tuh pa ALI baca ... biar agak romantisan dikit gitu
lho sama bojomu itu...
--- sanipan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>  
>  
> -------Original Message-------
>  
> From: Kusuma Dewi
> Date: 09/06/07 09:38:58
> To: [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; theresia.a
> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]
>  'suriaty'; [EMAIL PROTECTED]; 'hendra';
> [EMAIL PROTECTED]; 'Lidya
> Afriani'; 'Chiquita Pitono';
> [EMAIL PROTECTED]
> Subject: FW: [Intermezo] - Aku tidak akan mengambil
> bunga itu.
>  
>  
>  
> Dari Milis tetangga, buat yang sedang trouble in
> love especialy for couples.
>  
> Think thousand times  to say divorce.
> Cliche... but still relevant.
>
-----------------------------------------------------------------------------
> ----------------------------------
>  
> “Aku tidak akan mengambil bunga itu…”
> 
> 
> 
> 
> 
>  
>  
> Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai
> sifatnya yang alami dan
> saya 
> menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan
> saya, ketika saya bersandar
> di 
> bahunya yang bidang.
>   
> Tiga tahun dalam masa perkenalan dan dua tahun dalam
> masa pernikahan, saya 
> harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah,
> alasan-alasan saya mencintainya
> dulu 
> telah berubah menjadi sesuatu
>  yang menjemukan.
>   
> Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar
> sensitif serta
> berperasaan 
> halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti
> seorang anak yang 
> menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah
> saya dapatkan.
>   
> Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan.
> Rasa sensitif-nya kurang.
> Dan 
> ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang
> romantis dalam pernikahan
> kami 
> telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang
> ideal.
>   
> Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan
> keputusan saya kepadanya, 
> bahwa
>  
> saya menginginkan perceraian.
>   
> "Mengapa ?", tanya suami saya dengan terkejut.
>   
> "Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta
> yang saya inginkan,"
> jawab 
> saya.
>   
> Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di
> depan komputernya,
> tampak
>  
> seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal
> tidak. Kekecewaan saya
> semakin 
> bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat
> mengekspresikan perasaannya,
> 
> apalagi yang bisa saya harapkan darinya ?
>   
> Dan akhirnya suami saya bertanya," Apa
>  yang dapat saya lakukan untuk merubah 
> pikiran kamu ?"
>   
> Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan
> pelan, "Saya punya 
> pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di
> dalam perasaan saya, saya
> 
> akan merubah pikiran saya:
>  
> Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang
> ada di tebing gunung.
> Kita 
> berdua tahu jika kamu memanjat gunung
>  itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan 
> memetik bunga itu untuk saya ?"
>   
> Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan
> memberikan jawabannya
>  besok." 
>   
> Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya.
>   
> Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya
> menemukan selembar kertas
> 
> dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas
> yang berisi susu hangat
> yang 
> bertuliskan. .
>   
> "Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu
> untukmu, tetapi ijinkan saya
> untuk 
>  
> menjelaskan
>  alasannya."
>   
> Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya.
> Saya melanjutkan untuk 
> membacanya.
>   
> "Kamu selalu pegal-pegal pada waktu 'teman baik
> kamu' datang setiap bulannya
>  
> dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat
> kaki kamu yang
>  pegal."
>   
> "Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir
> kamu akan menjadi aneh'.
>   
> Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur
> kamu di rumah atau 
> meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal
> lucu yang saya alami."
>   
> "Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi,
> terlalu dekat membaca buku,
> dan 
> itu tidak baik untuk kesehatan mata kamu. Saya harus
> menjaga mata saya agar 
> ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong
> mengguntingkan kuku kamu
> dan 
> mencabuti uban kamu."
>   
> "Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing
> kamu menelusuri pantai, 
> menikmati matahari pagi dan pasir yang indah.
> Menceritakan warna-warna bunga
> 
> yang
>  bersinar dan indah seperti cantiknya wajah kamu."
>   
> "Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga
> indah yang ada di tebing
> gunung 
> itu hanya untuk mati. Karena, saya tidak sanggup
> melihat air mata kamu
> mengalir 
> menangisi kematian saya."
>   
> "Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa
> mencintai kamu lebih dari
> saya 
> mencintai kamu. Untuk itu Sayang, jika semua yang
> telah diberikan tangan
> saya, 
> kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya
>  tidak bisa menahan kamu untuk 
> mencari tangan, kaki dan mata lain yang dapat
> membahagiakan kamu."
>   
> Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat
> tintanya menjadi kabur, 
> tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya.
>   
> "Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca
> jawaban saya. Jika kamu
> puas 
> dengan semua jawaban ini dan tetap menginginkan saya
> untuk tinggal di rumah 
> ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang
> sedang berdiri di sana
> menunggu jawaban kamu."
>   
> 
=== message truncated ===> Internal Virus Database is
out-of-date.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.1.413 / Virus Database: 268.18.7/713 -
> Release Date: 3/7/2007
> 
> 
> 



      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

Kirim email ke