----- Original Message -----
From: mardibros
Sent: Friday, September 29, 2006 11:21 AM
Subject: RE: [dzikrullah] Dilarang membawa anak balita ke masjid saat tarawih?

From: <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: RE: [dzikrullah] Dilarang membawa anak balita ke masjid saat tarawih?


1. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, perintah melakukan shalat itu ketika seorang anak berusia 7 tahun. Dan bila telah sampai usia 10 tahun namun tetap tidak mau shalat, sudah boleh dipukul. Karena Rasulullah SAW selalu mengajurkan untuk shalat berjamaah di masjid, maka secara tidak langsung bisa kita ambil kesimpulan bahwa anak-anak usia 7 tahun itu sudah boleh diajak ke masjid. Sebab mereka sudah bisa diatur untuk tertib, tidak bercanda, tidak berisik, tidak berlarian kesana kesini dan yang paling penting, tidak BAB di masjid. Sedangkan anak yang masih 2 atau 3 tahunan, memang belum ada masyru`iyah untuk menyuruhnya shalat, tentu termasuk mengajaknya ke masjid. Sebab, bila dibawa ke masjid sementara mereka hanya mengganggu saja, akan merusak kekhusyuan shalat. Kecuali orang tuanya bisa menjamin anaknya tidak akan mengganggu, boleh saja sesekali diajak ke masjid, sebagai pengenalan awal. Namun sekali lagi, belum ada masyru`iyah untuk memerintahkan shalat dan terkait denganitu, belum ada anjuran untuk mengajaknya ke masjid. Meski pun hukumnya tidak terlarang. Jika ada kisah bahwa cucu Rasulullah menaiki punggung beliau ketika sujud itu perlu dipahami bahwa dalam konteks Rasulullah tidak mengajak cucunya tersebut ke masjid. Namun karena rumah Rasulullah adalah sebelah masjid. Dalam konteks ini, sholat yang dilakukannya adalah sholatul lail bukan berjamaah. Dalam hal ini kita diajarkan pula bahwa anak-anak kecil perlu diberi kasih sayangnya.
2. Mengenalkan Allah SWT bisa dengan banyak cara. Mengenalkan masjid tentunya juga suatu bentuk usaha. Namun sebaiknya bukan pada saat orang sholat berjamaah. Bisa dilakukan dengan mengaji di masjid mulai ba'da ashar hingga sebelum maghrib.
3. Mendidik anak agar paham dalil tentang sholat berjamaah di masjid termasuk adab adaah penting sejak dini. Saya punya 2 orang anak yang kalau Isya sering diajak sholat di masjid (waktu itu yang pertama 4 tahun dan yang kedua 2 tahun). Sebelumnya, saya harus mengajarkan mereka tentang adab sholat di masjid, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Ini perlu waktu yang lama. Sebelumnya, kami harus membiasakan sholat berjamaah di rumah untuk mengecek apakah bisa tertib atau tidak. Alhamdulillah ternyata bisa tertib dan tidak ramai. Kemudian setelah berhasil di rumah barulah dicoba untuk diajak ke masjid. Ternyata anak2 itu mudah sekali mengerti kalau orang tuanya bisa menceritakan dengan baik. Begitu di masjid biasanya anak2 ramai kalau ketemu dengan temannya. Maka kami pun harus bisa menganjurkan agar si anak untuk berada di shaf depan paling ujung (mepet tembok) bersama orangtuanya. Masalahnya adalah, dari pengalaman kami, anak2 hanya diajak ke masjid tanpa ditanamkan tentang adab di masjid.


From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of mardibros
Sent: Thursday, September 28, 2006 10:04 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [dzikrullah] Dilarang membawa anak balita ke masjid saat tarawih?


From: "Halimi BM" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: RE: [dzikrullah] Dilarang membawa anak balita ke masjid saat tarawih?


Mau sharing pendapat, mari kita buka mata hari kita dengan hati dingin dan ihklas....
Pertama harus kita bedakan dulu tingkat kekhusukan seorang Rasul yang hanya diganggu oleh satu orang cucunya.
Lihat fakta sekarang, tingkat kekhusukan sholat kita dan prilaku anak-anak kita zaman sekarang.
 
Ketika saya kecil belajar mengaji ditahun 1960, guru hanya tegur satu kali kita semua sudah diam, sekarang?????
 
Saya tidak mendukung dan juga tidak menolak pengumuman tersebut.....kalo dilingkungan kami, boleh membawa balita dengan syarat, para orang tua / yang membawa balita tsb dapat menjaga kekhusukan beribadah kita.
 
Sering  terjadi, orang tuanya stop shalat taraweh dan membawa anaknya pulang karena anaknya menangis mau minum, ngantuk dll..... 
 
Mohon maaf dan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1427H.
 
Wass,
Halimi - Pondok Cabe


-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]On Behalf Of mardibros
Sent: Wednesday, September 27, 2006 12:17 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [dzikrullah] Dilarang membawa anak balita ke masjid saat tarawih?

From: "aziz fajar ariwibowo" <[EMAIL PROTECTED]net>
Subject: Dilarang membawa anak balita ke masjid saat tarawih?


Dilarang membawa anak balita ke masjid saat tarawih?


Mungkin pengumuman seperti tersebut di atas akan jamak kita dengar di masjid-masjid dan mushalla-mushalla selama bulan ramadhan. Seperti yang dulu biasa saya dengarkan di masjid sebelah rumah orang tua saya. Seperti biasanya juga saya amini pengumuman dari ta'mir tersebut, berdasarkan
keinginan bersama untuk lebih khusyu' tanpa terganggu oleh teriakan anak-anak kecil.

Akan tetapi rasanya jadi berbeda ketika beberapa malam lalu saya mendengar pengumuman yang menghimbau jamaah untuk tidak membawa anak balita selama shalat tarawih di masjid di lingkungan tempat saya tinggal sekarang. Malam itu adalah malam pertama kali dilaksanakan shalat tarawih.
Artinya besoknya adalah puasa ramadhan hari pertama.

Terlihat cukup banyak anak-anak usia balita yang ikut orang tuanya ke masjid untuk shalat tarawih. Beberapa diantaranya ada yang kelihatannya sudah duduk di bangku sekolah dasar. Biasalah, layaknya anak-anak kecil lainnya, bukannya mengikuti tawarih dengan khusyu' dan tuma'ninah, mereka malah berkumpul dan bercanda rame-rame.

Buat saya sih, kondisi seperti itu oke-oke saja. Saya mahfum karena memang anak kecil sedang dalam masanya bermain-main. Dan kebetulan juga saya merasa tidak terlalu terganggu oleh candaan anak-anak itu. Tapi ternyata tidak
begitu buat beberapa orang jama'ah dan ta'mir masjid. Pada waktu memberikan kultum, seorang ta'mir memberikan arahan kepada seluruh jamah untuk selanjutnya tidak lagi membawa anak balita ke masjid. Karena menurut beliau, balita yang berkumpul di masjid akan menyebabkan jamah menjadi tidak
khusyu shalatnya. Buktinya pada saat itu terdengar anak-anak kecil sedang berkumpul dan saling berbicara dengan suara yang agak keras.

Pengumuman ta'mir tersebut mengejutkan saya. Memang sih, sebelum memberikan arahan beliau terlebih dulu meminta maaf apabila apa yang akan disampaikan mungkin menyinggung perasaan sebagian jamaah. Tapi tetap saja saya kaget.

Yang membuat saya terkejut adalah ternyata kita sendiri masih membuat batasan tentang siapa yang berhak dan layak untuk datang ke baitul-Lah. Padahal di mata Allah semua manusia adalah sama dan sederajat. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan lainnya. Allah sangat egaliter. Baik seorang ustadz dan orang tua ataupun anak kecil, masing-masing memperoleh kesempatan yang sama untuk menjadi tamu Allah di rumah-Nya.

Saya tidak terlalu ingat, tapi seingat saya dalam salah satu hadits disebutkan bahwa suatu ketika Kanjeng Rasul mengerjakan shalat berjamaah dengan para sahabat. Saat itu Kanjeng Rasul mengerjakan salah satu sujudnya dalam waktu
yang cukup lama. Sehingga membuat para sahabat heran dan bertanya-tanya. Setelah selesai sahalat, akhirnya Kanjeng Nabi menjelaskan mengapa salah satu sujudnya lama adalah karena waktu itu cucu beliau yang masih kecil sedang duduk di leher beliau. Kanjeng Rasul tidak mau mengganggu keasyikan cucunya, sehingga memutuskan untuk menunggu sampai si cucu bosan dan turun dari leher Kanjeng Rasul.
Setelah itu baru Kanjeng Rasul melanjutkan shalat ke rakaat berikutnya.

Subhanallah.. Bahkan Kanjeng Rasul sekalipun masih menghormati cucunya yang notabene seorang anak kecil yang sedang bermain-main dan duduk di atas leher beliau. Lalu mengapa kita masih dengan sombongnya melarang anak-anak balita kita untuk menjadi tamu Allah? Apakah dengan menjadi orang tua membuat kita merasa sah untuk menentukan layak atau tidaknya seorang balita ikut datang ke masjid?

Rasulullah adalah manusia pilihan yang semenjak dari lahirnya sudah dijaga hati, lisan dan tindakannya oleh Alah dari perbuatan buruk. Namun Kanjeng Rasul masih menyempatkan waktu membiarkan seorang balita bermain-main di atas leher beliau meskipun saat itu Kanjeng Rasul sedang menjadi imam shalat berjamaah dengan para sahabat.
Kemudian seperti apakah kita dibandingkan dengan Rasulullah? Sederajatkah kita yang sangat banyak dosanya ini dibandingkan dengan Kanjeng Rasul yang ma'shum? Lalu mengapa kita dengan mudahnya menentukan bahwa anak-anak kita yang masih berumur balita tidak layak menjadi tamu Alah di rumah-Nya?

Dalam keyakinan saya, belum tentu di hadapan Allah saya lebih suci dibandingkan anak saya yang baru berumur 14 bulan. Belum tentu doa saya lebih makbul dibandingkan dengan doa anak saya. Belum tentu saya lebih diajeni oleh Allah di dalam rumah-Nya dibandingkan dengan anak saya.
Belum tentu juga shalat yang saya lakukan di masjid lebih diridlai Allah dibandingkan dengan kehadiran anak saya di sana.

Kehadiran anak-anak di masjid adalah sebenarnya proses pembelajaran bagi mereka. Anak-anak kita akan melihat bagaimana cara shalat yang baik dan benar. Anak-anak juga akan melihat bagaimana para orang tuanya bermusyawarah tentang kepentingan bersama di masjid. Anak-anak akan belajar memahami bahwa masjid adalah pusat seluruh aktivitas masyarakat di lingkungannya. Namun bagaimana semangat "back to mosque" tersebut dapat ditanamkan ke benak anak-anak kita apabila dari awal kita sudah membuat saringan layak atau tidak layak bagi mereka untuk menjadi tamu Allah di rumah-Nya sendiri?

Dalam keyakinan saya, spiritualitas dan kekhusyukan kita dalam beribadah tidak ditentukan oleh usia. Tidak ditentukan juga oleh seberapa ramai atau seberapa sepi lingkungan tempat kita beribadah. Tapi lebih banyak ditentukan oleh seberapa ikhlas kita bersedia beribadah dan berdzikir atas nama Allah. Bukan atas nama yang lainnya.

Sebagai akhiran, saya mengutip perkataan salah seorang sahabat bahwa penyakit orang baik adalah pada saat dia merasa dirinyalah yang paling baik. Sehingga kita harus selalu berhati-hati karena batas antara baik dan buruk sangatlah tipis. Bahkan terkadang tanpa terasa kita sudah berjalan melintasi batas tersebut dan berada di area seberang hanya karena kita merasa sedikit lebih baik dari seorang balita.

Semoga Allah masih berkehendak mengijinkan kita semua untuk bertemu dengan ramadhan tahun depan. Karena bulan ramadhan adalah saat yang tepat untuk melakukan introspeksi diri untuk kemudian selanjutnya kita jadikan sebagai dasar transformasi diri menuju ke arah yang lebih baik.

Banyuwangi, 25 September 2006
Aziz Fajar Ariwibowo




_____________________________________________________________

Lihat foto kegiatan patrap di http://patrapnet.fotopic.net

Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail.



_____________________________________________________________

Lihat foto kegiatan patrap di http://patrapnet.fotopic.net

Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail.



_____________________________________________________________

Lihat foto kegiatan patrap di http://patrapnet.fotopic.net


Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail. __._,_.___

Gabung, Keluar, Mode Pengiriman: [EMAIL PROTECTED]
                       
Database Warga Wismamas: http://www.wismamas.tk





SPONSORED LINKS
Jakarta indonesia hotel Hotel jakarta indonesia Jakarta indonesia
Hotel in jakarta indonesia Jakarta hotel indonesia

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke