi tinggi.

      Ilyani S. Andang, peneliti YLKI, menegaskan, penelitian dilakukan 
terhadap 10 merek produk melamin. "Enam merek diantaranya adalah produk impor, 
sedangkan sisanya adalah produk lokal," 
      ujarnya.

      Produk yang diambil contoh adalah peralatan makan yang dijual di 
pasar-pasar tradisional serta pertokoan yang dijual dengan harga murah. "Ada 
yang Rp 10.000 dapat tiga buah."
      
      Ilyani dan tim-nya sengaja memilih produk-produk yang beragam. "Ada yang 
dengan jelas mencantumkan merek, ada pula yang tidak," imbuhnya. Dari yang 
tidak ada mereknya ini, banyak yang 
       hanya mencantumkan nomor-nomor.

      "Enggak tahu juga apa artinya nomor-nomor tersebut. Tapi yang jelas 
produk-produk tersebut tidak bisa diketahui siapa yang memproduksi."


      Formalin Tinggi

       Contoh-contoh produk yang akan diteliti kemudian disiram dengan air 
panas.
      "Tetapi ternyata tidak cukup hanya disiram dengan air panas, karena 
formalin sifatnya cepat menguap, sehingga tidak bisa diteliti," urai Ilyani 
mengenai mekanisme penelitian yang 
       dilakukannya. Akhirnya, Ilyani memutuskan untuk merebus wadah-wadah 
tersebut, dengan pertimbangan, "Para ibu rumahtangga suka merebus peralatan 
makannya untuk sterilisasi, bukan?"

      Dari hasil air rebusan yang kemudian dibawa ke Laboratorium Kimia 
Universitas Indonesia, ini didapatkan hasil, bahwa kandungan formalin pada 
hampir semua produk yang diteliti, ternyata 
     sangat tinggi.

      "Nilainya beragam, antara 4,76 ­ 9,22 miligram per liter," ungkap Ilyani. 
Tingginya kandungan formalin ini sangat berbahaya jika sampai terkonsumsi. 
"Akumulasi formalin yang tinggi di dalam 
      tubuh bisa menyebabkan beragam penyakit. Bahkan penyakit kanker yang 
mematikan."

      Dari kenyataan tersebut, Ilyani khawatir, jika para konsumen tidak tahu 
cara yang tepat menggunakan piranti melamin tersebut, akan terkena dampak 
negatif dari tingginya kadar formalin yang 
      terdapat di sana.

      "Sebetulnya, asal tidak dipakai untuk makanan atau minuman panas, sih, 
aman-aman saja. Yang bahaya, kan, jika wadah-wadah ini dipakai untuk menaruh 
bahan makanan panas," paparnya, sembari mencontohkan, perangkat melamin kerap 
digunakan untuk membuat minuman teh, kopi, atau makanan berkuah panas.

      Di Sekitar Kita

      Apa itu formalin? Menurut Drs. Bambang Wispriyono, Apt, PhD, formalin 
adalah nama dagang larutan formaldehid dalam air dengan kandungan 30-40 persen.
      Di pasaran, formalin bisa ditemukan dalam bentuk yang sudah diencerkan, 
dengan kandungan formaldehid 10-40 persen. "Formalin sudah sangat umum 
digunakan dalam kehidupan sehari-hari. 
       Di industri makanan, misalnya, formalin dipakai untuk membuat makanan 
lebih awet. Misalnya saja untuk tahu, mi, atau bakso."

      Di industri kecantikan formalin biasa dipakai di produk cat kuku. "Di 
perikanan, formalin digunakan untuk menghilangkan bakteri yang biasa hidup di 
sisik ikan," ungkap Wakil Dekan I Fakultas 
     Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini.

      Menurut Bambang, formaldehid memiliki banyak fungsi, diantaranya sebagai 
pengawet, serta anti bakteri. "Formaldehid juga dipakai untuk reaksi kimia yang 
bisa membentuk ikatan polimer, 
      dimana salah satu hasilnya adalah menimbulkan warna produk menjadi lebih 
"muncul". Itu sebabnya formaldehid dipakai di industri plastik."

      Formalin masuk ke dalam tubuh manusia melalui dua jalan, yaitu mulut dan 
pernapasan. "Sebetulnya, sehari-hari kita menghirup formalin dari lingkungan 
sekitar." Kata Bambang, polusi yang 
      dihasilkan oleh asap knalpot dan pabrik, mengandung formalin yang mau 
tidak mau kita hirup, kemudian masuk ke dalam tubuh. "Begitupula dari asap 
rokok," tandasnya. Bahkan, air hujan yang 
       jatuh ke bumi pun sebetulnya mengandung formalin.  

      Sebabkan Kanker

      Di dalam tubuh, jika terakumulasi dalam jumlah besar, formalin merupakan 
bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia.
      Jika kandungan dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan 
hampir semua zat di dalam sel, sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan 
kematian sel yang menyebabkan 
     keracunan pada tubuh.

      Bambang menegaskan, akumulasi formalin yang tinggi di dalam tubuh akan 
menyebabkan berbagai keluhan, misalnya iritasi lambung dan kulit, muntah, 
diare, serta alergi. "Bahkan bisa 
      menyebabkan kanker, karena formalin bersifat karsinogenik."

      Khusus mengenai sifatnya yang karsinogenik, Bambang mengingatkan, 
formalin termasuk ke dalam karsinogenik golongan IIA. "Golongan I adalah yang 
sudah pasti menyebabkan kanker, 
      berdasarkan uji lengkap. Sedangkan golongan IIA baru taraf diduga, karena 
data hasil uji pada manusia masih kurang lengkap."

      Bambang menekankan, dalam jumlah sedikit, formalin akan larut dalam air, 
serta akan dibuang ke luar bersama cairan tubuh. "Itu sebabnya formalin sulit 
dideteksi keberadaannya di dalam 
      darah."

      Tetapi, Bambang mengingatkan, imunitas tubuh sangat berperan dalam 
berdampak tidaknya formalin di dalam tubuh. "Jika imunitas tubuh rendah, sangat 
mungkin formalin dengan kadar rendah 
      pun bisa berdampak buruk terhadap kesehatan," cetusnya.

      Menanggapi hasil penelitian YLKI, Bambang sedikit ragu melihat angkanya 
yang dinilainya sangat tinggi. "Apa betul, ya, angkanya segitu? Jika betul, itu 
berarti tinggi sekali, lo. Menurut IPCS 
      (International Programme on Chemical Safety), secara umum ambang batas 
aman di dalam tubuh adalah 1 miligram per liter," tandasnya. Perlu diketahui, 
IPCS adalah lembaga khusus dari tiga 
      organisasi di PBB, yaitu ILO, UNEP, serta WHO, yang mengkhususkan pada 
keselamatan penggunaan bahan kimiawi.

       Meskipun diakui berbahaya jika terakumulasi di dalam tubuh, namun 
Bambang melihat, sangatlah tidak bijaksana jika melarang penggunaan formalin. 
"Bagaimanapun, industri memerlukan 
       formalin," katanya. "Yang penting, kita harus bijaksana dalam 
menggunakannya, misalnya dengan cara tidak menggunakannya pada makanan."


      BAGAIMANA MENYIKAPINYA?

      1. Tenang

      Meskipun harus waspada, hendaknya jangan lantas menjadi paranoid, alias 
curigaan. "Tidak perlu lah sampai harus emoh memakai perangkat melamin sama 
sekali. Itu namanya paranoid. 
      Lagipula, tidak semua wadah melamin mengandung formalin berlebihan, 
bukan?" kata Bambang. Yang penting, menurutnya, konsumen harus jeli dengan 
memperhatikan kualitas barang serta 
      harganya. "Kalau produknya mudah sekali pudar atau kusam, itu berarti 
bahannya banyak yang terkikis. Produk seperti ini perlu dihindari."

      2. Dingin

      Jika tidak yakin akan kualitas produk melamin yang Anda punya, sebaiknya 
jangan gunakan piranti makan tersebut untuk makanan serta minuman panas. "Untuk 
makanan dingin, sih, aman-aman 
      saja, karena formalin yang sudah membentuk polimer sulit untuk terurai. 
Kalaupun terurai, pasti tidak 100 persen," papar Bambang.

      3. Cermat

      Dalam mengonsumsi bahan makanan, pilihlah yang tidak mengandung formalin. 
"Kalau tahu tahan sampai berhari-hari, diduga keras mengandung formalin," ujar 
Bambang. Menurut situs WHO 
      (lembaga PBB yang khusus menangani kesehatan), sebetulnya, makanan yang 
mengandung formalin memiliki bau yang khas, sehingga bisa dideteksi oleh orang 
awam sekalipun.

      4. Pengawet Lain

      Sebisanya, hindari penggunaan formalin sebagai bahan pengawet. "Jika bisa 
diganti dengan pengawet lain, itu lebih baik," saran Bambang.   (Tabloid Nova)


--------------------------------------------------------------------------

      Melamin, Piring Cantik yang Menyimpan Racun  

          
      Di banyak toko yang menjual perabot rumah tangga, peralatan makan dan 
minum yang disebut melamin relatif mudah ditemukan.

      Kalau sekitar tahun 1970-1980-an melamin masih terbatas warna maupun 
coraknya, maka kini desain melamin bisa bersaing dengan barang pecah belah 
lainnya.

      Produk pecah belah melamin begitu banyaknya sehingga barang ini tak hanya 
bisa dibeli di toko tertentu, tetapi juga di pasar tradisional sampai di 
pedagang kaki lima.

      Cikal bakal melamin dimulai tahun 1907 ketika ilmuwan kimia asal Belgia, 
Leo Hendrik Baekeland, berhasil menemukan plastik sintesis pertama yang disebut 
bakelite. Penemuan itu merupakan 
      salah satu peristiwa bersejarah keberhasilan teknologi kimia awal abad 
ke-20.

      Pada awalnya bakelite banyak digunakan sebagai bahan dasar pembuatan 
telepon generasi pertama. Namun, pada perkembangannya kemudian, hasil penemuan 
Baekeland dikembangkan dan 
      dimanfaatkan pula dalam industri peralatan rumah tangga. Salah satunya 
adalah sebagai bahan dasar peralatan makan, seperti sendok, garpu, piring, 
gelas, cangkir, mangkuk, sendok sup, dan 
      tempayan, seperti yang dihasilkan dari melamin.

      Peralatan makan yang terbuat dari melamin di satu sisi menawarkan banyak 
kelebihan. Selain desain warna yang beragam dan menarik, fungsinya juga lebih 
unggul dibanding peralatan makan 
       lain yang terbuat dari keramik, logam, atau kaca. Melamin lebih lebih 
ringan, kuat, dan tak mudah pecah. Harga peralatan melamin pun relatif lebih 
murah dibanding yang terbuat dari keramik 
      misalnya.

      Potensi formalin

     Dengan segala kelebihan melamin, tak heran kalau sebagian orang tidak 
menyadari bahwa melamin menyimpan potensi membahayakan bagi kesehatan manusia.
     Menurut pengajar pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam 
Institut Teknologi Bandung, Bambang Ariwahjoedi PhD, MSc, melamin berpotensi 
menghasilkan monomer beracun yang 
    disebut formaldehid (formalin).

      Selain berfungsi sebagai bahan pengawet, formaldehid juga digunakan untuk 
bahan baku melamin. Menurut Ariwahjoedi, melamin merupakan suatu polimer, yaitu 
hasil persenyawaan kimia 
     (polimerisasi) antara monomer formaldehid dan fenol. Apabila kedua monomer 
itu bergabung, maka sifat toxic dari formaldehid akan hilang karena telah 
terlebur menjadi satu senyawa, yakni 
     melamin.

      Berdasarkan kerja sama penelitian antara Universitas Indonesia dan 
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), diketahui kandungan formaldehid 
dalam perkakas melamin mencapai 4,76?
     9,22 miligram per liter.

      Permasalahannya, dalam polimerisasi yang kurang sempurna dapat terjadi 
residu, yaitu sisa monomer formaldehid atau fenol yang tidak bersenyawa 
sehingga terjebak di dalam materi melamin. 
      Sisa monomer formaldehid inilah yang berbahaya bagi kesehatan apabila 
masuk dalam tubuh manusia,? ujar Ariwahjoedi.

      Dalam sistem produksi melamin yang tidak terkontrol, bahan formaldehid 
yang digunakan cenderung tidak sebanding dengan jumlah fenol. Maka, kerap 
terjadi residu.

      Ini bukan berarti proses produksi yang sudah menerapkan well controlled 
dan tidak menghasilkan residu terbebas dari potensi mengeluarkan racun. Menurut 
Ariwahjoedi, formaldehid di dalam 
      senyawa melamin dapat muncul kembali karena adanya peristiwa yang 
dinamakan depolimerisasi (degradasi). Dalam peristiwa itu, partikel-partikel 
formaldehid kembali muncul sebagai 
      monomer, dan otomatis menghasilkan racun.

      Ariwahjoedi menjelaskan, senyawa melamin sangat rentan terhadap panas dan 
sinar ultraviolet. Keduanya sangat berpotensi memicu terjadinya depolimerisasi. 
Selain itu, gesekan-gesekan dan 
      abrasi terhadap permukaan melamin juga berpotensi mengakibatkan lepasnya 
partikel formaldehid.

      Ariwahjoedi menambahkan, formaldehid sangat mudah masuk ke tubuh manusia, 
terutama secara oral (mulut). Formaldehid juga dapat masuk melalui saluran 
pernapasan dan cairan tubuh.

      Monomer formaldehid yang masuk ke tubuh manusia berpotensi membahayakan 
kesehatan. ?Formalin kan berfungsi untuk membunuh bakteri. Kalau bakteri saja 
tidak bisa hidup, berarti tinggal 
      selangkah lagi meracuni makhluk yang lain,? ungkapnya berilustrasi.

      Formaldehid yang masuk ke dalam tubuh dapat mengganggu fungsi sel, bahkan 
dapat pula mengakibatkan kematian sel.

      Dalam jangka pendek, hal ini bisa mengakibatkan gejala berupa muntah, 
diare, dan kencing bercampur darah. Sementara untuk jangka panjang, akumulasi 
formaldehid yang berlebih dapat 
      mengakibatkan iritasi lambung, gangguan fungsi otak dan sumsum tulang 
belakang. Bahkan, fatalnya dapat mengakibatkan kanker (karsinogenik). (d10)


--------------------------------------------------------------------------

      Perabotan Impor: Berbahaya, Kandung Formalin!
      
     Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia menilai sejumlah produk perabotan rumah 
tangga yang terbuat dan melamin mengandung formalin (formaldehid).

      Kandungan formalin dalam perabotan impor itu mencapai 4,76 - 9,22 
miligram per liter.

     Ironisnya, perabotan itu digunakan sebagai wadah makanan dan minuman, 
terutama anak-anak. Kalau tercampur air panas, zat kimia pada peralatan itu 
akan bereaksi dan menyebabkan 
     konsumen yang menggunakannya dapat menderita sakit kepala, gangguan 
pernapasan, dan memicu kanker,? kata peneliti YLKI Ilyani S Andang di Jakarta, 
Selasa (28/6).

      Ilyani menyebutkan, kandungan unsur berbahaya itu diketahui YLKI dari 
hasil kerja samanya dengan peneliti dari laboratorium Universitas Indonesia. 
Faktor keamanan dan penggunaan perabotan 
      itu tidak pernah diinformasikan secara jelas. Pengawasan pemerintah 
terhadap asal-muasal dan dampak negatif produk itu pun tidak ketat.

      Perabotan rumah tangga itu semakin membanjiri pasar tradisional dan 
swalayan. Produknya, antara lain, berupa sendok, garpu, gelas, piring, dan 
mangkuk. Penawaran harganya pun sangat 
      menggiurkan.

      Di Pasar Pagi Glodok, Jakarta Barat, misalnya, mangkok melamin dijual 
seharga Rp 24.000 per lusin, gelas lengkap dengan tutupnya Rp 80.000 - Rp 
90.000 per lusin. Ada juga yang menjual 
      secara eceran.

      Tanpa peduli bahayanya bagi kesehatan, pedagang tetap menawarkan bahwa 
perabotan itu tahan air panas. (OSA)




Gabung, Keluar, Mode Pengiriman: [EMAIL PROTECTED]
                        
Database Warga Wismamas: http://www.wismamas.tk

Gajian & Pulsa Gratis Tiap Minggu ? Siapa Takut !!! Kunjungi 
http://www.eviplus.tk 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wismamas/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke