Senin, 14 Apr 2008,
Perjalanan Penuh Liku Dede Yusuf Menuju Kursi Wagub Jawa Barat 

Untuk Biaya Kampanye, Gadaikan Vila di Puncak
Perjalanan aktor Dede Yusuf hingga dicalonkan sebagai wakil gubernur dalam 
pilkada Jawa Barat mendampingi Ahmad Heryawan penuh liku. Dia pernah diremehkan 
internal partainya. Selain itu, dua kali namanya ditolak ketika ditawarkan 
kepada calon lain. 

ADANG D. BOKIN, Jakarta 

Siapa yang tak kenal Dede Yusuf. Namanya cukup populer. Selain sebagai bintang 
sinetron dan layar lebar, putra artis senior Rahayu Effendi itu juga dikenal 
sebagai bintang iklan obat sakit kepala.

Aktivitasnya merambah dunia politik setelah terpilih menjadi anggota DPR dari 
PAN untuk periode 2004-2009. Di DPR, dia duduk di komisi VII yang membidangi 
energi, sumber daya mineral, riset dan teknologi, serta lingkungan hidup. 

Di kalangan wartawan, sosok Dede dikenal ramah. Meski kerap membintangi 
sinetron dan film bertema laga, sikap sehari-harinya tidak mencerminkan sebagai 
bintang laga. Tutur kata pemegang dan-IV taekwondo itu sopan dan halus. 

Ketika namanya mulai masuk dalam bursa cawagub (calon wakil gubernur) di 
pilkada Jawa Barat, banyak orang meremehkan. "Yang meremehkan dia bahkan dari 
internal partai sendiri," ungkap salah seorang aktivis PAN yang mengaku kerap 
di-curhat-i Dede.

Banyak pengurus PAN, mulai pusat sampai daerah, menganggap Dede hanya mencari 
sensasi. Bahkan, ada yang mengungkit-ungkit latar belakang akademis Dede yang 
drop out dari Fakultas Teknik Universitas Trisakti Jakarta. 

"Pukulan telak dirasakan dia (Dede) ketika Ketua MPP PAN Amien Rais secara 
terbuka menyatakan tidak mendukung Dede," katanya. 

Amien, tutur dia, justru merestui Iwan Sulandjana (pasangan Danny Setiawan). 
Kata Amien waktu itu, Dede dianggap tidak pantas memimpin Jawa Barat. Ketua MPP 
PAN Jawa Barat Amir Mahfud juga terang-terangan mendukung Dany Setiawan-Iwan 
Sulandjana. 

Satu hal yang membesarkan Dede saat itu, dia didukung oleh Ketua Umum DPP PAN 
Soetrisno Bachir. Pria yang akrab disebut dengan inisial SB itu sejak awal all 
out mendukung pencalonan Dede. "Di jajaran DPP, tinggal saya sendirian yang 
mendukung Dede," kata SB suatu ketika.

Banyak pengurus DPP PAN yang menilai Dede tidak punya kecakapan. Selain itu, 
dia diremehkan karena dianggap tidak punya dana kampanye. 

Sehari menjelang pencoblosan, ada kader PAN di Ciamis -daerah asal Dede Yusuf- 
yang mengirim SMS (pesan singkat). Isinya: 
"Saya dari DPC Ciamis, kalau nggak punya uang tak usah nyalon. Kami kapok". 

Dede mengakui, dia maju sebagai cawagub bukan karena punya modal banyak uang. 
Dia maju semata-mata untuk merespons suara masyarakat, khususnya kawula muda 
dan ibu-ibu. "Jangankan anggaran kampanye, uang saksi saja tak ada. Saya tak 
punya saksi di TPS-TPS karena tak bisa bayar saksi," ucap pria kelahiran 14 
September 1966 itu.

Dana saksi sebenarnya tidak besar, Rp 50 ribu per orang. Tapi, kalau dikalikan 
seluruh TPS di Jawa Barat, dibutuhkan sekitar Rp 3,4 miliar. 

Untuk mendanai kampanyenya, Dede mengaku terpaksa menggadaikan sebuah vilanya 
di Puncak, Bogor. Untung, SB tidak hanya menyokong habis-habisan secara 
politis. Pengusaha asal Pekalongan itu juga menggelontorkan uang untuk 
mendukung kemenangan kadernya.

"Saya menitipkan sebagian dana zakat ke Dede Yusuf untuk disampaikan ke 
masyarakat," kata SB. 

Zakat titipan SB itu, saat keliling Jawa Barat, oleh Dede diberikan kepada 
fakir miskin, yatim piatu, yayasan-yayasan sosial, dan lembaga keagamaan. 

"Oleh SB, kami (Heryawan-Dede, Red) ini disebut calon duafa. Tapi, doa para 
duafa itulah justru yang mendorong kemenangan kami," ujar Dede.

Yang meremehkan Dede tak hanya politisi di partainya. Dua calon gubernur yang 
bertarung dalam pilkada Jabar (Danny Setiawan dan Agum Gumelar) juga tak 
memasukkan Dede ke dalam hitungan. Itu dibuktikan saat pencarian pasangan 
sebelum mendaftar ke KPU Jabar. Ceritanya begini. 

Setelah mengantongi surat keputusan (SK) sebagai cawagub dari DPP PAN, hampir 
dua bulan lamanya Dede belum menemukan jodoh. SB sempat mengontak Ketua Umum 
Partai Golkar Jusuf Kalla untuk menawarkan Dede agar dipasangkan dengan Danny 
Setiawan yang diusung Golkar. 

"Silakan Kak Ucu tanya lembaga survei, Danny akan sulit menang kalau tidak 
berpasangan dengan Dede Yusuf," begitu SB mengontak Kalla, seperti ditirukan 
sumber yang sangat dekat dengan SB. 

Saat itu Kalla menjawab akan berkonsultasi terlebih dahulu dengan Danny. 
Belakangan Wapres menolak secara halus tawaran SB. Alasannya, polling Dede 
rendah sehingga tidak bisa dipasangkan dengan Danny. Kalla malah mengajak SB 
agar PAN mendukung Danny-Iwan Sulandjana.

SB tak patah arang. Dia kemudian mempertemukan Dede dengan Agum Gumelar di 
Hotel Dharmawangsa. Di hadapan SB, Agum mengaku senang berpasangan dengan Dede 
karena yakin menang. Tapi, setelah pertemuan itu, tak ada kabar berita dari 
Agum. 

Belakangan Agum lebih memilih Nu'man dari PPP. Dede dianggap tidak menjual 
karena hanya berlatar belakang artis. Padahal, yang dibutuhkan Agum adalah 
tokoh yang berpengalaman di pemerintahan. 

Ditolak Danny dan Agum, SB lalu mengontak Presiden PKS Tifatul Sembiring. Dia 
menawarkan Dede berpasangan dengan Ahmad Heryawan. "Ustad, saya yakin pasangan 
muda ini akan menang," begitu SB merayu Tifatul. 

Awalnya, Tifatul mengaku tak bisa menerima Dede karena Heryawan sudah diberi 
harapan akan berpasangan dengan Danny. Tifatul menolak halus dengan mengatakan 
bahwa usul SB mendadak, sedangkan pencalonan di PKS sudah berlangsung jauh hari 
sebelumnya. 

Belakangan, sikap PKS berubah 180 derajat setelah Heryawan ditendang Danny. 
Dengan mediator Chandra Wijaya dan Adang Durahman, beberapa hari sebelum 
pendaftaran ke KPUD, Heryawan dan Dede bertemu. Setelah itu, keduanya menghadap 
SB di Hotel Grand Mahakam, Jakarta Selatan. 

Dalam pertemuan tersebut, disepakati koalisi PKS-PAN. Yang sempat dipersoalkan 
dalam koalisi itu, siapa yang akan menjadi cagub? SB bingung memutuskan. 
Dilihat dari umur, Heryawan maupun Dede sama-sama 41 tahun. "Tapi, saya tiga 
bulan lebih tua lho," ujar Heryawan saat itu. 

"Karena Heryawan lebih tua, Anda yang cagub. Dede harus rela menjadi cawagub 
saja," ujar SB kepada kedua calon tersebut. Heryawan dan Dede hanya tertawa. 
Keduanya lalu bersalaman dan menyatakan siap maju dalam pilgub lewat paket 
Heryawan-Dede dengan singkatan Hade. Akhirnya, pasangan tersebut berhasil 
unggul sementara. Semua versi quick count memenangkan pasangan tersebut. Begitu 
juga, data terakhir di KPU Jabar. (kum) 


Kirim email ke