--- Begin Message ---
Salut euuuy !
________________________________
From: Tiyas Wuliyandari [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, February 27, 2008 11:37 AM
To: Agustinus Maryanto; Arief Dharmawan; Asih Handayaningrum; Atang
Rachmat; Cuk Setyoso; Fajar Herman TrilaksonoAchbar; Inu Adhitya; Nike
Endah SriRejeki; Rachmat Mochammad EsaYogisnata; Rini Ismawati;
Romondang Pangaribuan; Septiani Erni; Weny Artha; Yunita Ichwan; Dudy
Kurniadi; Adi Susatya; Muhammad Zakariya Norsain; Adry Buwono Barjo;
Retno Handayani; Siti Jumaeni; Any Kistawati; Dian Ardian Kumala; Yenni
Maryana; Jennedi Sikumbang; Ninik Sri Suwarti; Dewi Syafrita; Wini
Widarti; Sugeng Santoso
Subject: Fw: Terkuak Konspirasi Senjata Biologi Flu Burung, Buku Menkes
Fadila h
******************************************************
----- Forwarded by Tiyas Wuliyandari/Purchasing_BPR/PSECI on 02/27/2008
11:31 AM -----
Sales1 - IND <[EMAIL PROTECTED]>
02/27/2008 11:16 AM
To
Agus Burhan <[EMAIL PROTECTED]>, Tiyas Wuliyandari
<[EMAIL PROTECTED]>
cc
Subject
Terkuak Konspirasi Senjata Biologi Flu Burung, Buku Menkes Fadila
h
good job madam...
Buku Menkes Fadilah Bikin Gerah AS-WHO
Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health
Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS).
Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu
dalam
mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza
(H5N1).
Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusaha an
dari
negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal
di
negara berkembang, termasuk Indonesia.
Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah!
Tangan
Tuhan di Balik Virus Flu Burung.
Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang
sama
dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It's Time for the World to
Change.
Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakuakn negara adikuasa dengan cara
mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung.
"Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung
dengan
menjual vaksin ke negara kita," ujar Fadilah kepada Persda Network di
Jakarta, Kamis (21/2).
Situs berita Australia, The Age, mengutip buku Fadilah dengan
mengatakan,
Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari
penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata
biologi.
Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari
petinggi WHO.
"Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon.
Betul
apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi
juga
kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO,
lewat
Freeport, dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya," ujarnya.
Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing 1.000
eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Total
sebanyak 2.000 buku.
"Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu dekat saya akan mencetak
cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan pertama dicetak
penerbitan
kecil, tapi untuk rencana ini, saya sedang mencari bicarakan dengan
penerbitan besar," katanya.
Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November
1950,
mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua.
"Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya beberkan
semua
bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, tetapi
saya
dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk kelontongan. Virus yang
saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah Pemerintahan George Bush," ujar
menteri kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini.
Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono
yang memintanya menarik buku dari peredaran.
"Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia, sebagian, sekitar 500
buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang
bahasa
Inggris dijual," katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik
buku
dari peredaran.
Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa
senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal
182
halaman itu.
Mengubah Kebijakan
Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah
dunia.
Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS
dan
WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang sudah dipakai
selama 50 tahun.
Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi
di
Indonesia pada 2005.
Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh pendobrak
yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung.
"Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti
lebih
berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi
ancaman
virus flu burung, yaitu transparansi, " tulis The Economist.
The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi
pekan
lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga terkena endemik
flu
burung 2005 silam.
Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru
diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung.
Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan
diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong
memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen.
Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta
laboratorium
litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa
WHO
CC meminta sampel dikirim ke Hongkong?
Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di
Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan
dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan
kemudian
dibuat bibit virus.
Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta,
pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusaha an besar dari negara maju,
negara kaya, yang tak terkena flu burung.
Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke
seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi.
Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat
negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza
Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah
menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari
110
negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak.
Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi
vaksin.
Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para
ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO
CC.
Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New
Mexico,
AS.
Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO,
selebihnya
tak diketahui.
Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS.
Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima. Lalu untuk apa data
itu,
untuk vaksin atau senjata kimia?
Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data
DNA
virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu.
Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data
itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los
Alamos,
memujinya.
Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi
transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC
agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan
di
Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon.
Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran
virus yang adil,
transparan, dan setara.
Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus
yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang
imperialistik
dan membahayakan dunia.
Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan
dianggap
menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan
Kesehatan
Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO
di
akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus
disetujui
dan GISN dihapuskan.
.
--------------------------------------------------------
This message (including any attachments) is only for the use of the person(s)
for whom it is intended. It may contain Mattel confidential, proprietary and/or
trade secret information. If you are not the intended recipient, you should not
copy, distribute or use this information for any purpose, and you should delete
this message and inform the sender immediately.
--- End Message ---