Dari Milis tetangga...
Maaf bila tidak  berkenan boleh dihapus...
Tapi bila bersedia untuk mebaca... anda akan terharu..
Wass




Hafalan Surat Delisa



Ada sebuah keluarga di Lhok Nga - Aceh, yang selalu menanamkan ajaran Islam 
dalam kesehariannya. Mereka adalah keluarga Umi Salamah dan Abi Usman. Mereka 
memiliki 4 bidadari yang solehah: Alisa Fatimah, (si kembar) Alisa Zahra & 
Alisa Aisyah, dan si bungsu Alisa Delisa. 
 

Setiap subuh, Umi Salamah selalu mengajak bidadari-bidadarinya sholat jama'ah. 
Karena Abi Usman bekerja sebagai pelaut di salah satu kapal tanker perusahaan 
minyak asing - Arun yang pulangnya 3 bulan sekali. Awalnya Delisa susah sekali 
dibangunkan untuk sholat subuh. Tapi lama-lama ia bisa bangun lebih dulu 
ketimbang Aisyah. Setiap sholat jama'ah, Aisyah mendapat tugas membaca bacaan 
sholat keras-keras agar Delisa yang ada di sampingnya bisa mengikuti bacaan 
sholat itu. 
  

Umi Salamah mempunyai kebiasaan memberikan hadiah sebuah kalung emas kepada 
anak-anaknya yang bisa menghafal bacaan sholat dengan sempurna. Begitu juga 
dengan Delisa yang sedang berusaha untuk menghafal bacaan sholat agar sempurna. 
Agar bisa sholat dengan khusyuk. Delisa berusaha keras agar bisa menghafalnya 
dengan baik. Selain itu Abi Usman pun berjanji akan membelikan Delisa sepeda 
jika ia bisa menghafal bacaan sholat dengan sempurna. 
  

Sebelum Delisa hafal bacaan sholat itu, Umi Salamah sudah membelikan seuntai 
kalung emas dengan gantungan huruf D untuk Delisa. Delisa senang sekali dengan 
kalung itu. Semangatnya semakin menggebu-gebu. Tapi entah mengapa, Delisa tak 
pernah bisa menghafal bacaan sholat dengan sempurna. 




26 Desember 2004 

Delisa bangun dengan semangat. Sholat subuh dengan semangat. Bacaannya nyaris 
sempurna, kecuali sujud. Bukannya tertukar tapi tiba-tiba Delisa lupa bacaan 
sujudnya. Empat kali sujud, empat kali Delisa lupa. Delisa mengabaikan fakta 
itu. Toh nanti pas di sekolah ia punya waktu banyak untuk mengingatnya. Umi 
ikut mengantar Delisa. Hari itu sekolah ramai oleh ibu-ibu. Satu persatu anak 
maju dan tiba giliran Alisa Delisa. Delisa maju, Delisa akan khusuk. Ia ingat 
dengan cerita Ustad Rahman tentang bagaimana khusuknya sholat Rasul dan 
sahabat-sahabatnya. "Kalo orang yang khusuk pikirannya selalu fokus. Pikirannya 
satu." Nah jadi kalian sholat harus khusuk. Andaikata ada suara ribut di 
sekitar, tetap khusuk. 



Delisa pelan menyebut "ta'awudz". Sedikit gemetar membaca "bismillah". 
Mengangkat tangannya yang sedikit bergetar meski suara dan hatinya pelan-pelan 
mulai mantap. "Allahu Akbar". 



Seratus tiga puluh kilometer dari Lhok Nga. Persis ketika Delisa usai 
bertakbiratul ihram, persis ucapan itu hilang dari mulut Delisa. Persis di 
tengah lautan luas yang beriak tenang. LANTAI LAUT RETAK SEKETIKA. Dasar bumi 
terban seketika! Merekah panjang ratusan kilometer. Menggentarkan melihatnya. 
Bumi menggeliat. Tarian kematian mencuat. Mengirimkan pertanda kelam 
menakutkan. 
 

Gempa menjalar dengan kekuatan dahsyat. Banda Aceh rebah jimpa. Nias lebur 
seketika. Lhok Nga menyusul. Tepat ketika di ujung kalimat Delisa, tepat ketika 
Delisa mengucapkan kata "wa-ma-ma-ti" , lantai sekolah bergetar hebat. Genteng 
sekolah berjatuhan. Papan tulis lepas, berdebam menghajar lantai. Tepat ketika 
Delisa bisa melewati ujian pertama kebolak-baliknya, Lhok Nga bergetar 
terbolak-balik. 
 

Gelas tempat meletakkan bunga segar di atas meja bu guru Nur jatuh. Pecah 
berserakan di lantai, satu beling menggores lengan Delisa. Menembus bajunya. 
Delisa mengaduh. Umi dan ibu-ibu berteriak di luar. Anak-anak berhamburan 
berlarian. Berebutan keluar dari daun pintu. Situasi menjadi panik. Kacau 
balau. "GEMPAR"! 
 

"Innashalati, wanusuki, wa-ma... wa-ma... wa-ma-yah-ya, wa-ma-ma-ti. .." 



Delisa gemetar mengulang bacaannya yang tergantung tadi. Ya Allah, Delisa 
takut... Delisa gentar sekali. Apalagi lengannya berdarah membasahi baju 
putihnya. Menyemburat merah. Tapi bukankah kata Ustadz Rahman, sahabat Rasul 
bahkan tetap tak bergerak saat sholat ketika punggungnya digigit kalajengking? 

Delisa ingin untuk pertama kalinya ia sholat, untuk pertama kalinya ia bisa 
membaca bacaan sholat dengan sempurna, Delisa ingin seperti sahabat Rasul. 
Delisa ingin khusuk, ya Allah... 
 
Gelombang itu menyentuh tembok sekolah. Ujung air menghantam tembok sekolah. 
Tembok itu rekah seketika. Ibu Guru Nur berteriak panik. Umi yang berdiri di 
depan pintu kelas menunggui Delisa, berteriak keras ... SUBHANALLAH! Delisa 
sama sekali tidak mempedulikan apa yang terjadi. Delisa ingin khusuk.. Tubuh 
Delisa terpelanting. Gelombang tsunami sempurna sudah membungkusnya.. Delisa 
megap-megap. Gelombang tsunami tanpa mengerti apa yang diinginkan Delisa, 
membanting tubuhnya keras-keras. Kepalanya siap menghujam tembok sekolah yang 
masih bersisa. Delisa terus memaksakan diri, membaca takbir setelah 
"i'tidal..." "Al-la-hu-ak- bar..." Delisa harus terus membacanya! Delisa tidak 
peduli tembok yang siap menghancurkan kepalanya. 
 

Tepat Delisa mengatakan takbir sebelum sujud itu, tepat sebelum kepalanya 
menghantam tembok itu, selaksa cahaya melesat dari "Arasy Allah." Tembok itu 
berguguran sebelum sedikit pun menyentuh kepala mungil Delisa yang terbungkus 
kerudung biru. Air keruh mulai masuk, menyergap Kerongkongannya. Delisa 
terbatuk. Badannya terus terseret. Tubuh Delisa terlempar kesana kemari. Kaki 
kanannya menghantam pagar besi sekolah. Meremukkan tulang belulang betis 
kanannya. Delisa sudah tak bisa menjerit lagi. Ia sudah sempurna pingsan. 
Mulutnya minum berliter air keruh. Tangannya juga terantuk batang kelapa yang 
terseret bersamanya. Sikunya patah. Mukanya penuh baret luka dimana-mana. Dua 
giginya patah. Darah menyembur dari mulutnya.. 



Saat tubuh mereka berdua mulai perlahan tenggelam, Ibu Guru Nur melepas 
kerudung robeknya. Mengikat tubuh Delisa yang pingsan di atas papan sekencang 
yang ia bisa dengan kerudung itu. Lantas sambil menghela nafas penuh arti, 
melepaskan papan itu dari tangannya pelan-pelan, sebilah papan dengan Delisa 
yang terikat kencang diatasnya. 

"Kau harus menyelesaikan hafalan itu, sayang...!" Ibu Guru Nur berbisik sendu. 
Menatap sejuta makna. Matanya meredup. Tenaganya sudah habis. Ibu Guru Nur 
bersiap menjemput syahid. 





2 Januari 2005



Dua minggu tubuh Delisa yang penuh luka terdampar tak berdaya. Tubuhnya 
tersangkut di semak belukar. Di sebelahnya terbujur mayat Tiur yang pucat tak 
berdarah. Smith, seorang prajurit marinir AS berhasil menemukan Delisa yang 
tergantung di semak belukar, tubuhnya dipenuhi bunga-bunga putih. Tubuhnya 
bercahaya, berkemilau, menakjubkan! Delisa segera dibawa ke Kapal Induk John F 
Kennedy. Delisa dioperasi, kaki kanannya diamputasi. Siku tangan kanannya di 
gips. Luka-luka kecil di kepalanya dijahit. Muka lebamnya dibalsem tebal-tebal. 
Lebih dari seratus baret di sekujur tubuhnya. 



Aisyah dan Zahra, mayatnya ditemukan sedang berpelukan. Mayat Fatimah juga 
sudah ditemukan. Hanya Umi Salamah yang mayatnya belum ditemukan. Abi Usman 
hanya memiliki seorang bidadari yang masih belum sadar dari pingsan. Prajurit 
Smith memutuskan untuk menjadi mu'alaf setelah melihat kejadian yang 
menakjubkan pada Delisa. Ia mengganti namanya menjadi Salam. 



Tiga minggu setelah Delisa dirawat di Kapal induk, akhirnya ia diijinkan 
pulang. Delisa dan Abi Usman kembali ke Lhok Nga. Mereka tinggal bersama para 
korban lainnya di tenda-tenda pengungsian. Hari-hari diliputi duka. Tapi duka 
itu tak mungkin didiamkan berkepanjangan. Abi Usman dan Delisa kembali ke 
rumahnya yang dibangun kembali dengan sangat sederhana. 
 
Delisa kembali mengaji, Delisa dan anak-anak korban tsunami lainnya, kembali 
sekolah dengan peralatan seadanya. Delisa kembali mencoba menghafal bacaan 
sholat dengan sempurna. Ia sama sekali sulit menghafalnya. "Orang-orang yang 
kesulitan melakukan kebaikan itu, mungkin karena hatinya Delisa. Hatinya tidak 
ikhlas! Hatinya jauh dari ketulusan." Begitu kata Ubai salah seorang relawan 
yang akrab dengan Delisa. 




21 Mei 2005 
 
Ubai mengajak Delisa dan murid-muridnya yang lain ke sebuah bukit. Hari itu 
Delisa sholat dengan bacaan sholat yang sempurna. Tidak terbolak-balik. Delisa 
bahkan membaca doa dengan sempurna. Usai sholat, Delisa terisak. Ia bahagia 
sekali. Untuk pertama kalinya ia menyelesaikan sholat dengan baik. Sholat yang 
indah. Mereka belajar menggurat kaligrafi di atas pasir yang dibawanya dengan 
ember plastik. Sebelum pergi meninggalkan bukit itu, Delisa meminta ijin 
mencuci tangan di sungai dekat dari situ. Ketika ujung jemarinya menyentuh 
sejuknya air sungai. Seekor burung belibis terbang di atas kepalanya. 
Memercikkan air di mukanya.. Delisa terperanjat. Mengangkat kepalanya. Menatap 
burung tersebut yang terbang menjauh. Ketika itulah Delisa menatap sesuatu di 
seberang sungai. 
 

Kemilau kuning. Indah menakjubkan, memantulkan cahaya matahari senja. Sesuatu 
itu terjutai di sebuah semak belukar indah yang sedang berbuah. Delisa gentar 
sekali. Ya Allah! Seuntai kalung yang indah tersangkut. Ada huruf D disana. 
Delisa serasa mengenalinya. D untuk Delisa. Diatas semak belukar yang merah 
buahnya. Kalung itu tersangkut di tangan. Tangan yang sudah menjadi kerangka. 
Sempurna kerangka manusia. Putih. Utuh. Bersandarkan semak belukar itu. 



UMMI........ ....... 




 

Kirim email ke