|
Anastasia Emma
<[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
> Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali > -
-------------------------------- > > Aku
dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat >
terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning,
> dan punggung mereka menghadap ke
langit. > Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda
dariku. > > Suatu ketika, untuk membeli
sebuah sapu tangan yang > mana semua gadis di sekelilingku
kelihatannya membawanya, > Aku mencuri lima puluh sen dari
laci ayahku. > Ayah segera menyadarinya. Beliau
membuat > adikku dan aku berlutut di depan
tembok, > dengan sebuah tongkat bambu di
tangannya. > "Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya.
Aku > terpaku, terlalu takut untuk
berbicara. > Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku,
jadi > Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu,
kalian > be rdua layak dipukul!" > Dia
mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. > Tiba-tiba,
adikku mencengkeram tangannya dan > berkata, "Ayah, aku yang
melakukannya!" > > Tongkat panjang itu
menghantam punggung adikku > bertubi-tubi. Ayah begitu
marahnya sehingga ia > terus menerus mencambukinya sampai
Beliau kehabisan nafas. > Sesudahnya, Beliau duduk di atas
ranjang batu > bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar
mencuri dari rumah > sekarang, hal memalukan apa lagi yang
akan kamu lakukan di masa > mendatang?
... > Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak
tahu malu!" > > Malam itu, ibu dan aku
memeluk adikku dalam pelukan > kami. Tubuhnya penuh dengan
luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata > setetes pun. Di
pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis >
meraung-raung. > Adikku menutup mulutku dengan tangan
kecilnya dan > berkata, "Kak, jangan menangi s lagi
sekarang. Semuanya sudah terjadi." > >
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki >
cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat,
tapi > insiden tersebut masih kelihatan seperti baru
kemarin. Aku tidak pernah > akan lupa tampang adikku ketika
ia melindungiku. Waktu itu, adikku > berusia 8 tahun. Aku
berusia 11. > > Ketika adikku berada pada
tahun terakhirnya di SMP, ia > lulus untuk masuk ke SMA di
pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya > diterima untuk
masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah >
berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus
demi > bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak
kita memberikan > hasil yang begitu baik...hasil yang
begitu baik..." Ibu mengusap air > matanya yang mengalir dan
menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana > mungkin kita bisa
membiayai keduanya sekaligus?" > > Saat
itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah > dan
berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi,
telah > cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan
tangannya dan memukul > adikku pada wajahnya. "Mengapa kau
mempunyai jiwa yang begitu > keparat
lemahnya? > Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di
jalanan > saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai
selesai!" Dan begitu > kemudian ia mengetuk setiap rumah di
dusun itu untuk meminjam > uang. Aku menjulurkan tanganku
selembut yang aku bisa ke muka adikku yang >
membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan
> sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan
jurang > kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan
untuk tidak lagi > meneruskan ke
universitas. > > Siapa sangka keesokan
harinya, sebelum subuh datang, > adikku meninggalkan rumah
dengan beberapa helai pakaian lusuh
dan sedikit > kaca ng yang sudah mengering.
Dia menyelinap ke samping ranjangku dan > meninggalkan
secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke
universitas > tidaklah mudah. Saya akan
pergi mencari kerja dan mengirimu
uang." > > Aku memegang kertas tersebut di
atas tempat tidurku, > dan menangis dengan air mata
bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun
itu, > adikku berusia 17 tahun. Aku
20. > > Dengan uang yang ayahku pinjam
dari seluruh dusun, dan > uang yang adikku hasilkan dari
mengangkut semen pada punggungnya di > lokasi konstruksi,
aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di
universitas). > Suatu hari, aku sedang
belajar di kamarku, ketika teman sekamarku > masuk dan
memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu > di
luar sana!" > > Mengapa ada seorang
penduduk dusun mencariku? Aku > berjalan keluar, dan
melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor > tertutup
debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu
tidak > bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia
menjawab, > tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa
yang akan mereka pikir > jika mereka tahu saya adalah
adikmu? Apa mereka tidak
akan menertawakanmu?" > >
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku >
menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat
dalam > kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun!
Kamu adalah adikku > apa pun juga! Kamu adalah adikku
bagaimana pun penampilanmu..." > > Dari
sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut > berbentuk
kupu-kupu. > Ia memakaikannya kepadaku, dan terus
menjelaskan, > "Saya melihat semua gadis kota
memakainya. > Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki
satu." > Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi.
Aku > menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan
menangis. > ~ Tahun itu, ia berusia 20. Ak u 23.
> > Kali pertama aku membawa pacarku ke
rumah, kaca > jendela yang pecah telah diganti, dan
kelihatan bersih di mana-mana. > Setelah pacarku pulang, aku
menari seperti gadis kecil di depan ibuku. > "Bu, ibu tidak
perlu menghabiskan begitu banyak waktu
untuk membersihkan > rumah kita!" Tetapi
katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang > pulang
awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka
> pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela
baru itu.." > > Aku masuk ke dalam ruangan
kecil adikku. Melihat > mukanya yang kurus, seratus jarum
terasa menusukku. > Aku mengoleskan sedikit saleb pada
lukanya dan mebalut lukanya. > "Apakah itu sakit?" Aku
menanyakannya. > "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya
bekerja di > lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada
kakiku setiap > waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku
bekerja dan..." > Ditenga h kalimat itu ia
berhenti. > Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air
mata > mengalir deras turun ke wajahku. >
Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26. > >
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali >
suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan
tinggal > bersama kami, tetapi mereka tidak pernah
mau. > Mereka mengatakan, sekali meninggalkan
dusun, > mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa.
Adikku > tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah
mertuamu aja. Saya akan > menjaga ibu dan ayah di
sini." > > Suamiku menjadi direktur
pabriknya. Kami menginginkan > adikku mendapatkan pekerjaan
sebagai manajer pada departemen > pemeliharaan. Tetapi
adikku menolak tawaran tersebut. > Ia bersikeras memulai
bekerja sebagai pekerja reparasi. > >
Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk > memperbaiki
sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, > dan
masuk rumah sakit. Suamiku dan > aku pergi menjenguknya.
Melihat gips putih pada > kakinya, saya menggerutu, "Mengapa
kamu menolak menjadi manajer? > Manajer tidak akan pernah
harus melakukan sesuatu yang berbahaya
seperti > ini. Lihat kamu sekarang, luka
yang begitu serius. Mengapa kamu tidak > mau mendengar kami
sebelumnya?" > > Dengan tampang yang
serius pada wajahnya, ia membela > keputusannya. "Pikirkan
kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan > saya hampir
tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti
itu, > berita seperti apa yang akan
dikirimkan?" > > Mata suamiku dipenuhi air
mata, dan kemudian keluar > kata-kataku yang
sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga > karena
aku!" > > "Mengapa membicarakan masa
lalu?" Adikku menggenggam > tanganku. Tahun itu, ia berusia
26 dan aku 29. > > Adikku kemudian berusia
30 ke tika ia menikahi seorang > gadis petani dari dusun
itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara > perayaan itu
bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati > dan
kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."
> > Ia melanjutkan dengan menceritakan
kembali sebuah > kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.
"Ketika saya pergi sekolah SD, ia > berada
pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan
> selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke
rumah. > Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung
tanganku. > Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya.
Ia > hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.
> Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran
karena cuaca yang > begitu dingin sampai ia tidak dapat
memegang sumpitnya. Sejak hari itu, > saya bersumpah, selama
saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan > baik
kepadanya." > > Tepuk ta ngan membanjiri
ruangan itu. Semua tamu > memalingkan perhatiannya
kepadaku. > > Kata-kata begitu susah
kuucapkan keluar bibirku, > "Dalam hidupku, orang yang
paling aku berterima kasih adalah adikku."
Dan > dalam kesempatan yang paling
berbahagia ini, di depan kerumunan > perayaan ini, air mata
bercucuran turun dari wajahku seperti
sungai. > > >
Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six times"
>
-- Anastasia
Emma "Whatever happens...Happens for a Reason"
FS: [EMAIL PROTECTED] GTalk:
[EMAIL PROTECTED] YM:
[EMAIL PROTECTED]
Blab-away for as little as 1ยข/min. Make PC-to-Phone
Calls using Yahoo! Messenger with Voice.
Gabung, Keluar, Mode Pengiriman: [EMAIL PROTECTED]
Database Warga Wismamas: http://www.wismamas.tk
JANGAN MENGELUH! dengan keadaan, temukan jawabannya di http://www.bsbplus.tk
YAHOO! GROUPS LINKS
|