Belajar pada Pohon
Suatu hari saya mendapat cerita
dari seorang sahabat dekat. Dia tinggal di kota lain di sebuah negeri
empat musim. Jangan pernah tanya siapa, karena dia tidak mau
disebut-sebut namanya. Ini cerita tentang pergulatan batinnya dalam
mengenal Tuhan. Mungkin ada pelajaran yang bisa kita
ambil.
Dia punya seorang guru spiritual
yang juga masih muda, namun memiliki ilmu dan hikmah yang sangat
dalam. Dia bertemu dengan gurunya, kira-kira sekali dalam sebulan.
Setiap pertemuan berikutnya, sang guru selalu bertanya : bagaimana
perkembangan dan pengalaman selama sebulan ini? Ada bahan apa yang
bisa diambil hikmahnya sekarang? Selalu begitu.
Nah, terakhir sebelum berpisah
lama dengan gurunya, dia juga sempat bertemu dan sang guru memberi
tugas baru. Tugasnya adalah agar dia belajar menjadi manusia. Manusia
dalam arti sebenarnya, yaitu manusia sebagai wakil Tuhan, sebagai
khalifah di muka bumi. Dan untuk menjadi khalifah dia harus mengenal
yang diwakilinya, mengenal Tuhannya. "Kenali sifat-sifat Tuhan.
Jagalah hatimu, ucapanmu, dan akhlakmu sehingga mencerminkan
sifat-sifat Tuhan. Tuhan Maha Suci, Maha Pengasih, Maha Penyayang...
Tidak usah pusing-pusing memikirkan caranya, cukup jalani saja hidupmu
apa adanya. Tidak usah banyak meminta. Nanti kau akan menemukan
sendiri."
Alkisah, sahabat saya ini harus
pergi ke negara lain karena urusan pekerjaan. Sebelumnya dia memulai
investasi, bisnis. Teman-temannya sudah sukses, dan dia lihat sendiri
buktinya. Ada sedikit uang, beberapa belas juta, dia investasikan.
Kemudian dia berniat untuk menambah investasi. Dalam hatinya, jika
investasi sukses, dia bisa mencapai kebebasan finansial, sehingga bisa
beramal dan membantu orang lain dengan lebih banyak.
Dia memohon petunjuk dulu kepada
Allah. Apakah diperbolehkan investasi ini. Jika boleh, mohon
dimudahkan. Jika tidak, mohon dijauhkan. Ternyata proposalnya ke bank
disetujui, dengan jaminan mobil hasil usahanya selama ini. Investasi
pun bertambah. Lalu dia berangkat.
Namun tidak lama setelah dia
bekerja di kota baru, datang kabar buruk kalau bisnis yang diikutinya
kolaps. Dia kaget, dan mulai khawatir. Dia ingat hal-hal yang
diajarkan oleh gurunya. Lalu dia berdzikir dan berdoa. Maklum hanya
itu yang bisa dia lakukan dari jauh. Tidak mungkin dia pulang dan
menyelesaikannya. Dia mengadukan semua pada Tuhan, dan berharap semoga
kondisi menjadi lebih baik. Rajin sekali dia berdoa, sehingga dia
rasakan kenikmatan dalam hatinya yang jarang dirasakan sebelumnya.
Hati yang terasa sejuk, seperti disiram es ketika berdzikir.
Kekhawatirannya hilang, berubah menjadi syukur. Syukur karena diberi
cobaan dan diberi kenikmatan iman dalam dzikirnya.
Beberapa hari kemudian berita
baru datang. Kondisi tidak menjadi lebih baik, tetapi lebih buruk.
Modal yang diinvestasikannya terancam tidak bisa kembali. Boro-boro
untung, yang mungkin terjadi adalah kerugian. Dia yang tadinya sudah
tenang, kembali menjadi khawatir. Kemudian dalam kesempatan dzikir
setelah sholat, dia pun kembali memasrahkan diri kepada Tuhan. Dia
yakin, pertolongan Tuhan sangat dekat. Di balik ujian, pasti ada
kemudahan. Dia yakin, ujian ini tidak akan lama, dan pada akhirnya
pasti Tuhan akan menyelamatkan investasinya.
Hari berikutnya, berita datang
lagi, bahwa kondisi benar-benar semakin tidak bisa diharapkan.
Hilangnya modal sudah di depan mata. Dia pun tidak bisa membohongi
diri, kalau hatinya benar-benar khawatir dan putus asa. Belum pernah
dia rasakan keputusasaan yang sedemikian dalam. Terbayang dalam
pikirannya, bahwa di bulan-bulan selanjutnya dia harus membayar hutang
ke bank puluhan juta, atas sesuatu yang dia tidak pernah rasakan
manfaat dan keuntungannya. Dia tidak tahu dari mana bisa menulasi. Dia
mulai berprasangka buruk kepada Tuhan. Dia merasa malas mengerjakan
shalat dan dzikir, karena ternyata kenyataan yang terjadi lain dengan
yang diyakininya.
(Yaitu) ketika mereka datang
kepadamu
dari atas dan dari
bawahmu,
dan ketika tidak tetap lagi
penglihatan(mu)
dan hatimu naik menyesak sampai
ke
tenggorokan dan kamu menyangka
terhadap
Allah dengan bermacam-macam
purbasangka.
Di situlah diuji orang-orang
mukmin dan
digoncangkan (hatinya) dengan
goncangan yang sangat.
-- Al Ahzab 10-11.
Bukankah sebelumnya aku sudah
mohon petunjuk kepada-Mu ya Tuhan? Bukankah kesejukan dan ketenangan
dalam diriku berasal dari-Mu ya Tuhan? Tapi kenapa jadi seperti ini?
Dia menjadi ragu, apakah Tuhan masih akan menolongnya. Benar-benar
kacau kondisi hati dan pikirannya saat itu.
Namun tidak lama, hanya kurang
dari setengah jam dia merasakan seperti itu. Dia pun ingat yang
diajarkan gurunya, "Segala rasa siksa, itu datangnya dari setan." Lalu
ia pun sadar, bahwa setan dalam dirinya sedang mengelabuhi dan menutup
hatinya. Mencoba agar dia berputus asa dan berpaling dari Tuhan.
Melalui pikiran dan nafsu, setan menampilkan gambaran yang buruk-buruk
tentang apa yang akan terjadi kemudian. Dan setan itu bukan
siapa-siapa, tetapi bagian negatif dari keduanya, dari dirinya
sendiri.
Dia pun berteriak kepada nafsu
dan pikirannya, "Wahai nafsu dan pikiranku. Diam kau sekarang. Kalian
mau diselamatkan atau tidak. Kalau mau, mari bersamaku berwudlu dan
menghadap Tuhan." Keyakinannya kepada Tuhan tumbuh lagi.
Dalam dzikir dia bertanya kepada
Tuhan tentang hikmah semua ini. Kesalahan apa yang telah dilakukannya.
Apa yang dimaui Tuhan atas dirinya. "Jika kau hanya mau kenikmatan,
dan menolak penderitaan, maka bukan sifat Tuhan yang kau pelihara
dalam hatimu. Jika kau mau menjadi khalifah, menjadi wakilKu, maka kau
harus mau menerima kedua-duanya dengan ikhlas." Sahabatku pun menangis
di hadapan Tuhan. Menyesali kebodohan yang baru saja dia lakukan.
Menyesali dirinya yang hampir-hampir masuk dalam golongan orang fasik,
orang-orang yang berputus asa terhadap rahmat Allah. "Belum disebut
beriman kamu, jika belum pernah diuji dan belum lulus ujian
penderitaan." Tangisnya pun semakin dalam. Bukan kesedihan, tetapi
rasa syukur yang dalam karena telah diuji oleh Tuhan. Diberi
kesempatan untuk menjadi orang beriman. Ada harapan untuk masuk
golongan orang beriman.
"Ya Tuhanku, dulu aku tiada,
sekarang aku tumbuh dengan lengkap sempurna. Dulu aku tidak punya
harta, lalu Engkau anugerahi aku, dan sekarang Kau ambil lagi
milik-Mu. Kenapa aku sedih dan khawatir ya Tuhan, atas hilangnya
sesuatu yang bukan milikku. Betapa bodohnya aku ini. Betapa aku lupa
siapa aku ini. Sungguh jika Engkau tidak ingatkan aku dengan ujian
ini, pasti aku termasuk orang yang lupa diri selamanya. Ampuni aku ya
Tuhan, atas kebodohanku ini.."
Dalam tangis dan dzikirnya, dia
membuka surat Alam Nasyrah. "Bukankah Kami telah melapangkan untukmu.
Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberatkan
punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah
kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari
sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang
lain. Dan hanya kepada Tuhanmu lah hendaknya kamu berharap." Tiada
terkira syukur nikmat yang dia rasakan. Nikmat iman dan kedekatan
dengan Tuhan. Serasa seperti dalam pelukan kekasihnya. Teringat
bagaimana kekhawatiran dalam hatinya dihilangkan, dan diganti dengan
syukur. Terbayang saat-saat yang penuh beban kemudian menjadi seringan
kapas.
Dan sahabatku pun menjadi tidak
lagi peduli dengan kerugian, kehilangan, dan kegagalan. Semua dari
Allah, dan sekarang kembali kepada-Nya lagi. Dia pun segera kembali
bekerja, seolah tiada masalah yang terjadi. Dia teringat perintah
Tuhan agar tidak banyak berangan-angan, khawatir, memikirkan
kemungkinan-kemungkinan buruk yang bakal terjadi, dan besarnya nilai
kerugian yang dialami. Tidak ada waktu lagi untuk itu, yang ada adalah
"mengerjakan dengan sungguh-sungguh urusan yang lain," yaitu
pekerjaannya.
Beberapa hari kemudian berlalu
dengan normal. Apapun berita tentang investasinya sudah tidak lagi
menarik hatinya. Namun sebenarnya masalah masih ada. Utang tetap
hutang, dan harus dibayar!
Suatu hari, datang berita lagi,
setidaknya untuk saat itu modal dia benar-benar tidak bisa diharapkan
kembali. Bisnis yang diikutinya sudah gulung tikar. Mereka yang
mengurus bisnis tersebut sedang dalam penyelidikan polisi dan hukum.
Dia pun teringat kembali, dari mana harus membayar hutangnya. Minggu
depan sudah harus membayar cicilan. Kalau tidak bisa, akan dimasukkan
daftar hitam oleh bank dan mobil disita. Dia memang sudah tidak peduli
dengan modal yang hilang. Tetapi tetap saja jika tidak bisa melunasi
hutang bank, akan timbul masalah.
Kamu sungguh-sungguh akan
diuji
terhadap hartamu dan
dirimu.
-- Ali Imran 186.
Seperti biasa, sahabat saya yang
menjadi rajin mendekatkan diri kepada Allah sejak ujian ini, merenung
dengan hatinya dan berdzikir. Dia sudah ikhlas dan memasrahkan semua
urusan kepada Tuhan. Dia sudah tidak pernah memohon agar diringankan
atau dikembalikan modalnya. Dia yakin, semua memang sudah diatur oleh
Allah untuknya. Kenapa kok malah meminta aneh-aneh yang mungkin di
luar skenario Allah? Oleh karena itu, doanya hanyalah "agar diberi
penerang dalam ujian ini, dan diberi akhir yang terbaik."
Dalam dzikirnya dia mendapat
penjelasan. Ada beberapa kesalahan yang dia lakukan dalam bisnis itu.
Pertama, adanya niatan dalam hati untuk "bebas finansial". Berharap
memperoleh pendapatan pasif sehingga kecukupan secara materi dan tidak
perlu lagi khawatir soal finansial. Ternyata, hal ini bisa
menggelincirkan hatinya pada kemusyrikan yang lembut. Kemusyrikan yang
ditimbulkan oleh harta. Bagi Tuhan, jika dia merasa tenang karena
kecukupan materi atau "bebas finansial", maka itu sama saja dengan
kemusyrikan. Sebab dia merasa tenang bukan karena Allah. Dia tenang
karena sesuatu selain Allah. Belum saatnya bagi dia untuk mengalami
"bebas finansial" ini, karena pasti akan terjerumus. Suatu saat jika
sudah tiba waktunya, pasti akan dianugerahi oleh Allah kebebasan ini.
Namun saat itu dia sudah siap, sehingga tidak tertipu oleh materi.
Ujian ini untuk mempersiapkan dirinya.
Kedua, adanya keinginan untuk
bisa membantu lebih banyak orang dengan banyaknya harta yang dia
miliki nanti. Bukankah ini niat yang baik? Benar, tetapi ternyata
keinginan ini bisa sangat menipu dengan halusnya. Ada kesalahan dalam
keinginan tersebut, yaitu sesungguhnya bukan dia yang membantu manusia
lain, tetapi Tuhan. Jika benar terjadi dia bisa membantu banyak orang,
pasti dia akan tertipu oleh rasa dirinya, oleh pengakuan dirinya.
Pengakuan bahwa "aku telah beramal sholeh dengan membantu banyak
orang." Lalu muncul kepuasan dan kebanggaan spiritual yang tidak dia
sadari.
Tidak seharusnya dia memiliki
rasa seperti itu, karena semua harus dikembalikan kepada Tuhan.
Dirinya dipakai oleh Tuhan untuk menolong orang lain, tetapi bukan dia
yang menolong. Kesadaran ini harus tumbuh terlebih dahulu, sebelum dia
benar-benar menolong orang lain nanti. Dan ujian ini yang
mengajarinya. Mengajarkan makna "Bismillah", "Atas nama Allah",
"dengan nama Allah". Artinya ketika dia membantu orang lain, saat itu
dalam hatinya harus disadari bahwa yang membantu adalah Tuhan, bukan
dirinya. Tuhan sedang menggunakan wadahnya untuk membantu orang lain.
Dan tidak sepatutnya dia mengakui itu sebagai amal
perbuatannya.
"Ya Tuhan, betapa Mulianya
Engkau. Aku membeli ujian ini dengan modal yang tidak seberapa, dan
itupun dari-Mu, harta milik-Mu. Namun manfaat yang kudapatkan sungguh
tiada ternilai dengan apapun. Betapa bodoh jika aku masih menyesali
hilangnya harta itu ya Tuhan." Demikian katanya lirih dalam
hati.
Happy ending?
Belum...
Hutang tetap hutang, dan harus
dibayar. Dia pun harus kembali ke alam nyata. Harus tersadar lagi dari
perenungan dan zikirnya, dan menghadapi bulan-bulan berikutnya dengan
tekanan dan mungkin penderitaan. Apa yang telah dia dapatkan, sekali
lagi, harus dibuktikan dengan kenyataan. "Ya Tuhan, ini adalah
minggu-minggu yang berat bagiku. Seperti ditiup angin dan badai
kencang. Aku sudah hampir tumbang, tapi Engkau selamatkan aku. Dan
sekarang pun belum usai ujian ini ya Tuhan. Aku yakin Kau pasti
menolong. Aku tidak minta apapun bahkan untuk kau ringankan beban ini.
Engkau Maha Tahu akan kemampuanku dan keterbatasanku lebih dari
pengetahuanku sendiri. Berilah aku petunjuk-Mu, agar aku tidak
khawatir lagi menghadapi hari-hari di depanku dalan mengarungi
ujian-Mu ini."
Lihatlah pohon di luar jendela
itu. Bukankah kau beberapa minggu ini tertarik memperhatikannya? Kau
sudah lihat pohon itu dulu berdaun lebat. Lalu datang musim gugur.
Daunnya menjadi kuning, rapuh, kemudian berjatuhan ditiup angin
kencang. Musim dingin sudah berlalu, dan sekarang musim semi. Kau
lihat daunnya bersemi, dari hari ke hari semakin lebat, dan sekarang
seluruh cabangnya telah hijau kembali.
Dari tahun ke tahun seperti itu.
Sejak pohon itu kecil, hingga sekarang menjadi besar. Kau lihat,
meskipun daunnya berjatuhan dan bersemi lagi, bukan berarti pohon itu
semakin kecil. Tetapi semakin besar, semakin tinggi, semakin
rindang.
Seperti itulah manusia yang
beriman. Mereka tidak akan pernah lepas dari ujian, dari tiupan angin
badai penderitaan. Karena itulah makanan bagi keimanannya agar tumbuh
subur. Namun selalu "sesudah kesulitan itu ada kemudahan", selalu ada
yang bersemi, selalu ada kebahagiaan baru. Seperti pohon yang makin
tinggi, iman mereka pun semakin meningkat.
Kadang-kadang ada pohon yang
tumbang karena badai dahsyat. Namun selama akar pohon itu masih masuk
ke dalam tanah, sumber bahan kehidupan, pohon itu tidak akan mati.
Daun dan dahannya akan selalu tumbuh. Oleh karena itu, tancapkan
hatimu, akarmu, kepada Sumber Kehidupan, kepada Dzatullah. Maka kau
akan selamat.
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu
dalam hatimu
dengan merendahkan diri dan rasa
takut,
dan dengan tidak mengeraskan
suara,
di waktu pagi dan petang, dan
janganlah
kamu termasuk orang-orang yang
lalai.
-- Al A'raaf
205.
Pohon tidak pernah
khawatir akan kehilangan daun untuk selamanya ketika daunnya
berguguran. Apakah kamu tidak malu pada pohon itu? Belajarlah
darinya.
By Amal from Serambi
de'Gromiest
|