--- In [email protected], "Mula Harahap" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

"Sepakbola, Arab-Israel, dan Kita"

Oleh: Mula Harahap



1.
Suka atau tidak suka harus kita akui, bahwa emosi kita dalam 
mensikapi sebuah peperangan, yang tidak berkaitan langsung dengan 
kita, acapkali sama seperti  dalam menonton sebuah pertandingan 
sepakbola, pertandingan "Indonesian Idol", dsb. Dalam menonton 
kontes-kontes tersebut emosi yang timbul acapkali tidak ada 
kaitannya dengan kemampuan para pemain, kwalitas pertandingan, dan 
aspek-aspek lainnya yang bersifat teknis.    

Sampai pada batas-batas tertentu, hal  tersebut adalah sesuatu yang 
sah dan wajar-wajar saja. Kemajuan teknologi penyiaran telah 
memampukan kita untuk bisa menonton  peristiwa apa pun yang terjadi 
di muka bumi ini.  Karena itu adalah  hal yang sah dan wajar-wajar 
pula kalau penonton yang tidak mengerti sepakbola, tapi terjebak 
dalam gegap-gempitanya pertandingan sepakbola, mendasarkan 
keterlibatan emosinya dalam aspek-aspek yang paling primordial. 


2.
Saya, isteri dan anak-anak bukan orang yang mengerti permainan 
sepakbola. Tapi dalam menonton  Kejuaraan Dunia yang berlangsung di 
Jerman itu kami memiliki kesebelasan favorit masing-masing.

Kesebelasan favorit saya adalah Jerman. (Dan saya rasa hampir 90% 
orang Batak yang beragama Kristen--terutama yang tak memahami 
sepakbola--akan memilih Jerman). Mengapa memilih Jerman? Saya rasa 
pilihan itu tidak lepas dari aspek primordial. Orang-orang Jerman 
memainkan peranan yang besar dalam sejarah misi dan perkembangan 
agama Kristen di Tanah Batak.

Kesebelasan favorit isteri saya adalah Belanda. Saya  pun bisa 
memaklumi alasan mengapa ia memilih kesebelasan tersebut. Ia berasal 
dari Maluku. (Dan karena itu saya hanya bisa berdiam diri saja 
ketika kesebelasan Belanda harus tersingkir lebih awal dari 
kejuaraan dunia, dan ia jadi marah-marah serta tak mau membuatkan 
kopi untuk saya).

(Kadang-kadang, kalau tidak tersedia alasan yang primordial untuk 
membuat  keberpihakan, maka orang akan mencari alasan lain 
yang "less-primordial". Seorang teman saya menjagokan kesebelasan 
Iran. Tapi ketika kesebelasan tersebut tersingkir, ia menjagokan 
kesebelasan Brasil. Alasannya menjagokan kesebelasan tersebut ialah 
bahwa  kesebelasan itu adalah kesebelasan yang datang dari negara 
miskin-seperti Indonesia).  

3.
Kalau dalam mensikapi sebuah pertandingan sepakbola--yang tak ada 
urusannya dengan aspek-aspek ras, agama, kesukuan dsb--orang masih 
mencari aspek-aspek primordial dalam melakukan keberfihakan; maka 
apatah lagi dalam mensikapi pertikaian Arab-Israel. Pertikaian itu 
dari "sononya" memang sudah sarat dengan simbol-simbol agama dan 
aspek-aspek ras/kesukuan.

Karena itu  adalah hal yang wajar-wajar saja kalau penonton (baca: 
masyarakat) di Indonesia, terutama mereka yang tidak terlalu 
memahami sejarah, geografi dan politik Timur Tengah  melakukan 
keberfihakan atas dasar primordialisme agama dan kesukuan. 

(Bahkan dalam mensikapi pertikaian di antara sesama negara Arab pun 
masyarakat di Indonesia acapkali dipenuhi oleh emosi keagamaan. 
Ketika terjadi ketegangan di Timur Tengah karena Irak--yang 
mencaplok Kuwait--digempur oleh pasukan internasional--pimpinan AS--
maka wacana yang berkembang di akar rumput ialah bahwa perang yang 
terjadi itu adalah perang antara Islam dengan Kristen.  Wacana itu 
sempat mengganggu stabilitas nasional sehingga--saya masih ingat--
bagaimana Menteri Luar Negeri RI Ali Alatas harus menjelaskan kepada 
masyarakat bahwa masalah pencaplokan Kuwait itu bukanlah isyu agama. 
Bahkan Ali Alatas harus menjelaskan di depan TV, bahwa Wapres Irak 
Tariq Aziz sendiri adalah seorang Kristen. Barulah masyarakat 
menjadi sedikit tenang dan mengerti duduk persoalan).

4.
Kalau ada orang yang mempertanyakan minimnya aksi protes terhadap 
Israel--dan dukungan terhadap Palestina--yang dilakukan oleh 
kelompok-kelompok Kristen, maka sebagai warganegara yang memeluk 
agama Kristen saya tidak akan merasa tersinggung dengan pertanyaan 
tersebut.  Secara faktual memang kita nyaris tak mendengar 
pernyataan protes terhadap tindakan Israel atau pernyataan 
solidaritas terhadap Palestina, yang dilakukan oleh kelompok-
kelompok Kristen di Indonesia. 

Memang setiap kali terjadi krisis besar di Timur Tengah, KWI dan PGI 
selalu mengeluarkan pernyataan sikapnya. Tapi pernyataan sikap itu--
apalagi hanya dalam bentuk siaran pers--tentu saja tenggelam dalam 
pernyataan sikap dan aksi massa gegap-gempita yang dilakukan oleh 
kelompok-kelompok Islam.

Tapi dengan memakai analogi "penonton sepakbola yang tak tahu apa-
apa" seperti yang saya uraikan di atas, kalau pun ada masyarakat 
akar rumput--beragama Kristen--yang berfihak kepada Israel, itu juga 
adalah hal yang sah dan wajar-wajar saja. Halnya sama sah dan wajar 
dengan mayarakat akar rumput--beragama Islam--yang berfihak kepada 
Irak ketika terjadi kasus Kuwait.

Kakek atau "ompung" saya--yang hanya tahu membaca Alkitab dan tak 
pernah mengerti sejarah modern Timur Tengah--tentu saja akan selalu 
berfihak kepada Israel. Tapi dalam bersikap naif seperti 
ini  "ompung" saya tidak seorang diri. Ketika baru berkuasa, 
pemimpin Libia Kolonel Muammar Khadafi (yang kini sudah berdamai 
dengan AS) itu, menutup semua gereja di Tripoli. Dan alasannya 
ketika menutup gereja ialah: "Orang-orang ini membaca buku dan 
melantunkan nyanyian yang memuji-muji Israel..."

Tapi anak saya--yang sudah lebih terdidik dan memiliki akses yang 
lebih banyak terhadap informasi--memiliki sikap yang lain lagi. 
Ketika beberapa tahun yang lalu AS menggempur Irak--untuk menggusur 
Saddam Husein--ia menonton saluran TBN di Indovision. Disana ada 
seorang pengkhotbah fundamentalis Kristen dari AS, yang sedang 
berbicara berapi-api membenarkan tindakan AS itu dengan mencomot 
ayat-ayat Alkitab semaunya. Anak saya langsung berteriak, "Orang ini 
kagak bener! Brengsek! Kalau mau perang, yah perang aja. Kagak usah 
bawa-bawa nama Tuhan dan ayat-ayat, deh..." 

5. 
Sebuah peristiwa yang--karena keterbatasan informasi dan 
pengetahuan masyarakat--disikapi sebagai isyu agama, memang agak 
merepotkan. Apalagi, kalau isyu itu dimanfaatkan untuk kepentingan-
kepentingan politik. Tapi sampai pada batas-batas tertentu, hal ini 
juga adalah sesuatu yang sah dan wajar-wajar saja. Kita hidup di 
alam demokrasi dan kebebasan berpendapat.

Barangkali yang perlu dilakukan ialah bagaimana menjaga agar isyu 
tersebut tidak menggelinding dan mengancam keutuhan bangsa dan 
negara sendiri. 

Kalau dalam menonton pertandingan sepakbola kita memerlukan 
kehadiran para pengamat dan pengulas yang netral, maka dalam 
mensikapi perang Arab-Israel kita juga memerlukan kehadiran media 
massa dan orang-orang yang bisa memberikan gambaran dan perspektif 
yang lebih luas mengenai perang tersebut.

Disebabkan oleh faktor jarak dan keterbatasan informasi, maka 
acapkali gambaran yang terjadi di Timur Tengah sana kita persepsikan 
dengan sangat berbeda di Indonesia. Seorang teman saya yang 
mengunjungi Tepi Barat berkata, "Kayaknya damai-damai saja tuh. 
Jalanan mulus. Ladang-ladang subur. Orang-orang hidup makmur. Saya 
justeru merasa lebih serem kalau berada di Ambon, Poso atau 
Jakarta...."

6.
Hal penting lainnya yang perlu kita ingat dalam mensikapi pertikaian 
Arab-Israel adalah: Konflik itu adalah konflik kepentingan berbagai 
bangsa dan negara. Disana ada  kepentingan Israel, ada kepentingan 
Palestina,  kepentingan AS, kepentingan Rusia, kepentingan Iran,  
kepentingan Mesir, Suriah, Arab Saudi, Jordania, Libanon, Maroko 
dsb. Campur-aduk.

Israel berkepentingan agar ia eksis sebagai negara dengan wilayah 
yang meliputi Tepi Barat. Palestina juga berkepentingan agar ia 
eksis sebagai negara dengan wilayah yang meliputi Tepi Barat dan 
Gaza. Suriah berkepentingan agar dataran tinggi Gholan dikembalikan 
kepadanya. (Mengapa ia harus memakai tangan Hizbullah dan tidak 
berhadapan langsung saja dengan Israel?). AS berkepentingan agar 
penguasaannya terhadap minyak tidak terganggu. Iran--sebagai negara 
yang bukan Arab--berkepentingan agar kartu Hizbullah bisa ditukar 
dengan kartu program nuklir. Mesir--yang sudah lebih dahulu 
mendapatkan Jazirah Sinai kembali dari Israel--berkepentingan agar 
ia tetap bisa aman dan terus membangun negerinya. 

Kadang-kadang kepentingan dari berbagai kelompok politik yang ada di 
sebuah negara  dalam mensikapi isyu Arab-Israel pun, tidak selalu 
sejalan. Kepentingan PLO berbeda dengan kepentingan Hamas.  
Kepentingan Partai Demokrat di AS berbeda dengan kepentingan Partai 
Republik. Kepentingan rezim dinasti Hafez al Assad yang minoritas, 
dan yang sedang  berkuasa di Suriah itu, berbeda dengan kepentingan 
mayoritas rakyatnya.

Dan yang membuat hal menjadi lebih runyam, acapkali kepentingan  
negara dan bangsa itu tumpang-tindih dengan kepentingan rezim 
totaliter yang berkuasa. Dengan lain perkataan,  acapkali kita tidak 
tahu, apakah kepentingan sebuah negara dalam menanggapi isyu Arab-
Israel adalah kepentingan nasional atau kepentingan rezim yang 
berkuasa. 

7.
Bahwa pertikaian Arab-Israel yang kompleks itu disikapi  secara 
sederhana sebagai isyu agama,  itu memang hal yang  mencemaskan. 
Bahwa isyu tersebut dipakai untuk kepentingan-kepentingan politik, 
itu memang hal yang merepotkan. Tapi itulah fakta kehidupan 
demokrasi dari sebuah negara yang majemuk.

Bahwa pertikaian Arab-Israel itu menjadi isyu yang dimainkan oleh 
berbagai pemerintah dan negara untuk kepentingannya sendiri, itu 
memang hal yang menyedihkan. Tapi itulah juga  fakta dari persaingan 
hidup antar bangsa dan negara di muka bumi ini. 

Ada pun yang  menjadi PR (pekerjaan rumah) kita  ialah: Bagaimana 
Indonesia--terutama pemerintah--menanggapi isyu tersebut secara 
kreatif dan memakainya untuk kepentingan nasional Indonesia (yang 
notabene penduduknya adalah mayoritas pemeluk agama Islam). 

Dan dalam kaitan  mencari "terobosan kreatif" itu saya jadi teringat 
dengan gagasan yang dahulu  pernah dilontarkan oleh Gus Dur, ketika 
ia baru menjabat sebagai presiden: Membuka hubungan diplomatik 
dengan Israel.

Memang ini adalah sebuah gagasan yang sangat "nyeleneh" dan 
bertentangan dengan opini yang berkembang di masyarakat, terutama di 
kalangan akar rumput. (Itulah "cilakanya" Gus Dur. Ia selalu terlalu 
maju dan  melawan arus!). Tapi kalau gagasan itu dipikir-pikir 
dengan kepala dingin, mengapa tidak? Mesir menjalin hubungan 
diplomatik. Turki--kalau saya tidak salah--menjalin hubungan 
diplomatik.  

Bagaimana secara demokratis meyakinkan rakyat--terutama di kalangan 
akar rumput--bahwa hal ini semata-mata demi kepentingan Indonesia 
(yang mayoritas penduduknya beragama Islam), dan meyakinkan negara-
negara sahabat (yang mayoritas penduduknya beragama Islam) bahwa hal 
ini juga demi kepentingan perjuangan bersama; memang adalah sebuah 
hal sangat pelik. Tapi disinilah kebesaran dan keahlian seorang 
pemimpin diuji.

Kadang-kadang saya berfantasi: Kalau saja Indonesia telah menjalin 
hubungan diplomatik dengan Israel, maka boleh jadi pada saat krisis 
Libanon seperti yang terjadi sekarang ini kita lebih bisa melakukan 
peranan secara internasional. 

Boleh jadi seraya melakukan sesuatu yang positif dengan sesama 
negara Arab lainnya, kita juga memperoleh keuntungan politik dan 
ekonomi secara nasional.  Boleh jadi kita lebih bisa mengancam 
Israel (untuk memutuskan hubungan diplomatik), lalu Amerika akan 
tergopoh-gopoh menyogok kita dengan berbagai bantuan. Boleh jadi 
kita  lebih memiliki akses untuk masuk ke arena diplomasi Timur 
Tengah dan AS akan lebih memperhitungkan kita sebagai "mitra" yang 
strategis di Asia Tenggara dan di dunia Islam, serta menghadiahi 
kita dengan berbagai persenjataan. Dan banyak lagi "boleh jadi" atau 
kemungkinan strategis yang bisa kita peroleh.

8
Kalau persaingan antar bangsa dan negara di dunia ini bisa 
dianalogikan dengan pertandingan sepakbola, maka Pakistan (di bawah 
kepemimpinan Parvez Musharaff sebagai "striker") adalah sebuah 
kesebelasan yang memperlihatkan permainan yang brilian. 

Sebagai orang yang--kalau dibandingkan dengan "ompung"--sedikit tahu 
tentang "persepakbolaan" politik dunia, dan yang tidak lagi terlalu 
tergantung pada simbol-simbol primordialisme, saya berdecak kagum 
melihat Parvez Musharaff. Ia sangat cerdik. 

Ketika AS hendak menggempur Taliban di Afghanistan dan membutuhkan 
pangkalan bagi pesawat-pesawat tempurnya, maka--daripada didahului 
oleh India sebagai musuh bebuyutannya--Parvez Musharaff buru-buru 
menawarkan pangkalan di negerinya. Dan untuk itu Pakistan langsung 
mendapat  hibah 40 milyar dolar,  bantuan pesawat tempur serta 
persenjataan, dan program nuklirnya tak lagi dikutak-katik oleh AS. 
(Hebatnya lagi, atas "kerjasama" yang dijalinnya dengan AS itu, 
Pakistan tak mendapat sedikit pun caci-maki dari negara-negara Islam 
sahabatnya).

Mesir juga adalah contoh "kesebelasan" yang brilian. Atas sikap 
moderatnya ketika AS menggusur Saddam Husein ia mendapat rejeki 
bantuan ekonomi yang sedemikian besar dari AS  Dan atas sikap itu, 
status dan wibawa Mesir di mata negara-negara Arab lainnya tak pula 
berkurang.

Ada  pun Indonesia, yah bisalah kita samakan dengan kesebelasan 
nasional yang bernama PSSI itu. Dia selalu ricuh dan tak pernah bisa 
memenangkan pertandingan (baca: mengambil manfaat nasional) dari 
berbagai isyu dan peristiwa yang terjadi di dunia ini.

9
Emosi di kalangan masyarakat "akar rumput" boleh-boleh saja. Dan 
kalau ada politisi dalam negeri yang memainkan emosi itu untuk 
kepentingan politiknya; itu juga boleh-boleh saja.

Tapi saya selalu berharap bahwa para pemimpin nasional (terutama 
presiden)  tidak  terombang-ambing dengan emosi masyarakat "akar 
rumput". Ia harus  cerdik dan mampu  memainkan emosi itu untuk 
kepentingan nasional bangsa dan negara--yang notabene mayoritas 
penduduknya beragama Islam.[]

--- End forwarded message ---









Gabung, Keluar, Mode Pengiriman: [EMAIL PROTECTED]
                        
Database Warga Wismamas: http://www.wismamas.tk 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wismamas/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke