----- Original Message ----- From: Eni Ashari To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] Sent: Wednesday, December 13, 2006 7:39 AM Subject: RE: Office Politics
Mengapa konsep manajemen apapun bisa gagal diimplementasikan ? Ada satu hal yang sering dilupakan, tetapi exist di hampir semua organisasi . yaitu OFFICE POLITICS. Hal ini bisa menyebabkan berbagai konsep manajemen tidak bisa diimplementasikan secara konsisten (bahkan bisa layu sebelum berkembang), karena ada prinsip take and give dalam eksekusi atau implementsi. Saya ambil contoh, ini kasus nyata. Di sebuah perusahaan manufaktur, seorang manajer sudah merasa gelisah, karena dengan diterapkannya manajemen SDM berbasis kompetensi, maka dia merasa posisinya terancam . memang dia nggak kompeten atau kompetensinya tidak pas untuk menduduki jabatan tersebut . dia sudah merasakannya sewaktu dilakukan asessment terhadap semua manajer beberapa waktu yang lalu . dia sih sebetulnya menyadari . seorang asisten manajer yang sangat kompeten untuk menduduki jabatan tersebut sudah siap untuk menggantikannya. Tetapi secara natural, manusia itu punya naluri atau semacam sistem yang bekerja di dalam dirinya untuk mempertahankan posisi dan teritorinya . jamak lah .. ini terjadi hampir di semua kita .. sistem ini berjalan dengan sendiri pada diri kita, apa bila kita merasakan adanya sebuah ancaman. Termasuk pada diri si manajer yang kita sebutkan tadi. Dia merasa dalam waktu dekat dia merasa akan digeser dan posisinya akan digantikan oleh orang lain. Mekanisme untuk mempertahankan kekuasaan (power) dan teritori inilah yang dimaksud sebagai office politics. Apa yang dia lakukan ? Kebetulan dia dekat dengan ketua serikat pekerja, dan juga kebetulan di penduduk asli daerah di mana pabrik itu berdiri dan beroperasi. Maka dengan bantuan ketua serikat pekerja, dan dengan koneksi ke sebuah LSM di luar pabrik di daerah tersebut, mulailah dikampanyekan pentingnya sebuah perusahaan memberikan prioritas kerja kepada penduduk setempat, karena bagian dari corporate social responsibility . dikampanyekanlah bahwa tindakan memberhentikan penduduk setempat dari jabatan apapun merupakan suatu penghinaan . Dalam kerangka berpikir office politics, maka yang dilakukan si manajer ini adalah membuat posisi daya tawarnya (bargaining power) seimbang dengan perusahaan. Daya tawar yang seimbang akan menghasilkan negosiasi . untuk take and give. Apa yang harus dilakukan oleh perusahaan ? Tetap konsisten mencopot sang manajer dari jabatannya karena hasil assessment menunjukkan dia tidak kompeten, berarti menciptakan "konflik terbuka" dengan serikat pekerja, LSM setempat, dan bahkan penduduk lingkungan sekitar pabrik. Jika "konflik terbuka" ini terjadi, maka biayanya akan mahal, dan bisa berlarut-larut . jika secara jujur mengatakan bahwa si manajer tidak kompeten untuk pekerjaan itu, bisa dianggap penghinaan untuk penduduk setempat. Solusinya . tetap mempertahankan si manajer tadi di posisinya . hanya didampingi oleh asisten manajer yang handal . Dari kasus ini, apakah konsep manajemen SDM berbasis kompetensi bisa diterapkan dengan konsekuen dan konsisten ? Jawabannya TIDAK. Saya yakin, banyak penerapan berbagai konsep manajemen di berbagai organisasi akan berbenturan dengan fenomena office politics ini, walaupun dalam bentuk yang lain atau berbeda dengan cerita di atas . misalnya, impressions management, dsb. Makanya, semua buku teks teori dan perilaku organisasi selalu membahas office politics ini .. karena sangat berpotensi untuk mengagalkan penerapan berbagai pembaharuan di dalam perusahaan. Change management yang terberat, selalu berkaitan dengan office politics. Makanya John Kotter dalam teori 8-steps to change management sangat menekankan perlu menguasai situasi terlebih dahulu sebelum melakukan perubahan, melalui penguasaan tokoh-tokoh kunci (key persons) di perusahaan dan sekitarnya. Konyolnya, banyak yang salah kaprah, key person selalu dianggap para pimpinan atau mereka yang memiliki jabatan formal di dalam perusahaan (formal leader) . padahal peran para informal leader kadang-kadang sama besarnya . Dalam teori dan perilaku organisasi, kita mengenai ada yang terlihat (formal), serta ada pula yang tersembunyi (hidden). Yang tersembunyi ini, ada yang observable, ada juga yang tidak . Contoh lagi . , di sebuah perusahaan ada peraturan yang berbunyi begini . "Pada prinsipnya perusahaan memberikan kesempatan yang sama kepada setiap karyawan yang berprestasi dan berdedikasi tinggi untuk berkembang dan maju untuk menempati berbagai posisi pimpinan". Itu adalah pernyataan formal . Tapi pada kenyataannya, kepala cabang untuk kampung saya di Padang harus selalu karyawan yang beragama Islam, begitu juga di Aceh . padahal dalam peraturan perusahaan tidak ada klausul beginian . kesempatannya sama untuk semua karyawan. Nah, inilah sesuatu yang hidden, tapi observable . Mengapa tidak sekalian ditulis dengan formal dalam peraturan perusahaan bahwa untuk menduduki kepala cabang di Padang dan Aceh harus beragama Islam ? Jawabannya, takut kalau nanti dicap diskriminatif ! Atau di sebuah perusahaan keluarga yang besar, jabatan2 tertentu dipegang oleh anggota keluarga yang dekat . apakah ini ditulis secara formal ? Sudah pasti tidak . Nggak mungkin bakalan ada kalimat dalam sebuah peraturan perusahaan keluarga yang besar "Pada prinsipnya perusahaan memberikan kesempatan yang sama kepada setiap karyawan yang berprestasi dan berdedikasi tinggi untuk berkembang dan maju untuk menempati berbagai posisi pimpinan, kecuali untuk posisi X, Y, dan Z, hanya diperuntukkan bagi keluarga besar pemilik dengan marga A, B, dan C". Jadi, ada sesuatu yang formal, ada yang hidden . yang hidden itu bisa ada yang observable, ada yang nggak . Office politics adalah sesuatu yang hidden, kadang-kadang bisa observable, tetapi lebih sering tidak . Pemilik perusahaan atau pengusaha pasti melakukan office politics, bahkan bisa jadi office politics tingkat tinggi dan tidak observable, tidak mudah ketahuan, sering malah tidak ketahuan. Demikian pula buruh, melakukan office politics, cuma yang mereka lakukan sering observable, jadi mudah ketahuan. Tinggallah yang puyeng pening mumet sakit kepala ada di manajer HR, karena dia bukan buruh, tetapi juga bukan bagian dari lingkar pemilik.
