Jumat, 14 Sept 2007,
Pengalaman Salat Tarawih di Masjid Manhattan, New York 

Jamaah Bisa Interupsi jika Surat Terlalu Panjang 
Tidak berbeda dengan Indonesia, awal Ramadan di Amerika juga jatuh pada 13 
September. Tarawih pertama dilakukan Rabu malam waktu setempat. Inilah 
pengalaman wartawan Jawa Pos salat malam di masjid yang berada tak jauh dari 
Ground Zero, Manhattan, New York. 

FUAD ARIYANTO-F. ARNAZ, New York

TIDAK ada menara berpengeras suara, kubah, apalagi beduk yang menjadi ciri-ciri 
khusus bahwa bangunan itu sebuah masjid. Bentuknya sama dengan kantor-kantor di 
sekitarnya: kotak-kotak. Kalau saja tidak ada tulisan Manhattan Mosque (Masjid 
Manhattan) di tembok bagian atas, barangkali orang tak akan mengetahui bahwa 
itu adalah masjid. Jawa Pos menemukan masjid tersebut setelah melacak lewat 
www.islamicfinder.com. Itulah situs populer bagi muslim Amerika. 

Untuk masuk ke masjid, ada pintu kecil di kiri yang menuju lorong, kemudian 
naik ke tingkat dua. Bagian dalam masjid tersebut lebih menyerupai aula yang 
disulap sebagai tempat salat. Bentuknya empat persegi panjang dengan lantai 
karpet yang diberi garis saf. Di kiri kanan pintu masuk terdapat rak-rak untuk 
menyimpan sandal atau sepatu.

Tempat wudu berada di sebelah rak sepatu sebelah kanan. Bentuknya mirip dengan 
tempat wudu di Masjidilharam, Makkah, dan Masjid Nabawi, Madinah. Ada tempat 
duduk di depan keran. Orang yang berwudu harus duduk, tidak berdiri, atau 
jongkok seperti umumnya di masjid-masjid di Indonesia.

Di sebelah rak sepatu kiri terdapat ruang kecil tertutup kelambu. Itulah tempat 
salat perempuan. "Ruang itu memuat paling banyak sepuluh orang," kata Saad 
Diallo, wakil imam Masjid Manhattan. 

Kondisi itulah yang diprotes Presiden ISNA (Islamic Society of North America) 
Ingrid Mattson. Di negeri kampiun demokrasi itu, perempuan masih sering 
"didiskriminasi" dalam masjid, dengan menempatkan mereka di ruang kecil 
berdesak-desakan. 

Malam itu tak ada perempuan yang akan ikut salat tarawih (ibadah salat malam 
berjamaah saat bulan puasa). "Masjid ini terletak di kawasan bisnis, bukan 
permukiman. Jadi, tak banyak jamaah perempuan," tutur Saad.

Di dalam area salat yang berukuran sekitar 20 x 50 meter itu terdapat meja 
kecil di sisi kanan. Ada brosur tentang Islam, kotak amal, dan berbagai kue 
dalam kotak. Siapa saja boleh mengambil makanan itu. 

Di bagian depan ruang masjid adalah tempat imam memimpin salat dan khatib 
berkhotbah. Tidak hanya mimbar, tapi juga galon-galon air minum dan dispenser 
yang berderet dengan rak-rak Alquran menyelingi. 

Ada juga kulkas, panci, ember plastik, dan tempat kopi. "Itu semua hanya ada 
selama Ramadan," ujar Ibrahim Yatta, jamaah masjid yang bekerja di sekitar 
Ground Zero, bekas lokasi World Trade Center (WTC) yang hancur pada tragedi 11 
September. Selama Ramadan, masjid yang disewa seharga USD 7 ribu dolar per 
bulan itu memang menyediakan makanan dan minuman untuk sahur dan berbuka. 

Di atas rak Alquran terdapat sederet parfum. "Siapa pun boleh menggunakan 
parfum itu. Orang yang salat dianjurkan bersih dan wangi," kata Saad. 

Di bagian belakang, terdapat kasur yang disandarkan ke tembok. Juga, dispenser 
dan galon-galon air. Di tembok sebelah sisi kiri membujur rak panjang yang di 
bagian bawahnya terdapat gantungan baju. Beberapa jamaah menggantungkan jas 
atau jaket di situ ketika salat.

Tarawih dimulai pukul 21.00. Puasa di Amerika kali ini memang lebih panjang 
dibandingkan di Indonesia. Subuh di New York pukul 05.19 dan magrib jatuh pukul 
19.09. Malam itu hanya ada dua saf atau sekitar 40 orang yang ikut tarawih. 
Menurut Saad, masjid baru penuh jika salat duhur. "Semua saf terisi penuh jika 
duhur. Kalau asar dan magrib sekitar separo, isya cuma dua saf, dan subuh tidak 
sampai satu saf," jelas Saad yang berasal dari Guinea-Conakry, Afrika Barat, 
tersebut.

Tarawih di masjid itu dilaksanakan dengan delapan rakaat dan ditutup salat 
witir tiga rakaat. Salat diimami Oury Diallo. Saad menjadi makmum sekaligus 
menyimak bacaan imam sambil membawa Alquran kecil. Beberapa kali Saad 
membetulkan bacaan Oury Diallo yang kendati hafal semua isi Alquran, dia masih 
grogi karena itu adalah penampilan perdananya menjadi imam. 

Ketika memasuki rakaat kelima, Saad "menginterupsi". Dia menanyakan kepada 
jamaah apakah bacaan yang dibaca imam terlalu panjang. Hal itu perlu ditanyakan 
karena jamaah umumnya adalah para pekerja yang mungkin perlu segera kembali ke 
tempat kerjanya. "Jadi bagaimana, apakah surat yang dibaca terlalu panjang dan 
para jamaah berkeberatan?" ujar Saad. Beberapa jamaah pun menjawab, "Silakan 
teruskan saja."

Masjid Manhattan memang berusaha mengkhatamkan bacaan Alquran dalam tarawih. 
Malam itu, imam berhasil membacakan surat Al Baqarah hingga ayat ke-41. Salat 
malam tanpa ceramah tersebut memakan waktu sekitar 70 menit. "Di kawasan ini, 
waktu adalah uang. Imam perlu bertanya daripada diprotes jamaah gara-gara 
terlalu panjang baca surat," kata Salim, jamaah yang lain. 

Ditemui usai salat, Saad membenarkan pernyataan Salim tersebut. "Lebih baik 
kita mendengar apa yang jadi keinginan jamaah daripada salat tidak khusyuk," 
ujarnya. 

Dia berharap, jika jamaah tidak berkeberatan membaca surat-surat panjang, pada 
akhir Ramadan, mereka bisa mengkhatamkan Alquran. "Namun, bagaimanapun, meski 
jadi imam, kita tidak bisa menang sendiri," ungkapnya. (*)

Kirim email ke