Kunjungi Tanah Suci saat Lingkungan Masjidilharam Dirombak 


 

[ Kamis, 04 September 2008 ]

Kunjungi Tanah Suci saat Lingkungan Masjidilharam Dirombak 

Lewat 13 Pintu Favorit Harus Siapkan Masker 

Megaproyek perluasan Masjidilharam yang dikerjakan nonstop tidak mengganggu 
aktivitas ibadah para jamaah umrah. Namun, tetap ada beberapa "kenyamanan" yang 
hilang dan tidak bisa dinikmati lagi seperti dulu. Berikut lanjutan laporan 
wartawan Jawa Pos SAMSUDIN ADLAWI dan ABDUL MUIS.

---

PANGGILAN azan salat Asar terdengar dari menara Masjidilharam. Mendengar suara 
muazin itu, puluhan ribu jamaah umrah beranjak dari penginapan masing-masing. 
Di luar mereka harus melawan terik matahari akhir Agustus yang menyengat, 
ditambah debu jalanan hasil pembongkaran bangunan dan bukit sekitar 
Masjidilharam.

Saat memasuki pelataran masjid, para jamaah dari berbagai bangsa itu berjalan 
cukup tertib. Tidak ada yang berebut meski kumandang azan sudah berganti iqamah 
yang menandakan salat berjamaah segera mulai. Beberapa orang memilih langsung 
membentangkan sajadah di pelataran dan tidak masuk masjid, takut terlambat.

Jamaah yang tidak membawa sajadah juga tak perlu bingung. Mereka bisa langsung 
berdiri dengan tumit di posisi saf (garis salat) sembari menata sandal dan 
sepatu di dekatnya. "Rasanya seperti salat di dalam kamar yang lantainya baru 
dipel pembantu," seloroh Bachtiar, jamaah asal Mojokerto, yang berangkat dengan 
BIA Travel Surabaya. 

Meski sehari-hari sekitar Masjidilharam diguyur debu efek penghancuran gunung 
(Jabal) Umar yang bekerja nonstop, lantai di pelataran Masjidilharam tetap 
bersih dan tak berdebu. Begitu pula aktivitas perluasan di dalam masjid tidak 
sampai mengganggu kekhusyukan ibadah. Mereka tetap bisa salat sunah, membaca 
Alquran, tawaf, sai, tanpa terganggu oleh aktivitas para pekerja megaproyek itu.

Hanya, di beberapa pintu masjid, para jamaah tidak bisa seenaknya masuk seperti 
bulan-bulan sebelumnya. Terutama pintu-pintu yang menghadap langsung ke Jabal 
Umar. Tercatat ada 13 pintu yang aksesnya agak terganggu. Yakni, pintu 12 
hingga 24. 

Pintu-pintu yang terganggu akibat perluasan Masjidilharam itu bernama Quraisy, 
Afqodisiah, Oziz Thuwa, Umar Abdul Aziz, Murod, Hudaibah, Babussalam Jahid, 
Garoroh, Alfathah, Faruq Umar, Nadwah, Syamsiah, dan Alqudus. Jamaah kini tidak 
nyaman lewat pintu-pintu itu. Mereka harus siap menutup mulut dan hidung dengan 
masker.

Tahun lalu pintu-pintu tersebut menjadi favorit jamaah, baik haji maupun umrah. 
Sebab, begitu keluar dari pintu-pintu itu jamaah langsung sampai di tempat 
belanja murah dan hotel murah. Keluar dari pintu Masjidilharam lalu naik tangga 
sudah masuk kawasan Pasar Seng. Jawa Pos yang mencoba lewat pintu Alfathah dan 
hendak ke Pasar Seng terpaksa balik arah. Sebab, selain tidak membawa masker, 
debu tebal beterbangan dari arah Jabal Umar dan bangunan hotel yang sedang 
dihancurkan. 

Begitu pula saat mau masuk salah satu dari 11 pintu yang ada di sisi kawasan 
menuju Aziziah, juga gagal. Tak satu pun dari pintu pertama, yakni Pintu Shafa, 
Babussalam, sampai Marwah yang buka. Pintu-pintu di kawasan tersebut ditutup 
total. Bahkan, area sai juga dibungkus rapat dengan terpal biru. Malah di 
tempat ini ada beberapa askar (petugas keamanan) yang berjaga-jaga. 

Di area itu jamaah umrah juga sudah tidak bisa melihat lagi bangunan rumah yang 
konon jadi tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Lokasi bangunan itu amat dekat 
dengan Pasar Seng. 

Saking luasnya, areal Masjidilharam memiliki sedikitnya 94 pintu. Antara lain, 
pintu King Abdul Aziz yang menghadap perpustakaan dan Jabal Umar. Lalu, pintu 
Amir Fath yang menghadap persis pintu masuk Tower Zamzam Hotel. Pintu inilah 
yang menjadi andalan keluar masuknya para jamaah umrah menjelang bulan haji 
tahun ini. 

Selain itu, akses yang masih terbuka adalah pintu Abbas, Bani Hasyim, Ali, 
Nabi, dan Bani Syaiban. Lalu pintu Arofah, Mina, Bilal, Abu Bakar, Umar, serta 
pintu Umrah yang menghubungkan jalan menuju Hotel Hilton dan Hotel At Darul 
Tauhid.

Selain tidak ada debu yang mengganggu jamaah di luar masjid, debu-debu 
penghancuran bangunan hotel dan gunung tersebut tak sampai masuk area dalam 
masjid. Lantai masjid dan lantai terbuka di sekitar Hajar Aswad tempat tawaf 
tetap bersih mengkilat. Sesekali tenaga cleaning service tampak 
membersihkannya. Begitu pula kiswah (kain hitam yang dihiasi sulaman benang 
emas) yang membungkus Kakbah tetap tampak bersih dari debu.

Tetap bersihnya areal di dalam masjid itu diduga tak lepas dari desain bangunan 
Masjidilharam. Konstruksinya seperti "benteng" mengelilingi Kakbah yang 
dilengkapi tujuh menara yang menjulang tinggi. Namun, alasan ini juga sulit 
diterima. Sebab, bangunan kubus yang menjadi kiblat umat Islam sedunia itu 
berada di lembah bukit Makkah paling rendah.

Lantas, bagaimana dengan hamparan lantai di luar masjid yang juga tak kalah 
bersih? Padahal, iringan debu limbah proyek perluasan Masjidilharam seharusnya 
mudah mencium lantai yang terbuat dari batu granit itu. Apalagi, jarak proyek 
itu hanya selemparan batu dari Masjidilharam. Ditambah hawa kering dan embusan 
angin gurun yang cukup kencang! 

Penasaran dengan itu, seusai salat Subuh, Jawa Pos tidak langsung kembali ke 
kamar di Tower 5 Hotel Hilton. Saat di halaman Masjidilharam itulah, Jawa Pos 
melihat sekelompok cleaning service mengepel lantai luar masjid. Teknik 
mengepelnya seperti di Indonesia: membawa timba berisi air dan sapu pel. 

Salah seorang dari mereka ternyata dari Indonesia. Namanya Rofiq. Usianya baru 
22 tahun. TKI asal Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, itu bersama teman-temannya 
mendapat tugas membersihkan lantai halaman luar masjid. ''Pokoknya, yang 
berseragam biru seperti saya, tanggung jawabnya menjaga kebersihan di luar 
Masjidilharam,'' ujarnya. 

Selain petugas berseragam biru, ada petugas berseragam hijau. Mereka 
bertanggung jawab atas kebersihan di dalam Masjidilharam. Termasuk membersihkan 
lantai terbuka tempat tawaf yang mengelilingi Hajar Aswad. Sedangkan yang 
berseragam biru tua bukan ketelpak adalah teknisi AC. "Petugas yang mengenakan 
seragam krem bertugas mengisi ulang galon air zamzam," katanya. 

Di dalam Masjidilharam memang terdapat ribuan galon air zamzam. Galon warna 
krem itu ditata rapi berbanjar. Setiap banjar ada yang 12 galon, 14 galon, dan 
16 galon. Di kanan setiap galon terdapat tumpukan gelas plastik bersih. Di 
sebelah kirinya disediakan tempat untuk menaruh gelas habis pakai. Yang tidak 
bisa minum air dingin, disediakan galon yang ditandai dengan tulisan Arab warna 
biru.

Galon-galon itu ditaruh di kanan atau kiri lorong 94 pintu masuk. Juga ada yang 
ditaruh di serambi dan di lingkaran tawaf paling luar. Bahkan, di halaman luar 
masjid juga disediakan galon air zamzam. Galon-galon air zamzam itu diletakkan 
tepat di luar mulut setiap pintu masuk. 

Setiap saat jamaah umrah maupun haji bisa minum air zamzam tanpa harus antre. 
Jamaah juga tidak perlu khawatir kehabisan air zamzam. Sebab, setiap saat 
petugas berseragam krem -seperti warna galon air zamzam- siap mengisi 
galon-galon yang habis. Jumlah mereka cukup banyak. Sama banyaknya dengan 
jumlah petugas kebersihan. ''Total petugas kebersihan dan pengisi galon zamzam 
mencapai 1.000 orang,'' kata Hazim M. Hassanain, pengusaha yang menjadi partner 
bisnis Jawa Pos di Jeddah. 

Mereka dibagi dalam tiga sif. Masing-masing sif bekerja delapan jam. Dengan 
demikian, selama 24 jam nonstop di lingkungan Masjidilharam selalu siaga 
petugas kebersihan dan isi ulang galon air zamzam. Logistik air inilah yang 
menyebabkan jamaah tetap bisa nyaman beribadah. Mulai iktikaf di dalam 
Masjidilharam, tawaf, salat, zikir, sampai membaca Alquran. 

Gema zikir dan bacaan kalam Ilahi tersebut membuat suara bising akibat hiruk 
pikuk proyek perluasan Masjidilharam sama sekali tak terdengar. Padahal, dari 
lantai 14 Tower 5 Hotel Hilton, tempat Jawa Pos menginap, derum mesin alat-alat 
berat itu nyaring terdengar. (el) 

<<22162large.jpg>>

Kirim email ke