Daripada Sepiiiiiiiiiiiiii

[ Kamis, 16 Oktober 2008 ] 
Dahlan Iskan : Mengapa Tidak Langsung Bangkit 

Ketika sepak bola Inggris kalah di Piala Dunia tahun lalu, siapa yang harus 
disalahkan? 

''Margaret Thatcher!'' teriak seorang politikus di sana. 

Lho, apa hubungan sepak bola dengan wanita yang sudah sangat tua itu? ''Waktu 
dia menjadi perdana menteri, subsidi susu untuk murid SD dikurangi. Akibatnya, 
tulang pemain Inggris banyak yang patah. Pemain sepak bola yang ikut Piala 
Dunia itu masih SD saat Thatcher menjadi perdana menteri," tambahnya.

Lalu, siapa yang harus disalahkan atas terjadinya krisis keuangan di Amerika 
dan dunia saat ini? ''Al Khawarizmi!" Apa hubungan krisis zaman ini dengan 
tokoh yang hidup di zaman kuno itu? 

Dialah yang menemukan logaritma dan matematika. Gara-gara ilmu matematika 
itulah, belakangan ini muncul satu jenis produk bank yang disebut derivatif. 
Tanpa ilmu matematika tidak mungkin ada derivatif (bahasa Mandarinnya...)

Lalu, ada yang bilang bahwa penyebab sebenarnya adalah orang Mesir atau 
Tiongkok. Orang Mesirlah yang menemukan matematika dengan geometrinya saat 
mendirikan piramida. Atau, barangkali karena orang Tiongkok menemukan sipoa 
yang menjadi awal ilmu matematika-aritmatika.

Bahkan, jangan-jangan yang salah adalah Al Jabr karena dialah yang menciptakan 
angka. Mungkin juga kita bisa menyalahkan Girolamo Cardano yang pada tahun 
1500-an menemukan teori probabilitas (ilmu peluang).

Simaklah rumus yang saya sertakan di tulisan ini. Itulah wujudnya kalau ilmu 
matematika, geometri, aritmatika, statistik, dan probabilitas dimasak menjadi 
satu. Lalu ditambahi bumbu rakus. Kokinya para banker dan pelaku pasar modal. 
Maka, jadilah masakan siap saji yang disebut ''model''. Model itu lantas 
menjadi software. Lalu, dianggap sebagai ilmu kebenaran. Semua pemain derivatif 
menggunakan ''software model'' derivatif itu untuk membenarkan hitungan bahwa 
uang yang hari itu nilainya 1 juta, lima tahun atau 10 tahun yang akan datang 
bisa menjadi, misalnya, 100 miliar.

Seandainya Anda punya uang Rp 1 juta, lalu ditawari untuk ikut derivatif, tentu 
Anda akan bertanya bagaimana caranya kok uang tersebut bisa tumbuh begitu 
menggiurkan? Lalu, operator derivatif akan menyodorkan rumus yang ruwet itu. 
Sanggupkah Anda memahami rumus itu? Yang menjelaskan sendiri bisa jadi tidak 
bisa benar-benar memahami. Mereka bisa langsung minta bantuan komputer untuk 
''memprosesnya'': Rp 1 juta x model + enter. Keluarlah angka Rp 100 miliar di 
laptop. Masalahnya, semua pilihan model adalah yang asumsinya baik. Tidak 
pernah diciptakan model yang didasarkan asumsi sebaliknya. Maka, tidak ada Rp 1 
juta x model + enter = hilang.

Meski semua pihak kini sudah tahu bahwa penyebab krisis ini adalah derivatif, 
akan diapakan ''binatang'' itu masih belum ada pembicaraan. Melarangnya sama 
sekali kelihatannya sulit, mengingat sudah dibuktikan bahwa dengan derivatif 
hidup ini bisa lebih hidup. Tapi juga sudah dibuktikan bahwa derivatif membuat 
kekacauan. 

Kalau kelak derivatif cukup dibatasi, akan menjadi perdebatan seru pembatasan 
itu sampai pada derivatif keturunan berapa. Sekarang ini derivatif mungkin 
sudah sampai 13 keturunan. Nah, apakah akan dibatasi sampai lima keturunan 
saja? Misalnya, swaps masih diperbolehkan. Tapi, anaknya, CDS (credit default 
swaps), mungkin sudah tidak boleh. Apalagi cucunya yang bernama credit default 
option, atau cicitnya yang disebut credit default swaption, atau cicit-cicit 
berikutnya lagi. Saya kira, sekian keturunan dari derivatif pasti akan 
dilarang. 

Kalau kebangkitan hari pertama pasar modal Senin lalu tidak langsung diikuti 
oleh kebangkitan lebih lanjut di hari-hari berikutnya, antara lain karena soal 
yang mendasari krisis itu sendiri belum diselesaikan. Semua memang masih sibuk 
melakukan PPPK (pertolongan pertama pada kecelakaan). Yang penting pasar modal 
dan perbankan selamat dulu. Terutama perbankan. Usaha ini kelihatannya 
berhasil. Namun, untuk bisa memulihkan ke keadaan semula, tentu masih harus 
menunggu diselesaikannya pengaturan derivatif.

Siapa yang mengatur derivatif itu? 

Selama ini tidak ada! 

Bisnis yang menyangkut USD 600 triliun ini (bandingkan dengan GDP Amerika yang 
hanya USD 15 triliun) diatur oleh pelaku derivatif itu sendiri. Mereka 
membentuk persatuan pelaku derivatif. Namanya Asosiasi Swaps dan Derivatif 
Internasional. Asosiasi itulah yang mengatur segala sesuatu tentang bisnis ini. 
Mulai aturannya hingga format-format kontraknya. Tidak ada pemerintah mana pun 
yang mampu mencampurinya.

Padahal, korban derivatif ini luar biasa banyaknya. Mulai perorangan, 
perusahaan, hingga lembaga keuangan sendiri. Termasuk yang menjadi berita besar 
awal tahun ini: Societe General rugi USD 7,2 miliar juga oleh derivatif. 
Bahkan, beberapa tahun lalu sebuah pemda di Amerika, kabupaten terkenal di 
California bernama Orange County, juga menyatakan diri bankrut sebagai korban 
derivatif. Di sana pemda memang diperbolehkan mengeluarkan obligasi untuk 
pembangunan daerahnya. Tapi, dalam kasus Orange County ini, dana daerah 
dimainkan di derivatif. Kalau berhasil sih, 30 persen APBD-nya akan datang dari 
hasil derivatif itu. Tapi, bendaharawan kota itu salah hitung. Lalu, kota itu 
pun dinyatakan bangkrut.

Siapa yang kira-kira akan ambil inisiatif untuk mengatur semua itu? 

Pemerintah AS? Bukan urusannya. Bank Dunia? Bukan bidangnya. Bank sentral 
masing-masing negara? Juga bukan tugasnya.

Para penemu logaritma, geometri, aritmatika, Al Khawarizmi, Al Jabr, Girolamo 
Cardano, barangkali, harus bangkit dulu dari kubur mereka untuk 
merundingkannya. (*)

Kirim email ke