Kayaknya ... bacanya harus waktu senggang dechh....
atau diprint trus...dibaca bareng ama keluarga dirumah !! :-)))
Mengenal Formalin dan Bahayanya
Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Di
dalam formalin terkandung sekitar 37 persen formaldehid dalam air.
Biasanya ditambahkan metanol hingga 15 persen sebagai pengawet. Formalin
dikenal sebagai bahan pembunuh hama (desinfektan) dan banyak digunakan dalam
industri.
Nama lain formalin : - Formol - Methylene aldehyde - Paraforin
- Morbicid - Oxomethane - Polyoxymethylene glycols
- Methanal - Formoform - Superlysoform
- Formic aldehyde - Formalith - Tetraoxymethylene
- Methyl oxide - Karsan - Trioxane
- Oxymethylene - Methylene glycol
Penggunaan formalin
* Pembunuh kuman sehingga dimanfaatkan untuk pembersih : lantai, kapal,
gudang dan pakaian
* Pembasmi lalat dan berbagai serangga lain
* Bahan pembuatan sutra buatan, zat pewarna, cermin kaca dan bahan peledak
* Dalam dunia fotografi biasaya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin
dan kertas
* Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea
* Bahan pembuatan produk parfum
* Bahan pengawet produk kosmetika dan pengeras kuku
* Pencegah korosi untuk sumur minyak
* Bahan untuk insulasi busa
* Bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood)
* Dalam konsentrasi yag sangat kecil (<1 persen) digunakan sebagai
pengawet untuk berbagai barang konsumen seperti pembersih rumah tangga,
cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, lilin
dan karpet.
Bahaya bila terpapar oleh formalin
Bahaya utama
Formalin sangat berbahaya jika terhirup, mengenai kulit dan tertelan.
Akibat yang ditimbulkan dapat berupa : luka bakar pada kulit, iritasi pada
saluran pernafasan,
reaksi alergi dan bahaya kanker pada manusia.
Bahaya jangka pendek (akut)
1. Bila terhirup
* Iritasi pada hidung dan tenggorokan, gangguan pernafasan, rasa terbakar
pada hidung dan tenggorokan serta batuk-batuk.
* Kerusakan jaringan dan luka pada saluran pernafasan seperti radang
paru, pembengkakan paru.
* Tanda-tada lainnya meliputi bersin, radang tekak, radang tenggorokan,
sakit dada, yang berlebihan, lelah, jantung berdebar, sakit kepala, mual dan
muntah.
* Pada konsentrasi yang sangat tinggi dapat menyebabkan kematian.
2. Bila terkena kulit
Apabila terkena kulit maka akan menimbulkan perubahan warna, yakni kulit
menjadi merah, mengeras, mati rasa dan ada rasa terbakar.
3. Bila terkena mata * Apabila terkena mata dapat menimbulkan iritasi
mata sehingga mata memerah, rasanya sakit, gata-gatal, penglihatan kabur
dan mengeluarkan air mata.
* Bila merupakan bahan berkonsentrasi tinggi maka formalin dapat
menyebabkan pengeluaran air mata yang hebat dan terjadi kerusakan pada lensa
mata.
4. Bila tertelan
* Apabila tertelan maka mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar,
sakit menelan, mual, muntah dan diare, kemungkinan terjadi pendarahan , sakit
perut yang hebat,
sakit kepala, hipotensi (tekanan darah rendah), kejang, tidak sadar
hingga koma.
* Selain itu juga dapat terjadi kerusakan hati, jantung, otak, limpa,
pankreas, sistem susunan syaraf pusat dan ginjal.
Bahaya jangka panjang (kronis)
1. Bila terhirup
Apabila terhirup dalam jangka lama maka akan menimbulkan sakit
kepala, gangguan sakit kepala, gangguan pernafasan, batuk-batuk, radang selaput
lendir hidung, mual,
mengantuk, luka pada ginjal dan sensitasi pada paru.
* Efek neuropsikologis meliputi gangguan tidur, cepat marah, keseimbangan
terganggu, kehilangan konsentrasi dan daya ingat berkurang.
* Gangguan haid dan kemandulan pada perempuan
* Kanker pada hidung, ronggga hidung, mulut, tenggorokan, paru dan otak.
2. Bila terkena kulit
Apabila terkena kulit, kulit terasa panas, mati rasa, gatal-gatal serta
memerah, kerusakan pada jari tangan, pengerasan kulit dan kepekaan pada kulit,
dan terjadi radang kulit yang menimbulkan gelembung.
3. Bila terkena mata
Jika terkena mata, bahaya yang paling menonjol adalah terjadinya radang
selaput mata.
4. Bila tertelan
Jika tertelan akan menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan,
muntah-muntah dan kepala pusing, rasa terbakar pada tenggorokan,
penurunan suhu badan dan rasa gatal di dada.
Tindakan Pencegahan:
1. Terhirup * Untuk mencegah agar tidak terhirup gunakan alat pelindung
pernafasan, seperti masker, kain atau alat lainnya yang dapat mencegah
kemungkinan
masuknya formalin ke dalam hidung atau mulut.
* Lengkapi sistem ventilasi dengan penghisap udara (exhaust fan)
yang tahan ledakan.
2. Terkena mata
* Gunakan pelindung mata atau kacamata pengaman yang tahan terhadap
percikan.
* Sediakan kran air untuk mencuci mata di tempat kerja yang berguna
apabila terjadi keadaan darurat.
3. Terkena kulit
* Gunakan pakaian pelindung bahan kimia yang cocok.
* Gunakan sarung tangan yang tahan bahan kimia.
4. Tertelan
Hindari makan, minum dan merokok selama bekerja. Cuci tangan sebelum
makan.
Tindakan pertolongan pertama
1. Bila terhirup
Jika aman memasuki daerah paparan, pindahkan penderita ke tempat yang
aman. Bila perlu, gunakan masker berkatup atau peralatan sejenis untuk
melakukan pernafasan
buatan. Segera hubungi dokter.
2. Bila terkena kulit
Lepaskan pakaian, perhiasan dan sepatu yang terkena formalin. Cuci
kulit selama 15-20 menit dengan sabun atau deterjen lunak dan air yang banyak
dan dipastikan
tidak ada lagi bahan yang tersisa di kulit. Pada bagian yang
terbakar, lindungi luka dengan pakaian yag kering, steril dan longgar. Bila
perlu, segera hubungi dokter.
3. Bila terkena mata
Bilas mata dengan air mengalir yang cukup banyak sambil mata
dikedip-kedipkan. Pastikan tidak ada lagi sisa formalin di mata. Aliri mata
dengan larutan dengan larutan
garam dapur 0,9 persen (seujung sendok teh garam dapur dilarutkan
dalam segelas air) secara terus-menerus sampai penderita siap dibawa ke rumah
sakit.
Segera bawa ke dokter.
4. Bila tertelan
Bila diperlukan segera hubungi dokter atau dibawa ke rumah sakit.
Cara penyimpanan formalin :
* Jangan disimpan di lingkungan bertemperatur di bawah 15 0C.
* Tempat penyimpanan harus terbuat dari baja tahan karat, alumunium
murni, polietilen atau poliester yang dilapisi fiberglass.
* Tempat penyimpanan tidak boleh terbuat dari baja biasa, tembaga, nikel
atau campuran seng dengan permukaan yang tidak dilindungi/dilapisi.
* Jangan menggunakan bahan alumunium bila temperatur lingkungan berada di
atas 60 derajat Celsius.
--------------------------------------------------------------------------
Mi, Lezat Bergizi tetapi Rawan Formalin!
Oleh Prof. DR. Made Astawan, Ahli Teknologi Pangan dan Gizi
Mi basah rawan terhadap penambahan formalin dan boraks. Zat kimia ini
dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
Sayangnya, kandungan formalin dan boraks hanya bisa diketahui melalui
pemeriksaan laboratorium.
Mi pertama kali dibuat dan berkembang di Cina. Teknologi pembuatan mi
disebarkan oleh Marcopolo ke Italia, hingga ke seluruh daratan Eropa. Kini mi
populer di seluruh
dunia, termasuk di Indonesia. Mi yang beredar di Indonesia terdiri dari
empat jenis, yaitu mi mentah, mi basah, mi kering, dan mi instan. Keempat jenis
tersebut mempunyal
pasar sendiri-sendiri, dengan jumlah permintaan yang semakin meningkat
dari waktu ke waktu.
Di Indonesia, mi digemari herbagai kalangan, mulai anak-anak hingga
lanjut usia. Alasannya. sifat mi yang enak, praktis, dan mengenyangkan.
Kandungan karbohidrat yang tinggi, menjadikan mi digunakan sebagai sumber
karbohidrat pengganti nasi. Mi dapat diolah menjadi berbagai produk seperti mi
baso, mi
goreng, soto mi, mi ayam, dan lain sebagainyaa.
Seiring perkembangan teknologi dan semakin meningkatnya kesadaran orang
akan gizi, sekarang ini mi tidak hanya dijadikan sebagai penyuplai energi,
melainkan juga
sebagai sumber zat gizi lain. Berbagai vitamin dan mineral dapat
difortifikasikan ke dalam mi. seperti yang sering kita jumpai pada pembuatan mi
instan.
Walaupun demikian, kecukupan zat gizi belum dapat dipenuhi hanya dengan
mengandalkan sebungkus mi. Kombinasi dengan sayuran dan sumber protein perlu
dilakukan
dalam upaya mendongkrak kelengkapan komposisi gizi ini.
Nilai Gizi
Diversifikasi konsumsi pangan terutama dimaksudkan untuk mengurangi
ketergantungan masyarakat terhadap beras.
Saat ini persediaan beras di Indonesia mulai menipis, seiring dengan
bertambahnya jumlah penduduk dan semakin banyaknya lahan persawahan yang
digunakan sebagai
pemukiman.
Berdasarkan kandungan gizinya, mi merupakan bahan pangan yang berpotensi
besar untuk dijadikan sebagai produk diversifikasi. Kandungan gizi mi sudah
dapat mencukupi
sebagai pengganti beras.
Sebungkus mi instan yang beratnya 75 gram (lengkap dengan minyak dan
bumbu), serta ditambah dengan sayuran dan protein dari luar, dapat diandalkan
untuk sarapan pagi.
Untuk makan siang, porsinya perlu dinaikkan menjadi dua bungkus.
Terdapat beberapa kelemahan dalam produk-produk mi. Umumnya mi sedikit
sekali mengandung serat (dietary fiber) serta vitamin B dan E. Komposisi bahan
mi instan
belakangan ini sudah semakin komplet. Beberapa merek mi instan telah
dilengkapi dengan serat, sedikit sayuran, dan irisan daging kering, serta
vitamin B dan E. Namun, kita
tetap saja perlu menambahkan bahan-bahan lain dari luar, terutama sayuran
dan sumber protein, agar nilai gizinya menjadi semakin baik.
Murah, Meski Berbahaya
Sayangnya, tingkat pengetahuan yang rendah mengenai bahan pengawet
merupakan faktor utama penyebab penggunaan formalin dan boraks pada mi.
Beberapa survei menunjukkan, alasan produsen menggunakan formalin dan
boraks sebagai bahan pengawet karena daya awet dan mutu mi yang dihasilkan
menjadi lebih
bagus, serta murah harganya, tanpa peduli bahaya yang dapat ditimbulkan.
Hal tersebut ditunjang oleh perilaku konsumen yang cenderung untuk membeli
makanan yang harganya murah, tanpa mengindahkan kualitas. Dengan demikian,
penggunaan formalin dan boraks pada mi dianggap hal biasa. Sulitnya
membedakan biasa dan mi yang dibuat dengan penambahan formalin dan boraks, juga
menjadi salah
satu faktor pendorong perilaku konsumen tersebut.
Deteksi formalin dan boraks secara akurat hanya dapat dilakukan di
laboratorium dengan menggunakan bahan-bahan kimia, yaitu melalui uji formalin
dan uji boraks.
Untuk itu, perlu dilakukan upaya peningkatan kesadaran dan pengetahuan
bagi produsen dan konsumen tentang bahaya pemakaian bahan kimia yang bukan
termasuk
kategori bahan tambahan pangan. Selain itu, diperlukan sikap pemerintah
yang lebih tegas dalam melarang penggunaan kedua jenis pengawet tersebut pada
produk pangan.
Bisa Menimbulkan Keracunan & Kematian
Mi basah digunakan untuk produk makanan seperti mi baso, mi soto bogor,
mi goreng, ataupun pada pembuatan makanan camilan. Kadar air mi basah tergolong
tinggi,
sehingga daya awetnya rendah.
Penyimpanan mi basah pada suhu kamar selama 40 jam menyebabkan tumbuhnya
kapang.
Untuk itu, dalam pembuatan mi basah diperlukan bahan pengawet agar mi
bisa bertahan lebih lama. Mungkin karena faktor ketidaktahuan banyak produsen
yang
menggunakan formalin atau boraks sebagai pengawet. Selain memberikan daya
awet, kedua bahan tersebut juga murah harganya dan dapat memperbaiki kualitas
mi.
Menurut beberapa produsen, penggunaan boraks pada pembuatan mi akan
menghasilkan tekstur yang lebih kenyal. Sementara itu, penggunaan formalin akan
menghasilkan
mi yang lebih awet, yaitu dapat disimpan hingga 4 hari.
Laporan Badan POM tahun 2002 menunjukkan bahwa dari 29 sampel mi basah
yang dijual di pasar dan supermarket Jawa Barat, ditemukan 2 sampel (6,9
persen)
mengandung boraks, 1 sampel (3,45 persen) mengandung formalin, sedangkan
22 sampel (75,8 persen) mengandung formalin dan boraks. Hanya empat sampel yang
dinyatakan aman dari formalin dan borak.
Isu penggunaan formalin dan boraks tentu saja sangat meresahkan
masyarakat. Kedua bahan tersebut jelas-jelas bukan termasuk kategori bahan
tambahan pangan (food
additives), sehingga sangat dilarang penggunaannya pada pangan apa pun.
Kedua bahan tersebut dilarang penggunaannya karena bersifat racun terhadap
konsumennya.
Menurut Winarno dan Rahayu (1994), pemakaian formalin pada makanan dapat
menyebabkan keracunan pada tubuh manusia. Gejala yang biasa timbut antara lain
sukar
menelan, sakit perut akut disertai muntah-muntah, mencret berdarah,
timbulnya depresi susunan saraf, atau gangguan peredaran darah.
Konsumsi formalin pada dosis sangat tinggi dapat mengakibatkan konvulsi
(kejang-kejang), haematuri (kencing darah), dan haimatomesis (muntah darah)
yang berakhir
dengan kematian Injeksi formalin dengan dosis 100 gram dapat
mengakibatkan kematian dalam waktu 3 jam.
Boraks juga dapat menimbulkan efek racun pada manusia, tetapi mekanisme
toksisitasnya berbeda dengan formalin. Toksisitas boraks yang terkandung di
dalam makanan
tidak langsung dirasakan oleh konsumen. Boraks yang terdapat dalam
makanan akan diserap oleh tubuh dan disimpan secara kumulatif dalam hati, otak,
atau testis (buah
zakar), sehingga dosis boraks dalam tubuh menjadi tinggi (Winarno dan
Rahayu, 1994).
Pada dosis cukup tinggi, boraks dalam tubuh akan menyebabkan timbulnya
gejala pusing-pusing, muntah, mencret, dan kram perut. Bagi anak kecil dan
bayi, bila dosis dalam
tubuhnya mencapai 5 gram atau lebih, akan menyebabkan kematian. Pada
orang dewasa, kematian akan terjadi jika dosisnya telah mencapai 10 - 20 g atau
lebih.
--------------------------------------------------------------------------
Bahaya di Balik Gurihnya Ikan Asin
Menikmati sajian nasi putih ditambah sambal terasi dan lalapan segar
terasa kurang lengkap tanpa ikan asin. Dengan kekayaan laut seperti Indonesia,
aneka jenis ikan asin dapat diperoleh
dengan mudah, dari teri, tongkol, jambal hingga cumi.
Karena harganya relatif terjangkau, bahan makanan ini sering digunakan
menyiasati keterbatasan anggaran rumah tangga. Cara pengolahannya pun tergolong
mudah dan dapat diolah jadi aneka
jenis masakan.
Proses produksi bahan makanan juga tidak terlalu rumit dan hanya
menggunakan teknologi tradisional. Para pengasin biasanya memperoleh ikan dari
tempat pelelangan ikan di pelabuhan
setempat. Jika hasil tangkapan ikan melimpah, setiap pengasin bisa
memproduksi beberapa ton ikan asin per hari.
Usai dibersihkan, ikan-ikan dengan jenis sama lalu dimasukkan ke dalam
tempayan berisi larutan garam. Takarannya, satu karung garam untuk setiap drum
ikan. Perendaman bisa 12 jam hingga
semalam suntuk.
Setelah larutan garam meresap, ikan kemudian dijemur di bawah sinar
matahari. Ikan yang telah diasinkan lalu dikemas dan dijual kepada para
pengepul.
Karena jalur pemasaran dikuasai pengepul, para pengasin mengaku tidak
bisa menentukan harga jual ikan mereka. ?Jadi, kadang malah nombok, hasil
penjualan tidak bisa menutupi biaya
produksi,? tutur Ny Ratini (33), pengasin asal Indramayu.
Jika proses penjemuran kurang sempurna, bahan makanan akan mudah
ditumbuhi jamur. Bahan makanan itu pun jadi mudah penyok dan hancur, terutama
apabila cara pengemasannya tidak rapi
dan harus dikirim ke luar kota. Akibatnya, ikan asin itu pun tidak laku
di pasaran.
Karena cara produksinya masih manual, pengeringan ikan ini sangat
tergantung dari cuaca. Kalau musim hujan, pengeringan bisa berhari-hari. Begitu
air hujan turun, para pekerja tergopoh-
gopoh menutupi ikan-ikan yang tengah dijemur itu dengan plastik agar
tidak basah. ?Hujan memang menghambat proses penjemuran ikan,? kata Ny Ratini
saat ditemui di lokasi pengasinan di
Muara Angke, Jakarta Utara.
Maka, belakangan banyak pengasin berulah nakal demi meraup untung. Mereka
sengaja membubuhkan formalin, bahan pengawet bukan untuk makanan agar ikan
tidak ditumbuhi jamur dan
lebih awet. Pemakaian formalin mempercepat pengeringan dan membuat
tampilan fisik tidak cepat rusak.
Dulu hanya garam
Menurut penuturan H Suwandi (42), pengasin asal Cirebon yang sehari-hari
membuka usaha di Muara Angke, Jakarta Utara, semula mereka hanya memakai garam
sebagai pengawet yang
kemudian dijemur.
Formalin baru dipakai dalam pengolahan ikan sejak tiga tahun terakhir
dari pergaulan dengan para pengolah di luar Muara Angke. Mereka membeli
formalin di sejumlah toko kimia di daerah
Jembatan Lima, Jakarta.
Dengan proses garam dan penjemuran, rendemen yang tersisa kurang dari
separuh. Bila bahan bakunya seratus kilogram saat masih basah, setelah jadi
ikan asin tinggal 40 persen atau 40 kg.
Kehilangan 60 kg itu sangat merugikan karena harga jual menggunakan
satuan kilogram. Jika memakai formalin, rendemen bisa mencapai 75 persen.
Selisih 35 persen itu yang dikejar para
pengolah.
Pemakaian formalin ini juga atas permintaan pembeli. Soalnya, kalau pakai
pengawet, ikan asin jadi kelihatan bagus, tidak lembek dan gampang rusak. Ikan
yang dikasih pengawet juga tidak
bau,? kata Suwandi yang merintis usaha pengolahan ikan sejak puluhan
tahun silam.
Bagi pengasin, penggunaan bahan pengawet juga mempercepat proses
pengeringan ikan.
Di tengah ketatnya persaingan pasar, tuntutan para pelanggan ini tidak
bisa diabaikan begitu saja. Karena itu, dalam beberapa tahun terakhir ini
hampir 90 persen dari total jumlah pengasin di
daerah itu memakai bahan pengawet saat membuat ikan. ?Kalau tidak pakai
formalin ya dagangannya tidak laku,? kata Suwandi.
Menurut catatan Kompas, sarana pengolahan ikan asin Muara Angke berdiri
sejak 1984 untuk memberi fasilitas kepada para pengolah dan agar produksi ikan
bisa dikontrol kebersihannya. Di
areal seluas 4,5 hektar itu dibangun perumahan dua tingkat, cukup untuk
dihuni 196 keluarga pengolah.
Antara tahun 1984 hingga 1999, pengolah membayar sewa Rp 26.000 per
bulan. Namun, sejak tahun 2000 lalu dinaikkan jadi Rp 50.000 per bulan. Luas
tiap unit 5 x 6 meter persegi.
Produksi ikan asin Muara Angke antara 30-40 ton per hari. Terdiri atas
berbagai jenis ikan, antara lain jambal, teri, dan tembang. Mereka bergabung
dalam Koperasi Mina Jaya yang tidak
menangani pemasaran dan produksi, melainkan hanya menyediakan fasilitas
pengolahan secara kredit seperti garam atau uang untuk membeli bahan baku dari
nelayan.
Waspadai formalin
Pemakaian formalin dalam pengolahan ikan asin memang patut diwaspadai.
Kasus peredaran ikan asin berformalin tidak hanya ditemukan di wilayah
Jakarta dan sekitarnya, tetapi juga merambah ke sejumlah sentra pengolahan ikan
asin di daerah lain, di antaranya
Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Berdasarkan uji laboratorium yang dilakukan Sucofindo terhadap sejumlah
sampel ikan asin, seluruh sampel ternyata mengandung formalin dengan kadar
beragam.
Sampel ikan asin dari Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, memiliki kandungan
formalin 2,36 miligram per kilogram. Sampel ikan asin dari Pasar Kebayoran
Lama, Jakarta Selatan, dipastikan
mengandung formalin 29,22 mg/kg.
Sampel ikan asin dari Pasar Kramat Jati mengandung formalin dengan kadar
48,47 mg/kg. Bahkan, sampel ikan asin yang diambil dari Pasar Palmerah, Jakarta
Barat, ternyata memiliki kadar
formalin tinggi, 107,98 mg/kg.
Peredaran ikan asin di pasar modern, termasuk hipermarket, ternyata juga
menunjukkan kandungan formalin 51 mg/kg.
Hasil uji laboratorium itu setidaknya mencerminkan masih tingginya
tingkat peredaran ikan asin berformalin di pasaran. Padahal, formalin sangat
berbahaya bagi kesehatan manusia, di
antaranya tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit menelan, dan diare.
Jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama, dapat menimbulkan iritasi pada
saluran pernapasan dan kanker.
Agar tidak salah memilih, konsumen perlu mewaspadai produk tertentu yang
sering menggunakan formalin. Ikan asin yang mengandung formalin dapat diketahui
lewat ciri-ciri antara lain, tidak
rusak sampai lebih dari sebulan pada suhu kamar (25 derajat Celsius),
bersih cerah dan tidak berbau khas ikan asin.
Sayangnya, ikan asin berformalin ini masih banyak dibeli lantaran
ketidaktahuan konsumen. Sebagian pembeli juga ingin mendapatkan produk yang
awet dengan harga murah.
Konsumen jangan tidak segan-segan menanyakan kepada penjual pangan apakah
produknya pakai formalin atau tidak,? kata Deputi Bidang Pengawasan Keamanan
Pangan dan bahan Berbahaya
Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (Badan POM) Dedi Fardiaz.
Seiring gencarnya sosialisasi bahaya formalin bagi keamanan bahan pangan,
sebenarnya sebagian pengolah mulai memperbaiki kebersihan produksi.
Adanya ancaman hukuman penjara dan denda hingga Rp 1 miliar bagi produsen
yang membuat pangan berformalin juga membuat para pengolah berpikir seribu kali
untuk memakai bahan
pengawet itu, termasuk para pengolah di Muara Angke.
Sejak beberapa bulan ini sebagian besar pengolah telah menghentikan
pemakaian formalin dalam memproduksi ikan asin karena takut kena hukuman. Kami
sebelumnya tidak tahu kalau
ternyata formalin itu berbahaya bagi kesehatan,? kata Suwandi, pengolah
ikan.
Masalah baru
Namun, masalah baru kini harus dihadapi para pengolah itu. Sejak tidak
memakai bahan pengawet berbahaya itu, praktis omzet penjualan mereka merosot
drastis hingga mencapai lebih dari
40 persen.
Produk ikan asin yang telah dikirim pun banyak yang dikembalikan karena
kondisi fisiknya telah hancur dan dianggap cacat produksi.
Dengan tidak memakai bahan pengawet, ikan asin yang diproduksi memang
jadi terlihat kusam dan lembek, hanya bertahan dua minggu dan bau ikan asinnya
sangat menyengat. Proses
penjemuran jadi lebih lama dan rendemennya sangat sedikit sehingga berat
bersih hasil olahan itu jadi jauh berkurang.
Hasil olahan kami jadi kurang laku. Para pengepul tidak mau beli,? keluh
Suwandi.
Karena itu, penerapan sanksi hukum dinilai tidak menyelesaikan masalah
dalam pengolahan ikan dan membuat jera para produsen yang nakal.
Kami berharap adanya alternatif bahan pengawet yang aman digunakan dalam
pengolahan ikan. Jika tidak, ini bisa mematikan usaha kami,? kata Suwandi
menegaskan. (EVY Rachmawati)
--------------------------------------------------------------------------
Tahu, Makanan Favorit yang Keamanannya Perlu Diwaspadai
Oleh Eddy Setyo Mudjajanto dosen Departemen Gizi Masyarakat dan Sumber
Daya Keluarga, Fakultas Pertanian, IPB
PENINGKATAN kualitas sumber daya manusia salah satunya ditentukan oleh
kualitas pangan yang dikonsumsinya.
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 menyatakan bahwa kualitas pangan yang
dikonsumsi harus memenuhi beberapa kriteria, di antaranya adalah aman, bergizi,
bermutu, dan dapat terjangkau
oleh daya beli masyarakat.
AMAN yang dimaksud di sini mencakup bebas dari cemaran biologis,
mikrobiologis, kimia, logam berat, dan cemaran lain yang dapat mengganggu,
merugikan, dan membahayakan kesehatan
manusia. Salah satu makanan yang sering dikonsumsi adalah tahu.
Tahu merupakan pangan yang populer di masyarakat Indonesia walaupun
asalnya dari China. Kepopuleran tahu tidak hanya terbatas karena rasanya enak,
tetapi juga mudah untuk membuatnya
dan dapat diolah menjadi berbagai bentuk masakan serta harganya murah.
Selain itu, tahu merupakan salah satu makanan yang menyehatkan karena
kandungan proteinnya yang tinggi serta mutunya setara dengan mutu protein
hewani. Hal ini bisa dilihat dari nilai NPU
(net protein utility) tahu yang mencerminkan banyaknya protein yang
dapat dimanfaatkan tubuh, yaitu sekitar 65 persen, di samping mempunyai daya
cerna tinggi sekitar 85-98 persen.
Oleh karena itu, tahu dapat dikonsumsi oleh segala lapisan masyarakat.
Tahu juga mengandung zat gizi yang penting lainnya, seperti kemak, vitamin, dan
mineral dalam jumlah yang cukup tinggi.
Selain memiliki kelebihan, tahu juga mempunyai kelemahan, yaitu kandungan
airnya yang tinggi sehingga mudah rusak karena mudah ditumbuhi mikroba. Untuk
memperpanjang masa simpan,
kebanyakan industri tahu yang ada di Indonesia menambahkan pengawet. Bahan
pengawet yang ditambahkan tidak terbatas pada pengawet yang diizinkan, tetapi
banyak pengusaha yang nakal
dengan menambahkan formalin.
Selain itu, banyak juga menambahkan pewarna methanyl yellow. Formalin dan
metahnyl yellow merupakan bahan tambahan pangan (BTP) yang dilarang
penggunaannya dalam makanan menurut
peraturan Menteri Kesehatan (Menkes) Nomor 1168/Menkes/PER/X/1999.
Formalin
Formalin adalah nama dagang larutan formaldehid dalam air dengan kadar
30-40 persen. Di pasaran, formalin dapat diperoleh dalam bentuk sudah
diencerkan, yaitu dengan kadar
formaldehidnya 40, 30, 20 dan 10 persen serta dalam bentuk tablet yang
beratnya masing-masing sekitar 5 gram.
Formalin merupakan bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia.
Jika kandungannya dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan hampir
semua zat di dalam sel sehingga
menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian sel yang menyebabkan
keracunan pada tubuh.
Selain itu, kandungan formalin yang tinggi dalam tubuh juga menyebabkan
iritasi lambung, alergi, bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker) dan
bersifat mutagen (menyebabkan perubahan
fungsi sel/jaringan), serta orang yang mengonsumsinya akan muntah, diare
bercampur darah, kencing bercampur darah, dan kematian yang disebabkan adanya
kegagalan peredaran darah.
Formalin bila menguap di udara, berupa gas yang tidak berwarna, dengan bau
yang tajam menyesakkan, sehingga merangsang hidung, tenggorokan, dan mata.
Pewarna makanan merupakan bahan tambahan pangan yang dapat memperbaiki
penampakan makanan. Penambahan bahan pewarna makanan mempunyai beberapa tujuan,
di antaranya adalah
memberi kesan menarik bagi konsumen, menyeragamkan dan menstabilkan warna,
serta menutupi perubahan warna akibat proses pengolahan dan penyimpanan.
Secara garis besar pewarna dibedakan menjadi dua, yaitu pewarna alami dan
sintetik. Pewarna alami yang dikenal di antaranya adalah daun suji (warna
hijau), daun jambu/daun jati (warna
merah), dan kunyit untuk pewarna kuning.
Kelemahan pewarna alami ini adalah warnanya yang tidak homogen dan
ketersediaannya yang terbatas, sedangkan kelebihannya adalah pewarna ini aman
untuk dikonsumsi.
Jenis yang lain adalah pewarna sintetik. Pewarna jenis ini mempunyai
kelebihan, yaitu warnanya homogen dan penggunaannya sangat efisien karena hanya
memerlukan jumlah yang sangat
sedikit. Akan tetapi, kekurangannya adalah jika pada saat proses
terkontaminasi logam berat, pewarna jenis ini akan berbahaya.
Selain itu, khusus untuk makanan dikenal pewarna khusus makanan (food
grade). Padahal, di Indonesia, terutama industri kecil dan industri rumah
tangga, makanan masih sangat banyak
menggunakan pewarna nonmakanan (pewarna untuk pembuatan cat dan tekstil).
Pewarna pada tahu
Penelitian yang dilakukan oleh Mena (1994) menemukan bahwa tahu yang
beredar di pasar tradisional Jakarta 70 persen mengandung formalin dengan kadar
4.08-85.69 ppm (part per million).
Penelitian Tresniani (2003) di Kota Tangerang menunjukkan terdapat 20
industri tahu yang terdiri dari 11 industri tahu kuning dan sembilan industri
memproduksi tahu putih. Kandungan
formalin tahu berkisar dari 2-666 ppm, sedangkan kandungan methanyl
yellow-nya hanya terdapat pada tiga jenis tahu yang semuanya diperoleh dari
pasar, yaitu berkisar antara 3.41-10.25
ppm.
Penelitian yang lain dilakukan oleh Melawati (2004) terhadap lima sampel
tahu Sumedang yang diambil langsung dari produsen tahu yang terletak di Jalan
Mayor Abdurrahman (tiga pabrik) dan
Jalan 11 April (dua pabrik) semuanya menunjukkan hasil negatif atau
semuanya tidak mengandung formalin. Hal ini bisa dimengerti karena produsen
tidak perlu menambahkan pengawet karena
tahu yang diproduksinya habis hanya dalam tempo satu hari.
Tahu kalau tidak diawetkan hanya tahan disimpan selama dua hari bila
direndam dalam air sumur atau air keran yang bersih.
Beberapa cara pengawetan yang biasa dilakukan adalah:
a.. Tahu direbus selama 30 hari kemudian direndam dalam air yang telah
dimasak, daya simpannya bisa menjadi empat hari.
b.. Tahu direbus, kemudian dibungkus plastik dan disimpan di lemari es,
memiliki daya tahan delapan hari;
c.. Tahu diawetkan dengan direndam natrium benzoat 1.000 ppm selama 24
jam dapat mempertahankan kesegaran selama tiga hari pada suhu kamar;
d.. Tahu direndam dalam vitamin C 0,05 persen selama empat jam dapat
mempertahankan tahu selama dua hari pada suhu kamar;
e.. Tahu direndam dalam asam sitrat 0,05 persen selama delapan jam akan
segar selama dua hari pada suhu kamar.
Tips memilih tahu
Tahu yang mengandung formalin dapat ditandai dengan:
a.. Semakin tinggi kandungan formalin, maka tercium bau obat yang
semakin menyengat; sedangkan tahu tidak berformalin akan tercium bau protein
kedelai yang khas;
b.. Tahu yang berformalin mempunyai sifat membal (jika ditekan terasa
sangat kenyal), sedangkan tahu tak berformalin jika ditekan akan hancur;
c.. Tahu berformalin akan tahan lama, sedangkan yang tak berformalin
paling hanya tahan satu dua hari.
d.. Tahu yang memakai pewarna buatan dapat ditandai dengan cara melihat
penampakannya. Jika tahu memakai pewarna buatan, warnanya sangat
homogen/seragam dan penampakan
mengilap. Sedangkan jika memakai pewarna kunyit, warnanya
cenderung lebih buram (tidak cerah). Jika kita potong tahunya, maka akan
kelihatan bagian dalamnya warnanya tidak
homogen/seragam. Bahkan, ada sebagian masih berwarna putih.*
--------------------------------------------------------------------------
Waspadai Adanya Makanan Berformalin di Pasaran!
Konsumen harus teliti memilih bahan makanan agar terhindar dari bahan
pengawet seperti formalin. Memilih tahu misalnya, bila berbau obat dan ditekan
sangat kenyal, mungkin saja
mengandung formalin
BEBERAPA waktu lalu Badan Pengawasan Obat dan Makanan menemukan
empek-empek dan mi basah yang dijual di beberapa tempat di Sumatera Selatan
ternyata mengandung formalin.
Belum lama ini, Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Pemerintah Kota
Jakarta Pusat juga mendapati puluhan ayam berformalin dijual di sejumlah pasar
tradisional.
Formalin sebenarnya adalah nama dagang dari larutan formadehid dalam air
dengan kadar 30-40 persen. Di pasaran, formalin dapat diperoleh dalam bentuk
sudah diencerkan dengan kadar
formaldehid 40, 30, 20, dan 10 persen, serta dalam bentuk tablet yang
beratnya masing-masing lima gram. Formalin biasanya digunakan dokter forensik
untuk mengawetkan mayat.
Mengapa sampai para pedagang membubuhi formalin pada dagangannya?
Mungkin mereka akan bungkam jika ditanya demikian. Namun, jika menilik
formalin biasa digunakan untuk mengawetkan mayat, bisa diduga para pedagang
ingin agar dagangannya tahan lama.
Setidaknya, jika barang tidak laku hari ini, ayam atau tahu yang telah
diformalin bisa dijual kembali keesokan harinya dan tetap terlihat segar.
Ini baru formalin pada bahan pangan. Masih ada sederet bahan tambahan
atau kimia yang kerap dibubuhkan dalam makanan, seperti rhodamin B (pewarna
merah), methanyl yellow (pewarna
kuning), boraks, kloramfenikol, dietilpilokarbonat, dulsin, dan
nitrofurazon. Padahal, penggunaan bahan-bahan kimia makanan tersebut sudah
dilarang menurut Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 1168/Menkes/PER/X/1999.
Perhatikan cirinya
Monitoring sebenarnya sudah dilakukan petugas terkait dengan mengambil
sampel bahan secara acak ke sejumlah pedagang pasar tradisional atau pedagang
jajanan sekolah. Pasar swalayan
juga menjadi sasaran inspeksi mendadak para petugas.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan DKI Jakarta Edy Setiarto dan Kepala
Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Pusat (Jakpus) Sigit Budiarto
secara terpisah mengatakan,
pemerintah mempunyai program memonitoring para penjual makanan ternak di
pasar-pasar tradisional. Bagi yang tertangkap basah menjual bahan makanan
berformalin, misalnya ayam, akan
disita dan dibakar di tempat pembakaran. Di Jakpus misalnya, insenerator
terletak di halaman kantor Kecamatan Senen.
Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan
Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Dedi Fardiaz mengatakan, BPOM bertugas
menyurvei makanan olahan atau
jajanan. ?Hasil survei menjadi dasar untuk membina para pedagang,?
katanya.
BPOM antara lain menyurvei segala jenis makanan yang dikonsumsi anak
sekolah. Di sini dilihat apakah makanan olahan atau jajanan tersebut mengandung
pewarna berbahaya atau tidak. Ini,
menurut Dedi, penting dilakukan mengingat dampaknya terhadap kesehatan.
Agar tidak tertipu produk berbahaya itu, masyarakat sebaiknya
berhati-hati dan memerhatikan ciri-ciri serta perbedaan antara bahan pangan
segar dan yang mengandung bahan pengawet.
Kalau ayam berformalin, ciri yang paling mencolok adalah tidak ada lalat
yang mau hinggap. Jika kadar formalinnya banyak, ayam agak sedikit tegang
(kaku). Yang paling jelas adalah jika
daging ayam dimasukkan ke dalam reagen atau diuji laboratorium, nanti akan
muncul gelembung gas,? papar anggota staf Seksi Kesehatan Hewan dan Kesehatan
Masyarakat Feteriner Sudin
Peternakan dan Perikanan Jakpus Elita Gunarwati.
Para pedagang biasanya membubuhi formalin dengan kadar minimal, sehingga
konsumen pada umumnya bingung ketika harus membedakannya dengan bahan pangan
segar. Pada daging ayam
misalnya, karena hanya dibubuhi sedikit formalin, bau obat tidak tercium.
Untuk itu, masyarakat harus lebih waspada dan bisa memilih dengan baik.
?Seperti yang dilakukan ibu-ibu di Pasar Benhil, Jakarta Pusat. Mereka biasanya
memilih membeli ayam hidup dan
langsung dipotong di tempat,? kata Sigit.
Konsumen juga harus berhati-hati jika menemui ayam atau daging yang
dijual dengan harga relatif jauh lebih murah daripada harga pasaran.
Kemungkinan bahan pangan ini mengandung bahan
pengawet berbahaya. Kalau membeli dalam jumlah banyak, misalnya untuk
hajatan, pastikan pedagangnya layak dipercaya. Seberapa pun sempitnya waktu,
sebaiknya Anda tetap meneliti ayam
atau daging yang dibeli satu per satu.
Tahu berformalin
Untuk mendeteksi tahu berformalin relatif lebih mudah.
Dosen Departemen Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga Fakultas
Pertanian IPB Eddy Setyo Mudjajanto dalam artikelnya menyebutkan, tahu
berformalin akan membal atau kenyal jika
ditekan. Sedangkan tahu tanpa formalin biasanya mudah hancur.
Tahu berformalin akan tahan lama, sedangkan tahu tanpa pengawet
paling-paling hanya tahan dua hari. Tahu tanpa pengawet bisa lebih lama
bertahan jika disimpan dalam kulkas, atau dibubuhi
pengawet yang dianjurkan. Bahan pengawet tersebut seperti vitamin C 0,05
persen (tahu diberi pengawet selama empat jam), natrium benzoat 1.000 ppm
(selama 24 jam), atau asam sitrat
0,05 persen (selama delapan jam).
Memang orang yang mengonsumsi tahu, mi, bakso, atau ayam berformalin
beberapa kali saja belum merasakan akibatnya. Efek dari bahan makanan
berformalin baru terasa beberapa tahun
kemudian.
Kandungan formalin yang tinggi akan meracuni tubuh, menyebabkan iritasi
lambung, alergi, bersifat karsiogenik (menyebabkan kanker), dan bersifat
mutagen (menyebabkan perubahan fungsi
sel). Dalam kadar yang sangat tinggi, hal ini bisa menyebabkan kegagalan
peredaran darah yang bermuara pada kematian.
Mengonsumsi makanan apa pun sebaiknya Anda memilih dengan cermat. Namun
sebaliknya, jangan pula karena begitu khawatir, Anda menjadi takut secara
berlebihan. Masih banyak pedagang
yang jujur dan bisa mempertanggungjawabkan barang dagangannya. (IVV)
--------------------------------------------------------------------------
Bahaya Di Balik Piring-piring Cantik!
Anda suka pakai peralatan makan dari melamin? Hati-hati, lo, karena
dibalik sosoknya yang cantik serta harganya yang murah meriah, ada bahaya
mengintai. Banyak yang mengandung formalin
berkadar tinggi yang membahayakan kesehatan.
Bagaimana menyiasatinya agar aman?
Beberapa waktu lalu, Yayasan Lembaga Konsumen (YLKI) melansir hasil
penelitian mengenai kandungan formalin dalam wadah-wadah melamin. Penelitian
yang dilakukan bulan September
2004 lalu itu membuahkan hasil yang mengejutkan. Peralatan makan dari
melamin yang kini amat mudah ditemui di pasaran, banyak yang mengandung
formalin dalam konsentrasi tinggi.
Ilyani S. Andang, peneliti YLKI, menegaskan, penelitian dilakukan
terhadap 10 merek produk melamin. "Enam merek diantaranya adalah produk impor,
sedangkan sisanya adalah produk lokal,"
ujarnya.
Produk yang diambil contoh adalah peralatan makan yang dijual di
pasar-pasar tradisional serta pertokoan yang dijual dengan harga murah. "Ada
yang Rp 10.000 dapat tiga buah."
Ilyani dan tim-nya sengaja memilih produk-produk yang beragam. "Ada yang
dengan jelas mencantumkan merek, ada pula yang tidak," imbuhnya. Dari yang
tidak ada mereknya ini, banyak yang
hanya mencantumkan nomor-nomor.
"Enggak tahu juga apa artinya nomor-nomor tersebut. Tapi yang jelas
produk-produk tersebut tidak bisa diketahui siapa yang memproduksi."
Formalin Tinggi
Contoh-contoh produk yang akan diteliti kemudian disiram dengan air
panas.
"Tetapi ternyata tidak cukup hanya disiram dengan air panas, karena
formalin sifatnya cepat menguap, sehingga tidak bisa diteliti," urai Ilyani
mengenai mekanisme penelitian yang
dilakukannya. Akhirnya, Ilyani memutuskan untuk merebus wadah-wadah
tersebut, dengan pertimbangan, "Para ibu rumahtangga suka merebus peralatan
makannya untuk sterilisasi, bukan?"
Dari hasil air rebusan yang kemudian dibawa ke Laboratorium Kimia
Universitas Indonesia, ini didapatkan hasil, bahwa kandungan formalin pada
hampir semua produk yang diteliti, ternyata
sangat tinggi.
"Nilainya beragam, antara 4,76 9,22 miligram per liter," ungkap Ilyani.
Tingginya kandungan formalin ini sangat berbahaya jika sampai terkonsumsi.
"Akumulasi formalin yang tinggi di dalam
tubuh bisa menyebabkan beragam penyakit. Bahkan penyakit kanker yang
mematikan."
Dari kenyataan tersebut, Ilyani khawatir, jika para konsumen tidak tahu
cara yang tepat menggunakan piranti melamin tersebut, akan terkena dampak
negatif dari tingginya kadar formalin yang
terdapat di sana.
"Sebetulnya, asal tidak dipakai untuk makanan atau minuman panas, sih,
aman-aman saja. Yang bahaya, kan, jika wadah-wadah ini dipakai untuk menaruh
bahan makanan panas," paparnya, sembari mencontohkan, perangkat melamin kerap
digunakan untuk membuat minuman teh, kopi, atau makanan berkuah panas.
Di Sekitar Kita
Apa itu formalin? Menurut Drs. Bambang Wispriyono, Apt, PhD, formalin
adalah nama dagang larutan formaldehid dalam air dengan kandungan 30-40 persen.
Di pasaran, formalin bisa ditemukan dalam bentuk yang sudah diencerkan,
dengan kandungan formaldehid 10-40 persen. "Formalin sudah sangat umum
digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Di industri makanan, misalnya, formalin dipakai untuk membuat makanan
lebih awet. Misalnya saja untuk tahu, mi, atau bakso."
Di industri kecantikan formalin biasa dipakai di produk cat kuku. "Di
perikanan, formalin digunakan untuk menghilangkan bakteri yang biasa hidup di
sisik ikan," ungkap Wakil Dekan I Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini.
Menurut Bambang, formaldehid memiliki banyak fungsi, diantaranya sebagai
pengawet, serta anti bakteri. "Formaldehid juga dipakai untuk reaksi kimia yang
bisa membentuk ikatan polimer,
dimana salah satu hasilnya adalah menimbulkan warna produk menjadi lebih
"muncul". Itu sebabnya formaldehid dipakai di industri plastik."
Formalin masuk ke dalam tubuh manusia melalui dua jalan, yaitu mulut dan
pernapasan. "Sebetulnya, sehari-hari kita menghirup formalin dari lingkungan
sekitar." Kata Bambang, polusi yang
dihasilkan oleh asap knalpot dan pabrik, mengandung formalin yang mau
tidak mau kita hirup, kemudian masuk ke dalam tubuh. "Begitupula dari asap
rokok," tandasnya. Bahkan, air hujan yang
jatuh ke bumi pun sebetulnya mengandung formalin.
Sebabkan Kanker
Di dalam tubuh, jika terakumulasi dalam jumlah besar, formalin merupakan
bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia.
Jika kandungan dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan
hampir semua zat di dalam sel, sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan
kematian sel yang menyebabkan
keracunan pada tubuh.
Bambang menegaskan, akumulasi formalin yang tinggi di dalam tubuh akan
menyebabkan berbagai keluhan, misalnya iritasi lambung dan kulit, muntah,
diare, serta alergi. "Bahkan bisa
menyebabkan kanker, karena formalin bersifat karsinogenik."
Khusus mengenai sifatnya yang karsinogenik, Bambang mengingatkan,
formalin termasuk ke dalam karsinogenik golongan IIA. "Golongan I adalah yang
sudah pasti menyebabkan kanker,
berdasarkan uji lengkap. Sedangkan golongan IIA baru taraf diduga, karena
data hasil uji pada manusia masih kurang lengkap."
Bambang menekankan, dalam jumlah sedikit, formalin akan larut dalam air,
serta akan dibuang ke luar bersama cairan tubuh. "Itu sebabnya formalin sulit
dideteksi keberadaannya di dalam
darah."
Tetapi, Bambang mengingatkan, imunitas tubuh sangat berperan dalam
berdampak tidaknya formalin di dalam tubuh. "Jika imunitas tubuh rendah, sangat
mungkin formalin dengan kadar rendah
pun bisa berdampak buruk terhadap kesehatan," cetusnya.
Menanggapi hasil penelitian YLKI, Bambang sedikit ragu melihat angkanya
yang dinilainya sangat tinggi. "Apa betul, ya, angkanya segitu? Jika betul, itu
berarti tinggi sekali, lo. Menurut IPCS
(International Programme on Chemical Safety), secara umum ambang batas
aman di dalam tubuh adalah 1 miligram per liter," tandasnya. Perlu diketahui,
IPCS adalah lembaga khusus dari tiga
organisasi di PBB, yaitu ILO, UNEP, serta WHO, yang mengkhususkan pada
keselamatan penggunaan bahan kimiawi.
Meskipun diakui berbahaya jika terakumulasi di dalam tubuh, namun
Bambang melihat, sangatlah tidak bijaksana jika melarang penggunaan formalin.
"Bagaimanapun, industri memerlukan
formalin," katanya. "Yang penting, kita harus bijaksana dalam
menggunakannya, misalnya dengan cara tidak menggunakannya pada makanan."
BAGAIMANA MENYIKAPINYA?
1. Tenang
Meskipun harus waspada, hendaknya jangan lantas menjadi paranoid, alias
curigaan. "Tidak perlu lah sampai harus emoh memakai perangkat melamin sama
sekali. Itu namanya paranoid.
Lagipula, tidak semua wadah melamin mengandung formalin berlebihan,
bukan?" kata Bambang. Yang penting, menurutnya, konsumen harus jeli dengan
memperhatikan kualitas barang serta
harganya. "Kalau produknya mudah sekali pudar atau kusam, itu berarti
bahannya banyak yang terkikis. Produk seperti ini perlu dihindari."
2. Dingin
Jika tidak yakin akan kualitas produk melamin yang Anda punya, sebaiknya
jangan gunakan piranti makan tersebut untuk makanan serta minuman panas. "Untuk
makanan dingin, sih, aman-aman
saja, karena formalin yang sudah membentuk polimer sulit untuk terurai.
Kalaupun terurai, pasti tidak 100 persen," papar Bambang.
3. Cermat
Dalam mengonsumsi bahan makanan, pilihlah yang tidak mengandung formalin.
"Kalau tahu tahan sampai berhari-hari, diduga keras mengandung formalin," ujar
Bambang. Menurut situs WHO
(lembaga PBB yang khusus menangani kesehatan), sebetulnya, makanan yang
mengandung formalin memiliki bau yang khas, sehingga bisa dideteksi oleh orang
awam sekalipun.
4. Pengawet Lain
Sebisanya, hindari penggunaan formalin sebagai bahan pengawet. "Jika bisa
diganti dengan pengawet lain, itu lebih baik," saran Bambang. (Tabloid Nova)
--------------------------------------------------------------------------
Melamin, Piring Cantik yang Menyimpan Racun
Di banyak toko yang menjual perabot rumah tangga, peralatan makan dan
minum yang disebut melamin relatif mudah ditemukan.
Kalau sekitar tahun 1970-1980-an melamin masih terbatas warna maupun
coraknya, maka kini desain melamin bisa bersaing dengan barang pecah belah
lainnya.
Produk pecah belah melamin begitu banyaknya sehingga barang ini tak hanya
bisa dibeli di toko tertentu, tetapi juga di pasar tradisional sampai di
pedagang kaki lima.
Cikal bakal melamin dimulai tahun 1907 ketika ilmuwan kimia asal Belgia,
Leo Hendrik Baekeland, berhasil menemukan plastik sintesis pertama yang disebut
bakelite. Penemuan itu merupakan
salah satu peristiwa bersejarah keberhasilan teknologi kimia awal abad
ke-20.
Pada awalnya bakelite banyak digunakan sebagai bahan dasar pembuatan
telepon generasi pertama. Namun, pada perkembangannya kemudian, hasil penemuan
Baekeland dikembangkan dan
dimanfaatkan pula dalam industri peralatan rumah tangga. Salah satunya
adalah sebagai bahan dasar peralatan makan, seperti sendok, garpu, piring,
gelas, cangkir, mangkuk, sendok sup, dan
tempayan, seperti yang dihasilkan dari melamin.
Peralatan makan yang terbuat dari melamin di satu sisi menawarkan banyak
kelebihan. Selain desain warna yang beragam dan menarik, fungsinya juga lebih
unggul dibanding peralatan makan
lain yang terbuat dari keramik, logam, atau kaca. Melamin lebih lebih
ringan, kuat, dan tak mudah pecah. Harga peralatan melamin pun relatif lebih
murah dibanding yang terbuat dari keramik
misalnya.
Potensi formalin
Dengan segala kelebihan melamin, tak heran kalau sebagian orang tidak
menyadari bahwa melamin menyimpan potensi membahayakan bagi kesehatan manusia.
Menurut pengajar pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung, Bambang Ariwahjoedi PhD, MSc, melamin berpotensi
menghasilkan monomer beracun yang
disebut formaldehid (formalin).
Selain berfungsi sebagai bahan pengawet, formaldehid juga digunakan untuk
bahan baku melamin. Menurut Ariwahjoedi, melamin merupakan suatu polimer, yaitu
hasil persenyawaan kimia
(polimerisasi) antara monomer formaldehid dan fenol. Apabila kedua monomer
itu bergabung, maka sifat toxic dari formaldehid akan hilang karena telah
terlebur menjadi satu senyawa, yakni
melamin.
Berdasarkan kerja sama penelitian antara Universitas Indonesia dan
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), diketahui kandungan formaldehid
dalam perkakas melamin mencapai 4,76?
9,22 miligram per liter.
Permasalahannya, dalam polimerisasi yang kurang sempurna dapat terjadi
residu, yaitu sisa monomer formaldehid atau fenol yang tidak bersenyawa
sehingga terjebak di dalam materi melamin.
Sisa monomer formaldehid inilah yang berbahaya bagi kesehatan apabila
masuk dalam tubuh manusia,? ujar Ariwahjoedi.
Dalam sistem produksi melamin yang tidak terkontrol, bahan formaldehid
yang digunakan cenderung tidak sebanding dengan jumlah fenol. Maka, kerap
terjadi residu.
Ini bukan berarti proses produksi yang sudah menerapkan well controlled
dan tidak menghasilkan residu terbebas dari potensi mengeluarkan racun. Menurut
Ariwahjoedi, formaldehid di dalam
senyawa melamin dapat muncul kembali karena adanya peristiwa yang
dinamakan depolimerisasi (degradasi). Dalam peristiwa itu, partikel-partikel
formaldehid kembali muncul sebagai
monomer, dan otomatis menghasilkan racun.
Ariwahjoedi menjelaskan, senyawa melamin sangat rentan terhadap panas dan
sinar ultraviolet. Keduanya sangat berpotensi memicu terjadinya depolimerisasi.
Selain itu, gesekan-gesekan dan
abrasi terhadap permukaan melamin juga berpotensi mengakibatkan lepasnya
partikel formaldehid.
Ariwahjoedi menambahkan, formaldehid sangat mudah masuk ke tubuh manusia,
terutama secara oral (mulut). Formaldehid juga dapat masuk melalui saluran
pernapasan dan cairan tubuh.
Monomer formaldehid yang masuk ke tubuh manusia berpotensi membahayakan
kesehatan. ?Formalin kan berfungsi untuk membunuh bakteri. Kalau bakteri saja
tidak bisa hidup, berarti tinggal
selangkah lagi meracuni makhluk yang lain,? ungkapnya berilustrasi.
Formaldehid yang masuk ke dalam tubuh dapat mengganggu fungsi sel, bahkan
dapat pula mengakibatkan kematian sel.
Dalam jangka pendek, hal ini bisa mengakibatkan gejala berupa muntah,
diare, dan kencing bercampur darah. Sementara untuk jangka panjang, akumulasi
formaldehid yang berlebih dapat
mengakibatkan iritasi lambung, gangguan fungsi otak dan sumsum tulang
belakang. Bahkan, fatalnya dapat mengakibatkan kanker (karsinogenik). (d10)
--------------------------------------------------------------------------
Perabotan Impor: Berbahaya, Kandung Formalin!
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia menilai sejumlah produk perabotan rumah
tangga yang terbuat dan melamin mengandung formalin (formaldehid).
Kandungan formalin dalam perabotan impor itu mencapai 4,76 - 9,22
miligram per liter.
Ironisnya, perabotan itu digunakan sebagai wadah makanan dan minuman,
terutama anak-anak. Kalau tercampur air panas, zat kimia pada peralatan itu
akan bereaksi dan menyebabkan
konsumen yang menggunakannya dapat menderita sakit kepala, gangguan
pernapasan, dan memicu kanker,? kata peneliti YLKI Ilyani S Andang di Jakarta,
Selasa (28/6).
Ilyani menyebutkan, kandungan unsur berbahaya itu diketahui YLKI dari
hasil kerja samanya dengan peneliti dari laboratorium Universitas Indonesia.
Faktor keamanan dan penggunaan perabotan
itu tidak pernah diinformasikan secara jelas. Pengawasan pemerintah
terhadap asal-muasal dan dampak negatif produk itu pun tidak ketat.
Perabotan rumah tangga itu semakin membanjiri pasar tradisional dan
swalayan. Produknya, antara lain, berupa sendok, garpu, gelas, piring, dan
mangkuk. Penawaran harganya pun sangat
menggiurkan.
Di Pasar Pagi Glodok, Jakarta Barat, misalnya, mangkok melamin dijual
seharga Rp 24.000 per lusin, gelas lengkap dengan tutupnya Rp 80.000 - Rp
90.000 per lusin. Ada juga yang menjual
secara eceran.
Tanpa peduli bahayanya bagi kesehatan, pedagang tetap menawarkan bahwa
perabotan itu tahan air panas. (OSA)
Gabung, Keluar, Mode Pengiriman: [EMAIL PROTECTED]
Database Warga Wismamas: http://www.wismamas.tk
Gajian & Pulsa Gratis Tiap Minggu ? Siapa Takut !!! Kunjungi
http://www.eviplus.tk
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wismamas/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/