----- Original Message -----
From: "Anna Harijadi" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Aleta Yulistia" <[EMAIL PROTECTED]>; "Santoso, Susanna"
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>; "ida ariani" <[EMAIL PROTECTED]>; "Rere
Alim" <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
"Farma" <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; "Ari Maria"
<[EMAIL PROTECTED]>; "Susilawati Hasni" <[EMAIL PROTECTED]>;
"Koentjonowati" <[EMAIL PROTECTED]>; "Yildes Aldjoeffry"
<[EMAIL PROTECTED]>; "Vonny Rumagit"
<[EMAIL PROTECTED]>; "Mery Gunawan"
<[EMAIL PROTECTED]>; "nancy mevinova"
<[EMAIL PROTECTED]>; "yani" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, April 20, 2006 9:28 AM
Subject: FW: [JakChap] (Sharing) BREAST CANCER
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, April 20, 2006 8:46 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: FYI: [JakChap] (Sharing) BREAST CANCER
Lucy <[EMAIL PROTECTED]>@yahoogroups.com on 04/18/2006 05:33:49 PM
Mudah2an infonya berguna
Friends,
Aku mau sharing pengalaman adikku nih. Semoga bermanfaat bagi semua
yang
baca.
Adikku mulai merasakan ada benjolan di payudara kiri sekitar awal
2003.
Pada bulan Mei 2003, dia periksa ke dr. Sutjipto, ahli bedah di
RS
Dharmais, Slipi. Setelah di USG, dokter bilang tidak apa2, itu
hanya
berupa kelenjar air susu yang membengkak yang mana nantinya
akan
menghilang setelah menikah, punya anak dan menyusui. (catatan:
kesalahan
kami adalah tidak melakukan pemeriksaan ke dokter lain karena
logika
mengatakan seharusnya dokter di RS Dharmais yang memang spesial
untuk
kanker tidak mungkin salah mendiagnosis).
Bulan Januari 2004, adikku menikah. Juni 2004, dia mengandung
anak
pertama. Oktober 2004 (usia kandungan +- 4 bln) masih sempat kontrol
ke
dr. Sutjipto di Dharmais (kali ini tidak di USG), diagnosis dokter
masih
sama seperti diagonis pertama.
Anak pertama lahir awal April 2005, produksi air susu sedikit hanya
cukup
untuk menyusui selama 3 bulan. Adikku merasa benjolan membesar,
bukannya
hilang seperti kata dokter.
Bulan Nov. 2005 (kondisi hamil anak ke-2 bulan ke-3), adikku
kembali
konsul ke dokter yang sama di Dharmais. Hasil USG benjolan berukuran
1,89
x 1,8 x 1,76. Diagnosis dokter berubah menjadi tumor kelenjar
lemak.
Disarankan untuk dilakukan pengangkatan tumor sebelum usia kandungan 6
bl
dgn alasan lewat bln ke-6, hormon sudah mulai memproduksi air
susu
sehingga akan mempersulit proses penyembuhan luka. Dokter tidak
tahu
tingkat keganasan tumor, hal ini akan dicek setelah dilakukan
pengangkatan.
Mengingat adikku sedang hamil, kita takut pembiusan pada saat operasi
akan
mempengaruhi pertumbuhan & kesehatan janin, selain itu alasan dokter
jgn
lewat bl ke-6 adalah untuk proses penyembuhan luka, maka kita
memutuskan
untuk menunda operasi setelah bayi lahir. (Catatan: dokter tidak
pernah
mengatakan bahwa kehamilan dapat memicu sel2 jahat tersebut bekerja
lebih
cepat).
Bulan Maret 2006, kebetulan adikku ke Singapura, atas desakan
suaminya,
dia melakukan pemeriksaan di Mt.E. Oleh dr. Wee Siaw Bock, ahli
bedah
spesialis kanker payudara, dilakukanlah "neddle test" yang katanya
sih
semacam pengambilan cairan di benjolan dgn menggunakan jarum super
halus
untuk ditest di lab. Hasil lab: 90% mengarah ke kanker ganas.
Untuk lebih meyakinkan lagi disarankan untuk dilakukan biopsi. Adik
saya
sempat shock, tapi setelah diyakinkan oleh dokter bahwa biopsi tidak
akan
membuat kanker itu menyebar seperti yang dikhawatirkan oleh orang
awam,
maka adikku setuju, maka dilakukanlah "trucut biopsi". Hasil
biopsi :
kanker payudara ganas dengan tingkat penyebaran 3 of 3 berdasarkan
"Bloom
& Richardson Grade". (Catatan: ada juga dokter yg bilang bahwa biopsi
dpt
memicu sel kanker bekerja lebih cepat dan menyebar)
Saran dokter adalah secepatnya dilakukan pengangkatan dgn beberapa
opsi
berikut:
Opsi 1:
Angkat keseluruhan payudara, bayi dipertahankan. Kemoterapi baru
dilakukan
setelah bayi lahir.
Opsi 2:
Tunggu sampai bayi siap dilahirkan (+- 35 mgg kehamilan), dilakukan
caesar
sekaligus operasi penangkatan benjolan saja, payudara
dipertahankan,
langsung menjalani kemoterapi. (Catatan: usia kandungan pada saat itu +-
27
mgg)
Kita mencoba mencari pendapat dokter lain. Oleh salah seorang
kenalan,
direferensikan dr. Lie, kepala bagian bedah RS Husada. (dr. Lie
sendiri
adalah spesialis bedah jantung).
Aku membawa hasil lab di Sing ke dr. Lie sedangkan adikku konsul by
phone
(adikku tinggal di Jambi setelah menikah). Menurut dr Lie,
seharusnya
benjolan itu sudah dibuang dari pertama kali muncul karena benjolan
apapun
di payudara bisa membahayakan dikemudian hari apalagi jika sedang
hamil,
hormon2 di tubuh akan mempercepat proses perkembangbiakan sel jahat.
Dari konsul ini dr. Lie memberikan 4 opsi:
1. Tunggu bayi lahir normal baru dilakukan tindakan terhadap
benjolan
(opsi ini tidak direkomendasikan);
2. angkat payudara, bayi dipertahankan, tunggu bayi lahir baru
kemoterapi
(juga tidak direkomendasikan);
3. bayi dilahirkan prematur secara caesar sekaligus angkat
payudara,
dilanjutkan kemoterapi (harus konsultasi dgn dokter kebidanan
mengenai
kesiapan bayi untuk dilahirkan prematur)
4. dilakukan "frozen section", yaitu operasi dilakukan oleh 1 team
dokter
yg terdiri dari dokter bedah, dokter kebidanan, ahli patologi,
dll.
Pertama dilakukan penangkatan benjolan, kemudian langsung dianalisa
oleh
patologi untuk meyakinkan hasil biopsi. Jika sudah menyebar,
payudara
langsung diangkat dan bayi lahir prematur. Jika belum menyebar,
payudara
dan bayi dipertahankan.
Dr. Lie menyarankan adikku untuk datang ke Jakarta untuk konsul
langsung,
keputusan jadi tidaknya operasi adalah hak adikku, tidak ada
keharusan
untuk op di
Husada.
Beberapa hari kemudian adik saya ke Jakarta untuk pemeriksaan lbh
lanjut
dgn dr. Lie. Hasil USG benjolan menunjukkan bahwa benjolan lebih
besar
dari hasil USG sebelumnya.
Hasil USG janin menunjukkan bahwa bayi belum mampu untuk bertahan
hidup
jika dilakukan caesar pada saat itu.
Hasil konsultasi dr. Lie dgn teamnya, menganjurkan pengangkatan
payudara
secepatnya, kemoterapi dilakukan setelah janin cukup matang
untuk
dikeluarkan secara caesar. (Catatan: opsi ini sebenarnya
tidak
direkomendasikan oleh dr. Lie tetapi melihat hasil USG yg
menunjukkan
benjolan membesar, ditakutkan jika ditunggu, akan makin menyebar.
Alasan
dokter mengambil opsi ini: dgn membuang induknya lebih dulu, sel2
yang
tersisa akan terhambat perkembangannya. ini akan memberi kita waktu
sampai
bayinya cukup safe untuk caesar.1
Adikku memilih untuk bertahan sampai bayinya cukup umur, karna takut
jika
dilakukan op payudara sekarang, janin akan terpengaruh pembiusan.
Sekarang sudah lewat 3 minggu, adikku rencana untuk konsul ke
kebidanan 2
minggu lagi, jika janin safe, maka akan dilakukan op. Sementara
menunggu
kami hanya bisa berdoa.
Kesimpulan yang aku dapat dari pengalaman ini adalah: benjolan
di
payudara, sekecil apapun, walaupun oleh dokter dikatakan tidak
berbahaya,
sebaiknya segera angkat karena dikemudian hari dia bisa berubah
menjadi
jahat. Mumpung masih kecil, proses op juga tidak susah.
Tidak ada kepastian apakah biopsi itu dapat membuat sel kanker
menyebar
lebih cepat atau tidak. Ada dokter yang bilang ya, ada juga dokter
yang
bilang tidak. Tapi satu hal yang pasti "neddle test" tidak membuat
sel
kanker menyebar.
Kehamilan dapat memicu sel kanker bekerja lebih aktif.
Jangan percaya hanya pada pendapat 1 dokter, selalu cari pendapat
dokter
lain pada setiap jenis kasus penyakit. Karena 1 pendapat saja
dapat
menyesatkan kita seperti kasus adikku ini.
Bagi yang sudah meluangkan waktu membaca, terima kasih dan
tolong
disebarluaskan ke teman, saudara, pacar, ibu, istri ataupun putri
anda.
Jangan sampai mereka terlena oleh diagnosa dokter.
GBU
Fifi
--- End of Forwarded Message ---
Gabung, Keluar, Mode Pengiriman: [EMAIL PROTECTED]
Database Warga Wismamas: http://www.wismamas.tk
JANGAN MENGELUH! dengan keadaan, temukan jawabannya di http://www.bsbplus.tk
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "wismamas" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
