----- Original Message ----- From: "Jaenal" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Wednesday, December 06, 2006 2:25 PM Subject: [teamgaul] Fwd: Two Choice
--- Original Message --- From: "Tri Maryono" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> <[EMAIL PROTECTED]> <[EMAIL PROTECTED]> <[EMAIL PROTECTED]>din <[EMAIL PROTECTED]> <[EMAIL PROTECTED]> <[EMAIL PROTECTED]> <[EMAIL PROTECTED]>Jaenal <[EMAIL PROTECTED]>Nita Trie <[EMAIL PROTECTED]> <[EMAIL PROTECTED]> <[EMAIL PROTECTED]> <[EMAIL PROTECTED]>'ANTIE' <[EMAIL PROTECTED]>'Paul Siregar' <[EMAIL PROTECTED]> Cc: Sent: Wed, 6 Dec 2006 08:28:32 +0700 Subject: Two Choice > > > nice story.... > > > TWO CHOICE > > Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan dana untuk sekolah anak- > anak cacat, ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana > menghantarkan satu pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka > yang menghadiri acara itu. Setelah mengucapkan salam pembukaan, > ayah tersebut mengangkat satu topik: > 'Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala > proses yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna/ alami. > Namun tidak demikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak dapat > mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Nah, > bagaimanakah proses alami ini berlangsung dalam diri anakku? ' > > Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu. Ayah tersebut > melanjutkan: "Saya percaya bahwa, untuk seorang anak seperti Shay, > yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir, > satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini berasal dari > bagaimana orang-orang sekitarnya memperlakukan dia" > > Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut: > Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman ketika beberapa > orang anak sedang bermain baseball. Shay bertanya padaku,"Apakah > kau pikir mereka akan membiarkanku ikut bermain?" Aku tahu bahwa > kebanyakan anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti > Shay ikut dalam tim mereka, namun aku juga tahu bahwa bila saja > Shay mendapat kesempatan untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan > memberinya semacam perasaan dibutuhkan dan kepercayaan untuk > diterima oleh orang-orang lain, diluar kondisi fisiknya yang cacat. > > Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya apakah > Shay dapat ikut dalam tim mereka, dengan tidak berharap banyak. > Anak itu melihat sekelilingnya dan berkata, "kami telah kalah 6 > putaran dan sekarang sudah babak kedelapan. Aku rasa dia dapat ikut > dalam tim kami dan kami akan mencoba untuk memasukkan dia > bertanding pada babak kesembilan nanti' > > Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan mengenakan > seragam tim dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata di mataku > dan kehangatan dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut melihat > kebahagiaan seorang ayah yang gembira karena anaknya diterima > bermain dalam satu tim. > > Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak beberapa skor, > namun masih ketinggalan angka. Pada putaran kesembilan, Shay > mengenakan sarungnya dan bermain di sayap kanan. Walaupun tidak ada > bola yang > mengarah padanya, dia sangat antusias hanya karena turut serta > dalam permainan tersebut dan berada dalam lapangan itu. Seringai > lebar terpampang di wajahnya ketika aku melambai padanya dari > kerumunan. Pada akhir putaran kesembilan, tim Shay mencetak > beberapa skor lagi. Dan dengan dua angka out, kemungkinan untuk > mencetak kemenangan ada di depan mata dan Shay yang terjadwal untuk > menjadi pemukul berikutnya. Pada kondisi yg spt ini, apakah mungkin > mereka akan mengabaikan kesempatan untuk menang dengan membiarkan > Shay menjadi kunci kemenangan mereka? > > Yang mengejutkan adalah mereka memberikan kesempatan itu pada Shay. > Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah mustahil karena > Shay bahkan tidak tahu bagaimana caranya memegang pemukul dengan > benar, apalagi berhubungan dengan bola itu. > > Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju kedalam arena, sang > pitcher, sadar bagaimana tim Shay telah mengesampingkan kemungkinan > menang mereka untuk satu momen penting dalam hidup Shay, mengambil > beberapa langkah maju ke depan dan melempar bola itu perlahan > sehingga Shay paling tidak bisa mengadakan kontak dengan bola itu. > Lemparan pertama meleset; Shay mengayun tongkatnya dengan ceroboh > dan luput. Pitcher tsb kembali mengambil beberapa langkah kedepan, > dan melempar bola itu perlahan kearah Shay. Ketika bola itu datang, > Shay mengayun kearah bola itu dan mengenai bola itu dengan satu > pukulan perlahan kembali kearah pitcher. Permainan seharusnya > berakhir saat itu juga, pitcher tsb bisa saja dengan mudah melempar > bola ke baseman pertama, Shay akan keluar, dan permainan akan > berakhir. > > Sebaliknya, pitcher tsb melempar bola melewati baseman pertama, > jauh dari jangkauan semua anggota tim. Penonton bersorak dan kedua > tim mulai berteriak, "Shay, lari ke base satu! Lari ke base satu!". > Tidak pernah dalam hidup Shay sebelumnya ia berlari sejauh itu, > tapi dia berhasil melaju ke base pertama. Shay tertegun dan > membelalakkan matanya. Semua orang berteriak, "Lari ke base dua, > lari ke base dua!" > > Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan canggung ke base dua. > Ia terlihat bersinar-sinar dan bersemangat dalam perjuangannya > menuju base dua. Pada saat Shay menuju base dua, seorang pemain > sayap kanan memegang bola itu di tangannya. Pemain itu merupakan > anak terkecil dalam timnya, dan dia saat itu mempunyai kesempatan > menjadi pahlawan kemenangan tim untuk pertama kali dalam hidupnya. > Dia dapat dengan mudah melempar bola itu ke penjaga base dua. Namun > pemain ini memahami maksud baik dari sang > pitcher, sehingga diapun dengan tujuan yang sama melempar bola itu > tinggi ke atas jauh melewati jangkauan penjaga base ketiga. Shay > berlari menuju base ketiga. > > Semua yang hadir berteriak, "Shay, Shay, Shay, teruskan > perjuanganmu Shay" Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain > lawan berlari ke arahnya dan memberitahu Shay arah selanjutnya yang > mesti ditempuh. Pada saat Shay menyelesaikan base ketiga, para > pemain dari kedua tim dan para penonton yang berdiri mulai > berteriak, "Shay, larilah ke home, lari ke home!". Shay berlari ke > home, menginjak balok yg ada, dan dielu-elukan bak seorang hero > yang memenangkan grand slam. Dia telah memenangkan game untuk > timnya. > Hari itu, kenang ayah tersebut dengan air mata yang berlinangan di > wajahnya, para pemain dari kedua tim telah menghadirkan sebuah > cinta yang tulus dan nilai kemanusiaan kedalam dunia. > > Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut dan meninggal > musim dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya dia tidak pernah > melupakan momen dimana dia telah menjadi seorang hero, bagaimana > dia telah membuat ayahnya bahagia, dan bagaimana dia telah membuat > ibunya menitikkan air mata bahagia akan sang pahlawan kecilnya. > > Seorang bijak pernah berkata, sebuah masyarakat akan dinilai dari > cara mereka memperlakukan seorang yang paling tidak beruntung > diantara mereka. Catatan kaki: > Kita sering mengirim ribuan jokes lewat email tnp pikir panjang, > namun bila kita harus mengirimkan mail tentang pilihan dalam hidup, > kita seringkali ragu. Kejadian-kejadian vulgar, kasar dan > mengerikan acap terjadi dalam hidup ini,namun pembicaraan > tentangnya seolah tertelan waktu, baik itu di lingkungan pendidikan > atau kerja. > > Jika Anda berpikir untuk forward email ini, kemungkinannya Anda > akan memilih daftar orang-orang dari email address Anda yang Anda > pikir layak untuk menerima email Anda. Ingatlah, bahwa orang yang > mengirimi Anda email ini berpikir bahwa kita semua dapat membuat > perbedaan. > > Kita semua mempunyai banyak pilihan dalam hidup setiap harinya > untuk dapat memahami "kejadian alami dalam hidup". Begitu banyak > hubungan antar 2 manusia yang kelihatan remeh, sebenarnya telah > meninggalkan 2 pilihan bagi kita: > > Apakah kita telah meninggalkan cinta dan kemanusiaan atau, Apakah > kita telah melewatkan kesempatan untuk berbagi kasih dengan mereka > yang kurang beruntung, yang menyebabkan hidup ini menjadi dingin?
