mengheningkan cipta. 



::TIR-002:: 

*Zalimnya Pemerintahan Ini. * 


Sepulang dari pengajian rutin beberapa hari lalu, saya berdiri di tepi 
trotoar daerah Klender. Angkot yang ditunggu belum jua lewat, sedang 
matahari kian memancar terik. Entah mengapa, kedua mata saya tertarik 
utuk memperhatikan seorang bapak tua yang tengah termangu di tepi jalan 
dengan sebuah gerobak kecil yang kosong. Bapak itu duduk di trotoar. 
Matanya memandang kosong ke arah jalan. 

Saya mendekatinya. Kami pun terlibat obrolan ringan. Pak Jumari, 
demikian namanya, adalah seorang penjual minyak tanah keliling yang 
biasa menjajakan barang dagangannya di daerah Pondok Kopi, Jakarta 
Timur. "Tapi kok gerobaknya kosong Pak, mana kaleng-kaleng minyaknya?" 
tanya saya. 

Pak Jumari tersenyum kecut. Sambil menghembuskan nafas panjang-panjang 
seakan hendak melepas semua beban yang ada di dadanya, lelaki berusia 
limapuluh dua tahun ini menggeleng. "Gak ada minyaknya." 

Bapak empat anak ini bercerita jika dia tengah bingung. Mei depan, 
katanya, pemerintah akan mencabut subsidi harga minyak tanah. "Saya 
bingung. saya pasti gak bisa lagi jualan minyak. Saya gak tahu lagi 
harus jualan apa. modal gak ada.keterampilan gak punya.." Pak Jumari 
bercerita. Kedua matanya menatap kosong memandang jalanan. Tiba-tiba 
kedua matanya basah. Dua bulir air segera turun melewati pipinya yang 
cekung. 

"Maaf /dik/ saya menangis, saya benar-benar bingung. mau makan apa kami 
kelak.., " ujarnya lagi. Kedua bahunya terguncang menahan tangis. Saya 
tidak mampu untuk menolongnya dan hanya bisa menghibur dengan kata-kata. 
Tangan saya mengusap punggungnya. Saya tahu ini tidak mampu mengurangi 
beban hidupnya. 

Pak Jumari bercerita jika anaknya yang paling besar kabur entah ke mana. 
"Dia kabur dari rumah ketika saya sudah tidak kuat lagi bayar sekolahnya 
di SMP. Dia mungkin malu. Sampai sekarang saya tidak pernah lagi melihat 
dia.. Adiknya juga putus sekolah dan sekarang ngamen di jalan. Sedangkan 
dua adiknya lagi ikut ibunya ngamen di kereta. Entah sampai kapan kami 
begini ." 

Mendengar penuturannya, kedua mata saya ikut basah. 

Pak Jumari mengusap kedua matanya dengan handuk kecil lusuh yang 
melingkar di leher. "/Dik/, katanya adik wartawan.. tolong bilang kepada 
pemerintah kita, kepada bapak-bapak yang duduk di atas sana, keadaan 
saya dan banyak orang seperti saya ini sungguh-sungguh berat sekarang 
ini. Saya dan orang-orang seperti saya ini cuma mau hidup sederhana, 
punya rumah kecil, bisa nyekolahin anak, bisa makan tiap hari, itu saja. 
" Kedua mata Pak Jumari menatap saya dengan sungguh-sungguh. 

"/Dik/, mungkin orang-orang seperti kami ini lebih baik mati... mungkin 
kehidupan di sana lebih baik daripada di sini yah..." Pak Jumari 
menerawang. 

Saya tercekat. Tak mampu berkata apa-apa. Saya tidak sampai hati 
menceritakan keadaan sesungguhnya yang dilakukan oleh para pejabat kita, 
oleh mereka-mereka yang duduk di atas singgasananya. Saya yakin Pak 
Jumari juga sudah tahu dan saya hanya mengangguk. 

Mereka, orang-orang seperti Pak Jumari itu telah bekerja siang malam 
membanting tulang memeras keringat, bahkan mungkin jika perlu memeras 
darah pun mereka mau. Namun kemiskinan tetap melilit kehidupannya. 
Mereka sangat rajin bekerja, tetapi mereka tetap melarat. 

Kontras sekali dengan para pejabat kita yang seenaknya numpang hidup 
mewah dari hasil merampok uang rakyat. Uang rakyat yang disebut 
'anggaran negara' digunakan untuk membeli mobil dinas yang mewah, 
fasilitas alat komunikasi yang canggih, rumah dinas yang megah, gaji dan 
honor yang gede-gedean, uang rapat, uang transport, uang makan, 
akomodasi hotel berbintang nan gemerlap, dan segala macam fasilitas gila 
lainnya. /Mumpung ada anggaran negara maka sikat sajalah! / 

Inilah para perampok berdasi dan bersedan mewah, yang seharusnya bekerja 
untuk mensejahterakan rakyatnya namun malah berkhianat mensejahterakan 
diri, keluarga, dan kelompoknya sendiri. Inilah para lintah darat yang 
menghisap dengan serakah keringat, darah, tulang hingga sum-sum 
rakyatnya sendiri. Mereka sama sekali tidak perduli betapa rakyatnya 
kian hari kian susah bernafas. Mereka tidak pernah perduli. Betapa 
zalimnya pemerintahan kita ini! 

Subsidi untuk rakyat kecil mereka hilangkan. Tapi subsidi agar para 
pejabat bisa hidup mewah terus saja berlangsung. Ketika rakyat antri 
minyak berhari-hari, para pejabat kita enak-enakan keliling dalam mobil 
mewah yang dibeli dari uang rakyat, menginap berhari-hari di kasur empuk 
hotel berbintang yang dibiayai dari uang rakyat, dan melancong ke luar 
negeri berkedok studi banding, juga dari uang rakyat. 

Sepanjang jalan, di dalam angkot, hati saya menangis. Bocah-bocah kecil 
berbaju lusuh bergantian turun naik angkot mengamen. Di perempatan lampu 
merah, beberapa bocah perempuan berkerudung menengadahkan tangan. Di 
tepi jalan, poster-poster pilkadal ditempel dengan norak. Perut saya 
mual dibuatnya. 

Setibanya di rumah, saya peluk dan cium anak saya satu-satunya. "Nak, 
ini nasi bungkus yang engkau minta." Dia makan dengan lahap. Saya tatap 
dirinya dengan penuh kebahagiaan. /Alhamdulillah/ , saya masih mampu 
menghidupi keluarga dengan uang halal hasil keringat sendiri, bukan 
numpang hidup dari fasilitas negara, mengutak-atik anggaran negara yang 
sesungguhnya uang rakyat, atau bagai lintah yang mengisap kekayaan negara. 

Saat malam tiba, wajah Pak Jumari kembali membayang. Saya tidak tahu 
apakah malam ini dia tidur dengan perut kenyang atau tidak. Saya berdoa 
agar Allah senantiasa menjaga dan menolong orang-orang seperti Pak 
Jumari, dan memberi hidayah kepada para pejabat kita yang korup. 
Mudah-mudahan mereka bisa kembali ke jalan yang benar. Mudah-mudahan 
mereka bisa kembali paham bahwa jabatan adalah amanah yang harus 
dipertanggungjawabk an di mahkamah akhir kelak. Mudah-mudahan mereka 
masih punya nurani dan mau melihat ke bawah. 

Mudah-mudahan mereka bisa lebih sering naik angkot untuk bisa mencium 
keringat anak-anak negeri ini yang harus bekerja hingga malam demi 
sesuap nasi, bukan berkeliling kota naik sedan mewah... 

Mudah-mudahan mereka lebih sering menemui para dhuafa, bukan menemui 
konglomerat dan pejabat... Mudah-mudahan mereka lebih sering berkeliling 
ke wilayah-wilayah kumuh, bukan ke mal... 

Amien Ya Allah. 



. 

<http://geo.yahoo.com/serv?s=97359714/grpId=17509037/grpspId=1705004361/msgId=19196/stime=1207894771/nc1=3848621/nc2=4507179/nc3=3848640>
 



[Non-text portions of this message have been removed]



 

__________ NOD32 3017 (20080410) Information __________

This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com

<<ma_grp_160.gif>>

Attachment: nc3=4836037
Description: Binary data

Kirim email ke