Jumat pagi, awal Februari 2008, hujan nan lebat sungguh di luar dugaan. Namun 
yang pasti, ruas jalan Ciputat-Pondok Indah-Arteri, Jakarta Selatan, tetap 
"normal" alias menjadi jalur supermacet.

Semeter demi semeter, laju motorku bergerak perlahan, kendati tersingkir di 
jalur paling kiri ruas jalan raya. Yang ironisnya—bila tak hati-hati—bakal 
nyemplung ke lobang got atau galian yang khilaf ditutup kembali.

Samar-samar terdengar raungan bunyi sirene dan kilatan lampu strobo tak jauh 
dari arah depan kuda besi Tiger yang aku tunggangi. Sebuah mobil ambulans 
terlihat sama sekali tak bisa bergerak maju. Mobil-mobil yang berada di 
depannya pun bergeming tak peduli untuk menyingkir sejenak. Parahnya, situasi 
sejenis bukan barang baru di kawasan ini. Acap kali ambulans sulit lewat 
tatkala mereka ‘terpaksa’ mesti melalui jalur tersebut.

Sejenak kemudian aku berhasil mendekati ambulans, sambil melirik pasien di 
dalamnya yang terbaring dengan berbagai alat canggih menempel di badan dan 
bagian wajah. Nyaris sedetik setelah itu, jendela depan mobil dibuka, dan sang 
supir berteriak ke arahku. “Mas! Tolong dong bukain jalan saya. Pasien saya 
gawat nih!!!”

”Siap, Pak!”

Motorku segera melaju ke bagian depan ambulans. Berupaya sebisanya membelah 
kemacetan dengan sidebox yang bahenol di kiri kanan kuda besiku.

Ternyata, memang susah dan amat sulit. Hanya bisa maju meter demi meter, amat 
perlahan. Ambulans pun menempel rapat mengikuti laju motorku. Aku tak bisa 
berbuat apa-apa lebih jauh lagi. Saat itu, hampir putus asa rasanya.

“Pak, susah! Jalanan macet banget.”

”Nyalain aja sirenenya, Mas. Sirene saya kayaknya masalah nih!” teriak sang 
supir. Memang, sirene ambulans itu seolah berbunyi setengah hati. Serak. Karena 
hujan, mungkin.

Aku tercenung. Sekelebat tebersit ‘zaman jahiliyah’, di saat sirene 
kesayanganku masih nemplok. Banyak sudah ambulans yang aku kawal membelah 
kemacetan Jalan Arteri dengan mudah. Ironis memang, benda “haram” itu pernah 
beberapa kali menyelamatkan nyawa orang, meski secara tidak langsung.

“Mas! Nyalain sirenenya!!!” si supir berteriak ke arahku lewat kaca penumpang.

“Gak ada. Gak punya sirene, Pak!” ujarku, melambaikan tangan memberi tahu bahwa 
tak ada sirene lagi di motorku.

Terus terang, saat itu, ada penyesalan. Kalau saja benda “haram” itu ada 
seperti dulu. Tentu pada momentum darurat seperti ini, barang itu bisa menjadi 
solusi.

“Pak, ikutin saya...” aku berteriak lagi.

Bercampur sedikit emosi karena ketidakpedulian orang-orang di jalan terhadap 
mobil ambulans tadi, aku kembali berupaya keras menerobos kemacetan. Kali ini, 
aku mulai ‘arogan’. Bermodalkan klakson steble, bergaya zig-zag, aku memaksa 
pengguna jalan lain untuk memberikan jalan buat ambulans tadi. Sang supir pun 
tak ketinggalan. Dengan bunyi sirene yang sudah kembang kempis, dia menempel 
terus di belakangku.

Satu kesempatan, akhirnya aku membuka jalur supaya ambulans mengambil arah 
lawan ruas jalan. Saat itu pula, ambulans melesat kabur secepatnya. Menuju 
rumah sakit, tentunya. Kini motor aku arahkan ke sisi kiri, ke arah kemacetan 
yang masih mengular.

Dari balik balack lava yang aku pakai, senyum pahit terbentuk di bibirku. 
Memang ada benarnya, barang “haram” ada manfaatnya bila difungsikan dengan 
benar. Tapi, pun terbukti, tanpa barang “haram” tadi aku tetap bisa membantu 
sesama.

Hanya berselang dua pekan kemudian, seorang pengendara Macan Besi pun mengalami 
hal yang sama. Kejadiannya di Jalan Gatot Subroto, tepatnya di depan Planet 
Hollywood. Arus lalu lintas pada sekitar pukul 20.00-an amat padat. Bergerak 
pun dijamin tersendat.

Di saat itulah, sebuah ambulans berwarna hijau daun dengan lambang tulisan MMC 
di bagian body samping merayap putus asa. Mobil—yang membawa seorang penumpang 
yang tengah terbaring dengan alat bantu pernapasan terpasang di mulut dihiasi 
kelap-kelip lampu merah dan hijau dari sebuah mesin di sampingnya—itu sama 
sekali tak bisa melaju lantaran mobil-mobil tak mau minggir walau sejenak. 
Raungan sirene membuat semua kendaraan di lajur itu bergeming, tak peduli.

Ketika itulah aku berinisiatif. Aku dekati mobil ambulans dari sisi kiri, dan 
menunjuk ke arah depan ambulans, menanyakan apakah ambulans butuh dibuka jalan, 
supaya dapat cepat melaju. Sang sopir spontan mengangguk, diiringi kaca terbuka 
dari sisi penumpang di bagian depan.

“Tolong kami, Pak. Tolong bukakan jalan!”

Aku hanya membalas dengan acungan jempol.

Setika itu pula aku memencet tuas pemindah antara klakson biasa dan klakson 
stebel di kuda besi kesayangan. Sial! Kendati tuas berpindah arah, stebel sama 
sekali tak berbunyi. “Wah, rusak lagi nih...,” umpatku dalam hati.

Tak kehilangan akal, aku kembalikan tuas ke arah klakson biasa dan mulai 
beraksi. Kudekati mobil-mobil di depan ambulans sambil membunyikan klakson 
serta tangan meminta mereka meminggirkan barang sejenak, karena ambulans mau 
lewat. Satu… Dua... Tiga, lima, lebih dari sepuluh kendaraan akhirnya mau 
berpaling ke sisi kiri, dan memberikan jalan buat ambulans berlalu.

Kami—motor dan ambulans—naik ke flyover di atas kawasan Mampang. Begitu turun, 
arus dari arah Kuningan menuju Jalan M.T. Haryono terlihat amat padat. Maklum, 
di ruas itu, terjadi benturan dari flyover menuju Pancoran, dan dari Kuningan 
memotong ke kanan langsung masuk pintu Tol.

Sekali lagi aku berhasil menyapu barisan mobil di depanku. Dan ambulans 
akhirnya berhasil bergerak cepat, menuju RS Medistra. Dari jarak sekitar lima 
meter di belakang motorku, sopir ambulans tadi membunyikan klaksonnya sambil 
melambaikan tangan, seolah berterima kasih.

Aah… Apa jadinya bila ambulans tadi terlambat sampai di rumah sakit? Apa 
jadinya, bila di dalam ambulans tadi adalah ibuku? Istriku? Anakku? Saudaraku?

Aku tersenyum bangga di dalam hati. Aku bisa membantu sesama walau tak secara 
langsung. Aku bisa melakukan itu semua, tanpa harus melanggar keyakinan dan 
kesadaran untuk tetap tidak menggunakan sirene dan strobo. Dan aku bisa 
membuktikannya.

Bukti itu pun bisa jadi ‘seragam bersama’ di HTML. Bila memang niat kesadaran 
ada, untuk menisbikan barang “haram” tadi dari komunitas tercinta ini. (*Cerita 
pertama di atas disadur dari penuturan seorang member HTML yang awalnya pernah 
menggunakan sirene dan kini sudah “sadar” akan kekeliruannya. Sedangkan cerita 
kedua dipaparkan seorang anggota HTML yang sama sekali tidak pernah menggunakan 
sirene dan strobo sama sekali.)

Kesadaran HTML’ers tadi patut mendapat acungan jempol. Mereka membuktikan punya 
kesadaran, dan sudah mengamalkan imbauan pemerintah yang telah ditelurkan dalam 
bentuk butir-butir aturan Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 44 
Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi. Isinya antara lain:

Pasal 75
Peringatan bunyi berupa sirene hanya boleh dipasang pada kendaraan bermotor:

a. Petugas penegak hukum tertentu;
b. Dinas Pemadam Kebakaran;
c. Penanggulangan Bencana;
d. Kendaraan Ambulance;
e. Unit Palang Merah;
f. Mobil Jenazah.

Nah, untuk yang mau bersikeras menggunakan lampu blitz atau strobo yang 
berwarna putih maupun berwarna, silakan liat pasal 65 dan pasal 66, pada PP 
yang sama.

Pasal 65
Dilarang memasang lampu pada kendaraan bermotor, kereta gandengan atau kereta 
tempelan yang menyinarkan:

A. Cahaya kelap-kelip, selain lampu penunjuk arah dan lampu isyarat peringatan 
bahaya;
B. Cahaya berwarna merah ke arah depan;
C. Cahaya berwarna putih ke arah belakang kecuali lampu mundur.

Pasal 66
Lampu isyarat berwarna biru hanya boleh dipasang pada kendaraan bermotor:

A. Petugas penegak hukum tertentu;
B. Dinas Pemadam Kebakaran;
C. Penanggulangan bencana;
D. Ambulans;
E. Unit Palang Merah;
F. Mobil Jenazah.

Aturan ‘main’ itu pula yang disadur, dan disahkan menjadi kesepakatan di HTML 
melalui perhelatan resmi lembaga tertingginya yang paling anyar, Sarasehan 
2007. Komisi B HTML Safety Riding Team membuat keputusan dan telah disepakati 
sebagai hasil Sarasehan 2007. Dan butir pertama berisi:

”Per 16 Desember 2007, sejak Sarasehan IV HTML, Sidang Komisi HSRT menetapkan 
tidak ada lagi motor berstiker resmi HTML yang memakai dan menggunakan asesoris 
strobo dan sirene.”

   
  Sumber : Forum HTML
   
  BapakeRavi - Ce-duanomortiga
  Where Brotherhood has no Limit..


 

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke