Mengenai konsep dari water for gas ini, saya sudah baca artikel nya
(download dari water4gas.com), tadinya saya sangat tertarik dan mau
bikin juga pak, tapi ternyata alat ini hanya untuk mobil tahun lama.
Untuk mobil tahun 2000 ke atas, rata2 efisiensi nya hanya naik 1-2
persen saja(tdk signifikan pak). tapi masih worth it lah buat dicoba.
Salam

On 6/23/08, Deddy H Purnawarman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> http://www.divusi.com/blog/?p=133
>
> Bahan Bakar Dari Air.?? Kenapa Tidak.
> Jun 7th, 2008 by benny
>
> Kali ini, bahasan yang ingin saia sampaikan tidak terkait dengan Teknologi
> Informasi atau Teknologi Komunikasi. Tapi gara-gara kedua teknologi itulah,
> saia menemukan artikel di Internet dan tertarik untuk mencobanya. Topik
> bahasan kali ini berkaitan dengan dunia Otomotif, yang secara langsung
> maupun tidak langsung, dipicu oleh kenaikan harga BBM.
>
> Dalam beberapa milis Otomotif yang saia ikuti, belakangan ini banyak dibahas
> tentang Bahan Bakar dari Air. Dari Air.?? Yang bener. mana mungkin.?? Pinjam
> istilah Pak Riza: To Good To Be True. Tapi setelah saia pelajari lebih
> lanjut, ternyata It's True dan Good. Walaupun tidak murni "hanya" dari air,
> tapi dengan cara ini konsumsi BBM bisa sangat dihemat. Beberapa teman Milis
> yang sudah mengaplikasikan, bisa menghemat dari sebelumnya 1:8 menjadi 1:22.
> Kalo ini masih perlu dibuktikan dulu kebenarannya.
>
> Dari beberapa situs antara lain: www.water4gas.com,
> en.wikipedia.org/wiki/Oxyhydrogen_flame, wasserwagen.blogspot.com dan
> beberapa lainnya, saia mendapatkan bahwa ternyata melalui suatu proses
> Elektrolisa, komposisi kimia Air yang tadinya H-O-H bisa diubah menjadi
> H-H-O. Dan karena komposisi ini tidak stabil, maka akan berubah lagi menjadi
> H-H dan O-O. H2 dan O2: Hydrogen dan Oksigen. Kalau Hydrogen dan Oksigen ini
> disuntikkan ke dalam ruang bakar, maka "ledakan"-nya akan semakin kuat, dan
> hasil pembakaran menjadi semakin bersih karena tidak ada Bensin yang tidak
> terbakar. Jadi, selain menghemat BBM (karena tenaga yang dihasilkan lebih
> besar), juga mendukung Udara Bersih dan Anti Global Warming. Sangat menarik.
>
> Yang lebih menarik lagi, ternyata "ilmu" ini adalah Open Source. Siapa saja
> boleh mengembangkan dan membuatnya, tanpa khawatir kena tuntutan
> Undang-Undang Hak Cipta.
>
> Sejak itu, setelah lewat jam 5 sore (after office hour. emang di Divusi ada
> yha?), pelan-pelan saia mulai membangun "Reaktor Hydrogen".
>
> Mulai dengan jalan-jalan ke toko perabotan rumah tangga (kaya ibu-ibu.),
> nyari Bejana berbentuk Stoples sebagai tempat reaksi. Akhirnya dapat di
> Index-IBCC, seharga Rp. 49.900,- Kebetulan pas lewat ACE Hardware, ketemu
> kran Stainless Steel, yang sejatinya untuk selang udara Aquarium. Harganya:
> Rp. 8.500,-. Bahan lainnya yaitu Acrylic, dapet di Gudang Divusi, sisa-sisa
> bikin Casing Wind Telemetry dulu. Lengkap sudah sebagian bahan bakunya.
>
>
>
> Kebetulan, beberapa waktu lalu Divusi kena "Aliran". Listrik mati. Sebagai
> kantor yang hidupnya salah satunya tergantung pada Listrik, tidak banyak
> yang bisa dilakukan karena seluruh komputer mati. Daripada ngejailin orang,
> lebih baik mulai mengerjakan Reactor. Acrylic dipotong, digergaji, diamplas,
> selesai dech.
>
>
>
> Selanjutnya, bikin Elektroda. Sepanjang sisi Acrylic diberi lubang-lubang,
> berjarak 1 cm antara satu dengan lainnya. Melalui lubang-lubang tersebut,
> dililitkan 2 utas Kawat Stainless Steel yang dibeli di Gang Suniaraja,
> seharga Rp. 2.000,- semeter. Beli 4 meter, masih lebih 50 cm. Kawat pertama
> melewati lubang 1-3-5-7 dst, sementara kawat yang lain melalui lubang
> 2-4-6-8 dst. Prinsipnya, antara kawat yang satu dengan yang lain tidak boleh
> terhubung langsung.
>
> Pemasangan Elektroda ini ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Perlu
> waktu 2 hari penuh untuk melakukannya, ditambah jari kapalan dan
> berdarah-darah tertusuk kawat. Tapi hasilnya:
>
>
>
> Bagus bukan.??
>
> Pekerjaan selanjutnya adalah pemasangan Kran dan terminal listrik, yang
> selanjutnya akan dihubungkan dengan kawat. Pekerjaan ini dilakukan di rumah,
> sepulangnya dari Divusi (minta ijin lebih cepat dari biasanya.).
>
> Setelah Kran dan Terminal terpasang pada tempatnya, dibuat juga beberapa
> lubang tempat lewat Gas hasil reaksi. Selanjutnya terminal dengan kawat
> dihubungkan melalui Kabel.
>
>
>
> Selesailah pembuatan Reactor Hydrogen-nya.
>
> Setelah menunggu Week End dengan tidak sabar, akhirnya sampai juga
> kesempatan untuk instalasi di VW Kodok Putih. Reaktor dipasang di dalam
> Kompartemen mesin sebelah kanan. Hanya di sanalah ruang kosong yang tersisa.
>
> Dari Kran dipasang selang Vacum langsung ke Manifold Carburator. Terminal
> listrik dihubungkan dengan Ground dan Accu, melalui pelindung Sekering.
>
>
>
> Setelah Reaktor terpasang kuat pada tempatnya, selanjutnya adalah pengisian
> Air. Air yang digunakan adalah air suling, supaya tidak ada endapan sisa
> reaksi. Sebagai katalisator, digunakan Soda Kue. Soda Kue ini dibeli dari
> Warung Tetangga, seharga Rp. 800,-. Murah sekali.??
>
> Sampailah pada tahap yang cukup bikin keringat dingin: Menghidupkan mesin.
> Sebelum mesin dihidupkan, kran ditutup dulu. Kondisi ini sama dengan kondisi
> awal, dimana hanya Bensin dan Udara yang masuk ke dalam ruang bakar.
>
> Cekk, brum. mesin hidup. Dalam reaktor terlihat Gas Hydrogen yang berwarna
> Coklat. Karena warna inilah maka di beberapa situs disebut sebagai Brown
> Gas.
>
>
>
> Pelan pelan kran dibuka. Putaran mesin meningkat, dan lebih rata dari
> sebelumnya. Asap knalpot tidak berbau menyengat, dan tidak bikin perih mata.
> Fiewh. paling tidak, nggak meledak.
>
> Test jalan, hasilnya: Pada kecepatan rendah, tidak terasa bedanya. Tapi pada
> kecepatan yang lebih tinggi, terasa sekali bahwa tenaganya bertambah. Pada
> saat dipaksakan melalui jalan menanjak dengan gigi tinggi, tidak ada gejala
> "nglitik".
>
> Konsumsi bahan bakar belum bisa dipastikan, karena harus dicoba beberapa
> hari.
>
> Kalau memang performa-nya meningkat, bahan bakar semakin irit, kira-kira.
> boleh nggak yha diaplikasikan di mobil Divusi.??
>
> Foto diambil dengan menggunakan Blackberry White Pearl (yang Camera-nya
> nge-Bug)
>

-- 
Sent from Gmail for mobile | mobile.google.com

Kirim email ke