Di Bloomington Mereka Berpuasa Bersama
i Bloomington, Indiana, Amerika Serikat, mereka berpuasa bersama. Mahasiswa 
Muslim serta non-Muslim. Kegiatan itu dilakukan pada bulan puasa lalu. Kegiatan 
serupa juga berlangsung di 280 perguruan tinggi dan sekolah di Amerika Serikat 
dan Kanada, pada hari yang berbeda-beda, sebagian besar pada awal Oktober. 

Kegiatan puasa bersama itu merupakan kegiatan dari aksi Fast-a-thon. Apa mereka 
sedang melakukan gerakan politik dengan menggunakan momentum Ramadan yang suci 
itu? Jangan-jangan mereka meniru para politisi Indonesia yang terlihat sangat 
bersahabat saat melakukan buka puasa bersama. 

Silakan tafsirkan dengan bebas kegiatan bersama para generasi muda di Amerika 
Serikat itu. Dengar ucapan Daniel Liu, mahasiswa Universitas Southern 
Methodist. "Saya Kristen. Tapi saya senang bisa berpuasa dengan teman-teman 
Muslim saya. Puasa yang saya lakukan ini ternyata meningkatkan persaudaraan di 
antara kami (Muslim dan non-Muslim, Red)," kata Daniel Liu. 

Tulisan ini bisa jadi dianggap terlambat jika dikaitkan dengan arus balik 
pemudik di Indonesia. Puasa sudah usai. Lebaran sudah berakhir. Kini saatnya 
bermaaf- maafan. 

Tetapi, kabar baik yang ditulis Jeffrey Thomas dari USINFO itu jelas harus 
mendapat catatan khusus. Kabar baik mengenai munculnya kesadaran di kalangan 
generasi muda di Amerika Serikat tentang arti penting persaudaraan dan 
solidaritas untuk yang tertindas. 

Lewat puasa bersama, mereka yang bukan Muslim, ternyata bisa lebih memahami 
makna puasa bagi saudara-saudaranya yang Muslim. Lebih dari itu, Fast-a-thon 
ternyata punya sisi positif lainnya. Semua peserta puasa itu bahu-membahu 
melakukan penggalangan dana. Dana itu kemudian disumbangkan kepada kaum papa. 

Maka di Bloomington, tepatnya di Universitas Indiana, 600 mahasiswa non-Muslim 
melakukan aksi puasa bersama rekan-rekan Muslim. Mereka melaksanakan aksi 
penggalangan dana bagi Bloomington Community Kitchen. Kegiatan organisasi itu 
bukan membuat pernyataan sikap mengkritik atau menghujat kebijakan pemerintah 
atau kelompok lainnya. Kelompok itu membagikan makanan bagi warga yang 
kelaparan. Berbeda dengan film-film Amerika yang rajin menggambarkan gaya hidup 
glamor, tidak sedikit warganya yang sangat kesulitan mendapatkan makanan. 

Gelombang aksi solidaritas juga berlangsung di Universitas Stanford di Palo 
Alto, California. Di kampus itu, aksi puasa bersama diikuti 140 mahasiswa 
non-Muslim. 

Kegiatan itu mengumpulkan dana lebih dari US$ 1.000 untuk Rahima Foundation, 
lembaga amal di San Francisco Bay Area. Dana yang terkumpul, lagi-lagi untuk 
membantu kaum papa yang membutuhkan makanan sehari-hari. 

Mahasiswa Universitas Pennsylvania di Philadelphia tidak mau kalah. Di kampus 
mereka terkumpul dana US$ 1.100 pada 8 Oktober melalui kegiatan aksi puasa yang 
dilakukan 400 mahasiswa. Uang yang terkumpul diteruskan ke klinik kesehatan di 
Biloxi, Mississippi, yang dibangun untuk menggantikan klinik lama yang tersapu 
Badai Katrina. 

Mahasiswa Universitas Southern Methodist di Dallas, Texas, juga tidak 
ketinggalan. Mereka berhasil mengumpulkan dana lebih dari US$ 10.000. Di kedua 
universitas tersebut uang yang dikelola lembaga mahasiswa Muslim disumbangkan 
kepada warga yang terusir dari lingkungan hidupnya di Darfur, Sudan. 


Jembatan 

Kegiatan Fast-a-thon dilakukan pertama kali di Universitas Tennessee di 
Knoxville, pada 2001. Kegiatan itu kemudian menyebar dengan cepat. Para 
mahasiswa dan pelajar di Amerika Serikat yang non-Muslim ternyata banyak yang 
tertarik untuk melakukan puasa bersama. 

Tahun ini, kegiatan itu di Universitas Tennessee diikuti 1.000 mahasiswa. Dana 
yang terkumpul berjumlah lebih dari US$ 2.100. Dana yang terkumpul disumbangkan 
ke Love Kitchen di Knoxville. Lembaga itu yang menyediakan 1.600 makanan setiap 
minggu untuk lebih dari 200 orang yang membutuhkan. 

Tarek El-Messidi, salah satu pencetus Fast-a-thon mengungkapkan, kegiatan puasa 
yang melibatkan mahasiswa non-Muslim diharapkan dapat menjembatani komunitas 
Muslim dan non-Muslim. Mereka mengajak serta kalangan non-Muslim menjalankan 
puasa sehari untuk mengumpulkan dana bagi kaum papa. 

Lewat kegiatan itu para penggagas Fast-a-thon berharap munculnya kesadaran 
bahwa masih ada jutaan orang di dunia yang kelaparan setiap harinya. 

Pada kegiatan itu, para mahasiswa mengundang peng- usaha setempat untuk 
berpartisipasi. Maka penjualan kaus bertuliskan Fast to Fight Hunger seperti di 
Universitas Syracuse, New York, sebagai bagian dari upaya penggalangan dana, 
pun berlangsung. 

Uang yang terkumpul dari kegiatan Fast-a-thon, mungkin lebih sedikit dari dana 
yang diberikan oleh konglomerat di negeri itu untuk kaum papa. Tapi bukankah 
kegiatan bersama lintas keyakinan oleh generasi muda di Amerika Serikat itu 
bisa jadi pertanda baik tentang masa depan dunia ini? 

Masa depan tentang dunia yang penuh persaudaraan lintas keyakinan. Dunia yang 
bebas prasangka. Dan puasa yang wajib hukumnya bagi umat Muslim, terbukti bisa 
menjadi jembatan bagi lahirnya persaudaraan. [SP/Aa Sudirman] 

Kirim email ke