Kamis, 05 Juni 2008     

 

[ Kamis, 05 Juni 2008 ] 
Selalu Gandeng Tangan Suami 

Pernikahan Indah Hendro Kanoejoso dan Sri Soedarmi 

Pasangan Evergreen kali ini barangkali bisa menjadi contoh. Meski usia tak lagi 
muda, kebersamaan mereka tak ubahnya pasangan pengantin baru. Hendro Kanoejoso, 
85, dan Sri Soedarmi, 70, berbagi cerita tentang resep harmonis.

"Saya heran. Kalau kami jalan bareng, orang selalu menilai mesra," kata Sri, 
membuka pembicaraan, saat ditemui di rumahnya, kawasan Manyar, kemarin (4/6). 
"Tidak ada yang dibuat-buat. Memang sehari-hari begini," imbuh Sri. 

Diakui Sri, sepanjang menikah dengan Hendro, mereka memang nyaris tak pernah 
pergi keluar sendiri-sendiri. Berbagai aktivitas, kecuali pekerjaan, dilakukan 
berdua hingga kini. Misalnya, ke pengajian, senam, sampai mengunjungi tetangga 
atau teman. 

Akibatnya, apa yang disukai Sri selalu digemari pula oleh sang suami. Hendro 
yang dulu tidak suka senam dan dansa kini malah tak kalah dari Sri. "Lihat ni, 
saya juga bisa cha-cha," kata Hendro sambil melangkahkan kaki ke depan dan 
belakang. "Kiri, cha cha cha. Kanan, cha cha cha," ujar pensiunan bea dan cukai 
itu. 

Sri yang duduk tak jauh dari Hendro pun tergelak. "Itu lihat, bapak juga bisa," 
kata Sri. "Itu kalau tidak saya yang ngajak, mana bisa bapak seperti itu," 
lanjut wanita yang secara fisik terlihat jauh lebih lincah daripada Hendro 
tersebut. 

Sri mengaku, kebersamaan keduanya makin terasa saat memasuki usia Evergreen. 
Sebab, kesibukan Hendro sebagai pegawai jauh berkurang. Jadi, waktu bertemu 
makin banyak. Sri saat ini nyaris tak pernah absen mengajak Hendro mengikuti 
berbagai kegiatannya. Termasuk di acara pengajian ibu-ibu, di mana akhirnya 
membuat Hendro menjadi satu-satunya jamaah pria. 

"Saya tidak bisa membiarkan bapak di rumah sendirian. Takut gimana-gimana," 
tutur Sri. "Cuma, karena kemampuan fisik bapak sudah tidak sekuat dulu, jadi 
sekarang ini saya ibaratnya ngemong," tambahnya.

Sri menyatakan, tiap kali mereka berjalan bersama, tangannya selalu menggenggam 
Hendro. Tujuannya, menjaga suami dari kemungkinan jatuh atau hal lain. "Mungkin 
karena ini juga, orang bisa bilang kami mesra," terang Sri.

Hendro dan Sri menikah pada 7 Juli 1969. Pernikahan terjadi saat usia mereka 
sudah tak lagi muda. Hendro 46 tahun, sedangkan Sri 31 tahun. Kenapa terlambat 
menikah? Sri mengaku, saat muda dia seseorang yang aktif di berbagai kegiatan. 
Semua itu membuat dia tidak pernah berpikir serius soal cinta. 

Begitu juga Hendro. Dia sudah harus bekerja di usia muda. "Karena keasyikan 
kerja, saya lupa cari istri," kata pria yang beberapa tahun terakhir mengalami 
penurunan kemampuan mendengar itu. 

Namun, mereka tak pernah menyesali garis hidup. Menikah di usia matang membuat 
mereka nyaris tak pernah merasakan pertengkaran besar sejak awal memulai biduk 
rumah tangga. Usia-usia di mana emosi bisa bergolak hebat telah mereka lalui. 
"Jadi, adem ayem mulai menikah. Sudah tenang," ujar Sri. 

Untuk menjaga kerukunan, pasangan yang dikaruniai tiga buah hati tersebut tidak 
punya resep khusus. Sama seperti kebanyakan rumah tangga lain, saling percaya 
dan menghilangkan rasa cemburu menjadi kunci utama. "Biar saja bapak lihat 
cewek-cewek cantik. Yang penting kan tidak dibawa pulang," tukas Sri lantas 
tertawa.

Hanya, mereka punya satu kebiasaan, yakni salat berjamaah. Kegiatan rutin lima 
waktu sehari itu dianggap sebagai salah satu jalan yang mengantarkan keutuhan 
cinta. "Kadang di antara kami ini ya muncul rasa marah atau kesal. Nah, pas mau 
salat, perasaan itu kami hilangkan. Masak menghadap Tuhan, pikiran masih ruwet. 
Akhirnya, begitu salat selesai, kami rukun lagi," cerita Sri yang berharap 
tetap bisa menemani Hendro hingga maut memisahkan. (aga/ayi)

<<selalauadaygbaru.jpg>>

<<evergreen_logo_banner.jpg>>

<<3825large.jpg>>

Kirim email ke